
Malam ini Shanna tidak bisa tidur, berulang kali ia berpindah posisi namun matanya sangat tak bersahabat untuk memejamkan matanya. Ia menghela nafas kemudian memperbaiki posisi nya menjadi duduk bersandar ke sandaran kasur.
Beberapa saat kemudian, pikiran nya yang tidak terkontrol. Arkana terlintas di pikirannya. Hingga tak ia sadari bibirnya bergetar mengeluarkan gumaman.
"Semangat Arka..." gumam Shanna. Ia ingin sekali berada di samping Arkana disaat masa-masa sulit pria itu. Walaupun ia tak tau masalah seperti apa yang diderita Arkana, namun melihat bahasa mata Arkana. Ia yakin Pria ini memikirkan masalah yang berat.
Lamunannya tentang Arkana seketika menghilang saat tusukan yang ia dapatkan di kepalanya. Ia diam, Shanna memejamkan matanya menyalurkan rasa sakit nya. Kedua tangannya siap bertengger diatas kepalanya, dengan kuat ia meremas dan menjambak rambutnya. Rasanya seperti pisau yang menusuk berulang kali di kepalanya, jika ia bisa meminta ia tak ingin memiliki kepala sekarang. Penggal saja kepalanya, begitulah isi pikiran Shanna saking sakitnya yang ia rasakan.
Pikirannya kosong, perlahan ia bergerak ingin meraih obatnya yang berada di laci tersembunyi. Begitu kakinya menuruni kasur, ia melemas langkahnya tak dapat ia seimbangkan. Tubuhnya ambruk, bertepatan dengan kepalanya terbentur ke sudut meja riasnya. Rasa sakit yang kian memuncak, Shanna menguatkan diri untuk bangkit kemudian ia sengaja membenturkan kepalanya ke meja berulang kali.
"Gue capek...!! pliss...pergi sakitt!!" racau Shanna, ucapannya ia ulangi seiring dengan benturan yang ia ciptakan.
Ia meraih segelas air putih ketika ia sudah menggenggam obat yang senantiasa ia minum ketika rasa sakitnya menyerang. Begitu benda kecil itu memasuki mulutnya, ia menundukkan kepala. Dengan kedua kaki yang dilipat, seraya kedua matanya mengeluarkan cairan bening yang membasahi pipinya. Semakin lama cairan bening itu terus saja mengalir, saat ia mengusapnya dengan kasar.
" sakitt.." gumam Shanna mengasihani dirinya sendiri.
Setelah beberapa menit obat yang ia telan telah memberikan reaksi. Rasa denyut yang berkoar di kepalanya perlahan menghilang. Pikirannya kembali jernih sekarang, begitu juga dengan tatapannya yang sudah tidak meremang lagi.
*Pov pertemuan dengan Arkana
"Shann..."
" iya..." Shanna mendongak ketika menyadari suara yang dikenalnya memanggilnya. Ia tak lagi terkejut karena ia tau itu suara Arkana.
"tangan lo kenapa?" Ucap mereka bersamaan. Pertanyaan yang sedari tadi ingin ditanyakan Arkana, namun Shanna juga menanyakan hal yang sama dengannya. Bagaimana tidak, Shanna melihat tangan Arkana yang dibaluti beberapa plester dengan kain kasa. Kalian pasti tau kan kenapa tangan Arkana? Walaupun tak semengerikan perban yang menempel pada tangannya. Ia tetap saja khawatir melihat kondisi Arkana.
"jawab gue dulu..." lanjut Shanna yang dibalas senyuman tipis oleh Arkana.
"gue gpp...ada insiden aja sedikit.." balas Arkana.
"sekarang lo yang jawab gue...tangan lo kenapa?" Tanya Arkana.
"ooohh...gue kecelakaan beberapa hari yang lalu.." Ucapan yang dirasa Shanna hanya biasa saja. Namun reaksi Arkana sangat terkejut mendengar hal itu.
"maafin gue...gue ga tau Shann.." ungkap Arkana.
"lo ga salah Ar.." tukas Shanna melanjuti.
" lo baik-baik aja kan?" Tanya Shanna, mendengar itu Arkana tiba-tiba menoleh lalu menampakkan senyum kecut plus kekecewaan nya. Tak lama kemudian ia kembali menatap manik mata indah yang ada di hadapannya ini.
"thanks ya selalu ada buat gue...gue bersyukur banget." Ucap Arkana. Degg...itu yang dirasakan oleh Shanna, kapan ia selalu ada untuk lelaki ini?
"maksud lo?" Tanya Shanna penasaran dengan maksud Arkana.
" room chat kita berdua, tempat pulang gue sekarang. Walaupun lo ga baca sedikit pun, tapi gue lega Shann. Lo rumah gue.." Ucapan Arkana semakin ambigu saja bagi Shanna. Berarti benar pria itu terus mengirim pesan kepada dirinya. Apa yang harus ia katakan sekarang? ia merasa bersalah pada Arkana.
"gue ga tau apa masalah lo, gue mohon tetap baik-baik aja ya. Jangan ngelakuin hal-hal aneh yang merugikan diri lo sendiri." Jelas Shanna.
Arkana mengalihkan pandangannya yang semula melihat Shanna, namun kini ia memandang lurus ke depan. Ia membungkuk kan badannya dengan kedua jemari rapat. Kepalanya setia menunduk ke bawah. Shanna melihat kondisi Arkana benar-benar bisa merasakan kepedihan yang dirasakan pria ini. Satu tetesan air mata mendarat di pipi Arkana. Tak ingin Shanna melihatnya seperti ini, ia segera mengusap air matanya. Namun nihil, Shanna melihat semuanya.
" Shann...lo mau ya datang ke rumah ketemu mama gue." pinta Arkana. Sudah beberapa hari mamanya mengurungkan diri di dalam kamar. Ia tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya, jika kepergian papanya dari rumah membuat mamanya sesedih ini. Namun ia tak ingin papanya itu kembali lagi ke rumah. Ia sudah berupaya setiap hari untuk menghibur mamanya, namun tetap saja Mamanya sesekali menatapnya dengan penuh amarah.
Ia sengaja meminta Shanna untuk membujuk mamanya. Ia yakin Shanna pasti bisa, karena sedari dulu mamanya selalu meninta Arkana untuk membawa calon menantu ke rumah. Mamanya suka sekali anak perempuan, Arkana rasa inilah jalan satu-satunya untuk membuat Mamanya tersenyum lagi.
Walaupun tak tau alasan dan tujuannya Arkana memintanya untuk menemui mamanya. Shanna hanya ingin menolong Arkana, dengan penuh kesadaran ia mengangguk mengiyakan permintaan Arkana*.
-------------
Tokk..tokk
Suara pintu kamar mamanya diketuk oleh Arkana. Ia sangat berharap kali ini mamanya ingin berbicara dengannya walaupun hanya beberapa menit. Merasakan pintu itu tidak terkunci, Arkana menekan knop pintu memperlihatkan mamanya yang tengah setia bersandar di kasur. Dengan tatapan kosong, mata sayu, dan perawakan yang jauh dari biasanya. Wajah mamanya sangat tidak segar, ia prihatin melihat itu.
Arkana melangkah kaki meraih keberadaan mamanya. Ia genggam tangan yang selalu mencintainya itu.
" Ma...Arka kangen..rindu mama yang dulu.." bisik Arka pelan di telinga mamanya. Ia kembali berubah posisi setia menggenggam tangan mamanya, sesekali mengecup dengan lembut jemari itu. Wanita dihadapannya ini sangat disayanginya.
Wanita paruh baya itu menoleh ke arah putra semata wayangnya. Tanpa bekata apapun, ia tetap hanya diam namun satu tetes air mata membasahi pipinya.
"kamu senang hidup tanpa papa? kamu bahagia Arka?" Ucap mamanya dengan nada tinggi. Untuk kesekian kalinya Arkana kecewa dengan mamanya.
"Kita bisa bahagia tanpa papa ma...Arka akan bahagiain mama..."
"kamu bisa apa ha? kamu bisa menghidupi keluarga kita? kamu hanya anak manja Arka!!" bentak mamanya. Hati Arkana semakin kelu mendengar penuturan mamanya. Arkana menoleh memalingkan wajahnya dari mamanya, air mata nya jatuh kemudian ia tepis lagi dengan kasar ia mengusapnya. Rasanya setiap hari hanya tangisan yang menghiasi kehidupan Arkana. Apa ia saja yang lemah tidak bisa mengatasi hal seperti ini.