
Aqila sedang menikmati makan siang di kantin bersama teman-temannya,satu notifikasi masuk dihp nya,ia mengecek ternyata itu Davin.
DavinKh❤️
Nanti malem keluar yuk,bosen nih
Aqila
Kuy❤️
DavinKh❤️
Yauda kalo gitu nanti malem aku jemput
Aqila
Iya
Aqila sudah berdandan rapi, handphone bergetar ia ternyata telfon dari Davin,ia tersenyum mengangkatnya.
"Halo"ucap Aqila.
"Halo sayang,hm maaf kayanya malem ini kita gajadi jalan deh,aku ada urusan mendadak,kamu gapapa kan?"ucap Davin.
"Iya gapapa"jawab Aqila.
"Yauda kalo gitu aku tutup dulu telfonnya,bye"ucap Davin lalu telfon mati.
Aqila mendadak hilang mood ia sudah berdandan rapi namun Davin tiba-tiba membatalkan acara jalannya.
Ia merasa bosan dirumah,orang tua dan adiknya sedang berada diluar kota. Aqila memutuskan untuk keluar rumah mencari udara.
Ia berjalan menikmati es krim yang tadi ia beli di minimarket, ia tak fokus dibelakangnya ada motor yang sedang blong rem.
Motor itu hampir menabraknya Aqila jika seseorang tidak mendorong Aqila kesamping.
Aqila dan Arjuna jatuh ke tanah, ya orang itu adalah Arjuna. Aqila berada dibawah kungkungan Arjuna, dengan posisi mereka masih tergeletak, orang yang melihatnya pasti mengira mereka berbuat yang tidak-tidak.
"Ck Lo tuh kalo jalan lihat-lihat napa"ucap Arjuna.
Aqila diam,bagaimana ia bisa menjawab bernafas saja susah jaraknya dan Arjuna hanya sejengkal. Aqila memberikan diri mendorong Arjuna hingga Arjuna terjengkang kebelakang.
"Ck gue gatau kalo tadi ada motor ugal-ugalan bebek"Aqila memalingkan wajah.
"Ikut gue!"Arjuna menarik tangan Aqila.
"Ehhh mau kemana"Aqila memberontak tapi Arjuna mencengkram tangannya kuat.
"Masuk!"perintah Arjuna.
"Gak,Lo mau bawa gue kemana?!"Aqila menatap tajam Arjuna.
"Ck kalo Lo ga masuk terpaksa gue bawa Lo ke hotel gue ajak main sampe subuh"Arjuna memalingkan wajahnya dan kembali menatap Aqila,namun gadis itu ternyata sudah berada dalam mobilnya.
Arjuna tersenyum melihat itu.
"Jun lo mau bawa gue kemana sih?"tanya Aqila didalam mobil.
"Hotel"singkat Arjuna.
"Serius bebek"ketus Aqila.
"Hotel"balas Arjuna tak kalah ketus.
Aqila malas berdebat yang hanya membuatnya pusing,ia merasa sakit pada pergelangan tangannya karena terjatuh tadi pergelangan tangannya sedikit terluka.
"Sampai,yuk"ajak Arjuna.
Aqila menatap sekitarnya bukan hotel tapi apartemen.
"Gak, gamau gue"Aqila menolak tegas dengan menggelengkan kepalanya.
"Ck pikiran Lo kotor"Arjuna menyentil kepala Aqila.
"Gue gamau diajak main sampe subuh"Aqila menggelengkan kepalanya.
Arjuna terkekeh.
"Emang lo ngira mau main apa?buat anak?Lo ajak masih anak-anak"ucap Arjuna frontal.
"Juna Lo kok frontal banget sih"
"Kok gue?kan gue cuma ngomong yang ada dipikiran Lo"ucap Arjuna namun ada benarnya juga memang hal itu yang dipikirkan Aqila.
"Kelamaan mikir Lo"
Arjuna membopong Aqila ala bridal style,Aqila memberontak, Arjuna gila,ia harus menahan malu dari parkiran sampai apartemen Arjuna.
Sesampainya di pintu Arjuna menurunkan Aqila.
"Gosah sok malu-malu seneng kan Lo digendong sama gue"Arjuna membuka pintu.
"Najis bebek"Aqila nyelonong masuk.
"Yauda yuk ngamar"goda Arjuna.
"Ngapain?"Aqila menautkan alisnya.
"Buat dedek bayi"goda Arjuna kembali.
Arjuna menarik tangan Aqila untuk menuju meja makan.
"Gue galaper, makasih"pede Aqila.
"Yang nanya siapa suripahh!?"
"Terus Lo ngapain ngajak gue ke meja makan"
"Lo pernah baca novel kan,biasanya kalo gajadi di kamar dimeja makan pun jadi"Arjuna tersenyum menyeringai.
"Wah otaklo udah terkontaminasi sama debu jalanan Jun"Aqila geram sendiri.
"Kenapa?Lo mau gue ajarin?ya ayok?"Arjuna mencondongkan wajahnya.
"In your dream"Arjuna memundurkan wajah Arjuna menggunakan telunjuknya.
Arjuna mengambil kotak obat dilemari dapur. Ia melihat luka Aqila dan mengobatinya.
"Ini mungkin akan perih,Lo tahan bentar"ucap Arjuna mulai mengobati.
"Akhh"Aqila merasa perih saat cairan obat mengenai lukanya.
Arjuna meniup lukanya untuk mengurangi sakitnya.
'kalo gini Arjuna nyebelinnya sedikit berkurang'batin Aqila menatap Arjuna.
"Akhh au, pelan-pelan dong Jun"Aqila kesakitan.
"Liat muka orang cakep dilarang"
"Siapa yang lihat lo"ketus Aqila.
"Dah"Arjuna menutup kotak obatnya.
"Thanks"ucap Aqila.
"Jerit kesakitan Lo keren juga, mungkin gue gak akan kaget kalo nanti Lo desah"Arjuna kembali menggoda Aqila.
Aqila kesal ia pun menendang kaki Arjuna hingga sang empu kesakitan. Namun ia melihat telapak tangan Arjuna yang berdarah ia yakin pasti Arjuna juga terluka saat menyelamatkannya tadi.
Ia membuka kotak obat yang masih diatas meja.
Menarik telapak tangan Arjuna dan mulai mengobatinya,Aqila melakukan dengan hati-hati agar Arjuna tidak kesakitan, sesekali meniupnya.
'Apa gue harus terluka dulu biar Lo mau perhatian ke gue?'batin Arjuna.
Aqila sudah selesai mengobati dan sudah tangan Arjuna sudah diperban.
Aqila pergi ke toilet sebentar namun ketika ia kembali ia sudah tidak menemukan Arjuna di meja makan.
Arjuna berkeliling ruangan mencari Arjuna tapi tidak ada. Ia melihat satu kamar yang pintunya terbuka dan ternyata didalam ada Arjuna yang tengah merokok dibalkon kamar.
"Bebek"panggil Aqila masuk ke kamar Arjuna.
"Udah selesai Lo?"tanya Arjuna dan Aqila mengagguk.
"Oh ya Jun gue mau tanya ini apartemen Lo?"tanya Aqila dan Arjuna mengangguk.
"Lo gak tinggal dirumah?"tanya Aqila penasaran.
Arjuna menyesap rokok terakhir kemudian mematikan dan membuang batang rokok yang masih tersisa setengah.
"Gue ga tinggal dirumah,dan kalo Lo tanya kenapa gue ga tinggal dirumah,karena gue adalah anak haram,gue adalah anak dari hasil perselingkuhan bokap gue sama sekretarisnya dan itu adalah nyokap gue,tapi gue gatau kemana nyokap gue,dan yah kenapa gue bisa disini karena papah gue nyuruh gue pindah ke apartemen karena kehadiran gue ga diterima sama istri papah gue, sebenarnya disini bukan sepenuhnya salah papah gue,istri papah gue menuntut untuk menjadi orang kaya,hingga papa gue selalu lembur dan pulang pagi,mungkin papah gue butuh penenang dan akhirnya ia selingkuh sama mama kandung gue atau sekretarisnya itu dan dari perselingkuhan itulah gue terlahir"jelas panjang Arjuna, satu lolos air mata turun dari pelupuk mata Arjuna namun ia cepat-cepat menghapusnya.
Aqila tak enak hati tak seharusnya ia bertanya seperti itu. Ia sekarang mengerti kenyataan yang ada pada hidup Arjuna.
"Sorry Jun gue ga bermaksud"Aqila merasa bersalah.
"Udah gausa dibahas gue benci kalo bahas itu,oh ya gue lupa lo kesini pasti ngajak main kan kalo gitu ayok"Arjuna menarik tangan Aqila dan mendudukkan Aqila disofa kamarnya.
Pikiran Aqila menjadi yang tidak-tidak ia takut apa yang akan diperbuat Arjuna padanya,apa benar arjuna akan mengajaknya bermain sampai subuh?.
"Hapus pikiran kotor Lo, gue mau ngajak Lo main monopoli"Arjuna datang dengan membawa nampan berisi kaleng soda dan makanan ringan.
Aqila memincingkan matanya tak percaya pada ucapan Arjuna.
Arjuna mendesah pelan kemudian mengambil kotak permainan monopoli di laci meja samping tempat tidur.
"Kuy maen"ajak Arjuna.
Aqila lega pikiran kotornya tidak menjadi nyata.
Arjuna dan Aqila terlalu asik dalam bermain hingga tak sadar jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
"Hoamm,gue menang"ucap Aqila.
"Gue anterin Lo pulang"ajak Arjuna dan Aqila mengangguk.
Sesampainya di rumah Aqila, Arjuna melihat Aqila sudah tertidur pulas,ia membopong Aqila dan memencet bel rumah Aqila.
Art Aqila membukakan pintu dan Arjuna menggendong Aqila sampai ranjang kamarnya.
"Good night"ucap Arjuna tersenyum menatap Aqila yang sudah tertidur.
Arjuna meninggalkan rumah Aqila dan sampai pada apartemennya pukul setengah satu dini hari.
Arjuna langsung menjatuhkan diri dikasur empuk kamarnya dan terlelap.