
Awan yang semula menampakkan senyum cerahnya kini berganti dengan gumpalan awan hitam menghiasi langit. Perlahan cahaya matahari tak lagi menerangi, namun mendung itu yang sekarang berkuasa. Hari yang semakin sore, Shanna semakin tidak nyaman jika terus berlama-lama di rumah Arkana. Lelaki itu juga tidak menjawab pesannya, ia bukan egois untuk meninggalkan mama Arkana seorang diri di rumah. Namun ia juga tak mau jika kedua orang tuanya khawatir kepadanya.
"Tante...Shanna pulang aja ya tante. Takut keburu sore, hari juga udah mendung. nanti papa nyari Shanna." Pamit Shanna tak enak pada mama Arkana. Di dalam otaknya sekarang hanyalah papanya, bisa dihukum ia jika papanya tau ia pergi ke rumah Arkana. Sedari dulu, papanya melarang keras ia terlalu dekat dengan lelaki kecuali Alruni.
"kamu ga tunggu Arka dulu sayang?" Ucap Mama Arkana dengan penuh lembut kepada gadis dihadapannya itu.
"ga usah tante, Shanna bisa pesan taksi online. Arka pasti sibuk banget tan..." Balas Shanna kemudian menyalam tangan mama Arkana. Ia berlenggang melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah Arkana.
Hanya beberapa menit berselang, begitu ia meninggalkan rumah itu. Ia berjalan pelan sambil memainkan ponselnya menuju halte yang berdekatan dengan rumah Arkana. Titik air hujan perlahan turun, gerimis sudah sebelum mendatangkan hujan yang lebih lebat lagi. Tak ingin badannya basah kuyup diguyur air hujan, Shanna mempercepat langkahnya agar segera sampai di halte tersebut. Tak ia temukan siapapun di halte ini, hanya ia seorang diri. Ia memaklumi hal itu karena hari akan segera malam. Jadi pasti saja sangat jarang orang yang berada di halte.
Shanna duduk di kursi panjang yang berada di halte itu. Ia merogoh ponselnya ingin memesan taksi online, namun sedari tadi tidak ada taksi yang merespon. Apa karena hari sudah semakin gelap? Ia sangat tak beruntung kali ini. Sepersekian menit, ia melihat jam yang berada di ponselnya. Pukul enam lewat 20 menit sebentar lagi langit benar-benar akan menggelap.
Shanna menyisir setiap sudut jalanan didepannya, sangat sepi. Mustahil jika Shanna tidak kedinginan disaat hujan yang semakin lebat mengguyur bumi. Kedinginan dan ketakutan bercampur aduk pada dirinya.
"Tenang Reyy...jangan takut, lo pasti aman aja kok." gumam Shanna berusaha menenangkan dirinya di tengah ketakutan yang semakin menghujani dirinya. Kebayang kan gimana gelapnya, hari hang berangsur malam ditambah hujan deras dan Shanna berada sendirian di tempat yang sama sekali belum pernah ia jumpai.
Arkana
^^^Ar...pliss anterin gue pulang^^^
^^^gue takut Ar^^^
^^^gelap banget...disini juga hujan Ar..^^^
^^^masih lama banget ya urusan lo?^^^
Percuma saja menghubungi pria itu, tak ada balasan darinya. Shanna menyatukan kedua tangannya lalu menggosok nya berusaha menghangatkan dirinya. Gadis ini sangat sensitif dengan kedinginan, apalagi ia memiliki riwayat penyakit yang bisa kambuh kapan saja.
"pliss..jangan kambuh dulu.." bisiknya pada dirinya sendiri saat ia merasakan kepalanya yang sedikit pusing. Bibirnya yang sudah sedikit pucat, ditambah lagi sesuatu yang ia rasa mengalir dari arah hidungnya. Ia merogoh tisu yang selalu ia sediakan dalam tasnya kemudian mengusap pelan hidungnya.
"mampus!!" tukas Shanna saat melihat darah segar berada pada tisu yang dipegangnya. Ya, ia mimisan. Beginilah jika ia kedinginan.
Niki Imooet😤
^^^Nikk...lo sibuk ga?^^^
Engga...kenapa?
^^^Jemput gue^^^
Anda pikir saya sopir☺️
^^^Pliss..Nikk^^^
Tadi berangkat sendiri..pulang sendiri
jangan manja ya Reyy sayang
^^^Gue udah coba pesan taksi^^^
^^^gada yang respon Nik^^^
Minta tolong noh sm Arkana
ga mungkin dia ga mau nganter
^^^Pliss...Kali ini aja Nikk^^^
ga reyy...sorry! gue sibuk
Memilih mengabaikan balasan pesan dari Alruni. Respon Alruni yang membuat Shanna makan hati. Tumben lelaki ini menolak permintaannya. Ia tak hilang akal ingin menghubungi papanya atau Diksa. namun ia tak ingin cari mati jika menghubungi mereka. Ia pasti akan habis dimarahi. Ia kembali mengusap wajahnya yang malang saat ini. Lagi-lagi darah segar mengalir di hidung nya. Kali ini ia biarkan darah itu mengalir dengan deras, kemudian kakinya ia langkahkan perlahan menapaki hujan yang masih sama derasnya. Ia berniat ingin menjumpai tempat yang lebih ramai sehingga menghilangkan rasa takutnya.
Ia biarkan dingin semakin menusuk tulang-tulang nya, tak ia pedulikan langit yang sudah penuh dengan hitam. Bahkan air hujan yang membasahi badannya tak ia hiraukan. Ia tak menyalahkan Arkana atas apa yang dialaminya saat ini. Pria itu juga memiliki urusan sehingga pesan pun tak dapat ia membalasnya. Ia juga tak berhak memaksa Arkana untuk menjemputnya, lelaki itu bukan siapa-siapanya.
Shanna sempat terdiam beberapa saat ketika menyaksikan dari kejauhan ia sudah melihat lampu yang temaram. Itu artinya keramaian akan ia dapatkan di ujung. Sebelum kembali meneruskan langkahnya, Shanna merogoh ponselnya lagi ingin menghubungi seseorang yang ia rasa pasti akan membantunya.
Dokter Adriana
^^^Bu dokter cantik...bisa tolong Shanna gak?^^^
^^^Shanna kehujanan...disini dingin banget^^^
^^^Gada yang bisa jemput Shanna^^^
^^^Kalau dalam 10 menit Shanna ga ngasih kabar^^^
^^^tolong jemput Shanna ya dok^^^
^^^terus tolong hubungi kontak Niki di ponsel Shanna^^^
^^^Dia bandel banget^^^
^^^ga mau jemput kalau Shanna yang bilang^^^
^^^Hehehe...jangan bilang Niki kondisi Shanna yang sebenarnya ya dok..Shanna ga mau dia repot^^^
^^^Shanna kedinginan..^^^
^^^Shanna mimisan dari tadi..^^^
^^^Shanna takut tumbang^^^
^^^terimakasih bu dokter cantik^^^
^^^maaf kalau Shanna ngerepotin^^^
Shanna tak tau harus meminta tolong kepada siapa lagi. Ia sebenarnya tidak tega meminta tolong pada Dokter Adriana, tapi bagaimanapun Dokter Adriana lah yang selalu membantunya selama ini. Ia tak yakin pada dirinya jika ia akan bertahan dalam 10 menit. Darah yang terus mengalir dari hidungnya, kepalanya yang sudah sakit sedari tadi. Tak memedulikan apapun lagi, ia terus saja berjalan menyusul keberadaan lampu-lampu yang ditangkap oleh indra penglihatannya.
Setelah berjalan hampir lima menit kini Shanna terdiam lagi. Pandangan tak dapat lagi ia kendalikan, tubuhnya ambruk ditengah aliran air hujan yang deras ini. Kerutan yang sedikit tercipta dari ujung keningnya. Ia perlahan pingsan tak sadarkan diri. Kondisinya benar-benar berantakan saat ini. Tak ada apapun lagi yang bisa Shanna perbuat, ia hanya menunggu kedatangan seseorang yang akan menyelamatkan nya.
Dari kejauhan sorotan lampu mobil menerangi tubuh Shanna yang tumbang beberapa menit lalu. Seseorang yang berada dalam mobil tiu kemudian turun bergegas menghampiri gadis yang tengah tumbang itu. Matanya membulat lebar begitu melihat gadis dihadapannya yang sudah tak sadarkan diri. Dia adalah Dokter Adriana, dengan gesit Dokter Adriana menuntun tubuh Shanna yang sudah sangat lemah agar masuk kedalam mobilnya. Begitu Shanna mengirim pesan itu, Dokter Adriana sudah bersiap-siap.
Ia sangat prihatin melihat kondisi gadis yang beberapa tahun ini sudah menjalin kedekatan dengannya. Dokter Adriana sendiri adalah dokter yang menangani kesehatan Shanna selama ini. Tentu saja dokter itu sudah sangat dekat dengannya. Dokter Adriana segera membawa Shanna menuju rumah sakit dimana biasanya Shanna konsul dengannya.