
Im back yuhuuušš„,dahlah males ngebacot langsung baca aja ya hehe.
Jangan lupa like,komen and voteā¤.
-
-
-
-
Aqila memasuki jurusan kedokteran sedangkan Arjuna,Radit dan juga Revo sama-sama berada di jurusan manajement bisnis,Rio sendiri yang memilih jurusan arsitektur.
Semesta awal hubungan Aqila dan Davin masih terbilang baik-baik saja namun setelah dua semester tiba-tiba Davin berubah sikap.
Aqila pun merasa aneh karena Davin kini bersikap dingin ia bahkan tidak membalas pesan dan telfonnya,tapi Aqila tak ambil pusing mungkin saja Davin kelelahan,mungkin.
Hari ini,Aqila ada jadwal untuk membeli buku-buku yang akan harus dipelajari,sore sih tepatnya,Aqila pergi bersama Radit, awalnya bersama dengan Icha teman satu jurusan dengan Aqila namun mendadak Icha ada acara jadi Aqila pergi bersama Radit, awalnya Radit menolak namun karena Aqila merengek ia menjadi tak tega.
Dan disinilah mereka setelah puas membeli beberapa buku dan novel Aqila dan Radit pergi makan ke cafe yang berada di mall tapi sebelumnya Aqila menaruh buku-bukunya didalam mobil terlebih dahulu baru masuk kedalam mall kembali.
"Dit gue ke toilet bentar ya"ucap Aqila karena mendadak ia ingin buang air.
"Hm"Radit berdehem mengagguk.
Saat menunggu makanan Radit sesekali melihat keluar karena kebetulan ia duduk didekat dinding yang terbuat dari kaca.
Saat tengah melihat sekitar,mata Radit tertuju pada satu gadis yang tengah berjalan diarea mall,gadis itu tak asing menurutnya,dan yap tebakannya benar gadis itu adalah Sandra eh tapi tunggu ada lelaki yang bergandengan dengan Sandra ia penasaran dengan lelaki itu dan tubuhnya juga tak asing dimatanya, dan detik selanjutnya lelaki itu berbalik,Radit terkejut lelaki itu adalah Davin,tapi bukannya Davin sedang di Singapore lalu kenapa dia ada disini?,apa Aqila tau?,jika Aqila tau pasti Davin akan menyuruh Davin untuk menemaninya bukan Radit?,oke Radit akui ia pernah jatuh hati dengan Sandra, bagaimana bisa?next episode ya. Namun setelah acara perpisahan kelas 12 ia sudah lost contac dengan Sandra,untuk menanyakan hal yang lebih lanjut sepertinya ia tak berhak.
"Woe ngeliat apa lo,makanan udah dateng sampe gasadar"ucapan Aqila membuyarkan lamunan Radit,saat Aqila ingin melihat arah yang Radit lihat,Radit menarik tangannya dan menyuruhnya duduk.
"Eh Lo Qil,ah iya makanan udah dateng"Radit sedikit gugup.
Aqila merasa aneh namun sudahlah ia sudah menahan lapar sejak tadi.
"Oh ya Qil,gue mau tanya deh"ucap Radit disela aktivitas makan mereka.
Aqila yang masih mengunyah makanannya menaikkan alisnya satu seakan bartanya 'apa?'.
"Mm si Davin udah pulang belom sih? maksud gue apa dia udah pulang ke Indonesia?"Radit sebenarnya bingung harus bertanya dengan kalimat apa,tapi ia yakin Aqila pasti faham.
"Belum,bahkan akhir-akhir ini kak Davin jarang banget hubungin gue eh ralat bahkan ga ada kabar sama sekali"jawab Aqila yang masih fokus pada makanannya.
"Lo ga nethink sama dia?"tanya Radit penasaran.
"Ya kalo soal pikiran negatif pasti ada tapi gue berusaha menepis pikiran itu,gue yakin kak Davin ga bakal ngelakuin macem-macem,bukannya kunci utama suatu hubungan itu kepercayaan ya?"jelas Aqila dan bertanya pada Radit.
"Ya..iyasih"Radit mengusap tengkuknya yang tak gatal.
"Kenapa Lo nanya gitu?"tanya Aqila yang tengah membersihkan mulutnya dengan tissue.
"Gapapa,nanya aja"Radit berusaha menjawabnya dengan santai agar Aqila tak curiga.
'tlingtling' suara pintu cafe berbunyi menandakan ada yang tengah masuk.
Aqila sengaja menoleh pada arah pintu melihat siapa yang tengah datang. Aqila terkejut melihat sepasang orang yang tengah masuk kedalam cafe, orang yang ia rindukan,orang yang akhir-akhir ini jarang memberinya sebuah kabar, tapi tunggu ia datang dengan seorang wanita,siapa wanita itu kenapa ia menggandeng tangan Davin mesra.
"Eh ni anak malah bengong,lihat apa sih lu?"Radit bertanya pada Aqila,namun gadis itu masih memfokuskan matanya pada orang yang baru saja duduk dikursi mejanya.
Radit pun mengikuti arah mata Aqila ia pun terkejut karena arah mata Aqila tertuju pada sepasang orang yang sedang bersendau gurau dimeja sesekali tangan Davin mencubit pipi Sandra gemas.
"La itu pasti ga-"Radit menoleh pada Aqila namun gadis itu malah tak ada,ia mengedarkan pandangannya dan terkejut saat Aqila menghampiri Davin dan Sandra..
"DAV!"Suara Aqila mengejutkan dua orang yang masih fokus pada topik pembicaraan.
"Qila kok kamu disini?"Davin berdiri terkejut.
"Harusnya aku yang tanya sama kamu!ngapain disini?"Aqila mulai meninggikan suaranya.
"Oh dan kenapa sama Dia?!"Aqila menunjuk pada Sandra yang masih bingung.
"Ini gak seperti yang kamu bayangin"Davin mencoba bersabar dan tidak membentak Aqila.
"Ohya?!jadi kamu belain Dia huh!?"Aqila sudah emosi dan mengambil lemon tea yang ada dimeja tersebut dan menyiramkan pada Sandra.
Seluruh mata tertuju pada mereka, meskipun cafe tak terlalu ramai tapi tetap saja seluruh pasang mata yang dicafe itu mengarah pada Davin,Aqila dan Sandra persis seperti sepasang kekasih yang kepergok selingkuh.
"QILA LO APA-APAANSIH"Davin membentak Aqila.
"Sand kamu gapapa?"khawatir Davin dan Sandra pamit ke toilet untuk membersihkan bajunya.
-'kamu?'sejak kapan panggilan mereka sedekat itu?Davin bahkan sudah memanggil dengan 'Lo',apa Sandra dan Davin menjalin hubungan dibelakangnya?-Batin Aqila hingga 'tes'bulir bening jatuh dari pelupuk matanya.
"Ikut Gue!"Davin menarik pergelangan tangan Aqila dan meninggalkan cafe.
Davin menarik tangan Aqila dengan kasar dan membawanya menuju parkiran mall yang cukup sepi.
Aqila menepis cengkraman tangan Davin yang cukup kuat.
"Sakit dav!"Aqila menepis kasar tangan Davin.
"LO!!!"Davin mengatur nafasnya yang masih memburu.
Aqila sudah menangis,ada apa dengan Davin?,kenapa lelaki itu tiba-tiba kasar,jangankan bertindak kasar,membentaknya saja bahkan Davin tak pernah lakukan.
"Gue pengen hubungan kita berhenti sampai sini"dingin Davin.
"Ma-maksud kamu?"Aqila masih mencerna ucapan Davin.
"Ya maksud gue kita putus"tegas Davin
"Bilang sama aku ini cuma bercanda Dav!"Aqila masih tak percaya apa sekarang Davin sedang meminta mengakhiri hubungannya?kenapa?ada apa?.
"Apa menurut Lo gue bercanda Qila?"ucap Davin datar dengan memalingkan wajahnya.
"Tatap aku Dav!,bilang kalo ini cuma guyonan,galucu Dav hiks"Air mata yang terbendung pun keluar,tangis pecah Aqila yang tak kuasa ia tahan.
Davin memberanikan diri menatap Aqila,menangkap tangan Aqila yang sedari tadi memukul dadanya.
"Udahlah La gausah ngedrama gini,gue tau air mata Lo itu palsu,bahkan gue yakin Lo juga akan baik-baik aja tanpa ada gue"ucap Davin masih dingin.
"Palsu?palsu kamu bilang?setelah apa yang kita lakuin bareng-bareng dan tiba-tiba kamu minta putus kamu kira hati aku gak sakit dav?!sakit dav!sakit hati aku,dengan mudahnya kamu bilang 'hubungan kita sampe sini aja'!setelah apa yang kita pertahanin sampai sekarang dengan gampang kamu bilang putus?!"Aqila mengeluarkan isi hatinya,ia meneriaki lelaki yang membuat hatinya teriris.
"Mana janji kamu dav!mana janji kamu kalo kamu gabakal ninggalin aku hiks"sekuat apapun menahannya air mata itu tetap saja meluncur dipipi Aqila,ia tidak cukup kuat,anggap saja berlebihan tapi itulah yang ia rasakan saat ini.
"Gue emang janji,tapi Lo yang maksa Qila"nada Davin yang masih sama yaitu datar,ia membiarkan Aqila memukuli dadanya.
Aqila bingung harus berkata apalagi perasaannya campur aduk.
"Apa ini alasan kamu ngehindar dari aku,chat telfon yang gak pernah kamu bales,apa ini alasannya dav!"Aqila masih terisak.
"Kalo gue jawab iya Lo percaya?"tanya Davin menatap tajam Aqila.
"Aku tau kamu bohong Dav!"sarkas Aqila.
"Lo mau tau kenapa gue ngehindar dari Lo?karena gue udah ga cinta sama Lo,gue ga sayang lagi sama Lo,Lo itu terlalu ngekang gue la,Lo ngelarang gue ini itu,Lo selalu marah saat gue telat ngasih kabar ke elo,Lo itu egois,Lo mikirin perasaan Lo sendiri,dan gue pingin hidup gue bebas,gue gamau ada orang yang ngatur hidup gue lagi,dan yah gue harap gue galihat muka Lo lagi,karena itulah gue pengen hubungan ini berakhir!Faham?"jelas Davin panjang lebar dan memberanikan diri menatap Aqila.
Aqila terdiam, entah apa yang dipikirkan gadis itu,ia mencerna setiap kata yang Davin ucapkan,sakit,bahkan kata itu tidak cukup mewakili perasaannya.
Aqila memaksakan senyumnya "oke kalo gue emang egois,tapi gue lakuin itu karena gue sayang Lo dav,dan yah setelah mendengar penjelasan Lo gue sadar kalo mulai detik ini gue 'benci' sama Lo,dan gue juga berharap kita bahagia dikehidupan kita masing-masing"Aqila menahan sesak di dadanya berusaha tegar,kemudian ia pergi meninggalkan Davin dengan air mata yang kembali keluar.
'itu yang gue mau,Lo harus ngebenci gue,gue harap Lo selalu bahagia'batin seseorang tersenyum ketir,satu bulir air mata jatuh,ia berusaha menahan sakit saat mendengar Aqila menangis,ia mencintainya namun ia juga tak mau memberi cinta yang akhirnya akan menyakitkan,Davin mengusap air mata yang jatuh dipipinya,ia harus kuat.
Aqila berlari tak tau arah kepalanya pusing karena kebanyakan menangis ia masih berjalan tanpa melihat sekitarnya,suara klakson dan teriakan tak ia hiraukan.
"AQILAAAA"Teriakan itu memecah lamunan Aqila,ia menoleh kearah orang yang memanggilnya kenapa semua orang memperhatikannya,ia berbalik dan-
'brugghh'
Sebuah truk besar menabrak Aqila,gadis itu terpental jauh. Aqila merasa tubuhnya seketika remuk, pandangannya mulai menggelap,dress putih yang ia pakai kini berlumur darah dan akhirnya ia tak sadarkan diri.
Radit sudah berkeliling mencari Aqila namun nihil ia tidak menemukan tanda-tanda akan gadis yang dicari itu,setelat ia menyelesaikan urusannya dengan Sandra ia pun bergegas mencari keberadaan Aqila,ia sampai di parkiran dan melihat ada sekumpulan orang yang sedang bergerombol,ia juga melihat polisi dan ambulans datang,ia penasaran lalu mendekat,betapa terkejutnya ia bahwa orang yang kecelakaan tersebut adalah Aqila.
Radit menghampiri tubuh Aqila yang berlumuran darah,disana ia juga melihat ada Arjuna,Rio, dan Revo.
"Kalian ada disini?"tanya Radit.
"Itu urusan nanti,kita bawa dulu Aqila kerumah sakit"ucap Arjuna panik.
Sesampainya di rumah sakit Aqila langsung ditangani diruang ICU,sudah dua jam namun dokter belum juga keluar,Vita dan Rossa sampai dirumah sakit.
"Gimana keadaan Aqila dit?"tanya Vita panik.
"Masih ditangani dokter Tante"Jawab Radit lesu.
Dokter keluar setelah pemeriksaan.
"Pasien kritis"
.
.
.
.
TBC.