ArkaSha with Niki

ArkaSha with Niki
Jantungan



Setelah selesai berkacak dengan kelas kuliahnya, kini tibalah saat nya Shanna akan menenangkan pikirannya sejenak sebelum tiba hari esok. Hari dimana ia akan memulai kelas kembali. Shanna menutup sepihak sambungan teleponnya bersama Alruni, setelah pria itu mengatakan jika ia akan rapat sebentar. Memang menyebalkan jika harus berurusan dengan ketua BEM kampus. Dipastikan, Shanna akan menunggu lama rapat Alruni selesai. Ia sangat bosan, membayangkan keadaannya nanti saat menunggu Alruni.


Ia terus berjalan membelah puluhan mahasiswa yang berpapasan dengannya. Ia akan menuju ruangan BEM kali ini. Begitu sampai di depan ruangan yang bernuansa biru ini, Shanna sedikit berpikir. Jika ia masuk? Apa ia juga akan bertemu dengan Arkana di dalam. ia pasti akan sangat gugup untuk menemui Arkana kali ini.


Pikiran cerdas menurutnya terbersit di otaknya, "gue tunggu di mobil aja kali ya?" batin Shanna membenarkan perkataan hatinya itu.


Ia pun memasuki ruangan itu, dan menangkap manik mata Alruni disana. Untung saja para anggota organisasi itu belum memulai rapat, lebih beruntungnya lagi ia tak menemukan sosok Arkana disana. Ia pun berjalan santai menuju Alruni.


"minta kunci mobil..." ujar Shanna tiba-tiba menyodorkan salah satu telapak tangannya ke arah Alruni.


" ga boleh, nanti lo kecelakaan Reyy.." ucap Alruni asal, mengundang tawaan renyah dari mulut Shanna. mendengar gelak tawa yang menurutnya ia kenal, lelaki itu berdiri menegakkan tubuhnya yang semula terdampar di lantai sambil memainkan ponselnya. Ya, dialah Arkana. Reaksi Arkana itu membuat Shanna akan kehilangan jantungnya, kemunculan Arkana tiba-tiba membuat hatinya sedikit terperanjat. Namun, ia berusaha untuk biasa-biasa saja.


" siapa yang mau bawa mobil coba, gue tunggu lo di mobil." lanjut Shanna tanpa menghiraukan tatapan Arkana padanya.


"yaudah...ngemeng dong.." remeh Alruni sambil mengulurkan kunci mobilnya ke arah Shanna. Dengan sigap Shanna meraih kunci itu, sekilas melirik kepada Arkana. Ia kemudian meninggalkan ruangan tersebut.


"Shann..." panggil lelaki yang suaranya itu selalu saja membuat jantung Shanna akan meloncat. Lagi-lagi Arkana muncul dihadapannya. Tak ia sadari, lelaki itu sedari tadi menguntit di belakangnya.


"iya?" jawab Shanna setelah memutarkan badannya menghadap Arkana.


"bisa ngobrol? Bentar." sambung Arkana yang tengah mengusap-usap telapak tangannya karena takut ditolak Shanna.


" lo bukannya rapat?" tanya Shanna menyanggah ajakan Arkana.


"masih setengah jam lagi.." seru Arkana begitu mendapatkan anggukan dari Shanna menandakan menyetujui ajakan dirinya untuk mengobrol.


Kedua sejoli itu kini menempati kursi yang berada di taman kampus yang tidak jauh berada dari ruangan BEM. Arkana tampak menghela napasnya pelan, entah apa yang akan ia lakukan kali ini. Ia begitu gugup.


"gue suka sama lo Shan" ucap Arkana dalam hati gugup mengutuki dirinya sendiri yang sangat menciut soal percintaan.


Setelah diam hampir lima menit, Shanna dibuat bingung kenapa lelaki dihadapannya ini tak juga kunjung berbicara. Namun hatinya tersenyum, mimpi apa ia semalam ia bisa berbicara empat mata seperti ini dengan crush yang sudah menjadi mantan crush katanya itu.


" Ar..?" ucap Shanna tiba-tiba saat mendapati Arkana tak jua berbicara.


ucapan Shanna membuyarkan lamunan Arkana. Sebenarnya pria ini hanya sedikit menyusun strategi yang baik untuk membuka suara.


"Arkana...heii" Shanna melambaikan tangannya di dekat wajah Arkana. kali ini Arkana benar-benar telah tersadar dari khayalannya.


"ehh...iya Shan.." ucapan Arkana yang begitu merayu pendengaran Shanna. Ingin rasanya ia merekam suara Arkana agar bisa ia dengarkan setiap hari.


"lo mau ngomong apa?" tanya Shanna yang mendapat tatapan penuh arti dari Arkana.


" lo becanda?" sambung Shanna yang di iringi kekehan kecil di ujungnya. Ia ingin mengalihkan suasana hatinya saat ini.


"Shan...plis jangan ketawa, gue ga becanda..gue serius.." Arkana menekankan ucapannya.


"gue bingung Ar..." Arkana terdiam, sebenarnya ia memaklumi kondisi Shanna saat ini. Mengingat ia tanpa aba-aba mengungkapkan perasaannya.


" gue ga maksa lo, gue ngerti lo pasti ga mau pacaran kan? Gue faham Shan. Gue udah suka sama lo sejak SMA, dulu gue ga seberani ini ngajak lo pacaran bahkan sekarang juga butuh keberanian yang lebih." tukas Arkana.


" gue udah lama cari lo, gue udah sering kesini Shan. Gue ga punya keberanian buat temuin lo. Lo deket sama Al aja gue jeolous banget Shan, gue udah liat dari lama lo selalu bareng sama dia. Tapi gue ga punya hak buat ikut campur segala. Gue terima apapun jawaban lo, gue lega udah ungkapin semuanya." shanna menyenderkan kepalanya di sandaran kursi taman, ia mengalihkan pandangan nya menyisir lapangan yang luas ini. Ia terkejut dengan penjelasan Arkana yang ternyata sudah sejak lama memperhatikannya, bahkan yang sangat tak ia duga Arkana sudah menyukainya sejak SMA. Ternyata dalam diam cintanya tak bertepuk sebelah tangan. rasanya seperti mimpi bagi Shanna.


" gue mesti jawab apa?" batin Shanna. Akankah ia juga harus mengungkapkan perasaannya nya. Apa ia harus berterus-terang kepada Arkana?


" jangan canggung gitu dong Shann..." ucap Arkana dengan kekehan, membuat Shanna kembali beralih menatapnya.


"Ar..." panggil seseorang membuat keduanya menoleh. Davi yang sudah sedari tadi mencari Arkana yang tiba-tiba menghilang dari pandangannya.


"rapatnya udah mulai.." ucap Davi yang dibalas tatapan tajam oleh Arkana. Ia sangat menyayangkan mengapa Davi datang disaat yang tidak tepat.


Arkana menoleh ke arah Shanna yang juga tengah menoleh ke arah Davi, membuat mata mereka bertemu.


"gue ke dalam dulu Shann...gue anter ke mobil ya." Shanna langsung menggeleng dengan cepat.


"ga perlu, buruan lo udah ditungguin.." lanjut Shanna.


"gada penolakan, buruan gue anter..." Arkana sangat bersikeras kali ini. Shanna menghembuskan napas nya gusar, Davi yang melihat aktivitas keduanya itu di hiasi tatapan bingung. Apa benar yang dihadapannya sekarang adalah temannya Arkana? ada hubungan apa antara keduanya? Davi sangat penasaran sekarang.


Tanpa berlama-lama lagi, Shanna bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju parkiran untuk berdiam diri dalam mobil Alruni. Sementara Arkana setia berada di samping Shanna.


Melihat mobil sedan hitam yang terparkir di sana. shanna kemudian menekan tombol untuk membuka kunci hingga menciptakan bunyi dari mobil tersebut. Sebelum memasuki mobil, ia berhenti kemudian menatap Arkana kembali.


"thanks Ar.." ucapnya.


Arkana mengangguk sambil tersenyum, "buruan masuk." lanjut Arkana.


" lo pergi duluan, baru gue masuk." sambung Shanna.


"gue pastiin dulu lo masuk mobil, baru gue pergi." shanna meneguk salivanya, ia sangat gugup sekarang. Tanpa berkata-kata lagi, Shanna membuka pintu mobil. Demi apapun, ia sangat menyesali dirinya yang tengah jantungan sekarang.


----------------------------