
" Aku sarankan segera kurangi pemakaian softlens beberapa hari ini, itu akan menjaga matamu dari iritasi yang lebih parah. "
Dokter Ambar memberi peringatan, seraya memundurkan tubuhnya. Menyandarkan punggungnya dikursi kebesarannya.
" Sulit dipercaya, sudah begitu lama kamu bergantung pada benda itu dan matamu hanya beberapa kali mengalami hal semacam ini. Mengapa Tuhan menciptakan gadis sesempurna ini. Sungguh membuat iri. "
Dokter Ambar memang type orang yang tsundere. Menyayangi dengan mengkritik atau memaki. Karena baginya, ungkapan kata sayang secara langsung itu terlalu memalukan.
Sedangkan Sofia yang sudah hafal dengan kepribadian dokter yang sudah seperti tantenya sendiri itu hanya senyam senyum mengerti dengan kasih sayang dari dokter berumur empat puluh tahunan dihadapanya.
" Untuk kedepanya lebih baik kamu meminimalisir resiko dengan mengurangi jangka waktu pemakaian. Karena aku tidak bisa menjamin matamu akan sehat selamanya jika kamu terus terusan memakai benda itu. "
Dokter Ambar mengingatkanya lagi. Sesuatu yang sudah seperti mantra wajib saat Sofia datang berkunjung. Dan jangan harap kalimat itu hanya sampai disitu saja. Karena dibelakangnya, masih ada rentetan kalimat yang tidak akan ada habisnya. Diulang-ulang terus menerus seperti kaset yang bahkan Sofia sendiri mampu menirukan apa saja yang keluar dari mulut licin dokter Ambar.
" Dokter memang lebih cerewet dari Sam. "
Dokter Ambar tersenyum simpul melihat tingkah Sofia yang mengerucutkan bibirnya, menggerutu atas semua perintahnya.
" Ah iya bagaimana kabar Juliette? sudah lama rasanya tidak jalan-jalan bersama lagi. Apa dia sedang sibuk dengan PR dan tugas sekolah? Ah benar juga, sebentar lagi dia akan lulus."
Juliette adalah anak perempuan satu-satunya dokter Ambar. Dokter Ambar sendiri merupakan seorang single parent karena bercerai dengan suaminya yang telah berselingkuh dengan mantan pacarnya. Hingga saat ini, sudah sekitar lima tahun usia perceraian mereka. Dan kini usia putri dokter Ambar telah menginjak yang ke 15 tahun.
" Asal kau tahu saja. Anak itu bahkan lebih sibuk dari ibunya. Saat akhir pekan bahkan dia mengambil les bahasa jepang dan bela diri. Padahal setiap harinya dia sudah mengikuti les untuk pelajaran sekolahnya. "
Sambil menulis resep obat yang harus ditebus pasienya, dokter Ambar membagi kegalauanya karena memikirkan anak semata wayangnya.
" Aku kadang harus merengek padanya agar dia mau menemaniku menonton film dan berbelanja untuk sekedar menghabiskan hari liburku.
Dokter Ambar menghela nafasnya. Kembali teringat tingkah anaknya yang terlihat lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar. Sebagai ibu, dokter Ambar ingin anaknya menjalani kehidupan remajanya dengan bersenang senang seperti gadis remaja yang lain. Tapi sepertinya anak gadisnya itu lebih senang dengan buku dan pengetahuan daripada berhias dan bermain.
" Ini resepmu, segeralah ditebus. Jam segini biasanya tidak harus mengantri lama. "
Sofia pun menerima resep itu dengan senang hati.
" Dan beberapa hari ini kamu ganti dengan obat tetes yang baru. Sudah aku tulis diresep. "
Sofia menganggukkan kepalanya paham. Kemudian segera berpamitan karena pasien dokter Ambar masih banyak yang mengantri.
Sesuai saran dokter Ambar, Sofia segera menebus obat yang telah diberikan oleh dokter itu.
Tadi, setelah bertemu dengan Samuel, Sofia segera menemui dokter mata yang sudah selama sekitar lima tahun ini merawatnya.
Pertemuan mereka diawali ketika Samuel dan Sofia sedang merintis perusahaan percetakan mereka. Yang mengharuskan mereka bolak-balik dari Surabaya ke Jakarta untuk beberapa kali dalam sebulan.
Saat mata Sofia mengalami iritasi seperti sekarang, waktu itu dia sedang berkunjung ke Jakarta. Samuel yang panik langsung menelepon dokter spesialis mata di Surabaya yang biasanya menangani Sofia. Dari situlah awal perkenalan mereka. Dokter Ambar adalah dokter yang direkomendasikan oleh dokter yang merawat Sofia di Surabaya.
Sejak saat itu, ketika jadwal periksa mata, Jika Sofia tengah berada di Surabaya. Maka ia akan mendatangi dokter yang telah menanganinya pertama kali. Dan mendatangi dokter Ambar ketika ia tengah berada di ibukota.
Drrrt... drrrt...
" Ya Sam...? "
" Sudah selesai kencan sama dokter Ambar? "
Sofia tersenyum kecil mendengar pertanyaan sahabatnya.
" Mm.. sudah. Kau sendiri bagaimana? "
" Rapatnya sudah selesai. Tapi aku harus membahas mengenai rencana kerjasama dengan Az entertainment dulu dengan Pak Candra. "
Sofia manggut-manggut tanda mengerti. Meskipun keputusan mutlak berada ditanganya dan Samuel, Pak Candra yang dipercaya oleh kedua sahabat itu untuk menjadi pemimpin diperusahaan mereka juga harus tahu detail mengenai kerjasama dengan pihak manapun. Agar tidak ada kecerobohan yang bisa menjadi boomerang bagi keduanya. Itu mereka lakukan agar tidak kecolongan hingga terjadi bocornya identitas Sofia dan Samuel sebagai pemilik perusahaan itu. Mereka tak mau sedikitpun resiko itu mengancam mereka.
" Baiklah... aku akan segera kesana. Selesaikan dulu urusanmu, barulah menyusul. Ingat jangan telat. Kau harus lihat bagaimana dewi mu ini menari dengan seluruh kekuatan tanganya. "
" Haode... yi hui er jian. " ( Baiklah sampai ketemu lagi )
Keduanyapun menggakhiri obrolan via telepon mereka. Sofia lalu melanjutkan langkahnya menuju tempat dimana mereka membuat janji temu berikutnya. Menyimpan benda pipih itu kedalam tas buluknya.
Drrrt drrrt...
Suara panggilan telepon kembali terdengar tak lama setelah ponsel itu jatuh kedalam tas lusuh Sofia.
" Siapa lagi sih? "
Sambil menggerutu, tangan Sofia menggagap didalam tas pribadinya, mencari keberadaan benda pipih itu.
" Hm? "
Hal penting apa yang terjadi? sampai orang ini menghubungi?
Kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan setelah melihat nama kontak dilayar ponselnya.
" Ya? "
Katanya singkat, setelah menekan tombil hijau dilayar ponsel itu.
" .... "
" Apa itu? "
" .... "
" Apa??? Bagaimana bisa terjadi? "
Pekiknya setelah mendengar apa yang disampaikan orang dari seberang.
" .... "
" Bagaimana keadaanya? Apa yang terluka? Apakah dia terluka parah? Oh God... "
" .... "
" Apa kamu bilang? itu namanya parah? ck... siapkan tiket untukku. Lusa aku akan kesana. "
" .... "
" Jangan lupa awasi terus. Jangan sampai dia kenapa napa. "
" .... "
" Ok aku tutup dulu. "
****
Araya menatap sebuah kotak makan transparan diatas meja kerjanya. Kotak itu berisi lasagna buatan Sofia yang tadi siang diantarkan istrinya itu kekantornya. Namun hanya dititipkan dimeja resepsionis karena alasan Sofia yang buru-buru. Kemudian meninggalkan gedung perusahaan Araya.
Diwaktu yang sama, Araya telah turun bersama beberapa klien dan William juga Ega untuk menjamu rekan bisnis mereka dengan makan siang disebuah cafe yang cukup terkenal baru-baru ini.
Dan mengambil makanan itu dari meja resepsionis setelah dirinya kembali ke kantornya.
" Ga... kamu kesini bentar... "
Araya menghubungi sekretarisnya agar datang dan melakukan sesuatu untuknya.
Tok tok tok...
Tak berapa lama Ega pun sampai diruangan Araya.
" Tolong panaskan ini. "
Araya mendorong kotak makan itu. Dan Ega mengambil benda itu.
" Kamu lapar? ini apa? "
Ega meraih kotak berisi makanan itu. Menilik kira-kira apa isi didalamnya.
" Mm.. itu bekal yang dibuatkan Sofia tadi siang "
" Ooh... Ok... "
Tanpa banyak tanya, Ega langsung mengerjakan apa yang diminta bosnya itu.
Tak berapa lama, Ega telah kembali membawa lasagna yang sudah hangat dan siap disantap.
" Thanks Ga... O ya kalau mau pulang duluan saja. "
" Ok bos....! "
Hari memang sudah gelap. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Jadi wajar saja suasana sesikit sepi di kantor itu. Maka Araya yang merasa tidak ada keperluan lain dan hanya butuh beberapa saat untuk menikmati makanan enak buatan istrinya itu merasa tidak perlu ditunggu oleh sekretarisnya.
Ceklek...
Suara pintu terbuka lagi sesaat setelah kepergian Ega dari ruangan itu.
" Ada apa? "
Tanya Araya yang sudah mengetahui siapa orang yang memasuki ruangan kerjanya.
" Kamu makan apa? "
Tanya William yang kaget karena tak biasanya sahabatnya itu makan malam dikantor.
" Bekal tadi siang. Sayang kalo dibuang. Lagian enak banget kok. "
Jawab Araya enteng. Meski bersikap begitu dingin dan cuek bahkan sedikit kasar pada istrinya. Bukan berarti dia orang yang akan menjelekkan orang hanya karena tidak suka. Lagipula masakan istrinya memang enak. Jadi dia merasa tidak perlu menyembunyikan fakta itu dari orang lain
" Ck... mau pamer? mentang mentang ada istri yang ngeladenin. "
Sebenarnya William sedikit iri dengan nasib baik Araya yang mendapatkan istri yang pandai memasak dan tidak seperti gadis lain yang suka hura-hura dan berdandan seksi diluaran sana. Tapi tidak bisa dipungkiri laki-laki paati menginginkan fisik yang cantik dan sempurna. Salahnya, Sofia teramat jauh dari kata cantik dan akan membuatnya malu jika berdekatan dengan gadis itu.
" Ikut ke pertandingan yuk bro. Hari ini ratu ring ku bertanding. Jarang jarang liat dia diatas ring. Hmm apa aku perlu memberikan hadiah? "
Ajaknya dengan mata yang berbinar.Dan kemudian tampak William sedikit berfikir.
Sejenak Araya menimbang nimbang, haruskah ia pergi juga? Namun saat mengingat apa yang dilihatnya di cafe tadi membuatnya menatap geram lasagna dihadapanya. Iapun menusuk nusuk makanan itu dengan garpunya dan memasukkanya kedalam mulut Kemudian mengunyahnya dengan kasar.
Benar-benar membuatnya emosi.
Kenapa sih ini orang? Jangan jangan dia punya jiwa psycho yang terpendam lagi... sereeemmm ...
William bergidik ngeri membayangkan apa yang ada dipikiranya.
" Ok... "
" Hah??? Ok??? "
William sedikit tak percaya.
Tanpa banyak bicara, Araya menghabiskan lasagna itu dan langsung memasukkan kotak bekal itu kedalam paperbag dan membawanya setelah membersihkan meja kerjanya.
Tumben banget ini orang mau diajak liat pertandingan?
William heran mengapa dengan mudahnya sahabatnya itu mau ikut denganya tanpa banyak bujuk rayu. Apalagi ini pertama kalinya Araya mau diajak melihat pertarungan diatas ring walaupun sudah berkali-kali William mengajaknya, Araya selalu saja menolak. Bahkan tadinya dia hanya iseng saja mengajak Araya. Tidak tahunya malah disetujui dengan mudah.
****
Dengan pandangan kosong, Bella melilitkan hand wrap ditangan kirinya. Tidak fokus, beberapa kali kain itu hanya bolak balik mampir ditelapak tangan gadis itu. Terpasang, terlepas lagi, begitu berkali-kali.
Melihat tingkah mengenaskan Bella tanpa mengetahui apa yang membuat ratu ring mereka berbuat demikian, mereka hanya mampu menghela nafas, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
" Ada apa sebenarnya? "
Samuel yang datang terburu-buru sambil berlari setelah mendapatkan kabar dari salah satu anak didiknya soal keadaan Bella tak mampu mengendalikan nafasnya yang memburu.
Beberapa yang disana hanya menjawab dengan mengarahkan telunjuk mereka pada tempat dimana Bella tengah melamun seolah kehilangan separuh nyawanya.
" Bella? sayang kamu kenapa? "
Perlahan Samuel mendekat kearah dimana Bella berada.
Tak menjawab, terlalu hanyut dalam lamunanya, bahkan sama sekali tak menghiraukan sekitarnya.
" Bella... Ada aku disini. Kamu kenapa? apa ada yang menjahatimu? "
Meski Mereka semua sadar, sosok Bella yang kuat secara fisik maupun menral tak akan dapat diganggu orang lain. Namun tetap saja dia seorang gadis yang berperasaan lembut pada suatu titik tertentu.
Sontak Bella kaget merasakan sebuah lengan besar menyentuh pundaknya. Iapun berbalik, mendapati siapa yang melakukan itu, ia langsung menghambur kepelukan Samuel dan menangis kencang seperti gadis pada umumnya.
" Huaaaa... Sam... Abang ganteng kecelakaan. "
Mendengar penuturan sahabatnya, Samuel terkejut, paham dengan siapa yang dimaksud sahabatnya itu.Iapun berusaha memberi ketenangan dengan membelai lembut kepala Bella.
" Coba ceritakan... "
Sungguh Samuel ingin sekali tahu cerita detailnya. Menurut pengalaman, Bella menjadi sangat sensitif dan berlebihan kepada orang-orang yang disayanginya. Contohnya saja saat eyang terpeleset di kamar mandi. Bella menangia hiateris melihat gigi eyangnya copot dan mengeluarkan darah. Konyolnya, Bella berfikir itu berakibat fatal bagi kondisi kesehatan sang eyang. Padahal yang copot dari mulut eyangnya hanyalah gigi palsu yang sudah harus diganti dengan yang baru.
Itulah mengapa sebelum mengetahui kebenaran Samuel selalu mengecek dan mencari tahu terlebih dahulu sebelum harus menahan kesal dari rasa khawatir Bella yang kadang tidak masuk akal.
" Itu Gusti bilang dia hampir keserempet mobil pas nyebrang jalan. Karena fokus sama ponselnya dia nggak liat kalau lampu lalulintas sudah jadi merah lagi. Saat menghindari mobil itu dia terpeleset kulit pisang yang dibuang sembarangan terus terjengkang ke belakang dan nyium trotoar. Katanya tadi kepalanya bocor tanganya diperban. mukanya lecet lecet hix hix hix... "
Pfffttt...
Samuel melipat kedua bibirnya menahan tawa setelah mendengar cerita Bella.
" Huaaa... aku mau jengukin dia... "
Bella masih terisak didalam pelukan Samuel. Sedangkan laki-laki itu masih mengelus pelan punggung gadis itu menenangkan sambil menahan tawanya.
" Menurut cerita yang aku dengar dia nggak akan parah. Lagian main hp tengah jalan. "
" Sam...!! itu tu salah kulit pisangnya yang gak tahu tempatnya dimana! "
Bentak Bella membela orang yang saat ini memenuhi pikiranya.
" Iya iya... salah kulit pisangnya. "
Beginilah Bella. Samuel tahu betul, Bella ini memang unique. Gadis yang kadang sangat dewasa dan pengertian, baik dan cantik. Tapi kadang menjadi aneh dengan sikap sensitif dan manjanya. Meskipun begitu, Samuel bersyukur karena hanya dia dan keluarganya saja yang bisa melihat sisi lain Bella.
" Udah dong nangisnya. Bentar lagi kan naik ring. Jangan sampe nanti kalah dan bikin pamor ratu kita turun. "
" Huh... jangan harap! "
Setelah drama menye itu Samuel segera membantu Bella merapikan hand wrap ditangan Bella. Dan membantu gadis itu memakai sarung tinju dan pelindung kepala.
Dan tibalah saatnya Bella naik keatas ring untuk bertarung dengan lawanya yang merupakan seorang laki-laki. Meskipun begitu, Bella sama sekali tak gentar. Karena diatas ring yang dikelilingi banyak pasang mata itu telah mengakui keganasan Bella dalam mengalahkan setiap lawanya. Tak peduli itu pria maupun wanita.
Pertandingan itu mengundang banyak suara dan sorakan para penonton saat Bella naik keatas ring. Dengan pakaian yang memperlihatkan bahu dan sesikit perut sixpacknya, Bella menyapa para penonton sekaligua pendukungnya dengan menaikkan satu tanganya keatas. Dan kemudian menarik kedua tanganya keataa kepala kemudian membuat tanda love dengan kedua tanganya itu. Sontak kelakuan Bella membuat para fans Bella berteriak senang dan berkali-kali menyebutkan nama Bella si ratu ring sebagai yel yel mereka.
Dan akhirnya pertandingan benar-benar dimulai. Kali ini lawan Bella cukup tangguh. Bella cukup kesulitan merobohkan tubuh lawanya. Bahkan Bella sempat terkena dua kali pukulan di pipi dan perutnya.
Para fans Bella tak henti-hentinya memberi dukungan dengan lebih keras lagi meneriakkan yelyel mereka. Sampai akhirnya, setelah mendapatkan serangan beberapa kali, Bella keluar sebagai pemenang.
" Bella... my queen... i love you...!!! "
William menarik kedua tanganya keatas kepala hingga membentuk love disana. Sebagaimana yang dilakukan idolnya dari atas ring beberapa saat lalu.
Araya yang melihat kelakuan tak berkelas sahabatnya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Tidak menyangka Lelaki playboy disampingnya itu juga termasuk fans garis keras dari wanita petarung itu.
Tapi Araya mengakui cukup terhibur dan senang dengan pertandingan tadi. Merasa bahwa wanita diatas ring yang bertubuh lebih kecil dari lawanya itu memang tangguh. Bahkan tanpa sadar iapun bertepuk tangan atas kemenangan dari wanita itu.
" Bro... temenin aku nemuin ratu ku yuk... "
William sudah bersiap menyeret Araya menuju suatu tempat entah dimana.
Araya yang belum sempat menolak sudah terseret mengikuti langkah sahabatnya yang sedang dimabuk asmara pada idolanya. Beserta sebuah buket bunga mawar merah William melangkah dengan pasti disertai senyumanya yang begitu lebar memancarkan kebahagiaan yang begitu besar.
Araya terpaksa terus mengikuti langkah William tanpa tahu kemana arah tunuan mereka. Ia hanya mengekor dibelakan tanpa suara.
Tok tok tok...
Tak menunggu lama, pintu terbuka lebar dan memperlihatkan seorang pria yang tidak mereka kenali.
" Siapa Sam? "
Sebuah suara yang manis ditelinga William terdengar dari dalam ruangan.
Bellapun segera menghampiri Samuel yang masih diam mematung bertanya-tanya siapakah orang-orang ini? dan mau apa mereka?
Melihat Bella dengan pakaian yang menempel ketat dan basah penuh keringat membuat William bahkan Araya terpana. Pemandangan yang sangat indah seperti sesuatu yang sangat bercahaya menyilaukan mata. Mereka terpana sampai mulut mereka menganga tanpa sadar.
Samuel yang sadar bahwa kedua orang itu pasti fans Bella segera mengambil badan dihadapan Bella untuk menghalangi pandangan dua pasang mata yang liar itu.
Seolah tak rela dengan pemandangan indah yang tertutup awan hitam, keduanya sampai berjinjit untuk mencari celah agar pemandangan indah tadi terlihat kembali dan memanjakan mata mereka.
Samuel sendiri menggerakkan badanya sesuai dengan arah gerak kedua orang dihadapanya untuk menghalangi sesuatu yang dicari mereka.
Samuel sangat kesal dan ingin sekali rasanya dia colok kedua pasang mata yang menatap lapar pada sahabatnya itu.
Sedangkan Bella yang sudah begitu kenal dengan dua orang dihadapanya itu sedikit tersentak karena tidak menyangka akan bertemu dengan mereka ditempat itu. Ah lebih tepatnya, kedua orang itu datang untuk menghampirinya.
" Ekhm...! "
Samuel berdehem untuk menyadarkan dua orang bodoh dihadapanya.
" Kalian siapa dan mau apa? "
Tanyanya dengan melipat kedua tanganya didada.
Sadar dengan kelakuanya, Araya segera menghentikan usahanya mencari keberadaan pemandangan indah dihadapanya tadi.
Sedangkan William tersipu malu.
" Mmm... saya fans beratnya Bella. Saya kesini mau kasih bunga ini. "
Dengan kening berkerut dan penuh tanya Samuel menatap tajam William yang saat ini terlihat sangat bodoh dengan tersipu-sipu memegang buket bunga mawar ditanganya.
Samuel memicingkan matanya meneliti orang-orang dihadapanya. Kemudian memutar badanya menatap kearah Bella tanpa membawa serta putaran kakinya.
Bella yang mendapatkan tatapan menelisik dari sahabtnya hanya mengangkat kedua tangan dengan sikap santainya memainkan sedikit bibirnya seolah mengatakan ' mana kutahu? '
Samuel segera menyingkir dari hadapan Araya dan William.Membiarkan saja kedua orang itu berinteraksi dengan Bella sebagai idola dan fansnya. Senyum cerah memenuhi wajah William yang teramat senang. Iapun mengulurkan tanganya dan menyerahkan buket bunga ditanganya kepada pujaan hatinya.
" Terimakasih... "
Ucap Bella sambil mengambil alih buket mawar dari tangan William.
Sedangkan Araya menatap Samuel dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Entah apa yang saat ini ada didalam benaknya.
Dan Samuel sendiri tidak tahu jika dirinya tengah diperhatikan oleh Araya, karena dia terlalu fokus mengawasi interaksi antara William dengan Bella.
" Mmm... anu... itu... apa... "
" Anu itu ini apaan sih "
Geram Samuel dengan sikap William yang menyebalkan baginya. Entah mengapa, ia sangat tidak suka pria manapun menatap penuh keinginan terhadap sahabat katibnya itu. Seseorang yang sangat sangat berharga baginya.
" Itu... bolehkah saya berfoto sama Bella. Saya sangat ngefans sama Bella. "
Samuel dan Bella saling melempar pandang. Dan sikap mereka berdua itu tak lepas dari pengamatan Araya.
Samuel mengangguk.
" Ok... "
Dan setelahnya Bella menyetujui.
" Tolong ambil foto kami ya. thanks. "
William segera menarik Araya untuk segera mengambil posisi. Araya berada dikanan Bella dan William berada disebelah kirinya.
Dengan pedenya William menyerahkan ponselnya pada Samuel. Meminta lelaki itu mengambil beberqpa kali foto mereka bertiga.