Aqila It'S Mine

Aqila It'S Mine
BERBOHONG



'Setidaknya aku pernah menjadi penenang,meski pada akhirnya bukan aku yang menjadi pemenang.'


-SandraAriyani.


Davin mengobrak-ngabrik isi kamarnya mencari benda yang teramat penting baginya benda itu tidak boleh ditemukan oleh orang lain.


"Arghhh dimana sih"kesal Davin meremas rambutnya.


'ceklek' pintu kamar Davin terbuka.


Ternyata Sandra yang sedang datang kekamarnya.


"Lo kenapa berantaki kamar?"tanya Sandra dingin.


"Eh elu San ini gue anu apa nyari kunci iya kunci,kunci mobil maksutnya" jawab Davin gugup.


"Kok Lo gugup?"tanya Sandra dengan nada yang sama.


"Apa?eh enggak tuh, perasaan Lo aja kali"elak Davin.


"Terus udah ketemu?"


"Be-belum"


"Bohong Lo kurang profesional"ucap Sandra menatap Davin tajam.


"Bohong?, apaansih orang gue emang lagi nyari kunci mobil"elak Davin memalingkan wajahnya.


"Gue aja bisa lihat jelas kalo kunci mobil Lo diatas meja tempat tidur, Lo masih mau bohong iya" Sandra meninggikan suaranya.


"Gue gabohong San,emang tadi kunci mob-"Davin belum selesai bicara namun tiba-tiba Sandra menamparnya.


'plakkk' Sandra menampar keras pipi Davin.


"Lo bohong Dav,Lo bohong,Lo ngebohogin gue"ucap Sandra menangis keras.


"Inikan yang Lo cari,inikan iya?"ucap Sandra melihatkan amplop yang Davin cari daritadi.


"San kok Lo-"ucap Davin merebut amplop itu dari Sandra.


"Kenapa sih dav kenapa Lo gajujur kenapa Lo nyembunyiin semua kenapa Lo-"Sandra tak kuat jika harus berucap lagi ia hanya bisa menangis.


Davin membawa Sandra dalam pelukannya mengelus rambut Sandra memberinya ketenangan.


"Lo tenang aja san gue-"lagi-lagi Sandra menyela.


"Gue gabisa tenang Davin kenapa sih lo itu gapernah ngertiin perasaan gue,gue suka sama Lo dav,gue sayang sama Lo tapi kenapa Lo lebih milih yang lain dav,kenapa?!"Sandra masih menangis.


"Maafin gue San tapi gue sayang sama Aqila,gue emang sayang sama Lo tapi sebagai adik ga lebih"jelas Davin.


Hati Sandra meringis ngilu mendengar ucapan Davin yang hanya menganggapnya sebagai adik,dari kecil ia sudah menyayangi Davin dengan setulus hati namun rasa sayang itu tak terbalas dan berakhir mencintai sepihak.


"Gue yakin bakal ada orang yang bisa tulus sama Lo San,gue yakin,Lo wanita hebat yang gue kenal san"ucap Davin menangkup wajah Sandra.


"Gue gamau sama yang lain dav,gue maunya elo!"Sandra menepis tangan Davin dan tertunduk.


"San lo bahkan sekarang ngerti kenyataannya,gue gabisa San cinta gue cuma buat Aqila"Davin ikut tertunduk.


Sandra tertawa sumbang ia yang menemani Davin dari kecil namun saat ia dewasa Davin malah memilih orang lain.


"Gue kecewa sama Lo dav"Sandra menghirup udara dan membuangnya lalu memalingkan wajahnya.


"Lo boleh mukul gue,Lo boleh nampar gue sepuas lo dan Lo juga boleh menghukum gue apapun,tapi gue mohon San gue cuma milik Aqila gue gabakal biarin sedih dan gue harap soal ini hanya kita yang tau cuma itu San yang gue harap dari Lo anggap aja ini permintaan seorang sahabat"ucap Davin memelas.


"Apa Lo juga gak akan mikir kalo pasti nanti Aqila akan sedih Dav"Sandra menatap Davin yang kini menatapnya.


"Itu urusan nanti San dan gue mohon sama Lo plis jangan bilang sama siapa-siapa tentang kenyataan diri gue"Davin memohon.


"Huhft oke"Sandra mengalah.


"Thanks San Lo emang sahabat terbaik gue"Davin memeluk Sandra.


"Udah jangan lama-lama ntar gue gajadi buang perasaan sama Lo lagi"Sandra terkekeh.


"Bodoamat"singkat Davin.


Sandra mencubit lengan Davin hingga Davin kesakitan.


"Sakit San"Davin mengelus lengannya.


"Traktir dong dav gue laper nih"Sandra menepuk perutnya.


"Manja"kekeh Davin.


"Ck gapapa dong sama Kakak Sendiri!"jawab Sandra menekan kata pada akhir kalimat.


"Ck nyindir nih"


"Engga sih kalo kerasa ya Alhamdulillah"


"Dasar pasta dodol"Davin tertawa mengacak rambut Sandra.


"Odol bangke"kesal Sandra namun ikut tertawa.


"Yauda ayok gue traktir sepuas lo"ajak Davin tersenyum.


'Setidaknya aku pernah menjadi penenang,meski pada akhirnya bukan aku yang menjadi pemenang' batin Sandra lalu menyusul Davin yang berjalan mendahuluinya.


xxxxxxx


Pagi ini sekolah kembali masuk, murid-murid SMA 1 Bakti Wisma kembali dengan aktivitasnya.


Sampai dikantin Aqila melihat Davin melambaikan tangan padanya,ia pun tersenyum dan bergegas menuju meja Davin, disana sudah ada Fiska,Sandra,Tama dan Davin.


Sandra tersenyum pada Aqila saat sudah sampai dimeja kantin.


"Ekhm gue mau bicara sama kalian sebelumnya gue minta maaf kalo gue pernah bersikap gabaik ke kalian yang mungkin dengan ucapan gue atau mungkin kelakuan gue,disini gue gaada maksud apapun gue pengen menjalin pertemanan yang tulus dan buat Lo Aqila Lo gausah khawatir gue gaakan dan gabakalan ngerebut Davin dari lo,jadi gue harap Lo dan yang lainnya mau maafin kesalahan gue"ucap Sandra panjang lebar.


Yang lainnya saling memandang dan terdiam.


Sandra berfikir ia tidak akan mendapat maaf dari Aqila dan teman-temannya ia tau kesalahannya dulu mungkin membuatnya dibenci semua yang disekitarnya.


Cukup lama mereka diam dan kemudian Aqila angkat bicara.


"Gue maafin Lo dan juga mau jadi temen Lo"ucap Aqila tersenyum ia yakin Sandra tidak berbohong ia bisa melihat Sandra mengucapkan dengan tulus.


"Gue juga"Lanjut Rere tersenyum menatap Sandra.


"Gue juga"Lanjut Annisa.


"Gue juga"Lanjut Ida.


"Kalian serius?"Sandra bertanya tak percaya dan neraka semua mengangguk.


"Thanks guys"ucap Sandra tersenyum dan mengedarkan pandangannya pada semua yang dimeja kantin yang tersenyum padanya tatapannya berhenti pada senyum manis yang membuat jantungnya menjadi berdetak cepat.


Sandra membalasnya dengan senyuman yang manis pula.


"Ekhm udah kali pandang-pandangannya gaboleh zina mata ya"saut Revo yang melihat Radit dan Sandra saling bertatapan.


Sandra langsung sadar ia menahan malu sedangkan yang lainnya tertawa.


"Ohya Nis katanya sepupu Lo yang pulang dari London pindah kesini?"tanya Rere karena ia kemarin mendapat oleh-oleh coklat dari Annisa yang katanya dari sepupunya yang pulang dari London.


"Oh iya gue lupa,katanya dia mau kesini sih, gue udah kabarin tadi bentar lagi mungkin sampe"


"Kelas berapa?"tanya Aqila yang ikut penasaran.


"Cewe atau cowo?"lanjut Davin.


"Cakep nggak?bohay mungkin?atau seksi atau montok?"cerocos Arjuna.


"ARJUNAAA!!"Mereka kompak menyebut nama Arjuna dengan nada keras otak Arjuna memang sudah tidak jernih.


"Dia kelas 10,cewe,dan kalo body Lo bisa lihat sendiri"jawab Annisa lalu meminum jus mangga ya.


"Nah itu dia"tunjuk Annisa pada gadis yang sedang berjalan ditengah jalanan kantin.


Annisa melambaikan tangannya agar gadis itu menghampiri mejanya.


Semua orang menoleh pada gadis yang ditunjuk Annisa,gadis yang masih mengenakan seragam sekolah London itu berjalan kearah mereka dengan rok yang menutupi setengah pahanya dan rambut pirang yang terurai menarik semua mata murid laki-laki yang melihatnya.


"Kak An"ucap gadis itu pada Annisa.


"Gimana hari ini,lancar?"tanya Annisa.


"Engga"


"Lah kenapa?"


"Banyak cowo yang minta nomer aku jadinya aku males,abis itu mereka gombalin aku kan aku kesel"adunya pada Annisa.


Yang lain tertawa mendengar penuturan gadis itu,lalu gadis itu menoleh pada sekitar nya dan ia merasa ada yang dikenalnya selain Annisa.


"Kak Rio"panggil gadis itu yang sedang menyuapi Rere.


"Loh Salsa jadi kamu sepupunya Annisa yang dateng dari London"tanya Rio dan Salsa mengangguk tersenyum.


"Haha seneng bisa ketemu kamu lagi"


"Salsa juga seneng kok"


"Kamu kenal?"tanya Rere pada Rio.


"Baru aja kenal 2 hari kemarin yang"Rio bisa melihat bahwa Rere cemburu. Bukan hanya Rere namun juga Salsa bisa melihat bahwa gadis yang disamping Rio terlihat cemburu mungkin pacarnya.


"Hallo kak aku Amerita Salsabila Louis biasa dipanggil Salsa"Salsa memperkenalkan diri dengan tersenyum manis.


"Aqila"


"Davin"


"Tama"


"Fiska"


"Rere"


"Ida"


"Sandra"


"Radit"


"Revo"


Salsa menoleh pada Revo, dan ternyata Revo juga tengah menatapnya.


Salsa lalu mengalihkan pandangannya.


'Kak Revo manis banget' batin Salsa.