
" REYY!!" Alruni membuka pintu ruang rawat Shanna dengan tidak sabaran. Dengan pandangan yang sudah menyapu seisi ruangan ia melihat Shanna dengan pasangan selang infus yang berada di tangannya. Gadis itu seketika membuka mata saat mendengar suara Alruni. Baru beberapa saat ia melepaskan penatnya kini ia didatangi oleh pria yang sangat ia tunggu-tunggu. Pintu terbuka menampilkan sosok Alruni disana. Sejak dibawa Dokter Adriana ke rumah sakit ia hanya tidur sebentar, ya ia hanya pingsan tidak terjadi apa-apa pada tubuhnya. Bahkan terluka pun tidak, ia hanya tak sadarkan diri karena terlalu kedinginan dan kekurangan energi saat basah diguyur hujan terlalu lama.
Alruni menghirup napas lega saat ia sudah menyaksikan keberadaan Shanna di hadapannya. Gadis itu sontak memperbaiki posisinya menjadi bersandar pada sandaran brangkar.
Shanna tersenyum manis kearah Alruni seolah tak terjadi apa-apa. "Thanks udah dateng..." deg untuk kesekian kalinya Alruni merasa bersalah.
"gue telat Reyy.." batin Alruni.
"lo gpp kan?"
"mana yang sakit ha?" panik Alruni sembari duduk di kursi disamping brangkar Shanna. Ia menatap manik mata pekat milik Shanna itu.
"im fine...lo bawa baju ganti gue kan?" ujar Shanna singkat seperti sudah melupakan kejadian sebelumnya.
Alruni mengangguk kemudian. Pria yang kini berada dihadapan Shanna itu tiba-tiba saja berubah menatapnya dengan datar.
" kenapa pulangnya ga dianterin Arkana ha? udah gue bilang kan, cari taksi atau dianter dia. Lo ngeyel banget ya! terus kalau tadi diluar hujan kenapa nekat pakai terobos segala? jujur!!" Sarkas Alruni tiba-tiba menyemprot Shanna. Setelah melihat keadaan gadis itu yang kelihatannya sudah membaik, ia berubah pikiran untuk memberi Shanna sedikit peringatan.
"maafin gue!! lagian lo juga ga mau jemput gue, kalau udah gini kan lo juga yang repot Nikk!!" Sungguh diluar dugaan Alruni jika Shanna akan membalas celotehannya itu. Yang ada di pikiran nya Shanna akan menampilkan wajah puppy eyesnya yang imut jika dilihatnya.
" kabarin mama kalau lo baik-baik aja.." Final Alruni tak ingin memperpanjang lagi. Ia tak tau harus menjawab apa ucapan Shanna yang tidak diduganya. Bisa jatuh harga dirinya jika ia katakan kalau ia cemburu jika Shanna tanpa alasan mengunjungi rumah Arkana.
Shanna hanya mengangguk, kemudian ia bangkit ingin mempersiapkan dirinya untuk keluar dari rumah sakit. Alruni hanya diam saja melihat Shanna, ia tau jika gadis itu baik-baik saja. Wajah yang lelah dan sedikit pucat, kondisi itulah yang menghantui tubuh Shanna saat ini. Tak mungkin jika ia dirawat di rumah sakit, alasan apa yang akan ia katakan pada keluarganya. Meski kondisi tubuh tidak membaik, namun Shanna tetap memaksakan dirinya untuk pulang.
Keduanya kini berada di dalam mobil yang dikendarai Alruni. Alruni sedikit ngebut karena malam sudah menunjukkan pukul sepuluh, ia takut jika kedua orang tua Shanna sudah menunggu kedatangan putrinya itu. Jalanan yang sudah hampir lengang tak menyulitkan Alruni dalam mengendarai mobilnya. Shanna yang berada tepat disampingnya hanya terlihat lesu dan tanpa bersemangat. Gadis itu terus saja memejamkan mata tanpa memulai pembicaraan apapun dengan Alruni.
"mau beli makan dulu?" Tanya Alruni pada Shanna, gadis itu hanya menggeleng lemah. Alruni kembai memalingkan wajahnya ke arah jalanan di depannya setelah mendapatkan jawaban dari gadis itu.
Sesampainya di kediaman keluarga nya, Shanna turun dari mobil disusul dengan Alruni yang mengikutinya dari belakang.
"huffthh..." helaan napas Shanna begitu sampai di depan pintu rumahnya menggambarkan kelelahan dirinya. Kemudian ia menekan knop pintu itu, membiarkan Alruni membuntutinya dari belakang. Melihat kedatangan nya yang ternyata sudah ditunggu-tunggu, bahkan ia pun menepis pikiran nya yang hanya akan membuat mamanya semakin panik.
"Reyy kamu gpp?" Tantri langsung menghampiri Shanna yang sangat terlihat dari kata baik. Wajahnya yang begitu sayu dan sangat lesu.
"Reyy ngantuk...Reyy ke kamar ya ma pa..." pamitnya membohongi anggota keluarganya, ia hanya menanggapi pertanyaan mamanya dengan gelengan. Tanpa berucap apapun pada Alruni yang sudah mengantarkan nya sampai rumah. Shanna pergi begitu saja menuju kamarnya, namun lain dengan Alruni yang mengerti kondisi Shanna ia hanya biasa saja.
Penghuni rumah itu menatap kepergian Shanna dengan wajah lega.
" Terima kasih banyak ya Nik..udah nganterin Shanna." Ujar Prima papa shanna.
"santai pa...kayak sama siapa aja.." balas alruni yang sudah sangat dekat dengan papa Shanna.
"yaudah kalau gitu...Niki pulang ma pa..takut kemalaman..." Ujar Alruni sebelum meninggalkan rumah ini, dengan jahil ia mengusap kepala Aqza sehingga membuat sang empu kesal.
"belajar yang bener bocil..." tukas Alruni, tanpa berucap apapun lagi ia beranjak berjalan menuju keluar rumah.
-----------
Di kamarnya Arkana terus saja menghubungi Shanna namun tak digubris sedikit pun oleh Shanna. Ia sangat khawatir sekarang, rasa bersalah menghantui dirinya. Ia ingin meminta maaf karena sudah mengabaikan Shanna yang berada seharian di rumahnya. Apalagi pesan terakhir Shanna yang mengatakan dirinya tengah berada dalam kegelapan. Arkana semakin tak tenang.
Alruni Braga
^^^Al..^^^
^^^Shanna bareng lo kan?^^^
^^^Dia udah di rumah kan?^^^
Berani lo nge chat gue ha!?
Setelah lo biarin dia pulang sendirian
Dia kehujanan, dia kedinginan
Apa lo tau itu semua?
^^^Oke gue akui gue salah^^^
^^^maafin gue^^^
^^^dia baik-baik aja kan?^^^
Dia pingsan di jalanan asal lo tau!
lo kemana? ga bisa anterin dia?
Gue ga akan tinggal diam
kalau sesuatu terjadi ke Shanna lagi
lo ga tau seberapa berharganya dia buat gue
Arkana tidak membalas pesan terakhir dari Alruni. Kepanikan benar-benar menghantuinya sekarang, mengetahui Shanna pingsan di jalanan. Siapapun tau jika itu adalah salahnya.
"ini semua gara-gara lo!!" Ujar Arkana penuh amarah mengepalkan kuat kedua tangannya. Dengan bayangan wajah Meisya dan papanya menari dalam pikirannya. Semua ini terjadi karena kedua orang tersebut.
Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu, ia membuka galery ponselnya kemudian membuka sebuah album yang ia khususkan dengan nama "Shanna Mine💗" Album ini berisi semua hasil jepretan Arkana yang diam-diam mengambil potret Shanna. Satu jepretan yang ia sukai yaitu gambar Shanna yang tengah tersenyum manis saat pertama kali mereka bertemu kembali. Foto ini akan mengingatkan Arkana dengan kejadian awal saat mereka bertemu.
Shanna yang sangat menjaga jarak dengannya. Shanna yang tidak ingin berlama-lama berada disampingnya. Semua ia bayangkan.
"maafin gue Shann..." gumam Arkana yang terus menatap sendu potret Shanna.
"gue emang pengecut Shann..." lanjutnya lagi.
Â