ArkaSha with Niki

ArkaSha with Niki
Merasa Bersalah



Jam menunjukkan pukul delapan malam, di rumah orang tuanya Shanna menjadi trending topik karena belum juga memunculkan diri. Walaupun ia izin ke rumah Alruni namun tetap saja Mamanya sangat mengkhawatirkan anak perempuannya itu. Belum pernah Shanna pulang malam tanpa memberitahu salah satu diantara mereka.


Tantri menghampiri suaminya yang tengah asyik menonton televisi yang ditemani Aqza sedang belajar dihadapan papanya. Ia berdiri di hadapan suaminya, jelas sekali dari raut wajahnya yang tidak enak. Namun berbeda dengan Prima, pria paruh baya itu hanya tenang saja karena yang ia tau Shanna sedang di rumah Alruni.


"Pa..Reyy ada ngabarin papa?" Tanya Tantri dengan wajah yang sangat panik membuat suaminya itu menoleh begitu juga dengan Aqza yang terhenti dari kegiatan belajar nya.


"masih di rumah Niki kali ma..." ujar Prima lembut.


"Reyy pasti kasih kabar kalau pulang malam Pa..." cemas Tantri.


"Ma...mama liat kan di luar lagi hujan...mama tenang aja, Reyy pasti aman di rumah Niki. Kalau ga mama coba deh telfon Niki..." Ujar Prima berusaha menenangkan istrinya itu. Namun bagaimanapun Tantri tidak akan tenang sebelum mendengar kabar itu dari Shanna.


"udah gede tuh mak lampir..masih aja di khawatirin..." gumam Aqza menyaksikan obrolan kedua orang tuanya itu.


Drrttt....drttt...Benar saja Tantri mengikuti saran dari suaminya itu. Jika Shanna tidak memberi respon apapun saat dia telfon, kali ini ia mencoba menghubungi Alruni.


"Halo Nik..ini mama.."


"iya ma?" Diseberang sana Alruni sedikit penasaran kenapa Tantri menelepon nya malam-malam begini.


"Reyy lagi bareng Niki? mama khawatir soalnya Reyy belum pulang Nak.." Alruni terkejut bukan main. Apa Shanna benar belum menemukan jalan pulang saat menghubungi nya tadi. Jika Tantri bertanya, berarti Shanna belum berada di rumah. Lalu dimana keberadaan Shanna saat ini.


"gue jawab apa?" Alruni terdiam belum juga menjawab pertanyaan Mama Shanna.


"hmm...Reyy bareng niki ma..mama ga usah khawatir ya.." Ucapnya berbohong tak ingin membuat mama Shanna semakin panik. Ia sendiri bahkan tidak tau keberadaan Shanna sekarang. Sedangkan wanita paruh baya yang sedang berkomunikasi dengannya itu menghela nafas lega saat yang diketahuinya kondisi anaknya baik-baik saja.


"Alhamdulillah...bilangin ke Reyy kasih mama kabar..orang disini udah pada panik soalnya...mama tutup ya.." Sambungan telepon terputus.


Alruni mencari kontak Shanna lalu menghubungi gadis itu.


"maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, hubungi sekali lagi." Mendengar operator lah yang menjawab teleponnya, Alruni meremas kuat ponselnya. Lagi-lagi ia dihantui perasaan bersalah saat ia membuka room chat nya bersama Shanna ketika gadis itu meminta dijemput olehnya. Bahkan pesan terakhir yang ia kirimkan saat dirinya mengatakan ia sibuk hanya di baca oleh Shanna satu jam yang lalu. Bukannya ia tak ingin menjemput Shanna, Ia hanya tidak suka melihat Shanna bertamu ke rumah Arkana, memangnya sedekat apa mereka?


"lo kemana Reyy?" batinnya. Suara deru hujan yang ia dengar semakin membuatnya merasa bersalah, apa Shanna kehujanan sehingga tidak bisa pulang tepat waktu. Berarti Shanna tidak berbohong saat ia mengatakan jika tak ada taksi yang merespon nya.


Beberapa menit berfikir dan merutuki dirinya sendiri. Ponsel miliknya kembali bergetar, ia berharap jika Shanna lah yang menghubungi nya. Jika gadis itu meminta dijemput lagi tentu saja dengan secepat kilat ia akan menjemput. Namun pesan yang dapatkan saat ini adalah dari sumber tak dikenal.


+86252********


Maaf mengganggu waktunya


Iya benar


Shanna tadi menitip pesan kepada saya


untuk menghubungi kamu


Shanna tadi saya temukan pingsan di jalanan


Saya harap kamu bisa ke rumah sakit sekarang juga


Alruni mengepalkan tangannya dengan kuat. Baru saja beberapa hari yang lalu gadis itu keluar dari Rumah Sakit, kini harus masuk lagi. Kondisi ini semakin membuat Alruni merasa bersalah kepada Shanna.


"maafin gue Reyy..." ujarnya satu tetesan air mata jatuh di pipinya. Tak perlu berpikir panjang, dengan cepat Alruni meraih jaketnya yang berada dalam lemari dan menyambar kunci mobil milik papanya di atas nakas. Ia bahkan tak meminta izin untuk keluar kepada keluarganya, ia hanya ingin cepat sampai rumah sakit melihat keadaan Shanna.


 


Setelah menemani Meisya yang katanya konsul ke rumah sakit. Lelaki itu sama sekali tidak menemani Meisya masuk ke ruang dimana ia konsultasi dengan dokter. Ia tidak memedulikan hal itu, tugasnya hanya menemani bukan mendampingi itulah pikiran nya sekarang. Kini keduanya berada di depan rumah sakit, Arkana sengaja menunggu Meisya hingga mendapatkan taksi untuk pulang. Ia takut jika tugasnya tidak ia lakukan, wanita yang sama sekali tidak ia harapkan ini akan melapor kepada papanya.


"lo pulang sendiri..ini udah malem, jangan berharap gue anter segala..." sarkas Arkana saat melihat taksi yang mereka tunggu datang juga.


"thanks udah temanin gue.." Ujar Meisya secara terpaksa tak mau lagi memohon kepada Arkana. Padahal ia sangat ingin dirinya diantar oleh Arkana hingga ke rumahnya.


Arkana pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun kepada Meisya. Ia juga ingin menjemput motornya yang ia tinggalkan di cafe sedari tadi. Hal yang ditunggu-tunggu nya datang juga, ia ingin pulang ke rumah dengan cepat agar ia bisa menemui Shanna lagi di rumahnya. Sebenarnya pikiran nya juga merasa bersalah kepada Shanna karena sudah membuat gadis itu berdiam diri lama di rumahnya. Namun kapan lagi kan waktunya Shanna berkunjung ke rumahnya.


Motor yang ia kendarai berhasil membawanya dengan cepat menuju rumahnya. Saat ia memasuki rumahnya, rumah yang selalu kosong ini tak lagi membuatnya keheranan. Karena selalu begitu ia dapati setiap hari, ia tak sabar kemudian melangkahkan kakinya menekan knop pintu kamar mamanya. Kosong, tak ada siapapun yang ia lihat disana. Kamar yang biasanya dipakai mamanya untuk meratapi diri kini kosong dan rapi. Senyuman terukir di sudut bibirnya saat melihat keadaan kamar ini.


" thanks banget Shann...lo bikin mama gue pulih.." senyumnya kemudian menutup kamar itu kembali. Dalam pikirannya Shanna berhasil membuat mamanya sembuh dari stress nya, bahkan kembali ke keadaan mamanya semula yang begitu hangat. Suara seseorang yang tengah sibuk dari arah dapur membuyarkan pikiran Arkana. Ia yakin jika Shanna dan mamanya pasti sedang mengutik peralatan dapur disana.


"Arka pulang ma..." teriaknya saat mendudukkan diri di meja makan. Ia melihat mamanya tiba-tiba muncul dari arah dapur dengan membawa mangkok yang berisikan sup ayam kesukaan Arkana. Sambil tersenyum melihat kedatangan putra semata wayangnya itu ia bergegas meletakkan sup itu di atas meja. Dan menduduki kursi yang berada di hadapan Arkana.


Arkana mengernyit bingung "Shanna mana ma?" tanyanya.


"udah pulang dari tadi sore sayang.." jawab mamanya disertai kekehan kecil. Ia yakin jika anak nya ini pasti mengharapkan Shanna berada di rumahnya.


"kan tadi Arka udah suruh nunggu ma...Shanna pulang sama siapa?" Tanya Arkana lagi tak habis pikir dengan dirinya sendiri.


"Shanna pulang sendiri...dia bilang udah hubungi kamu, tapi kamu ga jawab.." Jawaban mamanya berhasil membuat Arkana dipenuhi rasa bersalah. Tanpa berkata apapun lagi pada mamanya, Arkana bergegas menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Ia merutuki dirinya sendiri, kenapa dengan bodohnya ia tidak membawa handphonenya saat ia keluar rumah. Ia berpikir hanya sebentar meninggalkan Shanna di rumahnya, ia tak kepikiran akan selama ini. Shanna pasti sudah menghubungi nya sedari tadi.