
Sudah lama ditunggu-tunggu Arkana, namun tidak terlihat tanda-tanda bahwa Shanna akan membalas DM-nya. Bahkan user Instagram Arkana saja tidak direspon oleh gadis itu. Dengan segenap keberanian, Arkana memutuskan untuk menemui Shanna di kampusnya. Arkana menatap pintu kelas Shanna, di mana dia sekarang berada. Meskipun gugup, dia berusaha memberanikan dirinya karena jantungnya berdetak kencang.
“Bro..” panggil Arkana kepada seseorang yang tidak dikenalnya, tapi ia yakin pria itu sekelas dengan Shanna. Pria yang bernama Roni itu membalikkan badannya saat mendengar namanya dipanggil.
“Manggil gue?” Tanya Roni yang dijawab dengan anggukan dan senyuman oleh Arkana.
“Lo sekelas dengan Shanna kan?” lanjut Arkana yang kemudian dijawab Roni dengan anggukan.
“Gue minta tolong, panggilin Shanna.”
“Oke..gue masuk dulu..” ucap Roni.
Saat ini, Arkana sedang mengumpulkan keberanian agar tidak gugup berbicara dengan Shanna nantinya. Dia memandangi setiap sudut kampus Shanna dari lantai dua tepat di depan kelas Shanna. Dia sedang menunggu Shanna keluar dari kelas ketika seseorang menepuk bahunya pelan. Dengan senyuman tipis, dia berharap orang itu adalah Shanna, tetapi ternyata wajah Roni yang kini berada di hadapannya.
“Shanna gak ada di kelas, ini Anjel temannya,” kata Roni, membuatnya kecewa karena hanya menghayal berdua dengan Shanna padahal gadis itu tak berada di kelas.
“Thanks bro,” balas Arkana.
Roni meninggalkan mereka berdua dan pergi ke kelas. Tanpa basa-basi, Arkana mulai berbicara kepada Anjel.
“Lo lihat Shanna? Kok belum datang?” Tanya Arkana.
“Lo ada perlu?” Tanya Anjel, mencoba untuk mengetahui apakah Arkana berhak mendapatkan cinta Shanna.
“Perlu banget,” ucap Arkana dengan tegas.
“Dia tadi hubungi gue, dia gak masuk hari ini,” kata Anjel, menjelaskan bahwa Shanna tidak masuk hari ini.
“Gue boleh minta nomor Shanna,” ujar Arkana dengan harap-harap cemas, meskipun Shanna bukan tipe orang yang begitu mudah membagi nomor handphonenya. Ia hanya ingin keinginannya pada Shanna terwujud, meskipun gadis itu berlagak gengsi di depannya.
Setelah menemui Anjel, Arkana langsung bergegas menuju ke kampusnya karena sebentar lagi dia masuk kelas. Sudut bibirnya terangkat, tersenyum kemenangan saat dia sudah mendapatkan nomor Shanna. Kini dia tak terlihat cool lagi jika itu berhubungan dengan Shanna. Bahkan, dia membuang jauh rasa gengsinya untuk mendekati cewek.
Shanna Mine💗
^^^Shanna..^^^
^^^Kok ga masuk kampus?^^^
Dengan hembusan nafas kasar, Arkana kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantong jaketnya ketika mendapati pesan yang dia kirim ke Shanna centang satu. Berani sekali dia menamai kontak Shanna dengan “mine”, padahal semuanya tahu mereka belum memiliki hubungan apa pun.
Bocah Tengil 😤
^^^Reyy..lo kemana?^^^
^^^Kok gada di kampus?^^^
^^^Anjel bilang lo nitip absen..^^^
Sehari tanpa kabar dari Shanna membuat Alruni kebingungan dan gelagapan mencari keberadaan Shanna. Sedangkan Shanna sendiri sengaja mematikan ponselnya karena ia sedang dirawat di rumah sakit. Ia tak ingin merepotkan Alruni ataupun Anjel jika mereka tahu dia berada di rumah sakit.
“Lo kemana sih Reyy..” gumam Alruni yang kesal dengan Shanna yang tiba-tiba menghilang.
“Ma..jangan bilang ke Niki ya…Reyy masuk Rumah Sakit..” ujar Shanna memohon pada ibunya.
“Mama tahu..” balas Mama Tantri sambil menyuapkan makanan pada Shanna yang pasti semua orang akan mengakui makanan ini sangat membosankan. Masakan rumah sakit tanpa rasa sedikitpun, hanya nuansa hambar ketika dimasukkan ke dalam mulut.
“Nanti Niki akan marah padamu, Rey…” ujar papanya tiba-tiba membuat Shanna terdiam sebentar. Benar sekali ucapannya.
“Nanti Rey yang mengurus itu, Pa..” kata Shanna sambil tersenyum.
Karena kesal dengan Shanna yang tidak memberinya kabar, Alruni memutuskan untuk mendatangi rumah Shanna. Saat ini, dia berada di teras rumah Shanna, tetapi dia tak melihat ada tanda kehidupan di dalam rumah itu. Mobil ayah Shanna yang biasanya terparkir di garasi juga tidak ada. Sebuah kecurigaan muncul di benaknya, jadi dia menghampiri satpam yang bertugas di rumah Shanna.
“Pak bro..” ucap Alruni menghampiri Pak Tarjo yang sedang menyeruput kopi miliknya.
“Ada apa, Al bro?” Tanya Pak Tarjo yang kemudian berdiri dan menghadap kepada Alruni dengan kocak seperti biasanya.
“Kenapa, Al? Ada lihat Shanna?” Tanya Alruni berharap Pak Tarjo mengetahui keberadaan Shanna.
Tidak peduli reaksi yang akan dia dapatkan, baik senang maupun sedih, Pak Tarjo terpaksa berbohong karena ia tahu Shanna memintanya untuk melakukannya. Padahal ia tahu di mana Shanna berada sekarang.
“Rumah lagi kosong, Al. Bapak sedang bekerja, Ibu ke pasar, kalau Shanna, saya tidak melihatnya hari ini,” ujar Pak Tarjo berbohong berusaha menjelaskan kepada Alruni.
“Ya udah, makasih ya Pak. Kalau begitu, pamit dulu ya, Pak,” ucap Alruni menjauh dari tempat Pak Tarjo, kemudian berlalu meninggalkan rumah Shanna dan menuju ke kampusnya.
Manik mata Shanna kini mengitari ruangan yang bernuansa putih itu, ia sudah seperti bersahabat dengan ruangan ini. Pantas saja abangnya ingin mengajak Shanna untuk tinggal bersamanya, tentunya untuk memastikan pola makannya sehat atau tidak.
“Pa..Reyy kapan pulang?”
“Besok.. Tapi, pulangnya ke rumah abang ya, biar kamu sehat,” jawaban polos papanya membuat Shanna terdiam tidak percaya. Bukankah jika ia masuk rumah sakit lagi, ia harus tinggal di rumah abangnya? Apa yang terjadi, papanya juga kelihatannya setuju dengan saran dari abangnya.
“Tapi, Pa..” ujarnya dengan muka cemberut.
"Gadang tapi-tapian, kamu harus hidup sehat, Reyy... sama bang Diksa kamu bakal takut," potong sang mama menengahi.
Bayangan akan tinggal di rumah abangnya dan bermain di kepala Shanna. Di sisi lain, ia merasa senang akan tinggal bersama keponakannya. Namun, sikap abangnya yang suka menjailinya adalah hal yang ia pertimbangkan. Shanna tidak pernah menyangka abangnya akan memikirkan hal sekonyol ini menurutnya.
Shanna Mine 💗
^^^Shan, gue mohon balas pesan gue^^^
^^^Gue minta maaf soal kemarin di kantin^^^
^^^Lo dimana, Shan?^^^
^^^Apa Anjel salah memberi nomor lo? Offline mulu dari tadi pagi^^^
Tak ada balasan dari seberang sana, ia semakin yakin bahwa nomor yang dikirim oleh Anjel salah. Dengan perlahan, Arkana menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan. Ia mulai memikirkan apakah ia bisa memiliki hati Shanna. Ia harus sadar bahwa perempuan yang ia inginkan kali ini bukanlah sembarangan perempuan. Perempuan yang selalu menjaga dirinya bahkan mungkin menghindari dirinya dari pacaran.
Arkana menepuk pelan kepalanya dan kemudian tangannya tergerak memeras kasar rambutnya.
"Sabarlah, Ar. Jangan menyerah dulu," ujarnya sembari mengelus sabar dadanya. Ia seperti pria yang kegilaan cinta sekarang. Jika saja Davi tahu hal ini, ia akan habis dimaki oleh temannya itu. Bagaimanapun juga, Arkana yang terkenal akan ketampanan dan kecoolannya yang tak dapat diragukan banyaknya cewek yang mendekatinya. Namun, ia terus menolak.