
Kalo ada kesalahan maapin ya:)
-
-
-
-
Satu bulan berlalu namun belum juga ada tanda-tanda seorang gadis ingin membuka matanya.
"Keputusan ada ditangan kalian berdua pak buk"ucap dokter yang sebulan ini merawat Aqila,ia juga kasihan pada gadis itu,di usianya yang masih muda ia harus bertahan hidup dengan alat-alat yang terpasang di sekujur tubuhnya.
"Gimana om tante?tanya Rere,Rere pulang karena kebetulan ia tengah liburan semester dan mendengar bahwa Aqila kritis dirumah sakit.
"Tante masih bingung Re,Tante belum ikhlas kalo harus ngelihat Aqila pergi,tapi Tante juga gak tega lihat Aqila kesakitan karena bertahan hidup dengan alat-alat bantu hidupnya"Vita mengela nafas menengok ke arah putrinya yang masih memejamkan matanya. Kabetulan semua barada diruang rawat Aqila,Abas menyewa ruang khusus VVIP untuk putri tirinya,berbicara soal Abas,setelah mendengar bahwa Aqila kecelakaan dan kritis ia langsung terbang ke Indonesia karena saat itu ia tengah menjalankan bisnisnya, untunglah rekan kerjanya yang bekerjasama dengan perusahaan Abas memahami kondisinya.
Davin masih setia menggenggam erat tangan Aqila, hari-harinya kini dihantui rasa bersalah,ia melihat bibir pucat Aqila yang pucat pasi,ohya berbicara soal Davin Vita dan Abas mengetahui kenapa putrinya itu bisa sampai kecelakaan,awalnya Abas marah besar hampir memukul Davin,namun Vita menenangkan suaminya ia yakin itu semua adalah takdir, bagaimanapun yang sudah ditakdirkan terjadi pasti akan terjadi. Vita juga sudah meyakinkan Davin jika itu bukan sepenuhnya salahnya namun Davin selalu saja diam dan menunduk,Vita tak tega Davin rela berjaga siang malam demi Aqila,ia bahkan tak mengurus dirinya sendiri dan hanya ingin menjaga Aqila.
Aqila merasakan sebuah cahaya putih menyilaukan matanya,ia melihat sekitar dan ia terperangah karena ia sedang berada disebuah taman yang cantik, kupu-kupu berterbangan bersama-sama,udara yang sejuk membuat tubuhnya nyaman.
Ia kembali melihat Kilauan cahaya putih yang tidak jauh dari tempat berdirinya,ia melihat sosok lelaki yang tak asing dimatanya,pria itu memakai pakaian serba putih,dari atas hingga bawah,dan ia berjalan mendekati pria itu,menepuk bahu itu pelan dan pria itu berbalik dengan senyuman yang begitu manis ia berikan pada Aqila,Aqila tersenyum balik pria itu adalah Davin.
"Kok kak Davin ada disini?"tanya Aqila, bukannya menjawab Davin malah tersenyum dan membelai pipi Aqila,Aqila memejamkan matanya,tangan Davin begitu lembut.
"Aku harus pergi"ucap Davin dengan senyum yang masih mengembang.
"Pergi?pergi kemana?"Aqila mengerutkan alisnya.
Lagi-lagi Davin tidak menjawab dan malah tersenyum manis.
"Kak Davin malah senyum,jawab Aqila dulu ih"Aqila mengerucutkan bibirnya.
"Kamu gaperlu tau"jawab Davin menyelipkan rambut Aqila ditelinga.
"Aqila mau ikut"
"Gabisa"
"Kenapa?"
"Jauh"
"Kan ada kak Davin"
"Ngeyel banget sih"kekeh Davin.
"Gamau tau pokonya ikut!"kekeuh Aqila.
"Janji dulu sama aku"ucap Davin.
"Janji apa?"tanya Aqila penasaran.
"Janji meskipun nanti aku ga ada disamping kamu,kamu bakal tetep bahagia sama kehidupan kamu,kamu juga bakal janji kalo suatu saat nanti kamu juga menjalin kehidupan dengan orang yang kamu sayang dan punya anak yang lucu-lucu"ucap Davin masih dengan senyum yang mengambang.
"Kok kak Davin ngomongnya gitu"kesal Aqila.
"Gausa kesal gitu nanti aku cium nih"kekeh Davin.
"Cium aja kalo berani"tantang Aqila.
Seperdetik kemudian Aqila merasakan ada benda kenyal yang menempel dibibirnya,bibir itu milik Davin Aqila ikut memejamkan matanya, membuka sedikit celah bibir memberikan akses Davin untuk menjelajahi mulutnya, ciuman itu benar-benar lembut,ada yang aneh saat Aqila merasakan ciuman itu, kemudian Davin melepaskan tautan bibirnya.
"Aku harus pergi nanti telat"ucap Davin mengusap pipi Aqila.
"Kak Davin ninggalin Qila?"Aqila merubah ekspresi wajahnya menjadi sedih.
"Aku gapergi sayang,aku bakal tetep ada disini,dihati kamu mulai dari sekarang dan selamanya"ucap Davin menunjuk pada bagian hati Aqila.
"Aku pergi ya,jaga diri baik-baik,aku sayang kamu,jangan lupa bahagia,i love you honey"bisik Davin tepat ditelinga Aqila,mengecup bibir Aqila sekilas kemudian pergi kearah Kilauan cahaya.
"Kak jangan pergi,Aqila mau ikut"Aqila menyusul ke arah Kilauan cahaya namun seketika cahaya itu hilang.
"Aku pergi ya,jaga diri baik-baik,aku sayang kamu,jangan lupa bahagia,i love you honey"kalimat itu terngiang di telinga Aqila dan seketika tubuh Aqila mengejang hingga membuat semua melihat kearahnya.
Radit memencet bel diruang tersebut tanpa waktu lama dokter datang keruang itu.
"Harap semua tunggu diluar,kami akan melakukan pemeriksaan"ucap seorang perawat untuk menyuruh semua meninggalkan ruangan.
Saat Davin ingin ikut keluar tangannya tertahan oleh sesuatu ternyata tangan itu adalah tangan Aqila,namun tubuh Aqila masih mengejang,tangan itu tidak mau terlepas saat perawat membantu melepaskan tangan Aqila yang mencekal tangan Davin.
"Biarkan tangan itu,kita langsung saja melakukan pemeriksaan sebelum terlambat"ucap dokter dan di angguki oleh para perawat.
Setelah 30 menit,tubuh Aqila mulai tenang.
"Bagaimana dok keadaannya?"tanya Davin.
"Ini keajaiban,pasien sudah melewati masa kritisnya,kini kondisinya sudah stabil,mungkin sebentar lagi ia akan sadar"ucap dokter kemudian memberi tau yang lainnya.
Davin tersenyum lega,Aqila kini sudah baik-baik saja.
'Eungh' Aqila mulai mengerjapkan matanya, melihat sekitar,ia berada di sebuah ruangan dengan cahaya yang menyilaukan matanya.
"Aku dimana?"tanya Aqila tanpa melihat orang yang ditanya.
Davin bingung ia harus menjawab apa,padahal tadi ia berniat pergi namun Aqila sudah membuka matanya.
"Kamu dirumah sakit"jawab Davin menunduk ia tak sanggup menatap mata Aqila.
Aqila menoleh ke samping, ternyata ada Davin dan tunggu ia menggenggam tangan Davin?kenapa? bagaimana bisa?.
Radit baru saja ingin masuk dengan yang lainnya namun ia melihat Davin dan Aqila sepertinya sedang butuh ruang untuk berbicara berdua.
"Kita biarin dulu Aqila sama Davin bicara"ucap Radit membuat semuanya mendesah berat namun akhirnya mereka mengalah.
"Gu-gue"Davin bingung harus menjawab apa.
"Kalo ga ada yang perlu diomongin mending keluar,tau kan pintu keluar sebelah mana?"ucap Aqila dingin.
"Iya"Davin mengalah kemudian berjalan kearah pintu.
Aqila menatap punggung Davin yang menjauh,sebelum membuka pintu Davin menatap memutar kepalanya untuk menatap Aqila,tatapan mereka bertemu,namun dengan cepat Aqila mengalihkan pandangannya.
"Lo gak apa-apa?"tanya Rere yang menangkap ekspresi Davin.
"Gue gak papa,yaudah gih kalian masuk,gue pamit pulang dulu"ucap Davin.
"Om Tante Davin pamit pulang dulu ya"pamit Davin mencium kedua tangan orang tua Aqila.
"Hati-hati ya nak"Vita mengelus rambut Davin.
"Iya Tante"balas Davin tersenyum.
"Bye semua"pamit Davin melambaikan tangan.
Entah kenapa bulir air mata jatuh kembali,Aqila merindukan Davin,sungguh,sangat,sangat sangat merindukan lelaki itu,namun ia masih mengingat bahwa Davin sudah tidak mencintainya entah itu ucapan bohong atau jujur namun menurutnya ucapan itu cukup menyakiti hatinya.
"QILA..GUE KANGEN BANGET SAMA LOOO"Suara Rere memenuhi ruang rawat Aqila.
"Rereee"
"Aqilaa"
"Rereee"
"Aqilaaa" Rere berlari ala-ala slow motion hingga membuat semua orang menatapnya jengah.
Saat hampir sampai,Azka malah mendekat dan memeluk kakaknya itu.
"Azka kangen kak"ucap Azka dengan mata berkaca-kaca.
"Kakak juga dek,astaga gini aja mewek,cengeng kamu"Aqila menyentil dahi Azka.
"Ih si Azka ganggu aja sih cil"kesal Rere.
"Ye abisnya kebanyakan gaya"sinis Azka.
"Sini Lo gue bunuh pake piso buah"Rere mengejar Azka yang keluar dari ruang rawat dengan membawa piso buah.
Semua menggelengkan kepalanya dan terutama Rio,ia bahkan tepuk jidat melihat kelakuan pacarnya yang seperti anak kecil.
"Gimana keadaan kamu sayang"ucap Vita mendekat dan membelai rambut Aqila.
"Udah mendingan ma,cuma masih sedikit pusing"jawab Aqila.
"Mah pengen bakso"rengek Aqila.
"Kamu itu baru sembuh udah minta aneh-aneh"Vita menyela.
"Ih kok aneh-aneh sih ma,kan cuma bakso,ayahh lihat mama"Aqila mengadu pada Abas.
"Udah nanti ayah traktir yang ada disini SEPUASNYA"ucap Abas.
"Wih saya 2 om"Radit berbinar.
"Saya 3 om"lanjut Revo.
"Saya 1 lebih dari cukup" lanjut Rio dengan gayanya.
"Sayah sepuluh yah om"Rere tiba-tiba datang dengan nafas ngos-ngosan.
"Buset banyak bener Re"Arjuna terkejut.
"Gapapah,nanti baksohnya gue kasih racun tikus terus gue suruh si Azka makan,biar langsung sakaratul maut tu bocahh"jawab Rere.
"Rere!!"suara Vita melengking.
"Udah Tan,nanti buat yang baru aja,sekali goyangan pasti jadi"ucap Rere santai dan mendapat pelototan tajam dari semua pasang mata yang ada di ruangan.
"Hehe bercanda borr"Rere menyengir kuda dan jarinya membentuk huruf V.
Dan kemudian semua tertawa,Aqila merasa senang karena ia orang disekitarnya kini kembali tertawa,Radit dan Rio saling berdebat karena Rio mencuri bakso Radit.
"Ih Rio itukan bakso gue"kesal Radit.
"Minta aja yang baru"santai Rio.
"Ih bukan gitu masalahnya bakso itu udah gue ****-**** karena masih panas yaudah gue diemin dulu,lagi mau gue taro dimangkuk eh Lo narik tangan gue dan masukin bakso itu kemulut Lo"jelas Radit.
"What?"kejut Rio.
"Wah toilet mana toilet"Rio berlari ke arah toilet dan semua tertawa karena kekonyolan Rio dan Radit.
Aqila terkekeh kecil hingga ia menemukan pasang mata yang sedari tadi memperhatikannya,ia menjadi kikuk lalu berpura-pura memakan baksonya padahal ia sudah kenyang.
Arjuna tersenyum tipis melihat Aqila yang salah tingkah karena daritadi ia memperhatikan gadis itu. Arjuna lega senyum manis Aqila kembali setidaknya Aqila sudah bisa tertawa kecil,ia merindukan tawa gadis cantik itu.
.
.
.
.
TBC.