
Setelah hampir sepuluh menit menunggu kedatangan jemputan nya setiap pagi. Shanna bersender pada pagar rumahnya sambil memainkan ponselnya yang setia berada di tangannya. Setelah Arkana tau jika Shanna sama sekali tidak memblokir kontaknya, sejak saat itu pula Shanna kemudian kembali menggunakan ponsel lamanya.
Shanna tentu saja masih belum begitu membaik, namun ia tak ingin terus cuti dari kegiatan kampus. Seperti orang penyakitan saja dirinya, ia memaksakan untuk tetap pergi ke kampus hari ini. Walaupun sebenarnya dirinya sangat lelah dan menginginkan istirahat saat ini.
Sebuah mobil yang setiap hari mengantar jemputnya tepat berada di hadapannya. Seorang pria yang pastinya ia kenali keluar dari mobil itu dengan paduan kemeja dan celana katun yang membuat nya kelihatan sangat segar pagi ini.
"gak usah ke kampus, lo pucat Reyy.." khawatir Alruni setiap melihat Shanna sedang sakit seperti ini.
" gue bukan anak kecil paman.." ucap Shanna polos kemudian memasuki mobil, ia sangat berusaha ingin mengelak dari perkataan Alruni tadi.
Alruni mengalah, ia menghela nafas lemah. Sudah biasa jika Shanna terus saja menghindarinya jika ia sedang tak enak badan.
"beneran gpp kan?" Tanya Alruni sekali lagi saat keduanya sudah berada di dalam mobil sambil memasang steatbelt masing-masing. Mendengar itu Shanna hanya memberi anggukan tak berucap apapun.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, hanya kesunyian yang tercipta. Shanna yang biasanya selalu mengoceh tidak jelas, berbeda kali ini ia hanya diam seribu bahasa. Gadis itu sedang menghindari hyper aktif nya karena ia sangat tidak baik sekarang. Alruni pun tidak menciptakan topik karena sedari tadi Shanna juga diam saja.
Shanna mendesah pelan saat ia merasakan sedikit nyeri di kepalanya. Kelas yang sudah lewat sekitar lima menit yang lalu, kini waktunya setiap mahasiswa menuju tempat dimana mereka akan mengisi perut yang terasa keroncongan. Sebenarnya ada apa dengan Shanna yang terus saja merasakan nyeri di kepalanya?
"Kantin kuyy Shann..." Anjel membuka suara ketika mendapati temannya itu hanya bergelut lesu di atas meja. Biasanya Shanna lah yang sangat antusias pergi ke kantin.
"lo bareng yang lain aja ya Jel..gue ngantuk.." Ucap Shanna membuat Anjel mengangguk lemah. Ia tak memikirkan terlalu panjang tentang Shanna, jelas sekali dari raut wajah Shanna menampikkan kelelahan.
"gue tinggal ya...sweet sleeping Shann.." Ujar Anjel meninggalkan Shanna. Dari kejauhan sama sekali tak Shanna sadari seorang lelaki dengan perawakan yang sedikit mengerikan tengah memperhatikannya dengan perasaan yang campur aduk. Lelaki itu adalah Roni, ia juga menyukai Shanna namun ia tak ingin gadis itu mengetahuinya.
Kelas sekarang sedang sepi, tak ada siapapun kecuali Shanna. Shanna melihat-lihat keadaan sekitarnya, tak ada ia temukan siapapun di kelas saat ini. Hanya dirinya seorang. Ia lalu mengambil hoodie yang sengaja ia bawa di dalam totebag nya, kemudian memakainya sebelum kembali melanjutkan aktivitas tidurnya.
Baru saja hendak memejamkan kembali matanya, tiba-tiba ponselnya bergetar. Sontak ia melirik nama yang tertera pada layar ponselnya, Alruni menelepon nya. Tanpa ingin berbasa-basi, Shanna menggeser ikon berwarna hijau untuk mengangkat sambungan telepon itu.
"*hmmm..." ucap Shanna malas.
" dimana..?" Tanya Alruni, lelaki itu bertanya-tanya dimana keberadaan gadis itu saat ia tak melihat Shanna ke kantin bersama Anjel.
"kelas.." balas Shanna singkat.
"kenapa ga ke kantin..?" tanya Alruni penasaran.
"gue ngantuk..." Jawab Shanna singkat to the point*.
Shanna yang beberapa menit lalu melipat tangannya di atas meja kemudian membiarkan kepalanya membenam di atas kedua tangannya. Kelas yang semula hening kini dihiasi oleh sahutan suara seseorang yang tengah berjalan mendekati Shanna. Pria itu terkejut bukan main dengan hoodie yang dikenakan Shanna. Kenapa gadis di hadapannya ini memakai hoodie? apa ia sakit?
Lelaki itu mendekat. Saat ia ingin membuka suara, ia bungkam melihat Shanna lah yang bereaksi terlebih dahulu.
"akkhh..." gadis dihadapannya itu sontak membuatnya kaget dengan brutalnya Shanna itu meremas kuat kepalanya yang dibaluti hijab. Sesekali Shanna sengaja menghentakkan kepalanya ke meja berharap rasa sakitnya itu menghilang. Air mata terus saja menjadi saksi disaat ia merasakan kesakitan seperti saat ini. Alruni sangat khawatir sekaligus dipenuhi tatapan bingung melihat kondisi Shanna, tak pernah sekali pun Shanna berbuat demikian dihadapannya.
"Reyy! lo kenapa?" Tanya Alruni saat mendekati Shanna. Lelaki itu menarik kursi yang berada disamping Shanna kemudian mendudukinya menatap menghadap Shanna.
Mendengar ucapan itu Shanna terkejut, bagaimana bisa Alruni berada di kelasnya. Bukannya sedari tadi ia sendiri disini, ia berharap Alruni tidak melihat aksi nya yang tengah menahan sakit tadi. Saat ia mendongak, wajah Alruni sudah berada jelas di hadapannya.
"gue gpp.." bohong Shanna yang masih saja berusaha menahan sakit yang menguasai dirinya. Hal inilah yang tak inginkan, nyeri di kepalanya kambuh dihadapan Alruni.
" jangan bohong Reyy..." Ucap Alruni dengan tatapan sendu. Hal apa yang disembunyikan Shanna? jelas saja ia melihat dengan jelas apa yang dilakukan Shanna sedari tadi.
" Nik..lo apaan sih! gue baik-baik aja.." ujar Shanna tanpa ingin menjelaskan apapun kepada Alruni.
"jangan sakit Reyy..." ucapan tiba-tiba dari mulut Alruni membuat Shanna menatapnya lekat. Satu tetesan air matanya berhasil membasahi pipinya saat mendengar ucapan Alruni.
"hahaha...gue baik-baik aja Nik.." elakan Shanna diakhiri dengan kekehan kecil. Sepersekian detik Shanna kembali merasakan nyeri di kepalanya, ia hanya diam kemudian mengepalkan kedua tangannya menahan sakit yang ia rasakan.
"masih ada kelas?" Tanya Alruni dibalas gelengan oleh Shanna.
"yaudah..gue anter pulang..."
"ga usah...lo pasti sibuk kan, selesain tugas lo dulu sebagai presma...gue bisa pulang sendiri." Tentu saja Alruni menolak dengan cepat. Pernah ia bilang, jabatan nya bukanlah hal yang sangat penting baginya. Shanna Lah yang terpenting baginya.
"gue ga mau tau! pokonya gue anter pulang." Paksa Alruni, ia ingin Shanna segera beristirahat sekarang. Jika biasanya Shanna menunggunya di ruangan BEM, kini ia takkan membiarkan hal itu terjadi.
Alruni bangkit kemudian meraih tas Shanna yang berada di atas meja gadis itu. Shanna hanya diam pasrah tak ingin lagi mengelak. Gadis itu juga segera berdiri kemudian merapikan penampilan nya yang sudah acak-acakan karena brutalnya dirinya tadi.
" jangan cantik gitu...nanti ada yang suka Reyy!!" Melihat Shanna yang tengah memperbaiki hijabnya membuat Alruni sedikit cemburu. Apa ada seseorang yang sudah terpikat oleh Shanna? apa tujuannya Shanna merapikan penampilannya.
"ga melting gue pak!" balas Shanna sembari menjulurkan lidahnya mengejek Alruni.
Ketika keduanya hendak melangkahkan kaki keluar dari kelas. Seseorang sudah menunggu di ambang pintu, entah sejak kapan pria itu berada disana. Namun ia mendengar semua obrolan Alruni dan Shanna selama dalam kelas.