
Untuk part ini aku minta maaf kalo ada kesalahan,misal dibagian pas golongan darah,aku korban sinetron jadi ya gitu wkwk
Kuy,lanjut baca.
Komen,like and Vote❤.
Dan semoga dapet Feel ya,aku yang buat aja mewek kok hahaha.
-
-
-
-
-
Terima kasih untuk semuanya,aku akan selalu mencintaimu. Mencintai sampai aku berada di titik terlemahku.
DavinAditya-Aqila.
Arjuna POV.
Gue benci denger tangisannya,gue gasuka saat lihat air mata yang jatuh dipipinya,gue gasuka liat dia rapuh,dan gue gasuka lihat dia lemah.Dia,Aqila.
Hari ini gue diajak si Rio sama Revo ke mall,gue asli males tapi mereka maksa-maksa yauda lah sesekali nyegerin otak.
Saat sampai di mall gue turun dari mobil dan pas saat gue masuk gue baru inget dompet gue ketinggalan di mobil yauda gue puter balik ke parkiran dan bilang sama duo curut kalo gue bakal nyusul.
Karena gue parkir paling pojok yauda agak jauh tempatnya nah pas gue balik samar-samar gue denger orang ribut,gue sih mencoba acuh namun gue denger ada kata 'Dav',dav apa?merek sampo kali ya,gue sih pengen bodoamat tapi kok penasaran,***** lah.
Yauda gue ngintip dibalik mobil,etdah gue jalannya pake bungkuk-bungkuk lagi persis maling yang mau nyuri ayam,tapi gapapalah.
Gue terkejut saat lihat yang berantem adalah Aqila sama Davin,dan ya gue juga denger kalo Davin minta putus sama Aqila,disitu gue lihat Aqila kaya ga ikhlas buat pisah sama Davin,gue gatega lihatnya,gue akui gue sayang sama Aqila namun gue juga sadar gue milik siapa dan dia milik siapa.
Gue denger gue lihat dan gue juga ikut ngerasain apa yang Aqila rasain,gadis itu hancur,wajah cantiknya penuh dengan air mata setelah cukup lama berdebat Aqila pergi ninggalin Davin gue lihat jelas gadis itu nangis lagi,gue yakin hati dia hancur,gue bingung gue pengen bales si Davin karena kebetulan dia masih bengong ditempatnya,lah anjing!kenapa sih sama Davin,gabiasanya dia kasar gitu,apalagi sama cewek.
Ah udahlah gue mutusin buat nyusul si Aqila,mungkin karena Qila larinya kenceng gue jadi kehilangan jejaknya.
Saat gue lagi sibuk nyari gue denger semua orang teriak-teriak.
"DEK MINGGIR DEK JANGAN DITENGAH-TENGAH"
"WOII JANGAN BUNUH DIRI"
"MBAK AWAS"
"WOI WOI"
Gue lalu berjalan mendekat,semua orang masih teriak-teriak,gue terkejut lagi karena Aqila ada ditengah-tengah jalan raya,bocah gila.
Gue pengen nolong Aqila namun keadaan jalan raya ramai banget,bahkan klakson mobil pada bunyi tapi Aqila kenapa budeg sih,gue bingung harus gimana.
"AQILA"Jerit gue manggil namanya,gue bersyukur akhirnya ia sadar,tapi gawat di belakangnya ada truk yang cukup besar sedangkan Aqila masih melihat sekitar,gue ngelambain tangan gue,tapi dia belum juga sadar hingga
'Brugghh' gue nutup mata dan telinga gue,jujur gue paling lihat orang kecelakaan dan gue benci sama yang namanya darah. Aqila terpental cukup jauh saat gue pengen ngehampiri handphone gue geter sebenarnya udah daritadi tapi gue masih fokus sama Aqila.
"Lo dimana?!"tanya seseorang diseberang telfon yang tak lain adalah Revo dan Rio.
"Jalan raya,dan kalian cepet kesini"ucap gue tergesa-gesa karena berlari ke arah Aqila.
"Hah?ngapain,panas woe,Lo mau mat-"si Revo malah ngoceh tapi gue cepet-cepet bentak.
"Cepet kesini anjing!"umpat gue lalu menutup telfon.
Gue berlari ke arah Aqila,sekujur tubuh gue kaku,tubuhnya penuh darah,gue takut banget sumpah tapi gue beraniin diri mendekat kearah.
"La bangun la"gue nepuk-nepuk pipinya.
"Qila plus buka mata Lo"gue masih berusaha membangunkan Aqila.
"Davv-in,ak-uh say-ang kam"tangan Aqila ngusap pipi gue dan tersenyum kecil,*****!kenapa sih Aqila,udah tau lagi sekarat malah nyebut nama orang lain.
"KALIAN SEMUA KENAPA HANYA NGELIHATIN HAH!PANGGIL AMBULANS"Gue teriak semua orang malah asik ngefoto gue yakin mereka ngefoto terus di-update status,Jabingan!!.
"Jun"Rio dan Revo datang.
"Kok Qila bisa kecelakaan?"tanya revo dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
"Ceritanya panjang"singkat gue.
Lalu Radit dateng bersamaan dengan ambulans.
Saat dirumah sakit gue panik,gue khawatir Aqila kenapa-napa,pikiran negatif mulai memenuhi otak gue,udah dua jam Aqila diruang ICU tapi dokter belum juga keluar,mama Qila dan Radit pun dateng. Dan setelah itu dokter keluar.
"Pasien kritis"mendengar hal itu mama dari Aqila langsung jatuh pingsan dan ditangani oleh dua perawat.
"Lalu bagaimana selanjutnya dok?"tanya gue.
"Untuk selanjutnya akan dilakukan operasi,namun pasien kehilangan banyak darah oleh sebab itu kami membutuhkan transfusi darah dan golongan darah pasian adalah A,namun saat ini stok darah untuk golongan sedang habis"jelas dokter wanita itu.
"Saya dok, golongan darah saya A"mama Radit mulai bersuara.
"Mi,mami kan punya diabetes"ucap Radit mengingatkan.
"Gue A,dok biar saya yang transfusi darah"ucap Rio.
"Gue juga"lanjut Radit.
Gue lega setidaknya masih bisa tertolong.
"Baik mari kita lakukan pemeriksaan"ucap dokter kemudian berlalu.
"Rev,gue nitip Aqila bentar,kalo ada apa-apa langsung kabarin gue"
"Tante saya pamit bentar nanti saya kembali lagi"
"Lo mau kemana Jun"tanya Revo.
"Ada urusan bentar"Gue melenggang pergi.
Author POV.
Arjuna mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi,ia menerobos lampu merah,namun ia tak peduli,ia sampai ketempat yang ia tuju.
Tanpa basa-basi Arjuna nyelonong masuk ia membuka pintu rumah dengan kasar,tak mempedulikan Areta yang meneriaki Arjuna.
Arjuna mendobrak pintu Davin karena saat ingin membuka pintu itu terkunci.
Davin tergejolak kaget,ia melihat Arjuna yang berjalan kearahnya dengan wajah yang memerah menunjukkan bahwa ia marah.
"Ada Jun kok Lo-"
'Buggh' Arjuna meninju wajah Davin.
"Lo apa-apaansih,kenapa tiba-tiba mu-'
'Buggh' satu bogeman kembali melayang ke wajah Davin.
"Kalo sampe terjadi apa-apa sama Aqila,gue bakal ngehabisin Lo persetan kalo Lo adalah saudara gue bngst!"umpat Arjuna.
"Ma-maksud Lo"Davin mencerna kalimat yang diucapkan Arjuna.
Arjuna mengatur nafasnya yang memburu ia termakan emosi.
"Lo tau, gara-gara Lo sekarang Aqila sekarat!dia kecelakaan,dan dia kritis"ucap Arjuna datar.
"Lo serius?!"Davin memegang pundak Aqila namun Arjuna menepisnya.
"Ada wajah gue bercanda?"Arjuna menatap tajam Davin.
Davin tertunduk ia merasa bersalah,Arjuna yang melihat itu lagi-lagi mengontrol emosinya.
"Kalo Lo bosen bilang!jangan nyakitin perasaannya dengan kata-kata kasar Lo!kalo Lo gabisa kasih warna di kehidupannya jangan memudarkan warna aslinya dan ya kalo Lo emang ada rasa bersalah temui dia,minta maaf sama dia,jangan jadi pengecut,jujur sama dia apa yang Lo rasain bukan ngajak pisahan,jangan kaya anak kecil bro,Lo udah dewasa kalo ada masalah selesain masalahnya bukan hubungannya"Arjuna menepuk pundak Davin,ia berusaha dewasa meskipun hatinya sesak,hatinya memang sedikit senang saat mengetahui Davin dan Aqila berpisah,namun apakah ia harus senang diatas penderitaan orang lain?karena definisi cinta yang sesungguhnya adalah melihat orang yang kita cintai hidup berbahagia meskipun bahagia yang ia dapatkan adalah pemberian orang lain.
"Gue cabut"Arjuna melenggang pergi meninggalkan Davin yang masih meresapi ucapan Arjuna, Arjuna benar ia pengecut ia tak berani mengatakan yang sesungguhnya.
"Astaga Davin kamu kenapa nak?"Areta datang dan khawatir karena melihat darah mengalir dari sudut bibir Davin dan dari hidung putranya.
"Gapapa kok mah"Davin sebenarnya merasakan nyeri
namun luka itu tak sebanding dengan luka Aqila.
Areta melihat Davin menjadi tak tega,ia juga tau alasan Davin mengakhiri hubungannya dengan Aqila,padahal ia juga tau bahwa Davin begitu mencintai gadis itu, beberapa hari kemarin Davin menghancurkan semua barang-barangnya ia sempat depresi ringan namun syukurlah keadaannya sekarang sudah stabil.
"Jangan nangis mah,nanti cantiknya hilang"Davin mencoba menghibur Areta yang mulai menangis.
"Kamu tuh ya,mama lagi sedih juga"Areta memencet luka Davin saat sedang mengobatinya hingga Davin mengaduh kesakitan.
"Sini dong peluk"Davin merentangkan tangannya.
"Pasti nanti Davin bakalan kangen pelukan mama,kangen suapan mama,kangen dijewer mama,kangen ngumpetin daster mama dan semua hal saat bareng mama"ucap Davin, bukannya marah,Areta malah menangis terisak.
Davin mengusap punggung mamanya sayang.
"Makasih ya mah udah jadi mama yang terbaik buat Davin,maaf kalo nanti Davin belum bisa bahagiain mama,Davin belum bisa beliin tas yang mama suka,Davin juga mau minta maaf kalo Davin banyak salah,Davin sayang banget sama mamah,Davin tau kalo Davin bandel,Davin sering buat mama marah karena selalu ngambil mainan anak tetangga sebelah padahal Davin udah punya sendiri,mamah janji ya sama Davin kalo suatu saat mama juga bakal sayang sama Arjuna, bagaimanapun juga Arjuna itu anak papa dan anak papa juga anak mama. Sekali lagi makasih ya mah,Davin tuh cinta mati tau ngga sama mamah"Davin meneteskan air matanya, Areta selalu memberinya kasih sayang dari Davin kecil hingga Davin sampai sebesar ini,wanita yang selalu menyemangati Davin sampai detik ini,padahal ia tau beban mamanya begitu berat,papanya-Bayu,ia sering tak ada dirumah ia harus bolak-balik kerumah istri keduanya yaitu yaitu mama kandung Arjuna,mamanya akan selalu menangis ditengah malam,ia tak tega namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mama juga pasti akan selalu sayang sama kamu,kamu tuh anak mama yang paling bandel,paling berisik tapi paling mama sayang,nanti kalo kamu mau ngumpetin daster mama ditempat yang rahasia dikit kek masa ngumpetinnya di dalem freezer kulkas,mama pasti juga kangen banget sama kamu setiap hari,setiap jam,setiap menit dan setiap detik,karena apa?karena setengah hati mama ada di hati Davin,jadi kalo Davin seneng mama ikut seneng dan kalo Davin sedih mama juga ikut sedih,kaya sekarang mama pengen Davin bahagia selalu,gunakan kesempatan yang ada,mama akan selalu disamping Davin,oke Abang?"Areta mengusap air matanya ia tersenyum manis pada putranya.
"Iya Eneng"Davin mencolek dagu Areta, seperti itulah Davin dan Mamanya kadang seperti orang tua dan anak kadang juga seperti pasangan yang saling menggoda.
.
.
.
.
.
.
Budayakan Like sesudah baca:)
TBC.