
Diwaktu yang sama Aqila masih mencari Davin.
"Rev Lo lihat Davin ngga?"Aqila bertanya pada Revo.
"Gue sih tadi liat dia pergi ke taman depat saat gue mau ngambil saus dikulkas"jawab Revo.
"Oh gitu thanks ya"Aqila berlari ke taman depan.
Dan ternyata benar ia menemukan Davin yang tengah berdiri menatap bintang-bintang di langit.
"Kak" panggil Aqila pada Davin yang masih menatap bintang di langit.
"Oh hei sini"Davin mengibaskan tangannya.
Aqila berjalan menuju Davin dengan muka cemberut.
"Kenapa cemberut hm?"tanya Davin menangkup pipi Aqila.
"Kak Davin ninggalin Aqila"ucap Aqila dengan bibir bawahnya maju.
"Kok aku sih, ya abisnya tadi aku dikacangin mau manggil kamu tapi gaenak sama yang lain"jelas Davin. Mendengar itu Aqila menjadi tak enak memang benar ia tadi terlalu sibuk dengan yang lain hingga tidak sadar ada Davin.
"Hehe maaf kak tadi ga sadar"Aqila tertunduk.
"Udah sini"ucap Davin membalikkan tubuh Aqila dan memeluknya dari belakang dengan tangan Davin melingkar dibahu depan Aqila.
"Maafin aku juga karena pas pergi gabilang kamu"Davin menaruhkan dagunya diatas kepala Aqila. Aqila memejamkan matanya menikmati angin yang menerpa wajah mulusnya.
"Yang"panggil Davin.
"Hm"
"Aku mau tanya deh"Davin berucap.
"Tanya apa?"
"Apa hal yang paling kamu benci di dunia ini?"tanya Davin.
Aqila diam lalu bertanya balik.
"Kenapa nanya itu?"
"Ya gapapa nanya aja"Davin memejamkan matanya dan kepalanya kini sudah berubah posisi menjadi di pundak Aqila.
"Pergi meninggalkan tanpa pamit"singkat Aqila.
Davin mengangkat kepalanya mendengar itu.
"Kok?"tanya Davin tak paham dengan jawaban Aqila.
"Dulu papah juga gitu ninggalin Aqila tanpa pamit papah gangucap satu kata perpisahan apapun, padahal papah janji mau nemenin Aqila sampe Aqila sukses"ucap Aqila dengan tatapan yang kosong dan satu bulir air mata pun jatuh, semenjak saat itu Aqila benci sama semua yang ninggalin Aqila tanpa pamit.
Davin melihat itu langsung membawa Aqila dalam pelukannya Aqila cukup terisak kemudian mendongak menatap Davin.
"Kak"panggil Aqila.
"Iya"jawab Davin menghapus air mata Aqila.
"Kak Davin janji kan ga akan pernah ninggalin Aqila"Aqila menatap Davin dengan begitu dalam.
Davin terdiam sejenak kemudian membuka suara.
"Aku tidak bisa berjanji"ucap Davin mengalihkan pandangannya,lidahnya kelu saat mengucap kalimat itu.
"Kenapa?"tanya Aqila cepat.
David tidak berani menatap mata Aqila sungguh ia melemah jika melihat mata cantik kekasihnya itu.
"Kak lihat aku!"tegas Aqila.
Davin mengambil nafas pelan dan berusaha setenang mungkin.
"Ya nanti kan kalo aku kerja nyari uang buat masa depan kita aku gabisa dong kalo ngga ninggalin kamu"ucap Davin menangkup pipi Aqila dan terkekeh pelan.
"Aku serius kak!"tegas Aqila kembali menepis tangan Davin lalu bergantian mengalihkan pandangannya.
"Aku serius sayang"tegas Davin pula memegang lembut tangan Aqila.
"Apa berarti kak Davin juga serius juga suatu saat nanti kak Davin bakal ninggalin Aqila iya?"Aqila menatap tajam Davin.
Davin terdiam ia membisu ia bingung harus menjawab apa.
Aqila memberontak tapi akhirnya ia nyaman,jika boleh jujur Aqila selalu nyaman dalam dekat Davin hatinya sudah sepenuhnya milik Davin Aditya.
"Maafin aku"ucap Davin dengan masih memeluk Aqila.
"Sekarang aku tanya sama kamu,apa yang kamu lakukan jika aku benar-benar meninggalkanmu?"tanya Davin menatap Aqila.
"Aqila gatau tapi Aqila gamau kak Davin ninggalin Aqila,yang Aqila tau cuma Aqila bahagia kalo sama kak Davin kalo nanti kak Davin pergi ninggalin Aqila berarti kebahagiaan Aqila hilang"Aqila tertunduk.
Davin mendengar itu kemudian memeluk Aqila lagi,ia sangat menyayangi gadis yang sekarang dipeluknya itu sungguh ia juga tak mau meninggalkannya.
'semoga semesta dan takdir merestui kita' batin Davin memejamkan mata.
"Yang"panggil Aqila.
"Hm"jawab Davin menyelipkan rambut Aqila ditelinga.
"Kak Davin ada nyembunyiin sesuatu dari Aqila?"
Davin menggeleng dengan masih menata rambut Aqila yang masih sedikit berantakan.
Mengusap pipi Aqila yang masih tersisa bulir air mata.
"Kak Davin bohong"Aqila menepis tangan Davin dari rambutnya, ia merasa ada yang aneh pada Davin, Davin tidak berani menatapnya,ia yakin Davin menyembunyikan sesuatu.
"Engga sayang"ucap Davin memberanikan diri menatap Aqila.
"Hiks bohong kak Davin bohongin Aqila"Aqila menangis sesenggukan.
"Hei kok nangis sih"panik Davin mendengar Aqila kembali menangis.
"Beneran qila aku gabohong"ucap Davin kembali membawa Aqila ke pelukannya hatinya meringis ngilu mendengar isak tangis gadis yang dicintainya itu.
"Kak Davin janji dulu gaakan pernah ninggalin aqila hiks"ucap Aqila masih menangis.
Davin terdiam sungguh ia tidak bisa berjanji untuk menemani Aqila.
"Tidurlah ini sudah hampir pagi"Davin mengalihkan pembicaraan.
"Berjanjilah terlebih dahulu"Aqila menatap tajam Davin.
"Sayang, mengertilah,bukankah pernah ku katakan padamu bukan janji tapi bukti"jelas Davin dengan lembut.
"Tapi aku ingin bukti itu dari sebuah ucapan kak!"Aqila sedikit meninggikan suaranya,air matanya kembali menetes.
"Aqila pengen kak Davin disamping Aqila,kak Davin yang selalu buat Aqila ketawa yang gapernah marah sama Aqila yang sabar sama semua sikap aqila"Aqila memeluk Davin dengan begitu erat kenapa ini kenapa Davin seakan ingin pergi darinya,Aqila tidak sanggup jika Davin benar-benar meninggalkannya.
Davin membalas pelukan itu satu tetes air matanya jatuh ia tak sanggup lagi mendengar tangisan itu.
"Jangan menangis karenaku,aku akan tersakiti sayang"Davin menangkup pipi Aqila dan menghapus sisa air matanya.
"Baiklah,aku berjanji untuk tidak meninggalkanmu"ucap Davin akhirnya,ia tidak ingin mengucapkan itu tapi ia sudah tidak sanggup lagi mendengar suara tangis Aqila.
"Kak Davin gak kepaksa kan?"tanya Aqila dan davin mengangguk.
"Benarkah?"tanya Aqila mematikan dan Davin mengangguk sekali lagi.
"makasih"ucap Aqila tersenyum.
"Baiklah tuan putri ini sekarang tidurlah karena besok kita akan pulang"Davin tersenyum kembali
Kemudian Davin mengecup kening Aqila dengan lama ia tak mau kehilangan gadis cantik yang sudah mengisi hatinya.
"Selamat ulang tahun sayang,love you"
Aqila tersenyum manis melihat Davin.
"Love you too"balas Aqila.
"Yauda sana masuk nanti dicariin lagi aku mau ke toilet sebentar"Davin mengacak rambut Aqila.
"Ohya kado aku udah aku siapin dibawah tempat tidur kamar kamu nanti kalo kangen aku peluk aja hadiah yang aku kasih"kekeh Davin.
"Oke sayang"Aqila masuk kedalam rumah dan meninggalkan Davin.
Davin memastikan Aqila masuk kedalam lalu Davin berlari kearah kamar mandi. Ia menangis menahan rasa sakit di dadanya.
"Aku tidak bisa berjanji"ucap Davin lemah.