ArkaSha with Niki

ArkaSha with Niki
Kebenaran



Seperti biasa Shanna harus menunggu Alruni yang sedang rapat bersama anggota BEM kampusnya. Shanna menunggu didepan ruangan BEM seperti orang bengong tak tau apa-apa. Ia merutuki dirinya sendiri yang tengah duduk di kursi panjang di depan ruangan itu, ia sendirian disana.


"untuk kesekian kalinya gue dikira gila duduk sendirian disini.." batin Shanna kesal. Ia menatap nyalang beberapa mahasiswa yang berlalu lalang dihadapannya. Kenyataan nya tidak ada mahasiswa yang berani untuk duduk di kawasan ruangan BEM kecuali anggota BEM itu sendiri. Shanna yang sudah jelas bukan anggota BEM dengan beraninya bergelut diatas kursi itu.


"Bim..." panggil Shanna saat melihat seorang lelaki yang sudah ia kenal dan merupakan salah satu anggota BEM tersebut. Sesaat ia melihat Bimo yang tengah bergegas memasuki ruangan rapat, namun langkah pria itu terhenti saat seseorang memanggilnya.


"eh Shann..? ada apa?" Ucap Bimo seraya mendekati Shanna.


"bilangin ke Al...jangan lama-lama, gue nungguin disini..." Ucap Shanna.


Bimo yang sedari tadi sudah bergegas tak berucap apapun membalas ucapan Shanna. Ia hanya mengangguk pelan dan mengacungkan jempol kanannya. Setelah itu pria itu meninggalkan Shanna sendirian disana.


Shanna kembali menundukkan kepalanya sambil mengotak atik ponselnya.


drrrtt...ponsel milik Shanna bergetar menandakan adanya pesan masuk.


Niki Imooet 😤


Gue masih lama


pulang duluan aja


ga perlu nungguin gue, bisakan?


^^^^^^yaudah^^^^^^


Shanna menatap sendu pesan yang dikirim Alruni, tumben lelaki ini mengizinkannya untuk pulang sendirian. Apa lelaki itu lupa jika Shanna tadi pagi dijemput olehnya? sekarang terpaksalah Shanna untuk menaiki ojek online agar sampai ke rumahnya. Dengan nafas yang ia tarik dengan kasar, sementara pesan Alruni masih memutar di kepalanya. Ada apa sebenarnya dengan Alruni? tadi juga janji di kantin tak pria itu tepati. Pikiran-pikiran buruk yang mengatakan jika Alruni marah kepadanya ia tepis kuat-kuat, ia meyakini jika Alruni pasti kelelahan akibat banyaknya tugasnya sebagai seorang presiden mahasiswa.


Sebelum pulang ke rumahnya, Shanna memutuskan untuk mampir di toko buku langganannya untuk memutus penat sejenak. Ia sangat suka membaca bahkan jika ia tengah dihantui kelelahan ia tak jarang membayar penatnya dengan membaca buku.


Tempat membaca yang tersembunyi dan sejuk, itulah yang Shanna sukai dari tempat ini. Walaupun ditempat yang tersembunyi itu tak sedikit pula para pengunjung yang juga berniat untuk membaca buku disana. Berbeda dengan tempat lainnya, disini Shanna benar-benar menemukan ketenangan. Setiap para pembaca memang fokus dengan apa yang ada dihadapannya bukan sibuk mengobrol. Karena keributan tak dibenarkan di tempat ini.


Shanna setia hanyut dalam lantunan kata-kata buku yang ada dihadapannya. Balik setiap balik halaman ia pahami dengan teliti. Tiba-tiba seseorang berada di samping nya sembari berkacak pinggang memandang Shanna dengan amarah.


Shanna mendongak tak memedulikan orang tersebut.


"lo kenal gue?" Tanya Shanna, karena ia jujur tidak mengenal gadis di hadapannya ini.


"Meisya." Ucapnya dengan mengulurkan tangannya berniat kenalan dengan Shanna, tanpa berpikir panjang Shanna menangkap tangan Meisya. Ya gadis itu adalah Meisya, setelah Arkana menolak untuk makan siang dengannya di kampus. Ia membuntuti pria itu kemanapun ia pergi, betul saja tebakan nya jika pria itu menemui Shanna tadi siang di kampus Shanna.


"Shanna.." balas Shanna. Seketika kedua tangan itu ditarik oleh masing-masing pemiliknya.


" lo perempuan murahan ya! sana-sini centil sama cowok-cowok.." ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah kanan dari balik rak buku. Perempuan yang beberapa waktu lalu Shanna temui dengan Alruni. Ia adalah Karin. Mendengar ucapan Karin Shanna menahan amarahnya, ia berusaha mengontrol emosinya. Berbeda dengan Meisya yang nampak bersemangat menatap Shanna dengan tatapan yang sinis.


"maksud lo apaan?" tanya Shanna saat melihat Karin mendekat kepadanya.


"setelah dekat dengan Alruni, lo jadi pacar sepupu gue ha?! lo bilang lo ga murahan??! lo bangga dekat sama puluhan cowok?" Ucap Karin dengan penuh kebencian, ia menyumpah serapahi Shanna. Namun Shanna masih dapat mengontrol emosinya, bahkan ia tak dapat mencerna omongan Karin dengan baik.


"gue ga ngerti!!" balas Shanna dengan tatapan butuh jawaban. Jelas saja ia kebingungan dengan ucapan Karin.


"Arkana sepupu gue!! dan gadis di samping lo ini, pacarnya!!" Bentak Karin berhasil membuat Shanna terkejut bukan main. Ia berusaha agar tak termakan omongan Karin, namun ia tak mampu berpikir jernih sekarang. Mendengar kebenaran jika Karin adalah sepupu Arkana, ia tau jika Karin menyukai Alruni dari tatapan gadis itu pada pertemuan mereka sebelumnya. Lain halnya dengan keberadaan Meisya, apa benar jika gadis itu pacar Arkana? Pria yang beberapa saat lalu mengklaim Shanna sebagai pacarnya. Apa maksud dari Arkana?


Shanna menghela nafas yang kemudian meninggalkan kedua gadis yang baru saja mengintimidasi nya itu. Ujung pelupuk matanya ingin mengeluarkan cairan bening, kenapa ia ingin menangis? padahal semua orang tau kenangan nya dengan Arkana tidak ada. Ia benar-benar pusing sekarang, baru saja join masalah percintaan sudah mendapatkan sakit hati seperti ini.


Pulang dengan keadaan over thinking bukanlah hal yang mudah. Shanna begitu lesu sekarang, apalagi hari hampir malam. Aktivitas nya seharian ini menguras energinya, saat memasuki rumahnya. Seperti biasa penghuni rumah ini dalam kondisi ceria, tak ada yang bersahabat dengan pikiran Shanna. Mereka tidak tau perasaan lelah yang dirasakan Shanna.


"nek lampir lesu banget." teriak Aqza ketika mendapati kakak perempuannya itu masuk ke rumah dengan wajah yang sedikit pucat dan berantakan. Shanna mendongak menatap tajam wajah adiknya, Aqza bergidik ngeri mendapat tatapan tajam dari Shanna. Tanpa memedulikan keluarganya, Shanna terus saja berjalan gontai dengan gemulai menuju kamarnya.


"selesai bersih-bersih Reyy langsung tidur ya ma..Rey udah makan kok.." sahut Shanna lemah tanpa menoleh sedikit pun ke arah mamanya. Mamanya mengangguk faham saja kondisi Shanna, mungkin saja anak perempuannya itu kelelahan.


Berbeda dengan Shanna, entahlah kebenaran atau apalah yang didengarnya dari Karin dan Meisya. Hal itu benar-benar membuat mood nya hilang. Ia kehilangan minat untuk melakukan apapun, bohong jika ia segera bersih-bersih sampai di kamarnya. Ia malah menghempaskan tasnya ke sembarang arah, lalu membuang kasar badannya sendiri ke atas kasur miliknya.


"apa maksud lo coba Ar?!!" Gerutu Shanna meremas seprei kasurnya.


"kalau lo punya pacar! ga perlu deketin gue.."


" aaaakkkhh..." ucap Shanna frustasi.