
Aqila merinding merasakan ada orang yang sedang mengikutinya,ia merasa ketakutan ditambah hari yang semakin gelap membuat suasana lebih mencekam,ia meremas ujung dress-nya ia menoleh kebelakang namun tidak ada orang,saat menoleh kedepan dua orang orang berbadan besar berada dihadapannya.
"Hai cantik sendirian aja nih"ucap salah satu orang tersebut menggoda Aqila.
"Ikut Abang yuk neng"ajak salah satu yang lainnya.
"Jangan sentuh saya!"tegas Aqila.
"Galak banget sih"ucap preman itu dengan menoel dagu Aqila yang langsung ditepis Aqila kasar.
"Jangan menodai wajah saya dengan tangan kotor anda *****!"tegas Aqila menatap tajam dua preman dihadapannya.
"Wih berani juga nih cewe bang"ucap preman A pada preman B.
"Lebih menantang bro"ucap preman B menepuk pundak preman A.
"Udah neng yuk ikut abang aja, abang ga ngapa-ngapain kok,udah yuk ikut aja,gausa takut-takut gitu"goda preman A mendekati Aqila.
Aqila berjalan mundur ia ketakutan tidak ada orang lewat,cahaya lampu sedikit gelap,sungguh ia benar-benar tidak bisa berfikir apa-apa ia takut hanya kata itu yang dapat mewakili perasaan hatinya.
"Kok mundur-mundur sih neng,sini dong deket sama abang,abang gak nakal kok"ucap preman B kemudian.
Aqila terus berjalan mundur hingga ia tersandung batu yang cukup besar hingga membuat kakinya berdarah dan terkilir.
"Akhh"Aqila jatuh.
"Tuh kan jatuh,abang bilang juga apa,sini abang bantu"preman A mengulurkan tangannya.
"Tolongggg"jerit Aqila meminta tolong.
Aqila menangis ia benar-benar ketakutan tidak seorangpun yang menolongnya,ia tertunduk memegang kakinya yang terasa sakit.
Tiba-tiba lampu motor menyilaukan matanya, seseorang turun dari motor itu dan menghajar preman-preman itu,setelah selesai berkelahi dengan para preman,pria itu menghampiri Aqila yang terduduk ditanah.
Aqila mendongak menatap pria itu,pria itu tak asing baginya,dan ternyata pria itu adalah
"Arjuna!"Aqila berdiri dan memeluk Arjuna dengan erat,ia menangis dan menumpahkan air matanya di jaket Arjuna.
Arjuna baru pulang dari rumah Radit setelah meminjam buku namun saat pulang ia melihat ada preman yang sedang mendekati seorang gadis,gadis itu tak asing menurutnya ia masih memperhatikan setelah mendengar jerit dari gadis itu barulah ia datang, gadis yang tak lain adalah Aqila.
Arjuna mengelus punggung dan rambut Aqila secara bergantian,Aqila masih menangis pilu,Arjuna paham Aqila masih syok dan ketakutan.
"Hiks gue takut Jun,gue takut hiks"Aqila masih berada pada pelukan Arjuna.
"Gausa takut ada gue disini"Arjuna menenangkan Aqila.
Kemudian Arjuna melepas pelukannya ia mengusap pipi basah Aqila.
"Hiks mereka-mereka mau nyela-"belum sempat Aqila menyelesaikan kalimatnya Arjuna menyela.
"Mereka udah pergi dan sekarang Lo udah aman"Arjuna memegang pipi Aqila dan menatapnya seakan ia berkata 'ada gue disini,Lo gaperlu takut,gue akan ngelindungin lo'.
Tapi sayang Aqila tidak faham akan tatapan yang diberikan Arjuna,hatinya memang sedikit berdebar namun ia berfikir ia hanya masih sedikit syok.
"Gue anterin pulang ya"Arjuna melepas jaketnya dan memakaikan jaketnya pada Aqila,Aqila mengangguk namun saat ingin berjalan kakinya terasa sakit.
"Auu"desis Aqila kesakitan.
Arjuna menoleh pada Aqila yang sedang melihat ke arah bawah,Arjuna kemudian jongkok dan mengecek kaki Aqila,kaki Aqila berdarah dan kemungkinan terkilir.
Arjuna kemudian berdiri dan bertanya pada Aqila.
"Sakit?"tanya Arjuna dan Aqila mengagguk.
Arjuna berbalik badan dan kemudian berjongkok.
"Yuk naik"Arjuna menepuk pundaknya.
Aqila gengsi,ia yakin pasti akan berat,berat badannya naik sudah naik ke angka 56kg pada minggu ini.
"Gausa gengsi,gue kuat,udah ayok keburu infeksi kaki Lo"ucap Arjuna seakan mengerti jalan fikir Aqila.
Mau tak mau Aqila naik pada gendongan Arjuna ia mengalungkan tangannya di leher Arjuna.
Arjuna menggendong Aqila sampai ke motornya.
"Gasakit kan kalo dibawa naik motor bentar?"tanya Arjuna memastikan dan Aqila mengangguk.
Arjuna membawa Aqila sampai ke rumah sakit,Aqila sedang diobati oleh dokter sesekali ia mendesis perih karena lukanya yang terkena obat.
"Kakinya hanya terkilir dan tidak sampai patah,dan untuk lukanya jangan dikenakan air telebih dahulu ya dan diusahakan untuk tidak terkena debu agar tidak kotor"ucap dokter pada Aqila ramah.
"Makasih ya dok"ucap Aqila tersenyum pada dokter. Kemudian dokter pergi meninggalkan Arjuna dan Aqila.
"Masih sakit?"tanya Arjuna memastikan.
"Sedikit sih,tapi udah agak mendingan"jawab Aqila.
"Yauda sini gue bantu jalan"Arjuna membantu Aqila berjalan memapahnya.
Aqila berpegangan erat pada Arjuna,ia memejamkan mata, membiarkan udara dingin menenangkan pikirannya. Arjuna melirik Aqila,ia melihat Aqila memejamkan matanya entah apa yang sedang dipikirkannya, rambutnya ikut terbawa angin menambah kesan cantik meski dikegelapan malam.
Sesampainya di rumah Arjuna menggendong Aqila sampai ke dalam rumah awalnya Aqila menolak tapi Arjuna mengancam akan menciumnya jika terus memberontak,Aqila pun pasrah dan seperti biasa Arjuna akan tersenyum menang.
Arjuna menurunkan Aqila sampai dikamar gadis itu.
"Makasih Jun,dan sorry udah ngrepotin Lo"ucap Aqila tersenyum manis.
Arjuna tidak bisa melihat senyum itu kenapa ia malah salah tingkah melihat senyum manis Aqila.
"Ekhem,not bad,gue pulang duluan"pamit Arjuna dan dianggukki oleh Aqila.
"Jun"panggil Aqila dan Arjuna berbalik ketika sudah sampai pintu kamar Aqila.
"Hm"jawab Arjuna.
"Good night"Aqila tersenyum manis dan mengambil selimut namun kesusahan.
Arjuna merasa kasihan kemudian ia berjalan mendekati Aqila kembali,mengambil selimut dan memakaikan pada Aqila yang sudah berbaring.
"Good night too,cepet sembuh"Arjuna menepuk kepala Aqila ia tersenyum manis,dan kemudian mematikan lampu kamar Aqila.
Aqila membuka matanya setelah Arjuna menutup pintu,ia mengingat bagaimana senyum manis Arjuna yang baru pertama kali ia lihat.
Ia malah tersenyum kembali dan kemudian memejamkan matanya untuk tertidur.
.
.
.
xxxxxx
.
.
.
Aqila menghindari Davin hari ini,ia cukup kecewa kepada Davin,ia berangkat sekolah meskipun kakinya masih terasa sedikit sakit dan jalannya agak pincang untunglah ia sudah menelfon Radit,jadi Radit membantunya saat disekolah.
Davin bertemu Aqila saat dikantin ia berpapasan,Aqila tidak menoleh padanya ia sudah mencekal tangan Aqila namun ditepis gadis itu.
Davin merasa bersalah ia tau ia salah namun Aqila enggan mendengar alasannya,sudah dua hari namun Aqila masih mendiamkan Davin.
Bel pulang sekolah berbunyi.
"Ni anak,udah maafin aja napa sih,kalo berantem gini kan Lo juga yang kesiksa"lanjut Annisa.
"Betul tuh,gegayaan mau diemin Davin,padahal mah dalem hati kangen senyumnya,kangen tawanya,kangen suaranya"lebay Ida.
"Gue tuh pengen ngasih pelajaran sama kak Davin bukan sekali ini aja,sering tau ngga"Aqila menjatuhkan kepalanya dilipatan kedua tangan.
Rere,Annisa dan Ida sudah menahan lapar daritadi namun untuk meninggalkan Aqila sendiri apalagi dalam kondisi saat ini mereka juga tak tega.
'toktok' Davin mengetuk pintu kelas Aqila dan membuat empat gadis itu menoleh padanya.
"Kita duluan ya la,kalian kayanya butuh ruang untuk mengutarakan rasa aseq"canda Rere pada Davin dan Aqila kemudian pergi dari kelas.
"Gue ikut"Aqila ingin ikut namun Davin mencekal tangannya.
"Yangg"Davin menghela nafasnya,menatap Aqila sendu.
"Apa?"ketus Aqila.
"Dengerin aku dulu"Davin mencoba berkata lembut dan menahan sabarnya.
"Cepet,ga pake lama!"ketus Aqila kembali.
Davin tersenyum setidaknya Aqila mau mendengarkannya,ia sudah belajar bagaimana cara memegang kondisi sekarang.
"Maafin aku karena kemarin ga ngabarin kamu yang,kemarin Sandra itu sakit dia ga ada siapa-siapa selain aku,jadinya aku ngerawat dia kemarin, bukannya kamu pernah bilang kan kalo lebih baik mendahulukan orang yang membutuhkan kita"ucap Davin.
"Kenapa ga ngasih pesan sih!"Aqila masih berucap dingin.
"Hpku lowbat yang,aku beneran gabohong kalo kamu gapercaya aku telfon Sandra nih"Davin mengeluarkan hp dari saku celananya,ia berusaha agar Aqila percaya padanya.
"Udah geperlu,aku percaya"ucap Aqila kemudian.
"Makasi sayang"Davin ingin memeluk Aqila namun Aqila menghindar.
"Tapi bukan berarti aku maafin kamu!"tegas Aqila.
"Lah yang kok gitu sih,kan udah aku jelasin"Davin merajuk. Aqila memilih diam,terpaksa Davin berpura-pura akting.
"Akh yang perutku sakit,au yang sakit banget"Davin berakting seolah-olah ia kesakitan.
Aqila menjadi panik.
"Eh kenapa kak?,loh kak Davin kenapaa?"panik Aqila.
Saat tengah panik Davin malah mengejutkannya dan tertawa.
"Dorr"
"Ciee khawatir"goda Davin menoel dagu Aqila.
"Apasih galucu tau ngga"kesal Aqila menahan malu.
"Macacih kalo pipinya melah-melah gitu kok tambah ucu cihh,duh gemes deh"Davin membuat suaranya seperti anak kecil.
Aqila menahan tawanya ia harus tetap cool,biar Davin ada usahanya.
"Yakin gak kangen nih,aku denger katanya tadi kesiksa gitu tanpa aku"Davin mencondongkan wajahnya dan mengedipkan matanya berkali-kali.
"Ih kak Davin mah"kesal Aqila menggeplak lengan Davin keras,hingga sang empu mengaduh.
"Sakit yang"adu Davin.
"Biarin"Aqila menjulurkan lidahnya.
"Peyuk dong,gakangen apa sih"manja Davin.
Aqila tersenyum kemudian memeluk Davin,Davin mengusap rambut Aqila tersenyum.
"Yauda yuk pulang"ajak Davin dan Aqila mengangguk.
"Loh yang kaki kamu kenapa?"tanya Davin tiba-tiba saat ingin keluar kelas.
Aqila berhenti lalu menengok kakinya.
"Kenapa kak?ga ada apa-apa tuh"perasaan kakinya juga sudah tidak sakit dan lukanya juga tidak terlalu membekas.
"Itu deh kamu ga lihat apa?"tanya Davin lagi.
"Ngga kak,ada apasih"Aqila mengecek kembali kakinya.
"Gak sakit yang kaki kamu?"tanya Davin berlanjut.
"Ngga"jawab Aqila.
"Jadi bisa jalan?"lanjut Davin.
"Bisa"Aqila mengangguk.
"Yauda nanti pulang sekolah ganti baju terus aku jemput oke"ucap Davin kemudian.
Aqila terdiam sebentar kemudian ia paham dengan maksud Davin.
"Apasih,ngajak jalan aja pake acara bilang kakiku ada apa-apa"Aqila tersipu.
"Biar romantis gitu yang, ya gak?"Davin menaik turunkan alisnya.
"Engga tuh"jawab Aqila.
"Kok pipinya merah kalo bilang 'engga'"goda Davin.
"Nyerah lah,kak Davin mah gitu"
"Gitu apa?"
"Gitu-gitu bikin Aqila klepek-klepek ciaah"receh Aqila.
Davin tetap tertawa meskipun tak lucu menurutnya, yang penting mah ketawa udah itu aja,biar yang nyiptain tawa itu ketawa,pokonya ketawa jhaha.
"Ekhem"deheman satpam sekolah menganggu mereka.
"Kalian mau jadi penjaga kelas apa mau reservasi hotel dulu mungkin kalian mau nginep"tanya satpam dingin namun lucu menurut Aqila dan Davin.
Mereka menahan tawa,satpam di sekolahnya memang terkenal tegas.
"Iya pak ini juga mau pulang kok"Davin berlari menggandeng Aqila.
Annisa, Rere dan Ida berada di satu mobil.
"Jadi gimana?"tanya Rere pada Ida dan Annisa.
"500 ribu dulu lah,uang gue menipis nih"jawab Ida.
"Boleh juga,oke deal 500 ribu ya?"tanya Rere.
Kemudian Rere memberi uangnya 500 ribu,Ida 500 ribu,dan Annisa 500 ribu,totalnya menjadi satu juta lima ratus ribu rupiah.
"Gue yakin Aqila sama Davin masih berantem"tebak Rere.
"Gue yakin mereka baikan dan bentar lagi bakal post snapgram berdua"lanjut Ida.
"Kalo gue sih yakinnya si Davin ditinggal sendiri dikelas trus si Aqila bakal deket sama Arjuna"lanjut Annisa.
"Cinta segitiga adalah hal biasa"Ucap Rere.
Ya mereka bertiga sedang menebak apa yang selanjutnya terjadi pada hubungan Davin dan Aqila dan yang benar akan mendapat uang tentunya. Jahhh anak sekarang mah bebas.