
"Gila lo Al? jelas-jelas gue liat Shanna kesakitan gitu..lo biarin aja..." Maki Gilang saat ia sadari tingkah laku Alruni berbeda kepada Shanna.
"gue udah bilang lang...dia pura-pura doang...biar gue ga marah ke dia..." Ucap Alruni membalas perkataan Gilang, setelah meninggalkan kantin keduanya kini berjalan santai menuju halaman kampus. Gilang yang sudah tidak ada kelas berencana akan meninggalkan kampus. Sedangkan Alruni sang Presma kampus harus masih berada di kampus karena ada rapat yang harus ia pimpin.
"nanti kalau dia kenapa-napa lo jangan nangis..." cibir Gilang berakhir dengan tawaan ledekan pada Alruni.
"diem lo!!" keras Alruni sangat ingin menyumpal mulut Gilang.
Seperti biasa Anjel yang selalu memesan makanan untuk mereka berdua. Kini dengan sebuah nampan yang bertengger rapi diatas kedua tangannya, ia berjalan pelan untuk meminimalisir agar makanan yang dibawanya itu tidak jatuh. Langkah demi langkah yang ia ciptakan saat melewati ratusan mahasiswa yang juga memiliki tujuan yang sama dengannya disini. Ia meletakkan nampan itu diatas meja yang sebelumnya ia lihat Shanna bersama Alruni disini. Namun, sekarang tak ia temukan satu orang pun disini.
Suasana kantin yang semakin ramai, ingin bertanya dengan mahasiswa yang duduk disamping mereka juga. Ia tak mengenali mereka. Ia meraih ponselnya ingin menelepon Shanna, berulangkali ia mencoba namun tak satupun panggilan teleponnya yang diangkat Shanna.
Ia semakin kepikiran, mengingat wajah Shanna yang sebenarnya ia tau sedari tadi sedang tidak baik-baik saja. Sebenarnya kemana Shanna pikir Anjelika sekarang.
Drrtt...drrtt...Anjel menelepon Alruni, namun sama saja lelaki itu tak menggubris sedikitpun.
"duhh...lo kemana sih Shann..." khawatir Anjel yang sedari tadi sudah menduduki dirinya di kursi. Ia terus saja menghentakkan kecil kakinya berharap Shanna segera muncul di hadapannya.
Drrtt..drrt...kali ini Gilang lah yang ditelepon Anjel, walaupun ia sangat tidak ingin melakukan itu. Namun, kondisi mengharuskannya untuk menelepon.
"Hallo ayang Anjell...rindu a gilang ya?" Dengan percaya diri Gilang sangat merusak mood Anjel kali ini.
"jangan becanda dulu! lo dari tadi bareng Shanna kan di meja? kalian pada kemana?" Tanya Anjel serius.
"lah? Shanna tadi kita tinggal sendiri di meja, soalnya Al mau rapat...ini gue udh mau pulang.." Jelas Gilang, walaupun sebenarnya jadwal rapat Alruni masih sedikit lama. Ia tak mungkin memberitahu prasangka Alruni kepada Shanna.
"lah...tuh anak kemana ya? udah kosong nih meja..." kesal Anjel.
"toilet ayang...udah di cari?" Pertanyaan Gilang tak ia jawab, Anjel mematikan sambungan telepon itu sepihak. Ia menghela nafas lega, walaupun Shanna belum ditemukan ia yakin gadis yang dicarinya itu berada di toilet.
Tanpa berpikir panjang, Anjel meninggalkan makanan yang sudah dipesannya itu. Ia berlari menuju toilet, ia hanya ingin memastikan bahwa Shanna benar-benar bersda di toilet. Toilet yang memiliki jarak yang terdekat dengan kantin berada di ujung pintu kantin. hanya butuh 2 menit ia berjalan cepat, ia menekan knop pintu utama toilet namun tak ia temukan Shanna disini. Apa Shanna di dalam kamar toilet?
"Shann...lo di dalam?" Panggil Anjel namun tak ada sahutan sama sekali.
"drrtt...ddrrt...begitu panggilannya masuk, suara dapat ia dengar dari dalam kamar toilet yang satu-satunya berisi sekarang. Ia semakin yakin jika didalam itu adalah Shanna. Namun bingungnya, kenapa Shanna tidak mengangkat sama sekali pesannya. Apalagi panggilan dan sahutan nya tadi sama sekali tidak di jawab Shanna.
"huuhh..." Anjel membuang nafas, saat ini sebelah tangannya berada di ambang knop pintu kamar mandi. Ia sebenarnya khawatir jika saja ia akan salah orang, bagaimana jika bukan Shanna di dalam.Dapat ia pastikan ia akan dijuluki cewek pengintip nantinya.
Sepersekian detik ia berpikir keras, ia membulatkan tekadnya untuk tetap membuka pintu itu. Krek, suara knop pintu yang diputar Anjel. Dengan mata yang memejam ia membuka pintu itu, ia mematung sejenak sebelum ia kembali membuka matanya. Matanya seakan ingin keluar, matanya melotot dengan lebar saat ia melihat Shanna dihadapannya sudah ambruk lemah dengan wajah yang sangat pucat. Darah segar menghiasi wajahnya yang berasal dari hidup dan pelipisnya yang terbentur pada sudut bak kamar mandi. Tak lupa juga pakaiannya yang sudah basah karena kran kamar mandi yang hidup sedari tadi, hampir saja Shanna kebanjiran disana.
"Shann....bangun..." Dengan kasar Anjel menggetarkan dan menggoyangkan badan Shanna yang sudah dapat ia rasakan sangat lemah.
Setitik air mata Anjel menetes, ia bingung dan sangat khawatir. Setengah badannya yang sudah basah kuyup akibat air yang menggenang ditambah lagi posisinya yang bertekuk lutut dalam berusaha menyadarkan Shanna.
Ia menggusar kasar air matanya yang menetes, "Shann...lo pasti kedinginan banget...bangun Shann..."
"hhiikkss...." suara tangisan kecil Anjel seketika terhenti saat mendengar ponsel yang ia yakini milik Shanna berbunyi. Ponsel itu berada di dalam tas yang unung saja Shanna menaruhnya di gantungan dalam kamar mandi. Anjel bangkit meraih tas itu, ia menjawab telepon itu.
" Ekhhm...tuan putri dimana? aku udah di kantin kampus kamu..." Panggilan itu berasal dari Arkana.
"Lo Arkana ya?" Suara serak karna sedang menangis saat Anjel menjawab telepon itu.
"Iya...Shanna mana?" Suara Arkana tiba-tiba berubah datar karena ia tau diseberang sana bukanlah gadis yang ia harapkan menjawab panggilannya.
"buruan bantuin gue...Shanna pingsan di kamar mandi..." Deg...seketika jantung Arkana berdetak kencang, apa yang terjadi pada gadisnya itu. Tanpa meminta persetujuan Anjel ia berlari menuju toilet. Ia menepis banyaknya mahasiswa yang berlalu lalang di hadapannya, tak sedikit dari mereka yang memandang Arkana dengan pandangan yang tak dapat diartikan.
Toilet yang tidak berjarak jauh itu, hanya ditempuh Arkana dalam waktu satu menit saja dengan kecepatan larinya seperti kilat.
"Shann..." teriak Arkana ketika mendapati Anjel yang tengah menangis berusaha membawa Shanna keluar dari kamar mandi. Di jam seperti ini akan sangat jarang mahasiswi yang mendatangi toilet ini. Karena pada umumnya sebagian warga kampus sudah menyelesaikan kelas mereka.
" kok bisa gini?" Introgasi Arkana tak terima melihat keadaan Shanna yang sangat jauh dari kata baik. Darah segar terus saja mengalir dari hidungnya.
"gue ga tau..." balas Anjel.
Arkana tak lagi memedulikan Anjel, kemudian beralih kembali menoleh ke arah Shanna. Tangannya mengepal kuat, entah apa yang ia rasakan sekarang. Situasi yang tak ingin ia alami lagi, melihat Shanna dalam keadaan seperti ini.