
Sedari tadi Davi mengitari kampus mencari keberadaan Arkana. Ia tau beberapa hari ini sahabat nya itu dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ia mulai khawatir sekarang, apa yang sedang dilakukan Arkana sekarang. Seketika ingatannya membaik, ia mengingat sekali tempat yang sepi saat ini pasti akan didatangi Arkana. Ia mengingat, Gor kampus tepatnya tempat bermain basket yang pastinya jika tak ada turnamen sangat jarang dikunjungi pada jam segini.
Tanpa berpikir panjang lagi, ia berlari dengan cepat menuju lapangan gor itu. Benar saja apa yang didapatkan nya, Arkana dengan tangan yang berdarah. Ia yakin dengan hal ini.
"ARKA!!" Teriak Davi menyayangkan pikiran pendek Arkana yang berusaha meluapkan emosinya dengan menyakiti dirinya sendiri.
Arkana menoleh melihat keberadaan Davi disana " Lo apa-apaan hah?" bentak Davi menarik pergelangan tangan Arkana.
"Gue capek Dav!!! lepasin gue!!!" ucap Arkana tak kalah memberontak. Namun Davi tak kalah diam, ia terus menarik pergelangan tangan Arkana hingga pria itu berdiri sejajar dengannya.
Davi memegang kedua bahu Arkana lalu mengguncang kuat bahu itu. "Sadar Ar...lo ga harus gini, kalau ada masalah..selesain..bukan gini caranya." Gertak Davi.
"gada yang peduli sama gue Dav..Mama, Papa, bahkan Shanna satu-satunya cewek yang gue cinta...gada yang peduli sama gue.." Davi menatap Arkana tidak mengerti. Apa ia tak salah dengar dengan nama Shanna yang barusan di ucapkan oleh Arkana.
"maksud lo? lo cinta sama Shanna?" Ucapan keheranan namun dibalas anggukan lemah oleh Arkana.
" hahahahaah..." tawaan lepas dari Davi melihat sahabatnya yang sama sekali tidak pernah tertarik pada cewek membuat jiwa humorisnya keluar seketika.
" ya elahh broo...gue bantuin kalau gitu. berenti bertingkah konyol kayak gini..jangan nyakitin diri sendiri." Senyum tipis terbit dari bibir Arkana, belum saja sempat ia bercerita mengenai masalah keluarganya. Namun Davi sudah tertawa duluan, tapi keberuntungan berpihak padanya jika Davi berniat memang ingin membantunya.
"buruan gih obatin luka lo...bentar lagi ada rapat ke Dharma. Lo mau ketemu Shanna kan? buruann...!" Ucapan Davi benar saja, jika Arkana sangat ingin melihat wajah cantik Shanna di depan matanya.
Tanpa berkutik lagi, Arkana beranjak meninggalkan Davi seorang diri. Ia bersemangat lagi sekarang, dengan cepat ia berjalan menuju UKS.
Kelas Shanna sudah berakhir. Setelah berpisah dengan Anjel yang juga ingin pulang, kini Shanna tengah berjalan sendirian memaksakan tangan sebelah kirinya untuk menopang tas miliknya. Ia tak enak hati untuk menghubungi Alruni karena ia tau pasti cowok itu tengah sibuk.
Bagaimanapun sibuknya Alruni, ia harus menunggu Alruni agar bisa kembali pulang ke rumahnya. Karena sudah dapat ia pastikan Alruni tidak akan mengizinkan nya untuk pulang naik kendaraan umum atau semacamnya.
Shanna menghela napas kasar, setelah lumayan jauh berjalan. Dari jauh ia melihat penampakan Alruni yang juga tengah berlari ke arahnya. Alruni yang kelihatannya sangat tergesa-gesa untuk menemui Shanna. Beberapa menit kemudian, keduanya sudah berdekatan.
" Reyy! jangan ngeyel dh..gue udh bilang telfon gue, lo kan jadi capek gini. tuh liat keringetan tau ga..!" Omel Alruni seperti seorang ayah kepada anaknya. Ia mengambil tas Shanna lalu menyandang nya.
" Maaf boss..gue ga mau ngerepotin lo mulu.." ujar Shanna.
Alruni dan Shanna berjalan memasuki ruangan BEM. ternyata semua anggota rapat sudah menunggu kedatangan Sang Presma kampus. Bukan hanya anggota kampus Dharma, namun anggota Universitas Jaya Bakti juga sudah stand by disana. Melihat kedatangan orang yang ditunggu-tunggu, sontak semua anggota rapat menoleh ke arah mereka berdua dengan pandangan yang berbeda-beda. Ada yang memandang kesal karena telah menunggu lama namun ada juga yang lega.
Salah satunya adalah Arkana, pria itu langsung tersenyum begitu melihat keberadaan Shanna disana. Namun ia khawatir melihat perban yang menempel pada pergelangan tangan Shanna. Ada apa dengan orang yang disukai nya itu? Apa karena sakit ia tak membalas pesan Arkana sebelumnya? Semua pertanyaan menghujani pikirannya.
"senyum mulu boss..." bisik Davi yang hanya didengar oleh mereka berdua. Arkana refleks menjitak bahu Davi.
Berbeda dengan Alruni yang sebenarnya merasa bersalah, namun bagaimana lagi. Shanna lebih penting bagi nya dari apapun.
Setelah mengantar Shanna ke kursi yang tak jauh dari lingkaran rapatnya ia berjalan meninggalkan Shanna untuk bergabung dengan anggota rapat. Aktivitas keduanya tak luput dari perhatian Arkana. Entah tatapan senang melihat shanna atau tatapan cemburu yang tengah berkoar dalam hatinya.
"maaf semuanya, gue telat." Ucap Alruni dengan sedikit merasa bersalah atas keterlambatannya.
Seseorang membuali ucapan Alruni. "eleh Pak Press..dicari kemana-mana, ternyata menjemput Buk Press ya.." suara itu dari Bimo, lelaki yang selalu saja mengompori Alruni dan Shanna.
" Biasa Bimm...Ibuk Press nya lagi sakit.." timpal Alruni yang kemudian menduduki kursi kebanggaan nya. Obrolan itu pasti didengar oleh Arkana, entah bagaimana suasana hatinya sekarang. Rasa khawatirnya bertambah namun rasa cemburunya juga berapi-api.
"sabar ar..." gumamnya, ia hanya ingin terlihat profesional dihadapan semua orang termasuk Davi. Sesekali ia menatap Shanna yang ternyata juga tengah menatapnya. Tatapan mereka bertemu, namun di alihkan oleh shanna lagi. Ia sangat ingin menjumpai Shanna rasanya, ia gemas dengan tingkah Shanna.
Jika kalian bertanya-tanya mengapa Kampus Arkana sering mengadakan rapat di kampus Shanna. Beberapa hari lagi akan ada acara Pemkot setempat, Pemkot meminta kedua kampus ini berkolaborasi.
" Al..." Panggil Arkana, setelah rapat ia langsung menghampiri Alruni yang tengah sibuk mengotak-atik banyak berkas disana.
"Iya Ar..." sahut Alruni mengiyakan panggilan Arkana.
" gue izin ngobrol sama Shanna, ada yang mau gue omongin.." Terdengar konyol oleh Alruni, namun ia menghargai kehendak Arkana.
" lanjut aja Ar...kalau ada apa-apa gue abisin lo.." tukas Alruni yang dibalas senyuman serta anggukan oleh Arkana.
Tanpa berpikir panjang, Arkana langsung mengambil arah untuk melangkahkan kakinya menemui Shanna. Entah angin dari mana Arkana meminta izin kepada Alruni untuk ngobrol dengan Shanna. Padahal ia sudah tau jika Shanna dan Alruni tidak memiliki hubungan yang spesial.
"Shann..." Panggil Arkana saat melihat Shanna tengah asyik memainkan ponselnya sambil menunduk. Dari kejauhan, Alruni terus saja menatap reaksi keduanya. Apa ia cemburu? padahal ia sendiri yang mengizinkan Arkana untuk menemui Shanna. Mungkin saja ia ingin memastikan Shanna baik-baik saja saat bersama Arkana.