ArkaSha with Niki

ArkaSha with Niki
Kamu Cantik



Setelah sopir taksi mengantar Shanna sampai tujuan nya. Gadis itu pun merogoh tasnya untuk membayar ongkos taksi. Kini ia sudah berada dihadapan rumah yang minimalis namun luas. Ia melangkahkan kaki, ketika pandangan nya menemukan Arkana tengah berdiri kepanasan disamping pagar rumah itu. Benar saja, ternyata pria itu menuruti permintaan nya untuk menunggunya di depan pagar.


Arkana tersenyum mendapati Shanna yang tengah berjalan ke arahnya. Ia menyambut dengan sumringah kedatangan Shanna yang sangat ia nantikan.


" Tuan putri gak lecet kan?" Tanya Arkana dengan manis, membuat Shanna tersipu malu sebenarnya. Berani sekali Arkana padahal mereka tak memiliki hubungan apa-apa. Hanya sebatas teman untuk sekarang.


"apaan sih..." Arkana terkekeh mendengar jawaban Shanna.


"Thanks ya Shann udah mau dateng..." Ucap Arkana sekali lagi. Ia benar-benar tidak percaya jika Shanna menyetujui untuk datang ke rumahnya.


"Santai aja...Hmmm...mama lo dimana?" Tanya Shanna saat menyadari rumah ini kosong. Ia kira akan dikenalkan dengan Mama Arka, dalam pikirannya ia akan disambut hangat atas kedatangan nya sebagai teman Arkana. Namun khayalannya padam saat mendapati rumah ini tak menampakkan mama Arkana. Apa mama Arkana sedang berurusan di luar seperti Bunda Alruni? Gawat jika hanya mereka berdua yang berada di rumah. Kalau begitu Shanna pulang saja sekarang.


"cantik.." tanpa sadar Arkana telah mengatakan itu saat ia memandangi wajah Shanna. Karna suaranya yang sedikit lembut perkataan nya itu hanya didengar samar-samar oleh Shanna.


"lo ngomong Ar?" tanya Shanna saat tak mendengar apa yang diucapkan Arkana.


"ehh..engga...mama gue di kamar Shann, Bantuin gue ya bujukin mama...udah dua hari mama ga makan Shann, gue ga mau nyokap gue sakit. pliss bantuin gue.." Shanna sedikit terkejut mendengar hal itu. Ia mengetahui sedikit tentang masalah Arkana dari pesan-pesan yang senantiasa di kirim Arkana kepadanya.


Arkana membawa Shanna untuk menemui mamanya, dengan nampan yang berada diatas tangan Shanna yang berisikan makanan untuk mama Arkana.


Ceklek..pintu terbuka menampilkan Mama Arkana yang begitu pucat. Wanita paruh baya hanya setia dengan lamunannya yang tampak kosong. Bahkan berbicara kepada Arkana pun tak ada, hanya umpatan yang sesekali ia ciptakan jika putranya itu menemui nya. Shanna sangat prihatin menatap Arkana, jika saja ia berada di posisi Arkana. Belum tentu ia sekuat Arkana.


"Maa..." panggil Arkana sambil mendekat memegang tangan wanitanya itu. Namun mamanya tak menoleh sedikitpun.


"Ma...liat Arka bawa siapa..gadis ini yang udah bikin Arka senyum sumringah tiap hari ma..mama sempat bilang Arka gila kan karena senyum terus..mama juga minta kan Arka bawa dia ke rumah kita..mama bilang mama pengen punya anak cewek...mama pengen Arka bawa calon mantu mama ke rumah...mama liat dong..cantik kan ma? kayak mama.." Jelas Arkana sontak membuat mamanya menoleh. Lain halnya dengan Shanna yang tengah menahan panas di pipinya, ia sepertinya kasmaran. Ia takut pipinya memerah seketika.


Mama Arkana tersenyum kepada Shanna, Shanna pun mendekat. Begitu Shanna mendekat ingin menyalam mama Arkana, dengan gesit mamanya memeluk erat badan Shanna seperti menyalurkan pikiran nya yang tengah stress.


"kamu cantik.." Mama Arkana menangkup permukaan wajah Shanna yang dibalut hijab. Suara lembut yang sangat ingin didengar Arka telah kembali. Mama Arkana menyadari jika ia sudah keterlaluan kepada putranya, namun egonya tak mudah untuk dipadamkan. Saat melihat Shanna disana, ia merasa energi nya terisi kembali. Bagaimanapun ia harus bangkit, putranya membutuhkannya.


"terimakasih tante..tante makan ya? nanti tante sakit.." Bujuk Shanna. Melihat mamanya yang langsung mengangguk membuat Arkana tersenyum lega. Sungguh semua ini diluar prediksi nya, ia tak menyangka jika mamanya akan se srek itu dengan Shanna. Melihat keadaan mamanya beberapa hari ini, ia rasa ia akan dibenci mamanya setiap hari.


Dengan perlahan Shana menyuapi mama Arkana, melihat reaksi keduanya pun Arkana sangat senang sekali. Air mata nya menetes tanpa ia izinkan.


"Arka rindu mama..." lirih Arkana tetap dalam keadaan berdiri dengan air mata yang terus mengalir. Kedua wanita dihadapannya ini menoleh ke arah nya, badan Arkana bergetar. Tetesan cairan bening juga memenuhi pipi mamanya, Arkana mendekat memeluk mamanya sangat erat. Wanitanya yang ia sangat takut kehilangan nya telah kembali.


"hiikksss..." Isakan tangis terdengar dari bibir Arkana. Shanna yang melihat kejadian itu menatap dengan penuh haru.


" jangan sakitin hati calon mantu mama...awas kamu!" Celetuk mamanya saat melepas pelukan mereka, tangan mamanya bergerak menghapus air mata Arkana.


"ga akan ma..." sambung Arkana yang juga menoleh ke arah Shanna dengan memasang wajahnya tersenyum. Shanna di baluti perasaan yang bimbang. Antara senang dan sedih, senang jika ia bisa membantu Arkana membuat pria itu semangat kembali. Sedih jika ia harus terus berpura-pura menjalin hubungan di hadapan mama Arkana.


Drrtt...drrtt....


Dalam keadaan seperti ini,ponsel Arkana bergetar. Segera ia merogoh ponselnya yang berada di dalam kantong bajunya. Ia melirik ke arah Shanna, ia tak ingin gadis itu mendengar pembicaraan nya di telepon. Bukan bagaimana, ia hanya tak ingin jika tanpa sadar berbicara yang tak pantas di hadapan Shanna.


"Shann...gpp kan gue tinggal sebentar? gue angkat telfon dulu.." ucapan lembut Arkana dibalas anggukan oleh Shanna. Arkana meninggalkan Shanna dan mamanya di dalam kamar, kemudian ia menjauhi ruangan tersebut menuju gazebo rumah nya.


"hallo..." Jawab Arkana dengan suara yang datar saat menyahut sapaan dari seberang sana.


"temuin papa di cafe Garda dalam waktu 30 menit..."


"Arka ga bisa...Arka ada urusan.."


"Papa tau kamu di rumah Arka! kalau kamu ga temui papa, jangan salahkan papa jika pacar kamu kena akibatnya." Ancam Papanya. Heru tau jika Shanna kini berada di dalam rumah tersebut. Sedari tadi ia mengintai rumah itu dari jauh, ia sebenarnya terkejut begitu mengetahui Arkana juga memiliki pacar. Karena selama ia dirumah Arkana tak pernah membawa gadis itu ke rumah.


"Sialan..." umpat Arkana menutup panggilan itu sepihak.


 


Alruni membuka pintu kamarnya, lelaki itu baru saja bangun dari tidurnya. Tak ada satu pun makhluk yang ia temukan di rumah ini. Jelas saja, semua orang sudah memulai aktivitas namun dia baru saja bangun. Menurutnya hari Minggu adalah surga baginya. Setiap hari ia harus berkutik dengan tugas kampus dan tugas BEM, ia ingin muntah melihat semua itu. Namun bagaimana lagi, salahkan ia kenapa mencalonkan diri menjadi Presma.


"Thar...bunda kemana?" Teriaknya saat mendapati adiknya yang super menyebalkan menurutnya itu tengah asyik bermain game di ruang keluarga di lantai satu. Ia kini berada di depan kamarnya dengan menopang kedua pergelangan tangannya pada sandaran tangga sambil membungkuk menatap adiknya.


"lo bangun tidur kayak zombie bang..." celetuk Athar seenaknya saat melihat abangnya yang masih berantakan karena bangun tidur.


"gue tanya bunda dimana?" lanjut Alruni bertanya geran dengan Athar.


" Ayah bunda ada acara... makanya jangan molor mulu.." sarkas Athar tak lagi memedulikan Alruni yang kemudian melanjutkan kegiatannya bermain game.