
Alruni mendongak ketika ia menangkap seseorang yang sudah berada di hadapannya. Ia menatap marah pria itu, sejak kejadian kemarin yang menimpa Shanna. Alruni belum bisa mengontrol emosinya untuk meladeni pria ini dengan baik. Walaupun ia tak tau alasan pastinya Arkana tidak mengantar Shanna, namun ia tidak terima Shanna kehujanan seperti itu.
"Shanna pulang bareng gue..." final Arkana tidak takut sama sekali kepada Alruni. Shanna dihiasi kondisi gugup saat ini, apa yang akan ia jawab ia hanya kebingungan saat ini menghadapi kedua lelaki dihadapannya.
Tanpa membuka suara apapun, Alruni tidak menghiraukan ucapan Arkana. Ia menarik lengan baju Shanna agar gadis itu mengikutinya. Lain hal dengan Shanna, gadis itu hanya tertunduk ketakutan tidak tau akan berbuat apa.
Dengan tatapan tajam kepada Arkana, Alruni sedikit menyenggol bahu pria itu yang menghalangi jalannya bersama Shanna. Arkana mengepalkan tangannya terus saja memandangi kelas kosong dihadapannya, tak berbalik arah memandangi kedua orang yang beberapa detik melewatinya itu.
"sialan..." umpat Arkana.
Drrt...drttt...ponsel Alruni bergetar. Ia menghentikan langkahnya kemudia menerima panggilan telepon tersebut.
"*haloo..."
"Al...buruan ke ruangan BEM, yng lain udah pada nungguin lo.."
"lo pimpin rapat sebentar bim, gue ada urusan!"
"tapi al..."
"lo ga dengerin gue ha!!"
"hallo bim.." Shanna mengambil telepon Alruni dengan paksa. Ia tidak tenang jika Alruni terus saja meninggalkan amanah nya sebagai presma hanya karena dirinya.
"lo tunggu sebentar lagi ya, Alruni otw kesana.." Ujar Shanna menutup telepon itu sepihak.
"Reyy..." ucap Alruni dengan memelas.
" gue gpp nik..justru lo ga boleh terus-terusan lari dari amanah kayak gini. lo ke ruangan BEM sekarang, atau ga! gue marah sama lo.." ancam Shanna tak mampu membuat Alruni berkutik lagi. Ternyata kelemahan Alruni adalah Shanna, ia akan melakukan apapun demi gadis yang dipandangnya lemah setiap saat ini.
"gue yang anter lo Shann.." ucapan itu tiba-tiba menggema dari Arkana yang masih setia memandangi keduanya dari pintu kelas Shanna. Alruni dan Shanna sontak menoleh melihat pria itu. Arkana perlahan berjalan mendekati Shanna dan Alruni, sedangkan Alruni masih memandangi nya dengan pandangan sangat tidak suka.
"gue pesenin taksi..." paksa Alruni.
"hitungan tiga lo masih berdiri disini, gue sepak lo ya!" Ujar Shanna mengambil ancang-ancang ingin menghajar Alruni. Mendapat perlakuan seperti Alruni bersikap pasrah.
"hati-hati!" perintahnya pada Shanna, kemudian ia melanjutkan perjalanan nya menyusuri koridor yang berada di lantai dua itu. Dengan terpaksa ia meninggalkan Shanna yang sedang bersama Arkana disana.
Shanna terkekeh saat melihat kepergian Alruni setelah berhasil ia ancam. Ia tak habis pikir kenapa semua orang ingin memilih Alruni sebagai presma, yang menurutnya tidak bertanggung jawab seperti itu. Ia berbalik badan, tepat dihadapannya Arkana berada. Ia hanya diam tak mengatakan apapun hingga Arkana lah yang memulai pembicaraan.
"maafin gue soal kemarin.." ucap Alruni. Itulah alasannya untuk menemui Shanna saat ini, ia benar-benar merasa bersalah kepada Shanna.
"gpp...gue baik-baik aja.." balas Shanna memainkan kakinya mengacak-acak ubin yang polos itu. Ia sama sekali tak berani menatap Arkana dalam jarak yang dekat seperti ini.
Arkana terkekeh, "gue nyaman di dekat lo Shan.." bisik Arkana sedikit mendekati telinga Shanna.
Shanna mematung, jantungnya tak henti-hentinya memompa dengan cepat. Ia gugup sekarang. Ia terus menunduk kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari Arkana, ia tak ingin terus berada di samping pria ini. Bisa saja ia ketahuan jika sedang melting. Sekali lagi Arkana mengukir senyuman di bibirnya, lucu menurutnya melihat Shanna yang berjalan dengan menunduk seperti apa yang ia liat sekarang.
-------
"gue pengen ngomong sesuatu..." Ucapan Arkana dituju pada gadis yang berada dihadapannya sekarang. Kini keduanya sudah berada disebuah cafe yang biasa digunakan anak seumuran mereka untuk refreshing dan melepas penat. Cafe ini tak jauh letaknya dari kampus Shanna.
"ngomong aja.." balas Shanna memutuskan hirupannya pada sedotan yang berada dalam gelas yang berisi jus mangga itu. Iya, gadis penyuka jus mangga.
" lo ga mau pacaran ya Shann?" Final Arkana tanpa berbasa-basi membuat Shanna melotot ke arahnya dengan tatapan kebingungan.
"papa ngelarang gue..." jawab Shanna dengan jujur.
"lo gada rasa ke gue?" Tidak tau malu sekali Arkana. Bisa-bisanya ia blak-blakan di hadapan Shanna.
" pertanyaan lain aja..." imbas Shanna tak ingin membahas tentang itu. Bagaimanapun Arkana adalah orang pertama yang ia kagumi.
"kenapa ga mau jawab?" Arkana terus saja mengintrogasi Shanna.
"gpp..." jawab Shanna singkat, gadis itu meneruskan aktivitas nya yang tengah menyantap hidangan yang dipesannya. Berbeda dengan Arkana yang sedari tadi hanya menatap Shanna dengan lekat.
"udah ada yang ngisi ya hati lo?" pertanyaan Arkana semakin ambigu, Shanna tak memusingkan pertanyaan itu. Ia mengangguk pelan membuat raut wajah Arkana berubah menjadi masam.
Arkana menghentikan ucapannya sejenak, ia menghela nafas pelan kemudian menarik nafas lagi.
Arkana terlihat sedang berpikir sejenak, hening menghiasi keduanya.
"mampus lo ar...sekali nya confess ke cewe malah ga disukain balik.." batin Arkana merutuki dirinya sendiri.
"udah gada tempat buat gue di hati lo?" tanya Arkana lagi, Shanna tak mengucapkan apapun. Ia menaikkan bahunya seperti acuh saja. Ia sangat geli menggelitik melihat wajah Arkana saat ini.
"lo ga makan ar? dari tadi ngomong mulu.." Shanna berusaha mengubah topik pembicaraan Arkana.
"Plis Shann😭" suara hati Arkana kini.
"gue boleh tau siapa cowok itu?" tanya Arkana lagi tak mau menyudahi omongan mereka.
"buat apa lo tau? ini urusan gue!" jawab Shanna membuat Arkana kehilangan nyali sejumput.
"seengga nya gue bisa nenangin diri gue..gue akan nyerah..gue ga bakal gangguin lo lagi.." jelas Arkana.
Shanna menggubris ucapan Arkana kali ini dengan sedikit tawaan yang mengundang kekesalan Arkana.
"jangan terlalu serius gitu Ar...lo lucu tau ga!!" balas Shanna, gimana jika dipuji seperti itu Arkana lah yang salting. Shanna bisa saja.
"Shann!! gue serius jawab gue...gue ga mau bikin lo ga nyaman sama gue. Pliss..jujur ke gue, biar gue pamit dari hidup lo. Gue udah suka lo dari lama Shan..ga salahkan gue bertingkah kayak gini? pliss..gue butuh jawaban lo." Shanna melongo mendengar penuturan panjang Arkana. Di lain sisi ia senang jika cinta nya sedari lama ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Arkana juga sudah menyukainya dari dulu.