ArkaSha with Niki

ArkaSha with Niki
Senyum Sumringah



Kini Shanna sudah berada di rumah Diksa, setelah sebelumnya ia diantar oleh Alruni. Shanna sangat kebingungan dengan perubahan sikap Alruni yang hanya diam saja di dalam mobil. Lelaki itu bertingkah dingin kepadanya, Shanna menyadari jika sahabatnya ini pasti kelelahan. Mengingat fakta jika tugas Alruni pasti banyak, belum lagi sebagai mahasiswa dan seorang Presma.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tak banyak obrolan malam ini. Karena Diksa masih bekerja di rumah sakit, begitu juga dengan Gita yang tengah mengurus putranya yang rewel. Shanna bergegas ke kamarnya, berniat ingin beristirahat.


Shanna membuka matanya yang tengah terpejam begitu menyadari ponselnya bergetar.


Niki Imooet 😤


*Besok ga gue jemput


Berangkat sendiri


^^^^^^oke bos*^^^^^^


Shanna tersenyum kegirangan mengingat ia akan mengendarai motornya besok menuju kampus. Ia sudah sangat merindukan menaiki sepeda motornya itu. Namun disisi lain, hatinya bertanya-tanya ada apa dengan Alruni? Apa Alruni marah kepadanya?


"aakkhh...pikiran lo Reyy...kenapa coba Niki marah..." batin Shanna memulihkan pikiran negatif nya.


 


Jam menunjukkan pukul 04.57, Shanna sudah terbangun dari tidur lelapnya. Dapat ia rasakan kepalanya sakit dan membuat pandangan nya sangat buram. Ia berusaha menyandarkan punggungnya ke sandaran kasur, ia meremas dengan kuat kepalanya menahan rasa sakit. seketika menoleh ke arah nakas, ia tak menemukan air putih yang biasa ia sediakan. sesuatu yang tidak pernah terbersit di pikiran nya selama ini, obatnya pasti tertinggal di rumah Papanya.


"mati gue..." racau Shanna yang semakin kuat menjambak rambutnya untuk mengurangi rasa sakit.


"hikkss....mama...sakit ma..." tangis Shanna pecah, bagaimana ia menahan rasa sakit hingga pagi hari. Jika obatnya berada di dekatnya, pasti ia sudah merasa tenang. Ia tak lupa jika abangnya adalah seorang dokter, namun ia tak ingin keluarga nya tau kondisinya.


"hiiks...kepala!!!!" tangis Shanna tersedu-sedu. Ia terus saja merutuki kepalanya. Sesekali ia benturkan kepalanya ke sisi nakas tepat disamping kasur, hal itu pelan-pelan mengurangi rasa sakitnya.


Hampir setengah jam ia menahan rasa sakit, begitu penglihatannya jernih kembali. Perlahan ia bangkit membersihkan diri ingin bergegas menuju rumah kedua orang tuanya.


Sekali lagi ia mengecek penampilan nya di hadapan kaca yang lumayan besar di dalam kamarnya itu. Ia ingin memastikan penampilannya tidak seberantakan isi kepalanya sekarang.


Shanna menuruni anak tangga, langsung saja ia dihadapkan dengan Gita yang tengah menyiapkan sarapan.


"pagi kak.." ucap Shanna sambil menyambar segelas air putih yang berada di atas meja makan. Ya, meja makan pagi ini masih kosong. Karena Gita tengah melaksanakan aktivitasnya itu.


"pagi Reyy...tumben cepat banget siap-siap nya? Sarapan belum siap Reyy, kamu duduk aja dulu ya." balas Gita.


"ga perlu kak...Reyy sarapan di rumah mama ya, ada yang mau Reyy ambil di kamar. Makanya reyy cepat gini..." jelas shanna dibalas oh ria oleh Gita yang kemudian melanjutkan aktivitas nya.


Shanna melirik pergelangan tangannya ingin melihat jam. Kurang lebih 40 menit lagi kelas akan dimulai. Setelah berpamitan pada Gita, ia melebarkan langkahnya untuk menemui sepeda motornya yang berada di garasi.


"akkhh...." kepalanya mulai mendenyut lagi. ia melihat dirinya di kaca spion, tak bisakah kepalanya bersahabat lima belas menit saja?


Tanpa memedulikan rasa sakit di kepalanya, ia menaiki motornya dengan sedikit mengebut. Dalam pikirannya obatnya lah yang akan mengatasi rasa sakitnya itu. Jika waktu tempuh ke rumah orangtuanya lima belas menit, ia akan persingkat menjadi sepuluh menit.


"sabar...." racaunya sesekali.


Satu tangan meremas kepalanya, tanpa peduli lagi bagaimana penampilan nya sekarang. Satu tangan memegang gas motor untuk menyelamatkan dirinya. Matanya sudah memanas menahan buliran bening itu untuk keluar, matanya perlahan buram. Namun ia sadarkan lagi, ia tengah mengendarai motor, bisa saja ia celaka.


Tanpa ia sadari, kedua tangannya kini ia tarik untuk meremas kepalanya. Tanpa bertumpuan lagi pada motornya, motor Shanna menghantam pagar rumah seseorang yang tak ia kenali. Kepalanya berbenturan dengan jalanan yang terbuat dari aspal itu, darah segar menembus balutan jilbabnya.


"hikssss...." tangisnya terisak.


Posisi kakinya dihimpit oleh badan motornya, ia sangat ketakutan. Dengan pandangan yang meremang ia melihat beberapa warga yang sudah mulai mendekatinya. Ia tak dapat lagi mengendalikan dirinya, perlahan ia pejamkan matanya. Rasa sakit yang didapatnya membuat dirinya tidak sadarkan diri.


"mbak...bangun mbak..." Ucap salah seorang warga yang berusaha menyadarkan Shanna. Namun usahanya nihil tak membuahkan hasil. Sementara kondisi Shanna sudah sangat mengkhawatirkan, dengan gesit para warga itu menghubungi ambulans untuk membawa Shanna ke rumah sakit terdekat.


 


Arkana tersenyum manis begitu matanya menangkap mamanya yang tengah berkutik di ruang makan. Sudah jelas wanita paruh baya itu sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya itu. ketika mendengar suara langkah kaki perlahan dari anaknya, Friya menoleh kebelakang mendapati putra semata wayangnya tengah tersenyum.


"pagi-pagi udah senyum aja? kesambet apa anak mama?" tanya Friya keheranan melihat anaknya.


" tebak ma... kira-kira Arka kenapa?" jawab Arkana malah balik bertanya pada mamanya.


"hmmm...jatuh cinta? Atau mama cantik banget ya pagi ini?"


"mama cantik terus kok..." balas Arkana.


Arkana menghembuskan nafasnya berat, ia tak melihat kehadiran papanya di meja makan.


"papa ga pulang ma?" tanya Arkana kemudian mendapatkan tatapan yang sulit diartikan dan anggukan dari mamanya. Apa ada yang disembunyikan oleh mamanya? Seperti itulah isi kepala Arkana sekarang.


Namun sejenak ia melupakan itu, ia tak ingin membuat mamanya kepikiran.


Setelah menyudahi sarapan, Arkana segera berpamitan pada mamanya untuk menuju kampusnya. Langkah awal ia membuka pintu rumahnya kemudian berjalan menuju garasi untuk menyalakan motornya. Arkana tidak begitu menyukai bepergian dengan mobil, ia lebih menyukai motor dengan style ala-ala anak motor.


Arkana memandangi langit yang begitu cerah di pagi ini. Ia sangat sumringah di pagi ini, entahlah ia tak juga tau kenapa ia begini. Sejak pertemuannya dengan Shanna hal yang sangat membahagiakan menurutnya.


Hidupnya terasa terisi kembali. Semangat nya terisi kembali. Seperti secercah harapan terbit di hatinya.


ide cemerlang terbersit di otaknya, ia berniat menghubungi Shanna dengan mengirim pesan singkat di pagi hari.


Shanna Mine 💗


^^^...*Shann.....^^^


^^^Udah berangkat kampus?^^^


^^^nanti gue ke kampus lo ya*^^^


Pesannya tak dibalas oleh penerima pesan. Ia memaklumi hal itu, bagaimana tidak hari masih pagi pasti Shanna belum sempat membuka handphonenya. Ia kemudian menyimpan handphone nya kembali, lalu meninggalkan pekarangan rumahnya berlalu menuju kampus.