ArkaSha with Niki

ArkaSha with Niki
Kacau



**Shanna Mine ๐Ÿ’—


(balasan Shanna di bab sebelumnya**)


^^^Thanks ya udah bales dan turutin kemauan gue. ^^^


^^^gue udah ga kesepian sekarang^^^


^^^disini gue bakal ceritain semuanya^^^


^^^walaupun gue tau lo ga bakal tau^^^


^^^tapi gue lega bisa cerita di room chat kita berdua^^^


^^^Centang satu Shann, lo bener-bener blokir ternyata^^^


^^^gpp dh...Tetap baik-baik aja ya Tuan Putri nya Arka^^^


^^^Apa gue bangkit lg ya? ^^^


^^^bener cuman sahabatan doang sama Al?^^^


^^^Gue bangkit juga gada artinya, lo udah blokir gue ^^^


^^^ ILY ๐Ÿ’—^^^


Arkana terbangun dari tidurnya begitu mendengar suara amukan yang berasal dari lantai satu. Ia yakin itu mamanya, karena hanya mereka berdua lah yang tinggal di rumah ini sekarang.


Perlahan ia mengumpulkan kesadarannya, ia bangkit kemudian berjalan menuruni setiap anak tangga untuk menuju ke lantai dasar. Ia membuka knop pintu kamar mamanya, seketika ia terkejut saat melihat kondisi mamanya dengan telapak tangan yang sudah berlumuran darah segar. Dapat ia saksikan beberapa pecahan vas bunga yang sudah tergeletak di lantai.


Ia mendekati mamanya, perlahan memeluknya dengan erat. " ma dengerin Arka...mama ga boleh gini, Please...dengerin Arka ma.." ucap Arkana semakin erat memeluk sang Mama, kemudian isakan tangis yang juga terdengar dari mulutnya.


Mamanya memberontak meminta pelukan itu dilepaskan. "kamu yang udah biarin papa kamu pergi!! mama benci kamu Ar..." Jawaban Mamanya benar-benar menusuk hati Arkana. Baru kali ini ia mendengar mamanya mengumpat kepadanya. Merasakan mamanya yang semakin memberontak, perlahan ia melepaskan pelukannya.


Mamanya terus saja menunduk dengan isakan yang tidak terbendung lagi. Telapak tangannya terus dihiasi aliran darah, refleks Arkana mengambil kotak P3K berniat ingin mengobati luka mamanya. Saat ia meraih tangan mamanya, sang pemilik tangan menolak dengan kasar.


"jangan sentuh mama!! Pergi kamu Ar.." Bentakan yang terus menari di telinga Arkana. Tatapan tajam dari mata mamanya membuat ia meringis sakit hati.


"PERGI!!" Bentakan terakhir membuat Arkana tidak berkutik lagi. Teriakan itu menggema di dalam kamar itu. Ia mendekati mamanya, kemudian berbisik.


"Arka pergi ma..Jangan lukain diri mama lagi. Mama gak sendiri, Arka ada untuk mama." Arkana pergi meninggalkan mamanya seorang diri.


Arkana mengusap wajahnya frustasi. Setiap bentakan dan umpatan yang keluar dari mulut mamanya terus menari di telinganya. Ia sedikit kecewa, wanita yang tidak pernah ia bayangkan akan membencinya kini memarahinya. Bahkan ia tak memiliki salah sedikit pun.


Ia kembali ke kamarnya, dengan kasar ia ayunkan badannya menghantam kasur. Ia membenamkan wajahnya, kemudian berteriak.


"Arrrghhhhhh...." Teriak Arkana dengan wajah yang masih membenam di atas kasur.


"sshhh...hhiiksss...huuuaaa.." tangisan seorang lelaki yang sudah lelah dengan semuanya. Ia membenci dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi mamanya sepenuhnya. Ia membenci Papanya yang tidak memiliki hati baginya. Jika saja ia bisa mengulang waktu, ia memilih untuk tidak dilahirkan saja. Namun, setiap anak tidak bisa meminta untuk tidak dilahirkan.


Ia benci semuanya. Ia mengusap pipinya yang sudah basah dengan air mata, dengan ujung tangisan ia meraih ponselnya yang berada di atas nakas.


^^^Gue benci diri gue Shann^^^


^^^gue gagal jagain mama gue^^^


^^^Baru kali ini Mama marahin gue dan nyalahin gue^^^


^^^Gue gada salah Shann, Semuanya salah Papa^^^


^^^Tolong bela gue Shan, gue ga salah^^^


^^^Gue capek Shann^^^


Berharap pesannya dibalas oleh Shanna, namun nihil. Salah ia sendiri meminta Shanna memblokir kontaknya. Untuk kesekian kalinya Arkana menghela nafasnya dengan kasar.


"gue mau mati!!" lirihnya pelan, ia mengenang umpatan yang menyayat hati itu. Ia memejamkan matanya dalam, berusaha menepis semua hal yang terlintas di pikiran nya. Ia ingin tenang sekarang.


Tak terasa hampir satu jam ia terdiam dengan mata yang terpejam. Kini Arkana sudah terbuai dengan mimpinya, ia sudah tertidur sekarang. Semoga saja Arkana menemukan kebahagiaannya didalam tidurnya.


-------------


" besok gue yang jemput, ga boleh pergi sendiri lagi." Ucap Alruni, Shanna sudah keluar dari rumah sakit. Kepalanya sudah terasa mendingan, hanya saja masih ada perban yang masih menempel di pergelangan tangannya. Karena dirasa sudah membaik, ia memutuskan untuk tetap ke kampus besok. Ia tak ingin begitu banyak menitip absen kepada Anjel. Ia takut hal itu akan berdampak kepada nilainya.


"Iyaa..." ucap Shanna menyanggahi perkataan Alruni. Mulai hari ini ia kembali lagi ke rumah nya, mode manja nya kembali kumat. Ia hanya ingin dalam masa pemulihan dirawat oleh Mamanya.


Ia bersandar pada kasurnya, kamar yang beberapa pekan sempat ia tinggalkan. Nuansa green menghiasi kamar ini. Namun disisi lain, pikirannya tetap saja tidak tenang. Arkana terus saja menghiasi pikirannya. Hati ya terus saja dibebani rasa khawatir pada Arkana, Apa pria itu ada mengirim pesan kepadanya? Apa pria itu benar-benar akan bercerita di room chat keduanya. "Semoga lo baik-baik aja ya Ar.." gumamnya.


Ruangan yang begitu hening, Shanna yang fokus dengan pikirannya mengenai Arkana. Begitu juga dengan Alruni yang setia berbaring di atas sofa dalam kamar Shanna. Hanya mereka berdua disini, namun dengan pintu kamar yang terbuka.


"Reyyyy....kok bisa kecelakaan sayang?" suara cempreng yang tiba-tiba terdengar dari pintu kamar Shanna. Sontak kedua insan yang berada dalam kamar tersebut mendongak secara bersamaan lalu bertatapan.


Sang pemilik suara melirik kepada Alruni dengan tatapan tajam. Kemudian ia duduk tepat disamping Shanna diatas kasur.


"ini gara-gara ga dijemput Niki ya? huuffhhtt..." tatapan tajam itu kembali melirik Alruni. Alruni hanya bisa tersenyum manis dan mendelik kesal.


"Reyy udah baikan bunda, Bunda liat kan Reyy udah sehat gini...Bukan salah Niki kok.." Balas Shanna berniat membela Alruni. Ya, sosok wanita yang tengah menciptakan keributan ini adalah Bundanya Alruni. Tesa, wanita paruh baya dengan usia 42 tahun itu merupakan ibu kandung dari Alruni. Seperti halnya Mama Shanna, Bunda Alruni juga menganggap Shanna seperti anaknya sendiri. Terlebih Ia tak memiliki anak perempuan, pasti saja ia akan begitu menyayangi Shanna.


"beneran udah gpp kan?" Paniknya.


" engga bun..."


"kesini sama siapa bun?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Alruni.


"Sama cintanya bunda.." jawaban Ibundanya yang tetap meliriknya dengan tajam sangat-sangat diluar nalar membuat Alruni menggeleng tidak karuan. Pasangan yang selalu menampakkan kemesraan di hadapannya, baik itu di rumah. bahkan di rumah Shanna juga. Memang lupa umur mereka sepertinya.


"Ayah dimana bun?" Tanya Shanna.


"hmm...di bawah sayang, ngobrol sama papa kamu." nada ucapan yang tiba-tiba berubah 180 derajat, ucapan penuh kasih sayang ia lontarkan pada Shanna.


" nasib anak tiri..." racau Alruni membuat kedua wanita disekitarnya itu menoleh dengan tawaan yang puas.