ArkaSha with Niki

ArkaSha with Niki
Ambruk



"jemput Meisya sekarang!!" ucap Heru dengan nada suara tinggi. Arkana tak habis pikir dengan manusia yang dianggap nya tidak berperikemanusiaan ini, Meisya dan Papanya sama saja.


"Arka udah di kampus, Arka ga bisa.." bantah Arkana menolak keinginan papanya.


"kamu mau pacar kamu celaka?" Lanjut papanya membuat Arkana mengepal kan kuat tangannya, namun ia kembali menghela napas dengan lembut untuk mengontrol emosinya pagi-pagi seperti ini.


"lakuin aja apa yang mau papa lakuin, Pacar Arka tugas Arka buat ngejaga dia..." Pasrah Arkana tak mau lagi berdebat dengan bokapnya itu. Arkana menutup sambungan telepon sepihak, dan membiarkan bokapnya dengan segala umpatan nya. Ia juga sudah mempertimbangkan untuk mengambil pilihan ini, ia tak ingin hubungannya dengan Shanna berakhir sia-sia jikalau Shanna nanti tau akhirnya jika ia semakin sering berkomunikasi dengan Meisya. Ia akan menjaga Shanna dan membuang Meisya dari kehidupannya. Ia tau jika ia mengikuti keinginan papanya hanya akan berdampak pada hubungan nya dan Shanna.


Shanna Mine 💗


^^^^^^Tuan Putri baik-baik aja kan?^^^^^^


^^^Hari ini kemana-mana jangan sendiri ya^^^


^^^Minta temenin sm temen kamu,^^^


^^^Aku ga tau namanya^^^


^^^Nanti aku nyusul ke kampus kamu^^^


Heii...kenapa coba tiba-tiba ngelarang gitu?


^^^Ga boleh apa? casu nya ngelarang gini?^^^


Casu?


^^^Calon suami😩^^^


Pede banget anda pak


^^^pokoknya ga boleh sama yang lain, harus sm aku^^^


^^^jangan sampai kenapa-napa^^^


Saya bukan anak kecil paman☺️


^^^Aku ga bisa langsung jagain kamu^^^


^^^Apa aku harus pindah kampus gitu?^^^


Gausah ih....


^^^yaudah...jangan main di belakang😤^^^


^^^aku punya mata-mata lo😏^^^


lucu banget....hahaha


siap pak boss


Setelah beberapa jam kelas selesai, seperti rutinitas sehabis ngampus. Anjel dan Shanna memanjakan perut dahulu ke kantin kampus. Shanna memasukkan seluruh perlengkapan yang ia bawa kedalam tasnya, kemudian mengubah posisi tas itu menjadi berada di belakang bahunya.


Berbeda dari biasanya, saat ini Shanna merasakan kembali sakit kepalanya yang begitu menusuk. Ingin saja ia tumbang sekarang namun ia terus berusaha menyokong tubuhnya setidaknya sampai kantin. Ia tak ingin merepotkan Anjel bahkan siapapun itu. Saat ini ia berjalan berdampingan bersama Anjel bersama teman-teman sekelasnya yang juga perlahan-lahan meninggalkan kelas.


"ssstttt..." lenguh Shanna menunduk ke arah lantai saat beberapa langkah lagi akan meninggalkan kelas. Shanna menghentikan langkahnya untuk beberapa saat, Ia memijat keras pelipis nya berusaha menghilangkan rasa sakitnya. Tidak mungkin ia menjambak rambutnya saat ini. Anjel yang menyadari Shanna tak lagi mengikutinya dari belakang juga menghentikan langkahnya kemudian menoleh.


Anjel berjalan cepat mendatangi Shanna dengan wajah kepanikan. Shanna begitu terlihat seperti menahan sakit yang teramat.


"pliss Shan...jangan sakit..." batin Roni yang masih berada di kursinya, sedari tadi ia memang sudah tau bahwa kondisi Shanna nampak tidak baik-baik saja.


"lo gpp Shann? maag lo kambuh lagi?" Ujar Anjel mengizinkan satu tangannya untuk mengusap pelan punggung Shanna.


Shanna mendongakkan kepalanya, kemudian tersenyum. "buruan jalan...im fine.." ujar Shanna santai.


"lo pucat Shann.." khwatir Anjel semakin berlebih sesaat ia melihat bibir Shanna yang sudah kering, dan permukaan kulit wajahnya yang tidak seperti biasanya.


"gue laper.." elak Shanna. Tak lama ia memposisikan kedua telapak tangannya pada lututnya , dan berusaha mengambil nafas lagi untuk melanjutkan langkahnya. Tak lupa Anjel yang masih khawatir ikut memperkecil langkahnya untuk setia berada di samping Shanna.


Sembari menahan nyeri yang menyerang kepalanya Shanna akhirnya sampai juga di tempat tujuan mereka. Tanpa memikirkan apapun lagi, saat ia melihat keberadaan Alruni dan Gilang yang tengah menyantap makanan mereka. Dengan sedikit meringis sambil merapikan penampilannya agar Alruni tidak curiga melihatnya. Walaupun kepalanya seakan ingin bocor namun ia berusaha untuk tetap tenang.


"Siang Shan..." Sapa Gilang begitu melihat Shanna menghampiri meja mereka. Dengan senang hati tentunya Gilang menerima kedatangan Shanna. Namun berbeda dengan Alruni yang biasanya akan asik menjahili Shanna, namun kali ini ia diam saja bahkan memasang wajah datarnya di hadapan Shanna.


"Anjel mana Shan?" Tanya Gilang lagi kepada Shanna, ia tak melihat keberadaan Anjel bersama Shanna. Namun Shanna yang tengah tidak fokus, apalagi melihat sikap Alruni yang berubah drastis kepada nya membuatnya semakin kepikiran.


"Shann...heiii..." sarkas Gilang membuyarkan pikiran Shanna yang tengah berperang. Shanna menoleh ke arah Gilang, ia menggigit bibir bawahnya untuk menyalurkan rasa sakit yang dirasakannya. Begitu juga kedua jemari tangannya menggenggam ujung kursi yang didudukinya sambil meremas kuat kursi itu.


"hahh...hahhh.." Nafas Shanna yang semakin tidak teratur.


"Kepala gue sakit..." Ujar Shanna yang sangat terlihat memprihatinkan, Gilang juga dibuat sedikit panik olehnya. Berbeda dengan Alruni yang masih saja setia dengan wajah tidak pedulinya, ia berfikir jika Shanna sedang berpura-pura agar diperhatikan olehnya. Ia sangat mengenali gadis di hadapannya. Untuk sementara waktu ia tak ingin berbicara banyak dulu dengan Shanna, begitulah pikirannya.


Alruni bangkit tanpa rasa kasihan kepada Shanna. Shanna tak mendongak sedikit pun, ia setia menunduk menatap dalam permukaan meja itu sambil meremas kuat kepalanya yang dibaluti hijab itu.


"Cabut Lang...!" Sungguh tak memiliki perasaan si Alruni. Gilang juga dibuat kebingungan oleh keduanya, ia seolah merasakan sakit yang diderita Shanna begitu melihat kondisi Shanna saat ini. Namun semakin dibuat bingung lagi, oleh sikap Alruni yang tiba-tiba dingin kepada Shanna.


"tapi..Shanna Al..." bantah Gilang saat Alruni sudah meninggalkan meja itu dua langkah, kemudian ia berbalik dan berhenti.


"dia pura-pura doang..nanti juga baikan..buruan.." Ucap Alruni datar. Tak tau apa lagi yang akan ia lakukan, Gilang menggusar frustasi rambutnya kemudian meninggalkan Shanna seorang diri di meja itu.


Shanna menggertak meja itu dengan pukulan yang teramat keras, sehingga beberapa orang yang berada dekat dengannya menoleh menghadapnya. Satu buliran bening membasahi pipinya, ucapan Alruni yang sangat menusuk baginya. Ia tak menginginkan candaan disaat seperti ini, ia benar-benar merasakan kesakitan.


"hahh..." beberapa kali Shanna membuang nafasnya kasar. Ia bangkit berniat ingin pergi ke kamar mandi. Ia tak tahan lagi, rasanya ia akan menjambak kuat rambutnya kali ini.


"HAH!!! GUE CAPEK!!!" Teriak Shanna dengan tangisan yang tersedu-sedu. Benar saj ia membuka kerudung yang membaluti rambutnya di dalam toilet, kemudian menjambak kuat rambutnya. Hingga beberapa gulungan rambut hitam itu memenuhi permukaan tangannya.


"Reyy mau mati...Reyy ga sanggup nahan sakit ini sendirian...hiikss...hikkss..." Terisak-isak dalam tangisan, sedangkan tusukan demi tusukan di kepalanya tak juga reda. Wajahnya juga sudah sangat pucat pasi, dengan kondisi seperti ini tak memungkinkan lagi Shanna dapat menahan pertahanan tubuhnya. Ya, ia ambruk tanpa sepengetahuan siapa pun.