ArkaSha with Niki

ArkaSha with Niki
Membaik



Shanna kini tengah menunggu kedatangan Alruni yang ingin menjemput nya. Ia tersenyum senang setelah beberapa hari lalu tidak bergeming dengan lingkungan, ia sangat rindu kampus. Ia sudah semakin membaik namun tak dapat dilupakan perban yang tetap setia menempel di pergelangan tangannya.


Mobil yang dikendarai Alruni tiba di hadapan Shanna. Alruni menurunkan kaca mobil lalu tersenyum sangat tipis kepada Shanna. Shanna berusaha memberi kode jika ia sedikit kesulitan membawa tasnya karna tangan sebelah kanannya yang biasa ia gunakan untuk menopang tas dibaluti perban. Alruni yang menyadari hal itu segera turun dari mobil kemudian menghampiri Shanna. Ia mengambil alih tas milik Shanna dan membuka kan pintu untuk Shanna.


Alruni melajukan mobilnya dengan pelan. Shanna membuka kaca mobil, ia sangat menyukai udara pagi. Setiap udara yang memasuki hidungnya ia hirup dengan lembut, perlahan ia buang kembali. Hal sederhana yang menenangkan pikiran menurut Shanna.


Tak beberapa lama, Alruni menghentikan laju mobilnya. Itu artinya mereka sudah memasuki wilayah kampus. Keduanya turun dari mobil, Alruni sangat perhatian. Ia mengambil tas Shanna lalu membawanya, dengan setia lelaki itu mengantar Shanna hingga tiba di depan kelasnya.


“SHANNA!!!” teriakan penuh amarah itu berasal dari Anjel begitu melihat kemunculan Shanna di ambang pintu kelas. Teriakan yang menggelegar itu membuat beberapa mahasiswa yang berada di kelas sontak menoleh ke arah pintu.


Kerisihan didapat oleh Shanna saat ia menjadi pusat perhatian.


Shanna melangkahkan kakinya mendekati keberadaan Anjel begitu juga dengan Alruni yang terus mengikuti langkah Shanna hingga ia kini juga ditatap dengan pandangan kagum oleh beberapa cewek di kelas itu.


“Omaigaatttt!!! Lo kenapa Shann? Tangan lo kok di perban gitu?” Tanya Anjel histeris melihat keadaan Shanna. Ucapan yang tidak bisa di kontrol itu, nada bicara Anjel sangat tinggi. Mendengar ucapan perban itu beberapa mahasiswa yang kepo mulai mendekati Shanna, termasuk Roni si anak berandal dan nakal dari kelas ini. Ia memang menyukai Shanna, namun diancam oleh Alruni jika kelewatan batas.


“Lo bisa santai ga sih Jel kalau ngomong, kuping gue sakit dengernya.” Shanna menduduki kursi yang sudah lama tak ia tempati. Setelah ia duduk dengan seksama, Alruni yang berada di hadapannya meletakkan tas Shanna.


“ nanti telpon gue kalau udah selesai kelas, biar gue jemput. Jangan paksain bawa tasnya. Gue balik dulu...” Ucap Alruni dengan lembut membuat beberapa cewek yang mengelilingi Shanna menatap dengan penuh haru. Beberapa diantara mereka juga menatap dengan iri melihat perlakuan Alruni kepada Shanna merupakan sikap pasangan yang didambakan menurut mereka.


“siap pak boss!!” balas Shanna dengan tangan yang bertengger di samping alisnya mengisyaratkan tanda hormat. Mendapat perlakuan seperti itu, Alruni mengacak kepala Shanna yang di baluti hijab kemudian pergi meninggalkan kelas Shanna.


“Jawab gue...lo kenapa bisa gini?” teriak Anjel sekali lagi.


“Gue kecelakaan.” Ungkap Shanna jujur.


“WHATT? Al ini beneran?” teriak Anjel mendongakkan kepalanya kearah Alruni yang sudah perlahan meninggalkan kelas. Mendengar namanya dipanggil, Alruni berbalik badan tanpa mengucapkan apapun. Ia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Anjel kemudian berlalu melanjutkan langkah kakinya.


“Kok ga bilang gue? Lo bener-bener ya..” kesal Anjel. Shanna selalu saja begitu, ia tak mau berbagi kesulitan nya kepada Anjel. Hal itu membuat Anjel dihantui rasa bersalah karena ia tak berguna sama sekali sebagai seorang teman.


“hehehe sorry...gue ganti Handphone, jadi lupa dh gue kontak lo.” Ucap Shanna berusaha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia hanya memberi alasan yang benar, benar jika ia mengganti handphone nya dengan alasan rusak ketika kecelakaan. Tapi hal itu tidak benar, nyatanya handphone masih baik-baik saja untuk digunakan. Namun entah apa alasan pastinya Shanna mengganti handphone nya itu.


“Sekarang baik-baik aja kan?” pertanyaan ini muncul dari Roni. Ia sudah khawatir melihat keadaan Shanna, ia tak bisa diam saja menyembunyikan rasa sukanya.


“kalian bisa liat kan? Gue udah jauh lebih baik...” Roni menghela nafas kemudian beranjak ingin menduduki kursinya kembali. Ia tersenyum manis sesaat membalikkan badannya menjauhi gerombolan mahasiswa yang mengerumuni Shanna.


Arkana tidak memiliki kelas pagi ini. Ia menenangkan diri dengan mendribble bola basket yang berada di tangannya. Sesekali ia mendribble dengan sangat kuat berusaha menyalurkan betapa berantakan nya pikirannya sekarang.


“Aarrhghhh...gue benci hidup gue!!!” teriaknya dengan penuh emosi. Ia terus melempar bola basket itu dengan keras, kemudian ia berlutut. Caranya menyalurkan emosi seketika berubah. Ia memukul lapangan basket dengan tangan kosong, sehingga jemarinya terlihat mengalirkan darah segar.


“kenapa gue Tuhan? Mama benci gue! Papa ga peduli sama gue! Bahkan satu-satunya perempuan yang ada di hati gue, ga pernah ngelirik gue dikitpun! Gue mati aja! Gada tempat gue untuk bernaung Tuhan...” Ia berteriak penuh frustasi, sesekali ia menggusar wajahnya yang basah. Ia sengaja menyiram wajahnya dengan sebotol air mineral yang berada di tangannya.


Kenapa Arkana sangat marah dan benci sekarang? Semalam Papanya datang kembali ke rumahnya. Heru menampar sekaligus memaki Arkana. Ia tau jika kondisi papanya itu pasti dalam kendali alkohol, namun ia sudah terlalu muak dengan semua itu.


Pov semalam


Tiba-tiba pintu rumah digebrak oleh seseorang. Mendengar hal itu, Arkana berinisiatif untuk membuka pintu tersebut. Saat ia membukanya, bau alkohol menyengat di indra penciumannya membuat ia mengalihkan wajahnya. Pria dihadapannya ini tergeletak di atas lantai sudah sangat berantakan.


Tanpa sedikit niat untuk menolong, Heru bangkit sendiri kemudian menampar pipi Arkana dengan begitu keras.


“ Kaamuu anak nakkal! Aanakk duurhhaka!” ucapan yang tidak jelas karena pengaruh oleh alkohol . Dua tamparan mendarat di pipi mulus Arkana membuatnya meringis. Arkana tidak membalas perlakuan papanya, ia hanya bergeming merasakan panas di pipinya. Jangan bilang ia lemah untuk melawan, ia masih menyadari jika yang berhadapan dengannya kali ini adalah orang tua kandungnya.


Heru berjalan melewati Arkana yang setia membekap pipinya yang terasa kelu. Ia memasuki rumah itu, berniat ingin mencari keberadaan mantan istrinya beberapa hari lalu. Langkahnya terhenti, ia membalikkan badan kemudian menghampiri Arkana dan menangkap lengan Arkana dengan kasar. Ia menyeret putranya itu, lalu menghempaskan nya ke bawah meja makan di rumah itu.


“sshhh...” desis lemah Arkana berasal dari mulutnya. Sesekali Heru menendang pinggang milik Arkana, membuat Arkana merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Satu pukulan yang akan mengarah ke kepalanya, namun kali ini berhasil di tepis oleh Arkana. Ia menangkap jemari papanya yang sudah mengepal ingin mendaratkan sebuah bogeman tepat di kepalanya.


“Stopp Paa!!”


“ masih ingat rumah ini? Kenapa balik lagi haa!! Papa udah ninggalin mama dan Arka! Pala keluar sekarang!”


“KELUAR!!” Bentak Arkana yang tengah tersulut emosi. Ia tak ingin lagi melihat wajah papanya yang hanya menambahkan sakit baginya.


“Plakk....” satu tamparan lagi yang dilayangkan oleh Heru berhasil membuat Arkana mengaduh untuk kesekian kalinya.


“ Jaga bicara kamu Arka!! Dia papa kamu..” ucapan itu berasal dari wanita paruh baya yang beberapa hari lalu membuat Arkana kecewa. Ya, wanita itu adalah mamanya. Apa Arkana tidak salah dengar? Apa mamanya benar-benar membencinya sekarang? Apa mamanya tidak liat perlakuan Papanya padanya?


“Ma...Arka capek ma..mama udah ga sayang Arka lagi?” rintih Arkana tanpa berkata panjang. Rintihan lemah yang sama sekali tak pernah ia bayangkan akan ia ciptakan sendiri. Ia benar-benar kehilangan tempat bersandarnya kali ini.