ArkaSha with Niki

ArkaSha with Niki
Ramen Sialan



"Reyy, jangan marah gitu itu dong," ujar Alruni sambil menarik tas Shanna, membuat langkah gadis itu terhenti tersentak. Shanna menghembuskan nafasnya, menatap pria di hadapannya. "Gue ga marah, Nik..gue bosan diam seperti patung di antara kalian berdua, mending gue pulang kan?" balas Shanna, berusaha menyampaikan maksudnya yang secara tiba-tiba beranjak dari hadapan Alruni dan Karin.


Walaupun Shanna telah menyampaikan alasannya, tetapi Alruni tetap Alruni. Ia tidak ingin membuat Shanna merasa tidak nyaman, apalagi saat bersamanya. Baginya, Shanna sudah dianggap seperti adiknya sendiri, lebih dari sahabat masa kecilnya. Bahkan jika Shanna bersedia, ia ingin segera menikahinya karena ia ingin selalu berada di samping Shanna.


"Maafin gue," ucap Alruni sambil menatap lembut wajah Shanna yang terlihat kesal. Seorang Shanna akhirnya runtuh juga ketika mendapat senyuman super manis dari Alruni. Keduanya kemudian pergi menuju parkir untuk menyudahi kegiatan hari itu. Alruni sengaja mempercepat laju mobilnya agar sampai tepat waktu mengantar Shanna pulang.


Setelah sampai di rumah Shanna, gadis itu keluar dari mobil Alruni kemudian menunduk memberi penghormatan beserta senyuman malasnya kepada Alruni seperti a la-drakor katanya. Melihat mobil Alruni yang sudah menghilang dari pandangannya, ia kemudian bergegas masuk ke rumah yang penuh dengan kehangatan.


"Dari mana aja, Kak?" tanya Papanya yang tengah menonton acara televisi hingga menyadari kedatangan anak keduanya.


"Nemenin Niki beli vas bunga, Pa."


"Bohong, Pa...Reyy pasti berpacaran," potong Abangnya, Diksa, yang selalu mengintrogasi adiknya itu, seperti yang biasa ia lakukan. Tak heran jika Shanna selalu murka jika keluarga abangnya datang ke rumahnya.


"Abang, jangan gitu, nanti adikmu benar-benar pacaran. Abang juga dapat dosa loh," kata Papanya mengingatkan. Shanna sangat senang ketika abangnya mendapat ceramah seperti ini, ia mencibirkan lidahnya tersenyum kemenangan pada Abangnya.


"Terserah, Abang...Pa, Shanna ke kamar dulu," jawab Shanna cuek, ia benar-benar lelah kali ini. Dapat ia rasakan nyeri di bagian kepalanya, namun dianggapnya sebagai hal yang biasa. Bersalah Alruni yang sudah mengajaknya berlelah-lelah hari ini.


----------


Arkana membuka akun Instagram miliknya, ia berniat ingin mencari akun Instagram milik Shanna. Bukan rasa penasaran yang membuatnya melakukan hal ini, tetapi ia ingin menghubungi Shanna namun kontak WhatsApp-nya tidak tersedia. Untuk meminta kontak kepada Alruni, ia tak memiliki keberanian yang cukup. Melihat kedekatan Shanna dan Alruni membuatnya merasa kurang berani untuk mendekati Shanna, bagaimanapun ia akan menerima hal yang diinginkan Shanna.


Ketika ia mengetikkan nama Shanna, ia langsung menemukan akun Instagram Shanna yang di-private. Hal ini membuat sudut bibir Arkana terangkat. Tanpa pikir panjang, ia langsung memencet tanda berwarna biru "follow" dan segera mengirim pesan langsung kepada Shanna, berharap gadis itu segera membalasnya. Hampir setengah jam ia menunggu, tetapi Shanna tetap tidak membalas DM-nya.


"Aaaa...susah banget deketin lo," gumam Arkana. Sabarlah, baru setengah jam juga. Setelah menunggu lebih lama, ia memberanikan diri untuk mengirim DM lagi, dengan harapan gadis itu segera membalasnya. Walaupun sebenarnya menurutnya ia memiliki peluang 0%, namun setidaknya hal itu membuat ia lega. Toh, ia bukanlah teman baru Shanna.


ArkanaGanendra


"Ekkhmm...gue Arkana Shan."


-----


Di sisi lain, Shanna terbangun dari tidurnya yang lelap dan jam menunjukkan pukul 23.45. Ia perlahan membuka matanya, dapat ia rasakan kepalanya sangat menusuk, dan mendenyut sekali. Dengan cepat ia meraih gelas yang berisi air putih yang selalu disiapkannya di kamarnya, terburu-buru ia mengambil beberapa obat yang selama ini ia simpan di dalam laci yang tersembunyi dan menelan pil kecil tersebut.


"Arrgghh...," frustasi Shanna sembari memukul-mukul kepalanya dan menyandarkan kepala di tepi ranjang dengan menjulurkan kakinya menahan rasa sakit. Kini, ia sudah tergeletak di lantai, ia menghentakkan kakinya untuk menyalurkan rasa sakitnya, keringat sudah membasahi badannya, begitu juga rambutnya yang sudah acak-acakan karena tangannya yang selalu memukul kepalanya.


Pipi Shanna sudah basah karena air matanya yang sebenarnya tidak ia izinkan keluar, namun cara untuk menahan rasa sakitnya mengharuskan cairan bening keluar tanpa izinnya. Tangisan tanpa bersuara karena ia takut menganggu tidur keluarganya. Jika ia mau, ia bisa saja menjerit sekeras-kerasnya karena sakit yang ia rasakan.


"Ramen sialan...," batinnya sambil memegang perutnya. Perlahan Shanna mencoba untuk berdiri kemudian berjalan ke luar dari kamarnya. Benar saja, maagnya kambuh karena makan ramen bersama Alruni kemarin.


"Manusia penyakitan...," senyum mengutuki dirinya sendiri terlihat jelas di bibir Shanna.


"Mama," panggilnya perlahan sambil mengetuk pelan kamar kedua orang tuanya, namun sepertinya mamanya tidak menyadari hal itu.


"Ma, tolong Reyy, Ma," panggilnya lagi sembari memegang perutnya yang terasa sakit, kali ketukan pintu yang begitu keras untuk keadaan rumah yang sepi seperti ini.


Mama Tantri keluar dari dalam kamar, dengan cepat menghampiri dan memeluk erat putrinya itu. Ia sangat takut, saat terbangun menyaksikan keadaan anaknya yang sangat berantakan.


"Kenapa, sayang?" tanya Mama Tantri dengan mengelus kepala Shanna tanpa balutan hijab itu dengan lembut.


"Perut Reyy sakit, Ma..." ujar Shanna lemah.


"Kita ke rumah sakit ya?" balas Mama Tantri perlahan sambil menuntun Shanna ke sofa yang tidak jauh dari tempat mereka berdua. Mama Tantri kemudian cepat-cepat memanggil suaminya untuk membawa Shanna ke rumah sakit.


Sekarang Shanna sudah berada di atas brankar, tidak lagi merasakan sakit di perutnya. Ia sudah berada di rumah sakit dengan selang infus yang tertancap di tangan mungilnya. Ia melihat keluarganya di sana, termasuk Diksa yang berjalan ke arah brankarnya.


"Makan apa kemarin?" tanya Diksa datar sambil berdiri di samping Shanna.


"gak makan apa-apa," jawab Shanna takut ketika melihat sikap abangnya.


"Jangan bohong, Reyy," tegur Diksa.


"Reyy ga bohong, bang," jawab Shanna gemetar merasa ketakutan. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, Diksa pasti akan marah. Apalagi saudara laki-laki satu-satunya itu adalah seorang Dokter.


"gak capek? Keluar masuk rumah sakit terus?" tanya Diksa.


"Capek lah bang," jawab Shanna.


"Ini terakhir kali ya...gue liat lo masuk rumah sakit. Kalau lo masuk rs , lo harus tinggal bareng gue," ucap Diksa sambil menjauhi brankar adiknya.


"Mati gue," gumam Shanna.


Kedua orang tua mereka hanya diam, tidak ingin mengganggu percakapan Diksa dan Shanna. Meskipun mereka setuju dengan pendapat Diksa, mereka tidak ingin berpikir bahwa ia terlalu posesif terhadap adiknya, terutama jika itu berhubungan dengan kesehatan Shanna.