
Paginya mereka semua pulang kerumah Aqila tertidur nyenyak dipundak Davin dengan memeluk boneka pororonya tentu saja Karo dari Davin saat ia sampai dikamar dengan surat romantis kecil. Mobil yang ditumpangi Davin berisi 7 orang yakni Arjuna,Radit,Rere,Rio,Annisa,Davin dan Aqila.
"Suripah nyenyak banget tidur dipundak Lo Vin"ucap Radit menoleh kebelakang.
Arjuna melihat melalui kaca yang didalam mobil ia bisa melihat bahwa Aqila sangat manis saat tertidur, wajah yang tanpa ada polesan make up membuat dirinya lebih cantik natural.
Davin tersenyum menyibak rambut Aqila yang menutupi wajahnya.
Ia beruntung mendapatkan Aqila selain baik dan pintar Aqila juga cantik, manis, ciptaan Tuhan yang indah menurutnya.
Annisa menatap pada Arjuna dan Davin bergantian dimana Arjuna melihat Aqila melalui kaca spion yang didalam mobil dan Davin yang masih menata rambut Aqila.
Ia menjadi curiga apakah dua kakak beradik itu mereka menyukai wanita yang sama.
Tiba-tiba ban mobil yang dikendarai 7 orang tersebut bocor mungkin karena menginjak paku atau benda tajam lainnya.
"Kenapa Jun"tanya Rio karena mobil mendadak berhenti.
"Kayanya bocor"jawab Arjuna turun dari mobil mengecek.
"Bener bocor?"tanya Radit memastikan dan Arjuna mengangguk.
"Bawa ban ganti nggak?"tanya Rere.
"Kaya sih bawa,Yo Lo coba ambil ban ganti yang di bagasi"titah Arjuna pada Rio.
Aqila terbangun dari tidurnya saat ia bangun mobilnya dalam keadaan berhenti ia menoleh kesamping jendela namun mereka masih didekat daerah villa.
"Good morning"sapa Davin.
"Morning too"balas Aqila.
"Kamu udah bangun yauda yuk turun yang lainnya lagi diluar, ban mobil kita bocor"jelas Davin yang melihat ekspresi bingung Aqila.
Davin dan Aqila turun dari mobil.
"Pagi guys"sapa Aqila pada teman-temannya.
"Eh suripah udah bangun,gimana mimpi indah"sindir Radit.
"Oh ya jelas dong"Aqila tertawa.
Semua memutar bola matanya malas.
Mereka sampai dirumah.
"Kalo capek istirahat jangan main hp"ucap Davin.
"Kamu juga"balas Aqila.
Aqila merasa ada yang aneh dari Davin bibirnya pucat namun Aqila menepis pikirannya yang tidak-tidak ia merasa Davin mungkin kelelahan.
Sudah dua hari semenjak acara pulang liburan namun Aqila tidak mendapat pesan apapun dari Davin ia cemas apakah Davin kenapa-napa banyak pertanyaan yang mengganjal di hati dan otaknya,dia belum mengisi perutnya,kepalanya menjadi sedikit pusing karena memikirkan Davin.
'Mungkin kak Davin lagi sibuk'batin Aqila mencoba berfikir positif.
Ia turun dari kamarnya dengan menggunakan celana hitam yang batasnya 10cm diatas lutus beserta kaos putih yang mengepas ditubuhnya sehingga lekuk tubuhnya sedikit menonjol, menguncir rambutnya asal namun masih terlihat manis dan seksi bagi yang melihatnya.
"Mah Aqila mau kerumah Tante Rossa"teriak Aqila menutup pintu rumah.
Vita geleng-geleng melihat putrinya lalu melanjutkan aktivitas memakai masker.
'tingtongtingtongtingtong' Aqila berniat memencet bel rumah Radit namun ia malah memainkannya.
Rossa membuka pintu melihat siapa yang memainkan bel rumahnya hingga kutek yang dipakainya menjadi tak rapi karena konsentrasnya buyar dan ternyata adalah Aqila.
"Pagi Tante Rossa"ucap Aqila menyengir ia tau pasti Tante Rossa akan marah karena kutek yang dipakai bukan terkena kuku tapi kulit-kulit tangannya.
"Ih kamu kebiasaan deh la lihat kutek Tante kan jadi jelek gegara kamu"omel Rossa.
"Maap deh Tan nanti kalo Tante marah wajahnya keriput lagi kan om Bimo ga sayang lagi nanti"goda Aqila dengan membawa papah Radit.
"Ada apa kok kesini?"tanya Rossa ia malas berdebat dengan Aqila karena pasti gadis itu akan selalu menjawab.
"Radit mana Tan?"tanya Aqila.
"Dikamar mungkin"Jawab Rossa.
"Yaudah kalo gitu Aqila kekamar Radit dulu Tan"Aqila bergegas naik kekamar Radit namun sebelumnya ia mencium pipi Rossi terlebih dahulu.
Rossa menggelengkan kepala Aqila sudah seperti anak putrinya sendiri.
'brakkk' Aqila membuka pintu Radit dengan keras hingga sang empu yang sedang menikmati kopi disofa kamar menyemburkan kopinya.
"RADITTTTTT!!QILA CEDIHHH" Aqila datang menangis lalu menjatuhkan tubuhnya dikasur Radit.
"Astaga suripah lo tuh bikin jantungan orang aja tau ga, Lo mau gue mati gue muda apa?gue masih Jaka woe pengen juga ngerasain ena-ena"cerocos Radit kesal.
"Ih Radit kok malah bacot sih huwaaaa"Aqila semakin mengencangkan tangisannya.
"Eh kok malah tambah keras sih"Radit menjadi panik.
"Ada apa ini kok mami denger Aqila nangis sampe tereak-teraak"Rossa datang.
"Ehm itu anu mah biasa Aqila kan cengen tadi jempol kakinya nyandung meja jadi nangis deh"elak Radit.
"Oh kirain kenapa,yauda mami tinggal dulu mami mau kekantor papimu nganterin makan siang"Rossa menutup pintu kamar putranya.
Radit mengela nafas lalu menghampiri Aqila yang masih menangis menyembunyikan wajahnya diceruk bantal.
Aqila tetap lah Aqila dimata Radit gadis itu gadis yang cengeng dulu jika ada orang yang menjawilnya saja Aqila pasti menangis, Radit pun lah menenangkannya,ia akan menjadi sahabat dan kakak terbaik untuk Aqila usia mereka hanya terpaut beberapa bulan saja.
Aqila merubah posisinya menjadi duduk ia masih menangis matanya sembab dan hidungnya memerah.
Radit menelan ludah bagaimana bisa ia melihat Aqila seperti itu,ah ia benci pikirannya kebanyakan nonton bokep bersama Revo menjadikan ia sedikit mlengse saat melihat yang montok dikit.
Radit mencoba fokus lalu bertanya kembali.
"Kenapa sih adek gue yang cantik kok tiba-tiba nangis"Radit mengusap air mata Aqila.
"Kak Davin hiks dia hiks ga ada kabar"jawab Aqila sesenggukan.
"Hiks Radit jahat huwaa" Radit membekap mulut Aqila, telinganya sakit mendengar jerit Aqila.
"Ck ya mungkin dia sibuk qila lo kan tau Davin itu anggota OSIS dia itu laki-laki yang banyak tanggung jawab la kalo gak tanggung jawab sekolah pasti tanggung jawab keluarganya"jelas Radit.
"Tapi kenapa dia ganelfon atau ngabarin gue"Aqila mulai tenang.
"Prioritas nya bukan elu doang banyak yang masih dia tanggung la,jangan egois deh Lo juga tau Davin itu tipe orang sibuk jangan berfikir yang enggak-enggak gue percaya Davin sayang sama Lo beneran"jelas Davin kembali Aqila menjadi tenang mendengar penuturan Radit.
"Thanks ya dit Lo emang sahabat yang paling debehs"Aqila memeluk Radit.
"Udah jangan lama-lama gue sesek nanti"ucap Radit ia tak mau adik kecilnya berdekatan dengan qila.
"Lo ngga asik ih"kesal Aqila.
"Udah jangan cemberut gitu ntar gue traktir bakso beranak kang Robi dua bungkus buat Lo"oh jelas Aqila mendengar makanan menjadi bahagia.
"Dit"
"Hm"
"Thanks ya Lo udah jadi sahabat gue dari orok sampe sekarang"Aqila tersenyum menatap manis Radit yang tengah fokus pada laptopnya.
"Yaelah Lo kaya sama siapa aja"balas Radit mengunyah permen karet.
"Haha gue jadi keinget waktu Lo nembak gue dulu"Aqila cekikikan mengingat Radit yang dulu pernah meyatakan perasaannya saat SMP.
Bukankah hal yang wajar jika persahabatan laki-laki dan perempuan dibumbui rasa suka.
Dulu mereka sedang melakukan ulangan matematika tiba-tiba Radit melempari Aqila kertas,baru saja ingin membaca namun Bu Lina-guru matematika itu langsung menarik kertas ditangan Aqila ia sudah yakin jika Radit menyontek namun dugaannya salah ia malah menahan tawanya karena ulah Radit.
"Radit kesini kamu dan bacakan surat ini didepan"tegas Bu Lina yang masih menahan tawanya.
Radit maju dengan ragu-ragu ia melirik Aqila namun gadis itu terlihat biasa-biasa saja.
"Radit ayo"panggil Bu Lina kembali.
Radit membaca surat itu dengan malu-malu.
"*Oh Aqila,
Rambutmu sehalus kapas.
Mata lentikmu secantk bunga mawar.
Hidung mancungmu selancip pensil 2B.
Pipi gembulmu sebulat siomay buatan
mami.
Bibir merahnya semerah liptisk Bu Lina.
Buah duku buah manggis.
Dibawa dengan menggunakan nampan.
Oh Aqila ku yang manis.
Maukah kau menjadi kekasih dari Radit
yang tampan*"
Lalu tawa seluruh kelas pecah setelah Radit membacakan puisinya.
Aqila cekikikan kembali mengingatnya.
"Udah deh udah lama juga"kesal Radit yang sama membayangkan tingkah nya saat SMP dulu.
"Ngakak jancok"Aqila tertawa kembali.
"Ck masih labil gue itu"
"Iya deh iya maap"Aqila mengulum bibir melihat Radit yang sudah kesal.
"Dit"
"Hm"
"Lo gapernah suka sama cewe gitu?"
"Kenapa nanya gitu?"tanya Radit balik.
"Ya gapapa sih pengen tau aja lagian banyak juga fans Radit lovers disekolah kan"Aqila terkekeh meski Radit terlihat sedikit kecewe-cewean namun Aqila tau itu bukanlah diri Radit tingkahnya memang asburd namun ia seperti itu karena ia berusaha membuat orang disisinya tertawa. Soal tampang Radit mah cakep juga saat disekolah gadis manapun yang melihatnya akan jatuh hati,penampilan dengan rambut yang sedikit acak-acakan,dasi dilonggarkan,kancing baju bagian atas terbuka dua menampilkan sedikit bagian dada Radit yang membuat prawan smp atau sma menelan ludah mungkin, dilanjutkan dengan baju keluar satu,celana yang sedikit diketatkan dan sepatu bebas masuk kriteria pacar idaman ciwi-ciwi sekarang.
"Gue tau gue cakep lihatnya biasa aja"risih Radit karena Aqila daritadi menatapnya.
"Ck,gue tanya sekali lagi Lo gasuka sama seseorang gitu dit?"
"Engga"singkat Radit,bukannya tidak ada yang ia sukai namun ia lebih memilih memendamnya sendiri ia tidak suka berbagi cerita dengan orang lain,termasuk dalam hal semacam cinta ia lebih suka mencintai dan mengagumi dalam diam tidak ingin orang lain tau cukup dia, Tuhan, dan hatinya saja yang perlu tau. Biarlah orang lain tertawa akan sikapnya, mereka tak usah tau akan sedihnya ia tak suka dikasihani dan juga ia juga bukan orang yang suka mangasihani.
'Raditku yang manis'batin Aqila.
Aqila tertidur dikasur Radit tiba-tiba kantuknya datang,baru saja ingin terlelap suara Radit mengganggunya.
"Qil"
"Qila"
"Suripah woe"teriak Radit melemparkan bantal sofa pada Aqila.
"Ih apaansih dit ganggu aja"jawab Aqila yang masih memejamkan mata.
"Ada Davin tuh"ucap Radit.
"Ck Lo jangan ngada-ngada deh gue tau gue lagi rindu sama kak Davin tapi Lo jangan ngasih harapan dong seakan kak Davin ada disini kan gue tambah rindu"bacot Aqila.
"Sayang"suara khas seseorang yang Aqila rindukan langsung membuka matanya.
"Kak Davin!"kejut Aqila.