
Shanna melihat pantulan dirinya di cermin. Ia akan berangkat ke kampus pagi ini, ia pun bergegas keluar kamar sambil meraih tasnya yang berada diatas nakas didekat kasur. Ia menuruni anak tangga, melihat kakak iparnya yang tengah menyiapkan sarapan. Kamarnya ditempatkan abangnya tepat disamping kamar abangnya di lantai dua.
Sebenarnya ia sangat malas menuruni tangga tiap pagi, namun kakak laki-lakinya itu tak mengizinkan Shanna menempati kamar tamu di lantai satu.
“ pagi ka Gita..” sapa Shanna kepada Gita, ia langsung duduk dihadapan Gita. Ia tak melihat keberadaan abangnya pagi ini.
“ Pagi Reyy..kamu sarapan ya..” gita menghidangkan sarapan sangat sehat menurut Shanna. Selama ia dirumah abangnya, setiap sarapan ia hanya menemukan sayur hijau di meja makan. Ternyata begini rasanya memiliki suami seorang dokter.
“ bang Diksa belum bangun ka?” Tanya Shanna.
“ tadi shubuh dapat telfon dari rumah sakit, ada operasi dadakan katanya.” Shanna hanya berohria mendengar jawaban kakak iparnya itu. Kasihan sekali kakaknya ini, pasti sangat kesepian di rumah.
“ kakak naik dulu..mau liat Ghava dulu.” Lagi-lagi Shanna mengangguk. Gita tak terlihat lagi dihadapan Shanna, ia sudah menaiki tangga untuk menemui putranya yangmasih tidur pada pagi ini.
-----------
Alruni sudah berada di pekarangan rumah Diksa, ia menarik pagar rumah yang tidak dikunci itu. Kemudian tanpa ragu ia berjalan menuju pintu rumah Diksa. Sudah menjadi kebiasaannya, sudah tiga hari setelah Shanna dalam masa pemulihan. Selama itu pula ia mengantar jemput Shanna menuju kampus. Padahal hari ini, ia tidak memiliki kelas pagi, namun ia tak ingin Shanna mengendarai motornya sendirian.
Bertepatan dengan Alruni yang akan mengetuk pintu, suara klakson mobil yang memasuki rumah itu membuat dirinya menoleh. Dengan tatapan keheranan, ia melihat Diksa dengan menyandang jas putih keluar dari mobil itu.
Ketika mulai berdekatan dengan Diksa yang juga ingin masuk ke rumah, ia menyalami tangan Diksa terlebih dahulu.
“ kok ga masuk Nik..?” Tanya Diksa.
“ ini mau masuk bang, abang pulang kerja?” alruni memang bingung, dapat ia saksikan biasanya papanya ketika pagi hari baru akan berangkat ke kantor. Namun berbeda dengan Diksa, sejenak ia melupakan profesi Diksa yang merupakan seorang Dokter.
“ jangan heran gitu..abang dokter nik..” ucapan Diksa menyadarkan Alruni.
Diksa mendorong tubuh Alruni untuk memasuki rumahnya, ia sangat capek dapat ia rasakan badannya lengket. Bahkan terkadang ia merasa amis pada badannya sendiri karena setiap hari berurusan dengan darah pasien.
“ abang udah pulang? Ka gita diatas.” Jelas Shanna sembari menyalami tangan abangnya itu, tanpa pikir panjang Diksa berjalan menaiki tangga. Ia merindukan keluarga kecilnya itu.
“ jangan lupa bawa bekelnya, lo ga boleh makan di kantin lagi. Banyak micinnya.” Dibalas anggukan oleh Shanna. Beberapa hari setelah sakit ia selalu nurut. Namun, lihat saja nanti ketika ia merasa benar-benar pulih, semua makanan sama saja menurutnya.
“ yaudah ayo berangkat…” mengingat pemilik rumah ini, tengah berasyik ria di kamar mereka. Tanpa ingin mengganggu mereka berangkat tanpa berpamitan. kedua sejoli itu berjalan beriringan menuju halaman depan menghampiri mobil Alruni.
“ gue yang nyetir..” ucap Shanna sesukanya. Baru saja sedikit bisa mengendarai mobil, ia sudah berlagak ingin menyetir.
“ enggak..yang ada ga nyampe nanti Reyy..” jelas saja Alruni tidak mengizinkan. Ia tidak ingin mobil milik papanya akan lecet karena Shanna. Selain memikirkan hal itu, bukannya bertemu dengan kampus, malahan mereka akan bertemu dengan ajal nantinya.
“ Niki…” rengek Shanna membujuk Alruni agar menuruti kemauannya. Ia ingin sekali cepat mahir mengendarai mobi, bukankah terlihat keren cewek sepertinya mengendarai mobil. Itulah pikiran Shanna saat ini.
“ niki..sekarang aja..” bisik Shanna.
“ gue bilang gak, ya ga! Nanti lo telat masuk kelas..” bentak Alruni membuat nyali Shanna untuk terus membujuk menciut. Untuk kali ini, Alruni benar-benar tidak ingin menuruti kemauan Shanna. Tanpa berdecak lagi, ia memasuki pintu kemudi tanpa memedulikan Shanna yang tengan sedikit takut disana. ia tidak sampai hati untuk membentak Shanna, lain kali ia janji akan mengajari Shanna mengemudi sampai benar-benar mahir.
Alruni sudah meyalakan mesin mobil, namun Shanna tak juga bergeming dari tempatnya. Minta dibujuk lagi sepertinya. Dengan menghela napas kasar, Alruni menurunkan kaca mobil disampingnya kemudian mentapa Shanna yang tengah berdiri disana.
“ kapan mau naik? Pangeran udah capek nunggu nih..” Shanna menghentakkan kakinya memasuki mobil, namun senyuman tipis terukir di sudut bibirnya. Alruni menatap pergerakan Shanna yang kemudian duduk di kursi disampingnya. Tak juga memajukan mobilnya, ia tak memalingkan wajahnya terus saja memperhatikan Shanna yang tengah memasang steatbelt.
“ buruan jalan!” ucap Shanna dengan memasang wajah memelasnya kesan dengan tingkah Alruni. Ia mendengus malas. Ia sangat ingin mahir mengendarai mobil, ayolah kenapa Shanna tidak paham juga. Ia sangat geram dengan Alruni yang terus saja menganggapnya seperti anak kecil. Padahal tanpa sepengetahuan Shanna, Alruni memiliki niat lain.
Tanpa ada obrolan dalam mobil, hanya keheningan yang tercipta. Berbeda dengan Alruni yang tengah senyum sendiri dengan sesekali melirik kea rah Shanna, ia merasa bangga sudah membuat Shanna merajuk.
Setibanya di kampus, Alruni telah menepikan mobilnya dan menempatkannya rapi di parkiran. Menyadari mobil terhenti, Shanna membuka pintu kemudian turun menjauhi mobil Alruni. Gadis itu tanpa menoleh sedikit pun kepada Alruni, meninggalkan pria itu mematung di parkiran.
“ gila..baperan bener cewek..dikira gue sopir apa?” gumam Alruni saat melihat Shanna pergi begitu saja tanpa bertegus sapa dengannya sedikit pun.
“ jangan makan sembarangan! Awas aja ketahuan, gue aduin lo..” teriak Alruni membuat langkah Shanna terhenti sejenak, kemudian langkahnya dilanjutkan lagi. Shanna menarik sudut bibirnya menciptakan senyuman tipis, hatinya mengatakan senang dengan perhatian kecil Alruni. Namun kekesalannya masih tetap bersarang disana.
Bunyi dentingan samar yang berasal dari ponselnya membuat Shanna merogoh benda pipih itu yang berada dalam tasnya. Ia tersenyum lagi melihat notifikasi dari nomor yang tidak dikenalnya. Ia semakin bimbang, bukan lagi waktunya menutup pergaulan dengan lelaki yang sudah ia kenal, selagi tau batasan ia memaklumi hal itu.
\+**62823**\*\*\*\*\*\*\*
Shan..gue Arkana
Lo masuk kampus kan?
^^^Ada perlu apa?^^^
Gue nanti ke kampus lo
Gue minta waktu lo bentar aja
Gue pengen ngobrol
^^^Gue liat waktu gue dulu^^^
Oke..sipp
Sampai ketemu nanti ya
Melihat balasan dari Arkana, Shanna tak lagi membalasnya. Senyum lagi-lagi mengembang, ada apa dengan hatinya sebenarnya? Ia melanjutkan langkah nya untuk menuju kelasnya, sambil ber komat-kamit dalam hatinya.
“ jangan jatuh hati lagi Reyy…” batinnya menyadarkan pikirannya yang tengah bergemuruh. Tiga tahun lalu ia sangat sukar untuk melupakan Arkana, walau keduanya belum saja memulai. Jatuh cinta pertama kalinya setelah Papanya ia labuhkan pada Arkana. Pikirannya dahulu sudah terlalu jauh tentang Arkana, tentunya untuk melupakan sungguh tak semudah yang dibayangkan. Shanna sadar, ia tak pantas untuk Arkana.