Aqila It'S Mine

Aqila It'S Mine
SANDRA



Setelah melaksanakan shalat Maghrib Aqila langsung menata diri didepan cermin riasnya.


Meskipun tidak terlalu faham akan make up tapi gadis itu sedikit mengerti akan benda-benda yang dapat mempercantik wajah tersebut.


Malam ini Aqila mengenakan dress selutut berwarna navy karena ia tidak terlalu menyukai warna-warna yang terang. Rambutnya ia biarkan tergerai dengan jepitan rambut kecil dibagian poni.


Aqila turun dari kamarnya dan sudah melihat Davin yang sedang mengobrol dengan orangtuanya dan juga Azka.


"Nah itu kak qila"ucap Azka menunjuk Aqila yang sedang turun dari tangga.


Davin dan orang tua Aqila pun melihat Aqila yang malam hari ini tampil dengan gaya berbeda.


"Uluh-uluh cantik banget sih anak mamah"puji Vita pada anak putrinya.


"Jangan dipuji mah ntar terbang lagi"ucap Azka menjahili kakaknya.


"Ck mah lihat Azka"kesal Aqila dan memasang wajah cemberut.


"Eh jangan cemberut gitu dong yauda gih tuh ditunggu Davin"ucap Abas.


Lalu Aqila melihat Davin yang tersenyum padanya Aqila pun dengan membalas senyuman yang tak kalah manis.


"Ekhem udah sana berangkat jangan senyum-senyum terus"ucap Vita kemudian Aqila dan Davin mencium tangan orang tua Aqila.


"Inget pulangnya jangan malem-malem"ucap Abas memperingati.


"Iya yah kalo gitu Aqila pergi dulu assalamualaikum"pamit Aqila.


"Waalaikumsalam"jawab Vita Abas dan Azka.


"Cantik banget sih pacar aku"puji Davin ketika mereka sudah sampai di mobil tak lupa satu tangan Davin menggenggam tangan Aqila dan satunya lagi digunakan menyetir.


"Emang kemarin-kemarin jelek kak?"tanya Aqila terkekeh.


"Kamu mah dari dulu emang cantik yang belalang aja lihat kamu langsung nabrak pohon"jawab Davin.


"Apasih kak malah ngegombal"ucap Aqila mengalihkan pandangannya pada jendela mobil karena pasti wajahnya memerah.


"Kok manggil kak sih"ucap Davin pada Aqila karena merasa ia kakaknya.


"Hahaha maaf kak udah terbiasa sih aku jadi inget pertama kali ketemu kak Davin waktu itu aku dihukum OSIS karena terlambat masuk eh kak Davin bisikin sesuatu ke kak OSIS terus aku gajadi dihukum awalnya aku ngira kak Davin kakak kelas Aqila jadi Aqila manggilnya kakak deh"jelas Aqila kemudian.


"Yauda kalo gabisa jangan dipaksa"Davin mengerti bahwa Aqila belum terbiasa memanggilnya dengan sebutan sayang seperti orang lain tapi yang terpenting Davin paham jika Aqila menyayanginya dengan tulus.


"Babe"ucap Aqila pada Davin tapi matanya menatap pada jalanan.


"Yeah"jawab Davin.


"I love you"ucap Aqila kemudian menatap Davin dengan tersenyum.


"I love you more"ucap Davin menoleh sekilas pada Aqila dan tersenyum lalu mencium tangan Aqila yang sejak tadi masih ia genggam dengan erat.


Aqila tersenyum melihat sikap Davin yang begitu manis padanya.


20 menit berlalu Aqila dan Davin sudah sampai dikediaman Davin.


Saat memasuki rumah Aqila melihat teman-temannya sudah berkumpul.


"Sorry gue telat"ucap Aqila merasa tidak enak pada teman-temannya.


"Santai aja la kita juga baru sampai kok"ucap Rio.


"Oh ya dav kok gue galihat Arjuna?kalian ga tinggal serumah?"tanya Radit pada Davin.


Davin bingung harus menjawab apa, apakah ia harus menjawab jujur atau berbohong jujur Davin bukan tipe orang yang suka berbohong.


"Oh Arjuna dia it-"ucapan Davin terputus karena tiba-tiba Arjuna datang.


"Hae gaes wih pada ngumpul kaga lagi ghibahin gue kan hayo loh ngaku haha"ucap Arjuna lalu ia menoleh pada Davin dan menganggukan kepalanya Davin pun paham dengan maksud Arjuna.


"Eh Lo dari mana aja Jun?"tanya Ida.


"Biasa da ada urusan bentar"jawab Arjuna.


Arjuna menoleh pada Aqila dia tertegun melihat Aqila 'cantik' satu kata yang Arjuna ucapkan dari dalam hati.


Ruang tamu keluarga Davin pun ramai oleh suara tawa dan candaan para remaja yang tengah asyik bertukar cerita. Namun tiba-tiba menjadi hening saat seseorang masuk kedalam rumah.


"Hai semua"sapa Sandra saat melihat ruang tamu Davin begitu ramai.


Aqila dan teman-temannya tidak begitu senang melihat Sandra main masuk kedalam rumah.


"Ehm sorry gue tadi asal masuk dulu soalnya gue ketuk pintu gaada yang buka dan gue lihat kagak dikunci jadi gu-"ucap Sandra belum selesai namu sudah disela Annisa.


"Jadi apa?"tanya sinis Annisa pada Sandra.


Ia benar-benar muak melihat Sandra bersandiwara seperti seorang putri.


"Nis yang sopan"ucap Aqila menyenggol lengan Annisa.


"Ekhem ada apa san kok lu kesini?"tanya Davin angkat bicara.


"Eum itu dav gue mau pinjem catatan fisika lo soalnya gue belum nyatet jadi gue mau pinjem"jawab Sandra.


"Halah bilang aja lo mau ganggu acara kit-"sewot Annisa namun belum selesai bicara mulutnya sudah dibekap Radit terlebih dahulu.


"Yaudah dav lu ambil sono gih buku lu"ucap Radit dan dibalas anggukan oleh Davin.


Setelah Davin memberikan bukunya Sandra pun pamit dan meninggalkan mereka semua.


"Dit Lo apa-apaansih gue gabisa napas ******"kesal Annisa karena hampir tidak bisa bernafas sama sekali.


"Ck ya abisnya Lo daritadi sewot mulu sama si Sandra kan dia juga bilang dia mau minjem buku"jawab Radit.


"Serah gue dong kalo mau sewot, ngapa Lo kagak terima hah?, jangan-jangan lu suka lagi sama si Sandra hayoh ngaku lu kutu kebo"tuding Annisa yang tidak-tidak pada Radit.


"Sembarangan Lo kalo ngomong mana nyamain gue sama kutu kebo lagi,ck dasar batang cabe rawit" sewot Radit tak terima.


"Mas Rio lihat deh aku dihina sama Annisa"adu Radit pada Rio.


"Radittt mulut Lo mau gue tabok pak remot AC hah!"kesal Rere.


Lalu mereka sama-sama tertawa setelah adanya perdebatan sengit antara Annisa Radit dan Rere.


Tapi tidak dengan Aqila ia hanya melamun entahlah moodnya mendadak hilang. Davin melihat Aqila yang hanya diam ia pun bertanya pada pacarnya itu.


"Yang kenapa diem?"tanya Davin pada Aqila.


"Gapapa kok hehe"ucap Aqila dan tertawa kecil.


"Sini deh ikut aku"ajak Davin lalu menarik tangan Aqila dan mengajaknya ke kamarnya.


"Gaes gue kekamar bentar yak kalian lanjut aja kalo makanannya kurang ambil aja di kulkas oke"ucap Davin pada teman-temannya.


"Eh inget masih SMA gaboleh dek dosa kata pak ustadz istighfar dulu biar setannya ilang"ucap Revo.


"Eh paha ayam lu kira gue mo ngapain hah gue sleding juga lu"ucap Aqila merasa kesal pada Revo.


"Udah lah Rev lumayan kita juga nanti dapet ponakan"ucap Radit kemudian.


"Terserah"ucap Davin lalu membawa Aqila kekamarnya.


Arjuna melihat Aqila dan davin berjalan bersama ada sedikit rasa perih di lubuk hati terdalamnya.


Sesampainya dikamar,Davin mengajak Aqila ke balkon atas kamarnya. Udara malam menyapu kulit Aqila yang membuat gadis itu kedinginan seperdetik kemudian Davin memakaikan pada Aqila.


"Kamu kenapa diem hmm?"tanya Davin merapikan rambut Aqila dan menyelipkannya dibalik telinga.


"Gapapa"jawab Aqila mengalihkan pandangannya pada jalanan yang dipenuhi lampu-lampu kota memancarkan cahaya keindahan tersendiri pada malam hari.


"Yang"panggil Davin.


"Hm"Aqila menolehkan wajahnya pada Davin,ia bisa melihat jelas bahwa ada rasa bersalah pada Davin.


"Aku gapapa kok cuma-"Aqila bingung harus menjawab apa kepada Davin.


"Cuma apa?"tanya Davin merasa penasaran.


"Hilang mood aja"ucap Aqila singkat lalu mengalihkan pandangannya pada jalanan kembali.


"Gara-gara Sandra iya?"tanya Davin dengan suara pelan.


Mendengar itu Aqila menjadi tak tega sendiri tapi jika boleh jujur ia memang merasa hilang mood setelah Sandra datang meminjam buku pada Davin.


'apa setiap malam Sandra juga sering kesini bertemu dengan Davin?'


'apa Sandra tidak suka aku jadian dengan Davin sehingga ia datang lalu pura-pura meminjam buku'


'apa saat bertemu Davin ia juga akan bermanja-manja seperti yang Annisa katakan'


Banyak pertanyaan yang memenuhi pikiran Aqila namun ia memilih diam.


"Ngomong sama aku bener gara-gara Sandra?"tanya Davin dan Aqila mengangguk kecil menandakan 'iya'.


"Kak boleh aku tanya sesuatu?"tanya Aqila pada Davin.


"Gajadi"Aqila merasa bukan waktunya untuk menanyakan hubungan antara Davin dan Sandra sekarang ia tak mau jika harus bertengkar mengingat mereka baru resmi berpacaran tadi siang.


Davin memegang pundak Aqila dan menatap Aqila dengan begitu dalam.


"Kamu mau denger kisah aku sama Sandra diwaktu kecil?"tanya Davin pada Aqila ia tak mau merahasiakan apapun dari kekasih cantiknya itu.


Aqila menggelengkan kepala ia tak mau mendengar kisah yang akan membuat hatinya sakit.


"Tetapi aku memaksa sayang"ucap Davin dengan memelas.


"Aku juga mengetahui bahwa Sandra menyukai ku namun aku menyayanginya sebagai adik,saat SMP aku datang kerumahnya untuk mengerjakan tugas. Namun saat aku sampai dikamarnya aku melihat buku diarynya terbuka aku tidak bermaksud membacanya namun aku melihat namaku dibuku itu aku membacanya Sandra menuliskan perasaannya padaku dibuku itu"lanjut Davin panjang lebar.


"Lalu mengapa kau tidak menolak saat dia mendekati mu dan mengapa kau tidak mencintainya dia cantik dan juga pintar bukan?"tanya Aqila khawatir.


"Apa Aqilaku saat ini sedang cemburu?"ucap Davin terkekeh.


"Kak"kesal Aqila.


"Seperti yang ku katakan di awal aku tidak mencintainya karena aku hanya menyayanginya sebagai adikku dan mengapa aku tidak menolak saat dia disisiku karena aku teringat bunda Rani"ucap Davin dengan nada sedih.


"Bunda Rani adalah bunda keduaku setelah mamah ia wanita yang baik dan sangat sayang padaku,dia menganggapku seperti putranya sendiri. Bunda Rani sudah meninggal karena penyakit yang dideritanya ia tidak menceritakan pada siapapun apa yang terjadi pada dirinya. Setiap Sandra berada disisiku aku hanya membayangkan bunda Rani aku ingin membalas kasih sayangnya padaku dan bunda juga meminta padaku untuk melindungi Sandra"lanjut Davin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Aqila merasa bersalah karena menuduh Sandra yang tidak-tidak tanpa mengetahui kisah aslinya.


"Apa dia sudah mempunyai mamah baru?"tanya Aqila.


"Sudah,namun"ucap Davin tak tega jika menceritakan kisah sahabatnya itu.


"Namun?"tanya Aqila lagi.


"Namun Mama barunya tidak menyayanginya ia selalu bersikap kasar kepada Sandra. Sandra tidak berani menceritakan yang sesungguhnya kepada ayahnya,karena ia tak mau melihat ayahnya jatuh kembali setelah kepergian bunda Rani,namun syukurlah ayah dan mama baru Sandra mereka menetap diluar kota mereka kesini mungkin hanya sebulan atau dua bulan sekali"jelas Davin.


Aqila sungguh merasa tidak enak hati ia lalu menunduk merasa bersalah.


"Maafkan aku"ucap Aqila menunduk pada Davin.


"Untuk?"tanya Davin kembali.


"Karena telah berfikiran kau dan Sandra mempunyai hubungan sendiri"ucap Aqila masih tertunduk.


Davin tersenyum lalu mendongakkan kepala Aqila untuk menatapnya.


"Tak perlu minta maaf aku tau kau hanya cemburu dan itu membuktikan bahwa kau menyayangiku"ucap Davin tersenyum lalu mengecup kening Aqila.


Aqila memejamkan matanya membiarkan Davin memberi sentuhan kecil pada keningnya.


Kemudian Davin memeluk Aqila,Aqila merasa bahagia disisi Davin ia terbuka dan jujur.


Percayalah Aqila benar-benar bersyukur memiliki Davin.


"Jangan terlalu dekat dengannya aku pasti akan cemburu"ucap Aqila yang masih berada dipelukan Davin.


Davin terkekeh dan mengacak rambut Aqila.


"Paduka siap melaksanakan perintah tuan putri"ucap Davin kemudian.


Lalu tiba-tiba suara pintu terbuka.


"Ekhemm kalo berdua gini dunia serasa milik berdua ya sis"ucap Radit dengan dengan Revo.


"Hooh jeng yang lain mah ngontrakk"ucap Revo lanjut.


"Sampe-sampe arisannya belum dikocok gegara mereka berdua ga dateng-dateng"lanjut Radit.


Aqila merasa kesal karena duo anak curut mengganggu momennya dengan Devan.


Devan terkekeh melihat Aqila yang merasa kesal dengan kehadiran Radit dan Revo yang merusak suasana.


"Sorry-sorry kok kalian kesini?"tanya Davin pada Revo dan Radit.


"Ini dav kita mau pamit pulang dulu"jawab Revo.


"Qila Lo pulang bareng gue aja"ucap Radit pada Aqila karena memang rumah Radit dan Aqila bersebelahan.


"Biar gue anter aja dit"saut Devan.


"Gausa ah kak udah malem juga nanti kak Davin capek lagi nganterin Aqila bolak balik"ucap Aqila tersenyum manis Davin pun menjadi luluh.


"Yauda yuk turun kebawah"ucap Davin menggandeng Aqila.


Sesampainya diluar rumah AqilaCs pamit pada Davin.


"Yauda kita pamit ya dav thanks buat malem ini"ucap Rio lalu bertos dengan Davin.


"Yoi, oh ya guys coba lihat ke atas"ucap Davin menunjuk langit.


Mereka semua melihat ke arah yang ditunjuk Davin termasuk Aqila.


Lalu Davin dengan singkat mengecup pipi Aqila, Aqila merasa kaget namun ia mengerti alasan Davin kenapa menyuruh mereka melihat keatas.


"Nakal ih"ucap Aqila malu-malu lalu memukul lengan Davin singkat.


"Buat sangu bobok yang"ucap Davin terkekeh.


"Ngga ada apa-apa tuh dav"ucap Radit lalu menoleh pada Davin, namun Davin malah asik berpandangan dengan Aqila.


Radit yang jengah berpura-pura mendapat telfon dari mamahnya Aqila.


"Oh iya tan ini udah otw"ucap Radit dengan gaya seolah sedang bertelfonan.


Lalu menarik tangan Aqila, sedangkan Aqila kesal karena Radit dengan paksa.