ArkaSha with Niki

ArkaSha with Niki
Marah



Arkana membuka pintu kamar mamanya setelah memutuskan sambungan telepon dengan papanya. Cowok itu berjalan menghampiri kedua wanita dihadapannya yang sedang asyik mengobrol sesekali kedua wanita itu juga tertawa bersama. Sekilas senyum kembali terbit di bibirnya saat menyaksikan mamanya tak lagi murung. Ia sangat berterima kasih kepada Shanna yang sudah mau menghibur mamanya.


"Shann...gue tinggal sebentar gpp kan? gue ada urusan mendadak, lo jangan pulang ya sebelum gue dateng. Nanti gue yang anter.." Shanna menoleh saat Arkana berbicara kepadanya.


"Gpp Ar..lo hati-hati ya.." Angguk Arkana yang kemudian membungkuk meraih tangan mamanya.


"Ma..Arka keluar bentar ya..." ucapnya lembut sambil mengelus tangan sang mama, Shanna kagum melihatnya.


"jangan lama-lama kamu ar..kasian Shanna nungguin kamu.." Lagi-lagi Arkana mengangguk dengan diakhiri senyuman tipis. Ia berjalan dengan tergesa-gesa ingin menuju kamarnya mengambil jaket dan kunci motornya.


----------


Sesampainya di Cafe yang dimaksud papanya, Arkana memarkirkan motornya kemudian berjalan memasuki Cafe. Cowok dengan perawakan dingin itu mengitari seisi Cafe mencari keberadaan Papanya. Ia tak tau apa yang akan disampaikan papanya, namun ia berharap waktu cepat berlalu agar ia bisa segera pulang. Ia sudah muak melihat wajah papanya.


Lambaian dari ujung menangkap penglihatannya. Ya itu adalah papanya, ia melihat papanya tengah bersama seorang perempuan yang samar-samar sepertinya ia mengenalinya. Tanpa berpikir panjang ia menghampiri kedua orang tersebut, lalu mendudukkan dirinya di kursi dihadapan papanya. Perempuan itu memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Arkana tak tau maksud itu, ia pun sangat tak ingin tau.


"kamu pesan makan dulu.." ucap papanya dengan santai.


"ga usah basa-basi, buruan ngomong..Arka ada urusan." Ucapnya dingin. Ia memalingkan wajah dari papanya, dengan sedikit menampilkan side eyesnya.


"papa mau kamu pacaran sama Meisya.." ucap Heru sambil melirik perempuan yang sudah membersamainya sedari tadi.


"gak capek hancurin hidup Arka sama mama? sekarang papa mau ikut campur dengan urusan percintaan Arka? Arka udah gede pa...Arka juga udah punya pacar...Jangan konyol deh." Ucap Arkana


dengan nada sedikit tinggi. Ia tak menyangka hal sekonyol ini yang akan dibicarakan papanya.


Heru menatap lekat wajah putranya itu.


" Kamu ingat dia kan? teman kecil kamu, Meisya."


"apa hubungannya? kalau dia teman kecil Arka.. Arka ga peduli...Arka pamit!" Ujar Arkana tajam, ia ingin menyudahi lelucon yang sedang didengarnya ini. Ketika ia ingin bangkit, tangannya dicekal oleh papanya. Membuat pergerakan nya terkunci seketika.


Heru menarik tangan Arka, sehingga lelaki itu mendekatkan wajahnya kepada heru. Beberapa saat kemudian, Heru mendekati telinga Arka kemudian berbisik.


"Dia sakit Arka..orang tuanya ke luar negeri..Papa ga mau tau kamu harus jagain dia, kalau kamu menolak..kamu tau? pacar kamu korbannya." Ancam Heru membuat Arka mengepalkan tangannya dengan kuat. Seiring dengan heru menjauhkan kembali wajahnya, ia menggebrak meja dengan tangan kosongnya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Heru pergi meninggalkan Arkana dan Meisya berdua di Cafe itu. Arkana tak habis pikir, sependek itukan pikiran Papanya sehingga berniat ingin menyuruh Arkana menjaga perempuan yang sama sekali ia tak punya rasa. Disaat hubungan nya dengan Shanna sedikit memiliki kejelasan, disaat seperti itu pula gadis ini datang menyusup ke kehidupannya.


Arkana menggusar wajahnya, ia memandang Meisya yang hanya menunduk dari tadi dengan pandangan yang kosong.


"lo udah siap makannya?" Ucap Arkana datar. Apa yang akan terjadi kedepannya? ia tak tau, bahkan mendekati gadis-gadis adalah hal yang sama sekali tak ingin ia lakukan. Kecuali keadaan gadis yang sudah merebut hatinya.


Meisya mengangguk. "Buruan gue anter pulang.." ucap Arkana lagi ia sama sekali tak menghiraukan gadis dihadapannya itu. Saat ia ingin bangkit, Meisya mendongak dan membuka suara.


"buruan.." tukas Arkana tak sedikit pun menjamah tangan Meisya. Ia paham dengan maksud Meisya, ia berjalan meninggalkan Meisya dengan telapak tangan yang masih mengarah pada Arkana. Arkana sangat ingin menolak permintaan Meisya. Namun ia lebih tak ingin jika sesuatu yang buruk terjadi pada Shanna. Ia yakin, jika pacarnya yang diketahui Papanya adalah Shanna.


Meisya tersenyum hangat saat melihat Arkana yang sudah bertengger diatas motornya. Ia tau lelaki ini tengah menunggunya, ia tak peduli apapun kata orang. Ia bahkan sudah tau jika Arkana sudah memiliki pacar, namun apa salahnya kan untuk berdekatan dengan Arkana. Mereka hanya teman, itulah isi pikiran Meisya.


Saat menyadari keberadaan Meisya didekatnya, Arkana turun dari motornya. Ia melirik ponselnya, kemudian tepat dihadapannya datanglah taksi online. Ia yakin jika taksi itu adalah taksi yang ia pesan.


"buruan naik.." tunjuk Arkana pada taksi itu menyuruh Meisya agar segera naik. Meisya kebingungan, kenapa Arkana memintanya menaiki taksi tersebut. Apa Arkana tidak akan mengantarkan nya ke rumah sakit?


"terus motor lo?" Tanya Meisya, ia tidak ingin jika sopir taksi lah yang mengantarkan nya.


"lo duduk di belakang..gue di samping sopirnya.." Jelas Arkana yang sangat kewalahan dengan ribetnya gadis dihadapannya ini.


"kenapa ga naik motor lo aja?" Tanya Meisya memperjelas.


"gada cewek yang boleh naik motor gue..selain pacar gue!!" tekan Arkana ketika mengucapkan kata Pacar. Meisya menggerutu hebat didalam hatinya, seperti apa sih wajah pacar Arkana sehingga ia bersikap seperti ini padanya. Ia sangat kesal sekarang.


Arkana menaiki taksi tersebut tak menghiraukan sama sekali Meisya yang tengah mematung menggerutu menatapnya. Hal itu adalah cita-citanya sejak lama, ia takkan mengizinkan perempuan manapun menaiki motornya kecuali Mamanya dan Shanna. Walaupun Shanna belum menjadi pacarnya, tapi ia harap suatu saat Shanna lah yang akan menjadi jodohnya.


---------


Hari sudah semakin sore, namun Arkana juga tidak menampakkan kedatangannya di rumah ini. Shanna yang sedari tadi sudah menghabiskan waktu bersama mama Arkana juga dirundung rasa gelisah sekarang. Ia takut jika meninggalkan mama Arkana sendirian di rumah. Namun ia juga takut jika papanya akan memarahinya jika ia pulang kelamaan.


"Shanna udah telepon Arka nak?" Ucap Mama Arkana menyadari Shanna yang sudah tidak lagi nyaman dilihatnya.


"hmm...udah tante. tapi Arka ga jawab.." ujar Shanna.


Arkana


^^^Ar..lo masih lama di luar nya?^^^


^^^urusan nya belum selesai ya?^^^


^^^gue gpp pulang sendirian..^^^


^^^gue ga bisa tinggalin mama lo sendirian^^^


^^^gue takut papa marah kalau pulang kelamaan^^^


^^^Ar...pliss jawab gue^^^