Another me

Another me
Kesialan



" Sayang... "


Ucap Mila manja.


" Iya sayang... "


Balas Araya sambil sekilas menatap kekasihnya dan kemudian kembali fokus pada kemudinya.


" Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu... "


" Bahkan cintaku lebih lebih dan lebih besar dari cintamu padaku Milaku. "


Mila begitu senang kegirangan mendengar penuturan Araya. Ia sangat bangga bahwa dirinya mampu menaklukkan pria yang terkenal dingin dang menjaga jarak dengan para wanita. Dan pria itu kini telah ada dalam genggamanya. Senyum bahagia penuh kebanggaan terus menghiasi bibir merah Mila.


Cup...


Terasa benda kenyal nan dingin menempel singkat dipipi kiri Araya. Araya yang sedang sibuk mengendarai mobilnya pun mengalihkan perhatianya pada Mila. Manarik tanganya dan mendaratkan ciuman dipunggung tangan wanitanya itu.


Perlakuan Araya padanya kembali membuat Mila merasa di awang awang dengan keberhasilanya menjadi wanita yang dicintai oleh Araya.


Wanita mana yang tak akan iri pada dirinya saat ini?


Araya pengusaha muda yang tampan dan sukses. Wajahnya tak kalah saing dengan aktor terbaik tanah air. Bahkan Araya masuk dalam daftar buruan para orangtua papan atas untuk dijadikan menantu.


Namun siapa sangka pria ini tak pernah tercatat bersama wanita lain selain dirinya. Mila adalah yang pertama dan selalu menjadi satu-satunya bagi Araya. Itulah mengapa dirinya selalu mendongakkan kepala dengan bangga dapat bersanding dengan Araya.


Araya tak melepaskan genggaman tanganya pada tangan Mila. Dua tahun berpisah dengan gadisnya itu menyisakan rindu yang amat sangat. Apalagi dengan kesibukan Mila yang membuat komunikasi mereka sangat jarang.


Araya kembali melihat kearah Mila. Betapa bahagianya melihat senyum manis itu kini nyata berada didapan matanya. Sejenak meresapi manis kasih yang selama ini ia damba.


Baru saja Araya kembali menatap jalanan dihadapanya, tiba-tiba mobil didepannya mengerem mendadak dan...


Brraaak...!!!


" Aww... "


" Shit... !!"


Araya dan Mila kaget karena mobil yang mereka kendarai menubruk mobil berwarna merah maroon di depan mobil mereka. Araya keluar dan membanting kasar pintu mobilnya. Menghampiri mobil yang ditabraknya.


Milapun ikut mengekor dibelakang Araya.


" Buka pintunya... Keluar... Keluar kau cepat...!!"


Bentak Araya sambil menggebrak kaca pintu mobil yang menyebabkan tabrakan itu terjadi.


Menyadari telah melakukan kesalahan pengemudi mobil merah maroon itu keluar dari mobilnya. Mengitari mobilnya untuk menghampiri Araya dan Mila.


" Lihat apa yang kamu lakukan... Mobil saya ringsek karena keteledoran fatalmu. "


Araya menunjuk pada bagian depan mobilnya yang sudah leot dengan sempurna. Ia merasa tak harus menggunakan bahasa yang formal terhadap wanita yang terlihat jauh lebih muda darinya itu.


" Oh God... I'm so sorry Sir... Saya tidak bermaksud melakukanya pada mobil anda. Tadi saya..."


" Berhenti cari alasan... Caramu berkendara benar-benar serampangan..."


Araya sungguh merasa kesal karena harus mengalami kejadian menyebakan itu. Sungguh merusak moment manis bersama kekasihnya.


Sedetik kemudian Araya memperhatikan wanita dihadapannya. Sekilas terlihat secara fisik wanita itu bukan warga negaranya. Kulitnya putih bersih, wajahnya terlihat sangat halus dan bibirnya merah merekah. Hidungnya mancung sempurna. Dan terlihat jelas tidak ada sedikitpun jejak polesan makeup dari wajah itu. Membuat wanita itu sangat cantik dengan kenaturalanya. Perawakanya tidak terlalu tinggi namun juga tak terlalu pendek bagi seorang wanita. Rambutnya panjang melebihi bahu berwarna blonde. Namun ia dapat berbicara dengan aksen yang baik dalam bahasa Indonesia.


Keturunan blasteran mungkin?


Pikir Araya.


" Apa kau tahu caranya mengemudi nona? Ceroboh sekali... "


Perkataan sinis Araya pada wanita itu.


Sedangkan wanita itu memandang tajam kearah dimana Mila berdiri dibalik kacamata hitam yang bertengger dilengkung indah hidungnya.


Mengamati sekilas diri Mila dari balik kacamata hitamnya itu. Pandangan yang jika terlihat oleh oranglain seperti pandangan yang mengandung berjuta pertanyaan.


wanita ini? mereka?


Kembali dari fokusnya pada Mila, wanita itu merasa harus meminta maaf.


Merasa memang kejadian itu murni atas kelalaiannya, ia benar-benar merasa bersalah. Untuk berlaku sopan wanita itu membuka kacamatanya dan menaikkanya ke atas kepala untuk mengunci rambut bagian depanya yang tak terikat. Kemudian ia berusaha meminta maaf dengan benar.


" Aah... Saya benar-benar meminta maaf dan pasti akan bertanggung jawab... Tadi saya benar-benar tidak sengaja. "


Wanita itu menunduk sopan sebagai permintaan maaf.


" Apa kau tahu? Kecerobohan yang kau lakukan dapat membahayakan orang lain nona? "


Kalimat Araya memang tak setinggi sebelumnya. Namun sikap dinginya itu lebih menusuk hingga siapapun akan bergidik ngeri melihatnya.


Sadar atau tidak Araya kembali men scan wanita itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Entah apa yang ada dalam pikiranya. Yang jelas ia merasa tak asing dengan wanita dihadapanya. Dimana ia pernah melihatnya? Ataukah salah satu model yang pernah mampir diperusahaanya? Mungkin...


" Saya akan membawa mobil anda untuk diperbaiki... Kebetulan saya ada kenalan teman yang memiliki bengkel disekitar sini. "


" Apa kau pikir mobilku itu bisa disentuh sembarang orang? "


Wanita blonde itu mengernyit heran dan belum paham.


" Maksud anda tuan? "


" Mobil saya hanya boleh ditangani oleh orang saya sendiri... Bukan dari sembarang bengkel seperti yang kau usulkan tadi... "


Tukas Araya dingin dan sombong.


" Baiklah silahkan... Dimanapun itu saya akan bertanggung jawab dengan biayanya tuan... "


" Kau yakin mampu membayarnya nona?... "


" Sudahlah sayang... Jangan marah marah...? "


Ucap Mila yang berdiri disamping Araya dengan kedua tanganya yang bersedekap didadanya. Daritadi Mila hanya diam dan memperhatikan saja.


Perkataan lembut Mila itu mampu mengurangi ketegangan kekasihnya yang diliputi amarah.


Tanpa mereka sadari wanita itu menatap kembali penuh tanya pada Mila. Namun kemudian mengalihkan perhatiannya lagi pada mobil Araya.


Ya mobil itu memang kelihatan sangat berkelas dan mahal. Tapi memangnya semahal apa sampai wanita itu tak mampu menanggung biayanya?


" Aah... Sorry... May i know how much i have to pay...? "


" 100 juta... Itupun bisa lebih... "


Tukas Araya cepat.


What??? Really?? That's truly crazy...


Wanita itu sangat kaget dengan nominal fantastis yang disebutkan oleh Araya. 100 juta? Bahkan mobil nya hanya butuh beberapa juta dalam perbaikannya.


Memang salahnya karena tadi mengerem mendadak saat menghindari kucing yang lewat tanpa permisi didepan mobilnya. Walaupun ia berkendara dengan kecepatan yang sedang. Tetap saja ia kaget karena kemunculan hewan itu secara tiba-tiba.


Tapi 100 juta? Itu gila. Meski wanita itu pasti memilikinya, tapi itu jumlah yang tidak sedikit. Moodnya berubah sangat buruk saat itu juga. Karena uang... Ia harus mendapatkanya dengan memeras otaknya setiap hari.


" Tidakkah itu kemahalan tuan? "


" Cih... Lihatlah sayang... Wanita miskin ini... Sudah miskin berani membuat kekacauan."


Dan Mila hanya mengelus pelan lengan Araya menyalurkan ketenangan.


"Well... Itu harga yang cukup murah nona.. Memangnya kau mampunya berapa banyak?"


" Baiklah... Karena ini murni kesalahan saya, saya pasti akan menanggung biayanya berapapun itu. "


Akhirnya Wanita itu mengalah demi untuk menjaga harga diri. Juga demi kenyamanan masing-masing. Toh memang dirinya yang salah. Jadi harus bertanggung jawab dengan penuh.


" Dan satu lagi... Kami sedang buru-buru jadi kamu harus mengantar kami, karena kau sudah membuat mobil yang kami tumpangi harus dibawa ke bengkel. "


Dan akhirnya setelah Araya memberitahu orangnya untuk menangani mobil miliknya yang rusak, wanita itu harus menjadi supir seharianya Mila dan Araya. Awalnya ia menolak dengan alasan sedang buru-buru. Namun Araya mengancam akan membawa kejadian itu ke kantor polisi membuat si wanita blonde itu mengalah.


Akan menjadi sangat sulit dan rumit jika ia harus berurusan dengan kantor polisi. Hal yang sangat ia hindari. Pikir wanita blonde itu.


Benar-benar menyebalkan... Araya dan Mila duduk dikursi penumpang belakang. Tanpa malu saling bermesraan. Tidak kenal tempat bahkan saat secara paksa membuat seseorang menjadi sopir pribadinya dalam seharian itu nantinya.


****


Mila masih terus menempel pada Araya Bergelendot manja dilengan kekar milik Araya. Berjalan mengitari mall untuk memenuhi hasrat berbelanja Mila. Sedangkan wanita blonde itu setia mengekor dibelakang pasangan dimabuk asmara didepanya.


Ring ring ring...


Saat menunggui pasangan mesra di toko berlian tiba-tiba ponsel wanita blonde itu berbunyi. Sebuah nama sakral tertera disana. Iapun sedikit merasa khawatir tentang apa yang akan disampaikan si penelpon itu.


Wanita itu mendekat kearah dimana Araya dan Mila berada. Untuk meminta ijin sebentar menerima telepon.


" Maaf saya kesana sebentar ya... "


Araya tidak menjawab sedangkan Mila hanya mengangguk dan kembali sibuk memilih dan memilah berlian mana yang akan ia beli untuk menambah koleksinya. Lebih tepatnya... Koleksi dari Araya.


" Halo Ma... Apa kabar... "


Kini ia telah menjauh dari tempat toko berlian itu. Bersandar dirailing pembatas samping eskalator mall itu.


" Diluar Ma... Ditoko buku... "


Ucapnya berbohong.


"....."


" Tidak Ma... Biasanya dia lembur sampai malam... "


"....."


" Jangan khawatir... Semua baik-baik saja. Dia bersikap baik kok Ma. "


"....."


" Baik Ma... Bye bye... "


Huft...


Ia menghela nafas. Akhirnya lolos dengan mudah. Dan iapun kembali menghampiri Araya dan Mula.


Tak terasa hari beranjak petang. Dan sialnya Mila masih semangat mengitari Mall. Melihat baju di toko sini dan sana. Mencoba ini dan itu. Sama sekali tak merasa lelah. Lihatlah betapa senangnya wanita itu, mendapatkan berlian dengan harga ratusan juta hanya dengan bersikap manja pada Araya. Membeli makeup dan baju baru yang bisa dihitung bernilai puluhan juta.


Kali ini mereka memasuki toko pakaian dalam wanita. Bisa kalian bayangkan se awkward apa moment itu? Dimana saat Mila dengan manjanya meminta Araya untuk memilihkan pakaian dalam yang seksi untuknya? Bahkan ia sampai melongo melihatnya. Menatap penuh tidak percaya.


" Pilihkan untukku yang menurutmu seksi sayang... "


Tanyanya manja pada Araya. Dan Araya tanpa canggung menunjuk satu set bikini warna maroon berenda dengan model yang super seksi. Tak hanya itu, Araya juga meminta pelayan toko untuk mengambilkan lingerie transparan dengan kain penutup tubuh inti yang hanya selebar daun kelor. Bayangkan sendiri bagaimana telanjangnya si pemakai dengan kain laknat itu.


Jadi mereka sudah sejauh itu? Gila...


Tanpa mereka sadari dari semenjak ditoko berlian tadi, seorang perempuan paruh baya mengamati mereka tanpa henti. Kemudian mengambil beberapa gambar dengan menggubakan ponsel miliknya.


Sekitar jam delapan Mila baru selesai berbelanja. Dan merekapun memutuskan untuk makan malam. Araya meminta wanita blonde itu untuk undur diri dan bebas dari tanggung jawab.


Tadi Mila membujuk Araya untuk menganggap hutang wanita itu lunas setelah mengekorinya dan membawakan barang belanjaanya.


Padahal bagi perempuan, membawakan belanjaan wanita lain sambil mengekor dibelakangnya sama saja sebuah penghinaan. Seolah ia adalah budak yang harus melayani. Bahkan wanita itupun merutuk sikap Mila dalam hati. Tapi biarlah daripada ia harus membayar denda dari Araya yang berjumlah sangat fantastis.