ArkaSha with Niki

ArkaSha with Niki
Maaf



" Maaf pak..apa benar ini dengan orang tua Shanna?" seorang perawat bagian administrasi tengah melakukan panggilan telepon bersama Papa Shanna. Nomor itu ia dapatkan melalu Handphone Shanna yang diberikan warga saat membawa Shanna ke rumah sakit.


"iya benar...saya sendiri." balas Papa Shanna, ia bahkan tidak tau siapa yang berada diseberang sana yang menelepon nya.


"Shanna baru saja dilarikan ke rumah sakit Puspita, dia mengalami kecelakaan beberapa saat yang lalu, saya harap bapak segera menuju rumah sakit." Prima terdiam sejenak. Ada apa dengan putrinya itu? Kenapa bisa seperti ini.


"lakukan yang terbaik untuk putri saya." setelah mengucapkan itu, ia menutup telepon kemudian mencari keberadaan istrinya yang tengah ada di dapur.


"ma..." panggil Prima dengan tetesan air mata yang tipis di pipinya. Melihat hal itu Tantri menghentikan aktivitasnya.


"ke rumah sakit sekarang, Reyy kecelakaan...." ucapannya sangat lembut, berusaha agar istrinya tersebut tidak panik. Namun bagaimanapun Tantri sama sekali tidak tenang.


"Pa...hiikksss..." tangis Tantri pecah, ia mengekori suaminya yang berjalan ke luar rumah. Dengan gesit, mereka menuju rumah sakit. Tak lupa Prima sudah memberitahu Diksa hal ini, Shanna dirawat tepat di rumah sakit dimana Diksa bekerja.


 


Kini kedua orang tua Shanna sudah berada di depan ruangan dimana Shanna ditangani oleh dokter. Terlihat juga Gita dan Diksa sudah berada disana. semua dari mereka sangat tampak gelisah, apalagi Diksa yang notabene nya seorang dokter tak bisa melakukan apapun untuk adiknya itu. Ia hanya berdiam diri menunggu kabar dari dokter yang berada di dalam sana.


Begitu juga dengan Tantri, tiada hentinya cairan bening membasahi pipinya. Disampingnya Gita dengan lembut mengusap bahu mama mertuanya itu. Gita lah yang terakhir kali bertemu dengan Shanna sebelum insiden, seharusnya ia melarang Shanna untuk berangkat tadi pagi. Namun tiada yang mengetahui akan begini kenyataannya.


Semua dari mereka mendongak begitu mendengar suara pintu yang kemudian melihat keberadaan seorang dokter yang keluar dari ruangan tersebut.


"bagaimana keadaan putri saya dok?" tanya Prima tidak sabar. Walupun apapun kata dokter, ia harus menerima.


" pasien mengalami luka di bagian kulit kepalanya, dan karena ada benturan di kepalanya ia sepertinya akan merasakan sakit di bagian kepalanya karena kepalanya bagian samping sedikit cedera. Kondisinya tidak kritis, maka dari itu kami akan memindahkan pasien ke ruangan rawat inap. Permisi..." dokter beranjak dari hadapan mereka, sedikit pukulan ia berikan pada bahu Diksa. Tantri meringis mendengar penuturan dokter. Namun rasa khawatirnya perlahan menghilang, karena Shanna akan bisa dikunjungi setelah ini.


"Ma Pa...Diksa urus dulu pemindahan ruangan Reyy. Jangan khawatir, Reyy pasti baik-baik aja." ucap Diksa yang dibalas anggukan oleh kedua orang tuanya. Ia kemudian memasuki IGD dimana adiknya berada saat ini. Begitu melihat brangkar Shanna, pertahanan Diksa seketika runtuh. Melihat banyaknya alat yang bersarang di tubuh adiknya itu. Kepala yang berbalut dengan perban, serta bantuan alat pernapasan yang bertengger diatas hidung Shanna.


Perlahan ia mendekat, mengusap lembut telapak tangan Shanna. "maafin abang Reyy....hiikksss." tentunya tidak ada balasan dari Shanna, gadis itu setia memejamkan matanya. Perlahan Diksa meninggalkan Shanna untuk mengurus keperluan adiknya itu.


Setelah beberapa saat, kini Diksa mendorong brangkar Shanna untuk keluar dari IGD. Keluarganya masih setia menunggu di depan ruangan tersebut. Dengan bantuan perawat lainnya, Diksa menuntun brangkar tersebut menyusuri lorong rumah sakit untuk memasuki ruangan rawat yang akan dituju. semua anggota keluarga mengikuti brangkar itu dari belakang, terlebih lagi Tantri yang tiada hentinya menangis saat melihat putri nya menggunakan bantuan alat untuk bernapas. Alat-alat tidak lagi menempel di tubuh Shanna, namun untuk alat pernapasan masih saja dibutuhkan.


 


Alruni yang setengah hari sudah berada di kampus, kini ia santai duduk di kantin kampus untuk mengisi perutnya yang memberontak untuk diisi.


Suara tawa dari puluhan bahkan ratusan mahasiswa yang berada di kantin menggema di telinganya. jika biasanya ia duduk bersama Shanna dan Anjel, namun kali ini ia hanya berdua bersama Gilang. begitu juga dengan Anjel yang ia liat berada di kantin namun bersama dengan teman sekelas nya yang lain. Tak ia temukan Shanna di sana.


Ia mengernyit bingung, "manja lagi lo ya Reyy...ga gue jemput ga mau masuk kampus.." batin Alruni. Ia sengaja mendiamkan Shanna sejak kemarin, ia kesal dengan Shanna yang tengah asyik kemarin mengobrol berduaan dengan Arkana. Bohong ia tak mengetahui hal itu.


"Jel...Shanna kemana?" Ucapan Alruni membuat Anjel mendongak.


" gue juga ga tau, ga masuk kelas dia. Udah gue hubungi juga gada respon, gue kira lo tau." balas Anjel mengundang raut wajah khawatir dari Alruni. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana jika Shanna sakit lagi?


Ia kemudian mencari kontak Diksa untuk memastikan keadaan Shanna sebenarnya. ia rasa Diksa pasti kondisi Shanna, karena gadis itu kan tinggal di rumah Diksa. Begitu panggilannya tersambung, ia mendengar sahutan dari seberang sana.


"*iya nikk?"


"reyy kemana bang? Di kampus gada soalnya.."


"sorry abang lupa kasih tau, pada sibuk soalnya."


"iya bang, Reyy kemana bang?"


"Reyy kecelakaan Nik, sekarang lagi dirawat*."


Deg...Alruni sangat terkejut.


"*kok bisa bang?"


"belum bisa tanya apa-apa, Reyy belum sadar Nik."


Deg...


"Niki kesana bang*..."


Sambungan teleponnya bersama Diksa terputus. Alruni benar-benar frustasi sekarang, seharusnya ia tak tega meminta Shanna untuk berangkat ke kampus sendirian. Jika ia menjemput Shanna tadi pagi, takkan terjadi hal seperti ini. Ia sangat menyesali keegoisan nya yang tiba-tiba mendiami Shanna.


"maafin gue reyy..." batin Alruni, secara tak sadar air mata nya jatuh tanpa ia izinkan. Ia semakin merasa bersalah, ketika mendengar penuturan Diksa bahwa Shanna belum juga sadarkan diri.


Ia menggusar wajahnya kemudian bangkit meninggalkan Gilang yang kebingungan sendiri melihat tingkah Alruni yang tiba-tiba berubah drastis. Alruni tak lagi menghiraukan keberadaan Gilang disana, ia sangat menyalahkan dirinya saat ini.


"arrghhh..." erang Alruni kemudian berlari menyambar motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan kampus. Tugas nya sebagai presma ia lupakan seketika, pikirannya hanya satu sekarang. Ia khawatir dengan Shanna. Ia tak peduli jika dosen akan memarahinya atau bahkan kampus memecat jabatan nya sebagai Presma. Ia hanya ingin memastikan Shanna baik-baik saja.


Tak peduli dengan kecepatan motornya, ia dengan santai membelah jalanan yang lumayan ramai itu. Namun mau tak mau ia berhenti ketika lampu merah menyala.


"maaf Reyy..." permintaan maaf berulang kali terlontar dari bibirnya, namun semua itu sudah terlambat. Lagi-lagi air mata menetes membasahi pipinya.