ArkaSha with Niki

ArkaSha with Niki
Unfaedah



Hari ini adalah hari dimana Shanna mulai bangkit kembali, ia rasa gak sedikit berlebihan jika harus marah kepada Arkana. Apa alasan yang akan ia katakan. Apa ia berhak marah jika benar saja Meisya benar-benar pacar Arkana? ia sudah tak memikirkan hal itu. Ia mulai memberanikan diri, hidup yang akan ia jalani harus terus mengalir.


Pagi ini ia sudah siap dengan outfitnya menuju kampus, sarapan yang sudah ia lewatkan. Bahkan jadwalnya masuk kelas tinggal setengah jam lagi. Ia agak sedikit heran, kenapa Alruni belum juga memunculkan diri untuk menjemputnya pagi ini.


"Reyy!! kok belum berangkat sayang?" Tanya Tantri begitu mengetahui jika putrinya itu belum juga berangkat ke kampus. Sedangkan adiknya Aqza sudah sedari tadi meninggalkan rumah begitu juga dengan papanya.


"Niki belum nyampe ma.." sambung Shanna yang pastinya sudah dihantui perasaan gelisah antara takut akan terlambat ke kelas dan dimana Alruni sebenarnya berada. Ia sedari tadi mengirim pria itu pesan namun tak juga mendapat balasan.


Niki Imooet 😤


^^^Nik...buruan!!!^^^


^^^gue takut telat^^^


^^^gue tau lo gada kelas pagi ini^^^


^^^ga biasanya lo gini Nikk..^^^


^^^pliss😩^^^


"ni anak kemana sihh..." gerutu Shanna saat menyaksikan pesannya tak digubris sedikit pun oleh Alruni.


Drrrtt...drrtt....getaran ponsel Shanna berniat ingin menghubungi Alruni. Beruntung saja di detik-detik keterlambatan nya sang empu menerima panggilannya. Bagaimana tidak waktunya hanya tinggal dua puluh menit lagi, waktu tempuh biasanya yang ia habiskan untuk ke kampus.


"hmmm..." ucap Alruni dari seberang dengam suara khas bangun tidur.


"Lo?!! jangan bilang bangun tidur nik!!!" Suara cempreng penuh amarah Shanna berhasil membuat gendang telinga Alruni mengerucut.


"iya gue baru bangun.." jawab Alruni santai namun berbeda dengan Shanna yang kepanikan setengah mati. Awas saja jika bertemu dengan Alruni, ia akan menghabisi pria itu.


"trus gue gimana Nik? lo ga bilang sih tadi malam, kalu ga gue udah berangkat dari tadi.." gerutu Shanna kesal.


"yaudah...tinggal berangkat doang kan.." Jawaban Alruni berhasil membuat Shanna marah kepadanya. Shanna mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika sampai telat masuk kelas.


Dengan gesit Shanna memasukkan ponselnya ke dalam Tote bag yang selalu dikenakan nya menuju kampus. Setelah berpamitan pada mamanya, ia membuka knop pintu ingin menyalakan sepeda motor yang sudah lumayan lama tidak ia gunakan. Setelah diperbaiki dari kecelakaan, ia tak pernah lagi menggunakan sepeda motor ini untuk ke kampus. Karena setiap harinya ia selalu diantar jemput oleh Alruni. Ia bohong jika tidak merindukan suasana dimana ia berangkat dengan penuh kesadaran menghirup udara pagi dengan sepeda motor nya ini. Namun keadaan sekarang berbeda, waktu yang terus berjalan mengharuskan Shanna untuk mengendarai sepeda motor itu dengan sedikit ngebut. Ia tak ingin jika sampai terlambat menuju kampusnya. Dosen yang akan masuk pagi ini sedikit tidak bersahabat, sehingga Shanna sangat takut jika sampai melewatkan jam nya.


Waktu dua menit tersisa saat ia mendarat di parkiran, dengan sangat tergesa-gesa Shanna memotong setiap mahasiswa yang berada di hadapannya. Koridor demi koridor kelas ia lewati agar sampai di kelasnya. Sesampainya di depan kelas, ia menghentikan langkahnya kemudian mengambil nafas perlahan dengan lembut.


"loh..ko ga masuk ron?" Tanyanya saat melihat Roni berada di depan kelas tengah menghirup udara segar pagi ini. Pria itu tengah memandang keindahan kampus di pagi hari sepertinya.


Roni menoleh saat mendengar suara favoritnya, dan benar saja dugaannya suara itu adalah milik Shanna.


"Dosen ga masuk Shan.." ucapan singkat padat dan jelas dari Roni membuat Shanna seperti ditimpa kebahagiaan. Ia tersenyum sumringah ketika mendengar hal itu, ia tersenyum ke arah Roni kemudian mengusap pelan dahinya yang dipenuhi sedikit keringat.


"gue masuk dulu Ron..." Balas shanna, Roni balik tersenyum ke arah Shanna. Melihat gadis itu sudah meninggalkan nya, ia kemudian berbalik melanjutkan aktivitasnya di awal.


Shanna Mine 💗


Morning Tuan Putri 💗


Udah nyampe di kampus kan?


^^^Haii...pagi juga Boss^^^


^^^Udah...baru aja nyampe^^^


Ga lecet kan?


^^^Jangan berlebihan Ar...im fine😂^^^


^^^kamu udah dimana?^^^


peka juga ternyata


Aku baru aja mau berangkat


gada kelas pagi soalnya


^^^oohhh...oke^^^


^^^hati-hati ya^^^


see you Cantiknya Arka💗


Arkana keluar membuka pintu utama rumah ya menuju garasi tempat dimana motornya kesayangannya berada. Biasanya setiap pagi ia akan bercengkrama dengan Mamanya, namun pagi ini rumah kelihatan sepi sekali. Sesuai dengan rutinitas setiap akhir pekan, Mamanya selalu berangkat pagi sekali untuk membeli bahan-bahan makanan di pasar setiap pekannya.


Ponselnya bergetar, dengan penuh kegirangan sekaligus penasaran ia membuka pesan itu. Senyum manisnya seketika berubah menjadi wajah datar saat melihat pesan itu. Sedari awal ia mengira pesan itu adalah Shanna pengirimannya namun ternyata itu datang dari seseorang yang sama sekali tidak di harapkan nya.


Meisya Beban


Ar...lo kan lewat rumah gue


jangan lupa jemput gue


kita sekalian berangkat nya


^^^Sorry..gue ga bisa^^^


Gue aduin papa lo ya


^^^Gue ga takut..^^^


Hmm...Pacar lo ternyata Shanna ya?


^^^Kalau lo sampai celakain dia^^^


^^^gue yang bikin lo ga bisa liat dunia besoknya^^^


^^^Berangkat sendiri!! gue bisa jagain cewek gue^^^


^^^gue ga takut ancaman lo^^^


Takut banget..


Tanpa memedulikan Meisya yang berani sekali mengancamnya, Arkana tak menghiraukan hal iu sama sekali. Ia pikir hal apa yang akan dilakukan cewek untuk mencelakai cewek lainnya, ia akan menjaga Shanna kapanpun. Ia tak ingin membuat hubungannya dengan Shanna retak hanya karena ia meluangkan waktu sedikit saja untuk Meisya yang merupakan hal paling konyol di hidupnya.


Motor yang Arkana kendarai membelah jalanan sepi di pagi hari, udara yang masih sangat segar karena belum begitu bercampur dengan polusi dan kendaraan motor lainnya. Sesekali ia merasakan getaran yang berasal dari ponselnya yang berada di dalam kantong jaket yang dikenakan nya. Ia rasa jika itu masih saja pesan dari Meisya yang meminta untuk menjemput perempuan itu. Sampai kapan pun ia takkan menghiraukan pesan itu.


Getaran kini berubah menjadi deringan ponsel yang semakin membuat Arkana geram. Ada ya manusia diciptakan untuk mengganggu dan seperti tidak punya harapan seperti Meisya menurutnya. Ia merogoh ponselnya, pandangannya menatap bingung saat menyadari ternyata bukanlah Meisya yang sedari tadi mengirimkannya pesan. Namun itu semua merupakan ulah dari Papanya.


"ARKA!!!" Bentakan yang membuat telinga Arkana yang masih suci memanas seketika di pagi hari ini.


"terus aja bentak gue Bokap unfaedah!!" batin Arkana menjawab.


"hmm..." jawab Arkana singkat.