Aqila It'S Mine

Aqila It'S Mine
REVO AKBAR



"Sayang"suara khas seseorang yang Aqila rindukan langsung membuka matanya.


"Kak Davin!"kejut Aqila.


"Gue keluar dulu deh kayanya,inget!kamar gue jangan dibuat ncot-cotan"guyon Radit menutup pintu.


"Kok kak Davin kesini?"tanya Aqila turun dari ranjang dan berdiri dihadapan Davin.


"Iya tadinya kerumah kamu trus mamah kamu bilang kamu ada dirumah Radit pas sampe dirumah Radit art nya bilang kamu lagi dikamar yauda aku samperi aja"jelas Davin dan Aqila ber-Oh.


"Kamu ga ngapa-ngapain kan sama Radit"tanya Davin menatap Aqila dari ujung kaki sampai rambut.


"Ck ya enggak lah harusnya aku yang nanya sama kak Davin, ngapain aja dua hari gak ada kabar"kesal Aqila.


"Maaf kemarin hp aku jatuh trus rusak jadinya aku gabisa ngabarin"


"Beneran?"


"Bener sayang, percaya deh"gemash Davin mencubit pipi Aqila.


"Udah jangan ngambek nih aku bawain ini buat kamu"Davin memberikan setangkai mawar putih pada Aqila.


Aqila tersenyum Davin selalu saja bisa membuat hatinya luluh. Davin kembali menatap Aqila dari kaki sampai rambut membuat Aqila risih.


"Kak kenapa natapnya kek gitu?"Aqila bertanya .


Davin terdiam kemudian tersenyum miring dan berbisik ditelinga Aqila.


"Tubuhmu membuat laki-laki menjadi nafsu sayang"


Aqila merinding merasakan nafas panas Davin ditelinganya.


Lalu ia menoleh pada pakaian yang ia kenakan baju polos putih yang menerawang melihatkan warna pada pakaian dalam yang menutupi bagian yang menonjol pada dadanya.


Beralih ke celana yang hanya menutupi setengah pahanya.


'ah shit kok gue lupa sih' Aqila menggigit bibir bawahnya menahan malu pantas saja Radit tadi mangetakan untuk tidak memeluknya lama-lama.


Davin melepaskan jaketnya dan memakaikan pada Aqila.


"Jangan diulangi ya cantik untung aja tadi Radit bisa nahan kalo ngga paling udah habis dimakan kamu sama dia"Davin menaikkan resleting jaketnya yang dipakai oleh Aqila.


"Ck ini gara-gara kak Davin tau"ucap Aqila tak mau kalah.


"Kok aku?"


"Ya abisnya kak Davin gaada kabar jadinya kan Aqila sedih terus Aqila kerumah Radit deh curhat mana tau Aqila pake baju apa,yang penting mah cantik"jelas Aqila.


"Terus dia jawab apa?"tanya Davin.


"Masa dia bilang kalo kak Davin udah nemuin yang lebih montok kan aku tambah kesel"Aqila mengerutkan bibirnya.


"Mana mungkin aku nyari yang lebih montok orang punya kamu udah gede gitu"goda Davin terkekeh.


"Kak Davin"teriak Aqila kesal tapi juga malu.


"Apa?"tanya Davin mencondongkan wajahnya.


Namun Aqila memundurkan wajah Davin dengan jari telunjuknya.


"Mesum ihh"Aqila memukul lengan Davin.


Davin masih terkekeh.


"Sini dong peluk dulu katanya rindu"Davin merentangkan tangannya.


Tentu saja Aqila masuk kedalam pelukan Davin.


Ia tersenyum menghirup wangi parfum khas milik pacarnya itu.


Disisi lain Revo sedang menikmati kopi dan menatap sebuah bingkai foto dimeja kamarnya.


Foto gadis manis yang sampai saat ini masih membuatnya menutup hati pada wanita manapun.


Amora Abella gadis bermata coklat dan lesung pipi yang manis ia adalah cinta pertama Revo ketika masih kelas 3 SMP, Amora meninggalkan Revo begitu saja tanpa mengucapkan apapun meninggalkan Revo sendirian tanpa rasa bersalah, Revo memang playboy namun ia hanya bergonta-ganti pacar hanya demi melupakan Amora.


Revo menghela nafas berat tiba-tiba pintu kamar terbuka datanglah Rio dan adik manisnya yaitu Nadin Sefora.


"Bang vo"ucap Nadin meminta gendong Revo.


Tentu Revo akan menggendong adik kecilnya itu.


"Eh lu Yo tumben kesini ga ngapel sama Rere"sindir Revo pada Rio.


"Ck Rere ada acara keluarga"jawab Rio.


"Yaelah lu giliran lagi sepi aja datengnya ke gue"


Sindir Revo kembali.


"Ck baperan lu rev kek ABG"Rio menjawail pipi Nadin gemash.


"Gue tadi liat Lo mandengin foto Amora masih belum move on Lo?"tanya Rio yang mengerti kisah Revo.


"Ck Lo kira move on kaya mie instan apa?3 menit langsung jadi"kesal Revo.


"Rev udah dua tahun lebih men"Rio merasa kasihan pada Revo.


"Lo gabakal bisa move on kalo Lo ganyoba ngerelain Rev, lepasin dia biarin dia sama kehidupannya sendiri buka hati Lo sama seseorang"nasehat Rio.


Nadin memainkan saku baju Revo sepertinya ia tidak akan berisik jika ada orang yang sedang bicara serius.


"Masuk aja mah ga dikunci kok"teriak Revo dari dalam.


"Ada apa mah?"tanya Revo.


"Kamu ke cafe gih bantuin mbak Ogi katanya cafe lagi rame bosen mamah lihat kamu kalo ga makan ya tidur kalo ngga tidur ya makan"ucap Lisa-mamah Revo.


Rio tertawa mendengar ucapan Lisa.


Revo adalah anak kedua ia mempunyai kakak bernama Ogiana atau disapa Ogi namun kakaknya itu sudah berkeluarga.


"Diem Lo! Lo juga sama kan?"tanya Revo menunjuk wajah Rio dengan tangannya.


"Udah-udah malah berantem, udah sana gih kamu siap-siap,Nadin sini sayang ikut mamah ya"Ajak Lisa tapi Nadin menggelengkan kepala.


"Mau icut bang vo"titah Nadin dengan suara lucu.


"Yaudah biarin bang Revo ganti baju dulu ya sekarang Nadin ikut bang Rio yuk"ucap Rio kemudian menggendong Nadin.


"Makasih ya nak Rio kalo gitu Tante mau balik ke dapur"Lisa meninggalkan kamar Revo.


20 menit mereka sampai di cafe milik Ogi. Parkirannya penuh bisa dipastikan bahwa cafe milik kakaknya itu pasti ramai ya bisa dibilang cafe itu menyajikan makanan kekinian yang menjadi minat para remaja dan anak-anak muda.


Revo membuka pintu dan menghampiri Ogi yang tengah berdiri melayani pesanan.


"Mbak"panggil Revo pada kakaknya.


"Eh kamu udah dateng sana gih pake apron trus jadi barista"ucap Ogi tanpa menoleh.


"Mas milkshake strawberry satu ya"kekeh Rio.


"Eh ada Rio sama adek mbak yang cantik"ucap Ogi dan mencium pipi Nadin.


"Kalo gini kamu kelihatan hot daddy yo"guyon Ogi.


"Mbak Ogi bisa aja tapi Rio capek nih mbak gaada tempat duduk apa?"tanya Rio.


Ogi mengedarkan pandangannya dan mencari bangku kosong,ia melihat ada bangku kosong dibagian pojok cukup pas untuk Rio dan Nadin yang yang sedikit jauh dari keramaian.


"Eh dipojok tuh ada deh yo coba kamu cek cocok buat Nadin biar gaterlalu bising"tunjuk Ogi dengan tangannya pada bangku yang dipojok.


"Yauda Rio kesana dulu ya mbak"pamit Rio.


Rio sampai pada bangku kosong itu ia cukup lelah banyak para gadis-gadis remaja yang mengira ia duda muda yang punya anak kecil.


"Maaf mas ini bangku saya"ucap seorang gadis berkuncir kuda.


"Masasih dek?"tanya Rio balik ia cukup lelah mencari bangku kosong karena ia tak suka keramaian.


"Iya mas itu dimeja ada bekas minum saya kok tadi saya tinggal ke toilet sebentar"jelas gadis itu lagi.


"Yauda deh dek saya numpang duduk ya capek saya apalagi saya bawa anak kecil"desah Rio.


"Anaknya gemesin mas btw mamanya mana?"tanya gadis itu.


"Haha ternyata kamu juga salah satu orang yang mengira anak ini adalah anak saya, saya masih sekolah dek baru juga kelas 11" Rio terkekeh.


"Lah terus dia anak siapa mas"


"Dia adik temen saya"


"Ohya kita belum kenalan"


"Gue Revo Lo?"tanya Revo mengulurkan tangannya.


"Salsa dan masih kelas 10"gadis itu tersenyum.


"Nah itu temen gue dia adik dari pemilik cafe ini"tunjuk Rio pada Revo yang sedang berjalan kearahnya.


"Masutnya mbak Ogi?"tanya Salsa.


"Lo kenal?"tanya Rio balik.


"Iya, Salsa kenal mbak Ogi, Salsa langganan dicafe ini kak galama sih baru seminggu lebih dikit jadi Salsa deket juga sama mbak Ogi"jelas salsa dan Rio ber-oh ria.


"Nih bro pesenan Lo jangan lupa bayar"Revo meletakkan minumannya dan langsung duduk di kursi bangku kosong itu dan berhadapan dengan Salsa.


"Bang vo lapel"ucap gemas Nadin.


"bentar ya abang pesenin makanan dulu"


Setelah memesan makanan Revo memandang gadis dihadapannya yang daritadi memainkan ponselnya.


Revo menendang kaki Rio dan mengalihkan matanya pada salsa seakan bertanya 'Dia siapa?'


"Ehem sa kenalin dia Revo adiknya mbak Ogi yang tadi aku ceritain"Rio memperkenalkan Salsa dan Revo.


Salsa menolehkan wajahnya pada Revo, melihat Revo menggunakan kemeja berwarna cream,bagian tangannya ia lipat sampai siku dan senyum manis senyum manis yang mengembang.


"Revo"Ucap Revo memperkenalkan diri.


Salsa masih tidak sadar dan masih mengagumi wajah Revo.


"Sa"panggil Rio menyadarkan Salsa.


"Ah iya, Salsa"ucap salsa memperkenalkan diri balik.


Dan akhirnya mereka bertiga menikmati makanan yang tersaji dimeja tersebut.