
"Assalamualaikum." ucap Alruni ketika memasuki ruangan rawat inap Shanna. semua penghuni ruangan sama-sama menoleh ke arahnya, ia beralih menatap sendu brangkar Shanna. Terlebih lagi, apa yang dilihatnya semakin membuat ia merasa bersalah. Hatinya terasa kelu, melihat Shanna yang terpasang alat bantu untuk bernafas.
"waalaikumsalam.." balas mereka. Alruni masuk, kemudian menyalami mereka satu persatu. Begitu ia mengulurkan tangannya kepada Tantri, mama Shanna. Refleks sang mama menangkap tubuh Alruni, memeluknya erat. Dapat ia lihat wajah khawatir dari raut perawakan Alruni. isakan tangis Tantri terdengar lagi.
"maafin Niki Ma..." ucap Alruni sembari membalas pelukan Tantri.
"bukan salah kamu nak..." balas Tantri melepas pelukannya, berusaha terlihat tegar ia mengusap air matanya tersenyum kepada Alruni.
"buruan gih Nik... temuin Reyy..." kali ini Prima yang mengeluarkan suara sambil menunjuk ke arah brangkar Shanna.
Alruni mengalihkan pandangannya kepada Prima, disusul anggukan kecilnya. Ia mengusap air matanya, ia bangkit kemudian berjalan perlahan menuju brangkar Shanna.
Ia mendudukkan dirinya di kursi tepat disamping brangkar Shanna yang telah disediakan rumah sakit. Kembali pertahanan nya runtuh, air mata kembali membasahi pipinya menyaksikan Shanna yang tak kunjung membuka matanya.
"Maafin gue Reyy..." ucapnya lembut. Ingin meraih tangan Shanna namun ia sadar jika mereka bukan muhrim.
"sakit banget ya? ga bosen apa tidur mulu?" Mama dan papa Shanna saling bertatapan, dapat mereka saksikan betapa Alruni sangat menyayangi putri mereka.
"bangun dong Reyy...gue janji dh kalau lo cepat bangun, gue ajak jalan seharian. Gue yang traktir..." alruni menampakkan senyum kecutnya. Terlihat Shanna tak menghiraukan ucapannya.
Belajar dari kejadian ini, Alruni berjanji pada dirinya sendiri. Takkan membiarkan Shanna berangkat sendiri lagi ke kampus, ia akan siap siaga mengantar jemput Shanna. Ia tak tahan melihat Shanna yang terbaring lemah seperti ini.
--------
Arkana membuka pintu kamarnya dengan perasaan yang campur aduk. Pesannya yang tidak dibalas oleh Shanna langsung membuat mood nya memburuk. apalagi ia sudah berupaya untuk menemui gadis itu di kantin kampusnya, namun tidak ia temukan keberadaan Shanna. bertepatan ia tadi siang mengikuti rapat dengan anggota BEM Universitas Dharma, ia juga tak menemukan sosok Alruni memimpin rapat. para rekannya pun tidak tau dimana keberadaan pria itu.
Hal ini semakin membuat Arkana untuk berhenti merebut hati Shanna, ia yakin Alruni sedang bersama Shanna. Bohong jika ia tidak sakit hati, cinta pertamanya tak bisa ia miliki. Namun, tidak masuk akal jika ia bermain tidak sehat untuk menggenggam hati Shanna.
" berenti mikirin Shanna Ar...dia pacar Alruni." batin Arkana mengusap gusar wajahnya.
" gue nyerah aja kali ya? Shanna ga pernah ngelirik gue dikit pun."
Arkana membanting tubuhnya ke atas kasur, ia benar-benar tidak tau akan berbuat apa. Seketika pikirannya begitu kosong, kemurungan melanda dirinya. Bahkan ia tak mendapati mamanya begitu memasuki rumah, pikirannya berkata mamanya pasti dikamar. Ia tak ingin mengganggu.
Tak sadar sudah lama ia merebahkan diri, perutnya terasa lapar. Ia menuruni tangga menuju ruang makan, tak ada seorang pun yang ia liat disana. Hanya suara bentakan yang dapat ia dengar. Suara itu berasal, dari kamar kedua orang tuanya.
Lelaki itu tersenyum kecut mendengar segala amukan dari papanya. Ya suara itu adalah suara papanya, jelas saja jika pemilik suara itu tengah memarahi mamanya. Ia tak bisa berkutik, mamanya akan celaka jika saja sempat ia membela. Ia tau mamanya pasti kuat, dan sudah kebal dengan segala umpatan dari papanya.
Cekrekk...suara seseorang membuka pintu. Pintu kamar kedua orang tuanya terbuka. Sengaja ia tak menoleh sedikit pun, ia tak tau siapa yang keluar dari kamar itu. Roda koper yang didorong ia dengar.
"Pa...kasian Arka pa...jangan tinggalin kita.." isak tangis Mamanya terdengar jelas di telinga Arkana. Kali ini ia tak bisa lagi menahan dirinya untuk menoleh. Ia bisa lihat sendiri Papanya yang tengah tersulut emosi menyeret sebuah koper dan berhenti tepat di hadapannya.
Arkana juga tak kalah emosi, melihat kondisi mamanya yang jauh dari kata baik. Mama nya sangat berantakan.
"Jaga mama kamu, jangan jadi anak pembangkakng!" bentak Papanya menunjuk kening Arkana. Begitu dengan Arkana, sangat benci dengan pria di hadapannya ini.
"Mabuk, mabuk aja...jangan balas ke mama gue, jangan balik lagi ke rumah ini!" Arkana menyingkirkan dengan kasar jemari Heru yang menempel di keningnya.
"Gue benci Papa gue sendiri!! pergi!!" Teriak Arkana berjalan menghampiri mamanya yang tengah menangis tersedu-sedu.
" Ma...ada Arka disini, mama ga perlu sedih. Biarin dia pergi..." Arkana berusaha menenangkan Mamanya.
"Papa kamu Ar..." Ucap mamanya pelan yang kemudian pingsan tak sadarkan diri. Arkana segera membopong tubuh mamanya masuk ke dalam kamar, ia tak lagi memedulikan apa yang akan dilakukan Heru. Pria itu sudah pergi sedari tadi, ia tak peduli lagi.
Ia sudah sangat begitu muak dengan bentakan yang ia dengar setiap hari. Walaupun bentakan itu tidak ditujukan pada dirinya. Setiap saat jika Papanya pulang ke rumah, Ia pasti dalam kondisi mabuk. Tak jarang ia menemukan mamanya tengah menangis, namun berusaha terlihat tegar di hadapannya.
Heru tidak pernah mengurus putranya itu. Ia selalu saja sibuk dengan dalih ia katakan sibuk dengan pekerjaan. Arkana bukan anak kecil lagi, ia tau apa yang dilakukan papanya itu. Bahkan tak jarang ia dapati Papanya bersama dengan perempuan lain. Ia sangat sudah lama ingin kejadian ini terjadi, namun tak tega dengan mamanya.
Heru selalu saja mengabaikannya. Tidak pernah ingin tau perkembangan putra semata wayangnya itu. Arkana sangka enak jadi anak tunggal, selalu diperhatikan, menjadi satu-satunya. Namun ia salah.
Ia ingin menyerah namun ia memiliki Mamanya yang harus ia jaga sepenuhnya.
---------
Disisi lain, Shanna melenguh tersadar dari tidurnya. Ia rasakan kepalanya yang sedikit pusing, kejadian beberapa jam lalu teringat di kepalanya. Begitu ia menoleh, ia melihat Alruni yang tengah tertidur pulas dengan bantalan kecil di sisinya. Tak ia temukan keluarganya disini, hanya Alruni yang terlihat setia menemani nya disini.
"Nikk...gue haus..." lirih Shanna menggerakkan tangannya menarik lengah kemeja Alruni.
Mendapat perlakuan itu, Alruni terbangun dan mendongakkan kepalanya. Ia tertegun begitu melihat Shanna sudah bangun, ia sangat gembira saat ini.
" ga capek tidur mulu? gue nungguin lo dari tadi, jangan bikin khawatir Reyy..." Ucapan Alruni tanpa jeda sedikit pun.