Another me

Another me
Bertengkar



Araya sampai di kantornya yang sudah sepi. Kemudian duduk bersandar disofa berwarna navy diruanganya. Perasaanya kacau, memikirkan tentang hubunganya dengan kekasih hatinya. Juga tentang perasaan kedua orangtuanya.


Teringat kembali tatapan mata dari wanita paruh baya yang berada dijangkauan yang cukup dekat dari tempat ia dan kekasihnya tadi saat berada di dalam toko pakaian dalam wanita. Tatapan tak terbaca entah apa yang dipikirkan wanita paruh baya yang mengandungnya selama sembilan bulan serta melahirkanya itu.


Yang jelas ada raut kecewa dibalik wajah sedikit keriput namun tetap ayunya itu. Araya tahu ia melakukan kesalahan. Ia tahu ia mengecewakan ibunya. Tapi ia sendiri tidak mampu memberikan penegasan.


Sungguh ia pun tak ingin berada dalam situasi serendah itu. Dimana ia menikahi perempuan hanya untuk diceraikan olehnya. Tetap menjalin hubungan dengan wanita yang menjadi kekasihnya selama beberapa tahun terakhir. Tanpa memutuskan hubungan tersebut saat dirinya telah berstatus suami orang.


" Brengsek...!!! "


Umpatnya kasar sambil mengacak rambutnya .


frustasi.


Saat ini ia meluruhkan seluruh tubuhnya kekursi kerjanya. Seolah berharap kursi itu merenggutnya, menarik dan menenggelamkan dirinya tanpa sisa.


Perlahan matanya terbuka setelah beberapa saat lalu tertutup rapat. Pandanganya kosong pada langit-langit ruangan tersebut.


Sengguh sesal menghampirinya saat ini.


" Apa yang harus aku lakukan? "


Pandanganya meremang kemudian muncul dua wajah dihadapanya.


Ayah dan ibunya.


Tidak... Ia tidak menyesal dilahirkan kedunia namun kemudian harus menanggung kemalangan dari dirinya. Tapi penyesalan karena mungkin selamanya ia takkan memiliki kesempatan untuk membahagiakan mereka berdua. Adalah merupakan hal terburuk dalam hidupnya.


Sungguh jika bukan karena kedua orangtuanya ia benar-benar ingin segera mengakhiri hidupnya yang menyedihkan itu.


Tentang Mila, Hatinya hanya untuk kekasihnya itu. Namun keadaanlah yang tak membiarkannya mampu untuk memberikan sebuah pernikahan pada gadisnya itu.


Pernikahan hanya akan membuat hidup kekasihnya menjadi sangat menyedihkan. Dan ia tak ingin itu semua terjadi.


" Tuhan... apa yang harus dilakukan lelaki yang menyedihkan ini... "


Lirihnya dalam duka nestapa.


Tak lama kemudian Araya bangkit dari duduknya. Melangkah menuju meja kerjanya untuk mengambil tas kerjanya dan segera pulang ke apartemennya.


Tiba-tiba matanya menangkap sebuah benda kotak yang terbuat dari kaca yang tadi pagi dibawanya. Entah mengapa hatinya sesak mengingat seenak apa makanan itu. Salad buatan istrinya yang telah memanjakan mulutnya tadi pagi. Dan kini salad itu basi dan menjadi siasia tanpa disentuhnya.


Kembali, saat ini, ia merasa menjadi salah satu elaki pecundang didunia ini. Lelaki kotor karena berselingkuh dibelakang istrinya. Meski ia sendiri mengetahui perasaan istrinya yang sama-sama tak mencintainya. Bahkan bersekongkol untuk menipu keluarga mereka berdua. Namun tetap saja perselingkuhan adalah kal kotor dalam sebuah pernikahan. Dan ia selaku sadar akan hal itu, meski belum mampu menghindarinya.


" Ya Tuhan... Kau tahu aku selalu memimpikan menikahi wanita sebaik ibuku. Kau memberikanya, tapi mengapa hatiku Kau ikat dengan wanita yang lainya. Yang tak bisa aku nikahi demi tak menyakitinya. Sekarang apa yang harus aku lakukan Tuhan?"


Araya kembali berkata lirih pada dirinya sendiri. Mengusap wajahnya dengan kasar merasa kembali frustasi.


Dengan ataupun tanpa kehadiran Sofia, Ia memang berencana melepaskan Mila agar bahagia dan hidup secara normal dengan menikahi lelaki normal diluaran sana. Lelaki yang bisa membahagiakanya secara lahir maupun batin. Tapi jujur bukan saat ini. Ia merasa akan mati saat itu juga jika kehilangan kekasih hatinya itu.


****


Bib...


Suara pintu apartemen terbuka.


Gelap...


Hanya itu yang menyambut kedatangan Araya.


Dimana ayam kampung itu? Tidak biasanya lampu dalam keadaan mati.


Araya memasuki apartemen sambil merabakan jemarinya ke dinding untuk mencari tombol saklar guna menyalakan lampu utama.


Setelah lampu menyala, Mengedarkan pandanganya keseluruh ruangan. Hingga berhenti pada satu titik.


Kamar milik Sofia... istrinya.


Tanpa sadar kakinya melangkah membawanya lebih dekat dengan ruangan tersebut. Pintu kamar Sofia sedikit terbuka dan hanya memperlihatkan kegelapan disana.


Gelap sama seperti pertamakali ia masuk ke apartemennya tadi.


Apa dia belum pulang? Kemana sebenarnya si culun?


Langkah kaki Araya kembali menyeretnya, dan kini telah masuk kedalam kamar Sofia. Meraba dinding mencari saklar lampu seperti yang ia lakukan tadi ketika memasuki apartemenya yang gelap gulita.


Lampu menyala terang menerangi seluruh sudut ruangan yang tak terlalu besar itu.


Araya mengedarkan pandangannya keseluruh kamar istri kontraknya. Semua tertata rapi, kecuali satu tempat, Sofa kamar itu. Ada beberapa buku yang diletakkan disembarang tempat. Ada yang di bawah meja, diatas meja, ada juga yang diatas sofa. Tidak hanya buku, disana juga terdapat satu buah laptop yang dibiarkan dalam posisi terbuka meski sudah dimatikan. Beberapa ballpoint juga pensil yang tergeletak sembarangan diatas meja. Buku notes berbentuk love berwarna-warni juga ada. Namun pandangan mata Araya berhenti pada sesuatu disana.


Pewarna rambut instant?


Araya mengernyit melihat ada benda itu di tempat Sofia. Untuk apa pewarna rambut itu?


Softlens?


Dan bukankah istrinya itu sudah menggunakan kacamata yang cukup besar dan juga cukup tebal? Meski ia tak cukup memperhatikan setebal apa kacamata itu, karena ketidak tertariknya pada gadis yang telah dinikahinya. Lalu untuk apa juga ada oftlens disitu?


Ah tapi bisa saja dipakai saat ia pergi keluar tanpa ingin mengenakan kacamatanya. Bisa jadi...


Arayapun mengalihkan pandanganya kesebuah rak buku yang entah darimana asalnya bisa berada didalam kamar Sofia. Seingatnya, ia tak pernah membeli benda seperti itu. Araya mendekati rak buku itu. Melihat-lihat ingin tahu buku macam apa yang dibaca gadis nerd seperti Sofia. Ada satu buku yang menyita perhatianya.


" Buku ini? Sepertinya aku kenal... "


Araya hanya sekilas melihat sampul buku itu tanpa melihat penuh covernya. Namun ia sudah merasa tidak asing dengan buku itu. Setelah buku itu berada penuh ditanganya barulah ia paham mengapa buku itu terasa tidak asing. Buku bercover belati penuh merah darah dan juga gadis remaja berwajah Asia.


Ya Araya pernah membaca buku itu.


" Ternyata dia juga membaca yang biginian? "


Araya tersenyum sendiri membayangkan gadis culun macam Sofia membaca buku fiksi dengan adegan penuh kekerasan dan darah disana.


Namun saat ia akan meletakkan kembali buku itu. Ia baru sadar bahwa beberapa buku lain disana memiliki nama penulis yang sama.


Queen B...


Araya menautkan kembali alis tebalnya. Meraih satu persatu novel karangan penulis yang tidak diketahui identitasnya oleh publik itu. Setelah ia perhatikan, koleksi novel karangan Queen B yang dimiliki Sofia sangat lengkap. Dari novel karya pertama sampai yang terbarupun ia telah memilikinya.


Araya kembali meletakkan buku-buku itu ketempat semula. Belum hilang rasa penasarannya ia kembali diherankan dengan keberadaan buku lain seperti buku tentang penjelasan penyakit kejiwaan. Ada juga buku tentang anatomi tubuh manusia. Beberapa diantaranya ada kliping berita tentang pembunuhan dan buku yang menjelaskan tentang para psikopat. Ia hanya menebaknya dari judul buku itu sebenarnya. Namun sudah dapat ia bayangkan isinya. Dan di rak itu masih banyak buku-buku yang menurut Araya bertolak belakang dengan kepribadian Sofia yang geeky.


" Apa yang ada di dalam kepala si ayam kampung itu sampai memiliki buku-buku dan koleksi mengerikan ini? "


" Apa yang sedang kau lakukan di kamar ku? "


Suara itu mengagetkan Araya. Tanpa sadar ia menjatuhkan kliping berita tentang pembunuhan beberapa tahun yang lalu di pulau dewata. Korbanya adalah seorang siswi SMA.


Araya masih mematung karena rasa kagetnya atas kedatangan Sofia yang tiba-tiba itu.


Sedangkan Sofia sendiri telah berada didepan Araya menundukkan diri meraih kliping berita yang dijatuhkan Araya tadi.


" Aku tanya... Sedang apa kau di kamarku tuan Araya? "


Sofia sengaja memberikan penekan pada kata tuan untuk menegaskan ketidak sukaanya pada sikap lancang Araya.


Araya segera tersadar dan merasa sedikit canggung seolah tertangkap basah sebagai pencuri di rumah orang lain. Tapi kemudian ia kembali merasa kesal. Bukankah Sofia yang menumpang dirumahnya? Lalu mengapa seolah ia sangat lancang memasuki area apartemennya sendiri?


" Darimana saja kamu? Apa kamu tidak punya sopan santun sampai pulang selarut ini? Apa kau lupa kau sudah bersuami sekarang? "


Bukanya menjawab Sofia, Araya justru menanyakan keterlambatan Sofia sampai di tempat tinggal mereka. Kini ia mulai meyakinkan diri bahwa apa yang dilakukanya tadi adalah hal yang wajar mengingat apartemen itu adalah miliknya. Apalagi sekarang Sofia adalah istrinya. Jadi tidak ada yang salah jika ia masuk ke kamar wanita yang telah dinikahinya. Atau juga menyentuh barang milik wanita itu. Bahkan seharusnya ia berhak untuk menyentuh bahkan tubuhnya, andai tidak ada perjanjian konyol soal aturan fisik yang ia buat sendiri. Ah ia mulai menyesali kenapa harus membuat aturan itu. Hingga ia tak leluasa memberi pelajaran pada istrinya ataupun sekedar menggoda gadis kampung dihadapanya itu.


Sofia merasa kesal bukankah seharusnya dia yang marah karena kelancangan Araya memasuki kamarnya? Malah ia sendiri yang kena semprot atas kepulanganya dijam yang cukup malam bagi perempuan. Apalagi mengingat hal apa yang membuatnya harus terlambat pulang. Ia sangat kesal sampai bernafsu menghancurkan ligamen seseorang saat itu juga.


" Jawab Sofia...! "


Nada suara Araya meninggi karena Sofia tak kunjung memberikan jawaban atas pertanyaan yang Araya berikan padanya.


" Aku tadi keliling cari kerja... "


Sofia mengalah, lagipula membahas tentang ketidak sopanan Araya yang memasuki kamarnya akan merambah ke pertanyaan lain yang dapat menimbulkan asumsi negatif dari Araya. Apalagi tadi dia juga sudah lihat sendiri buku yang dipegang Araya. Kliping pembunuhan delapan tahun silam.


Sofia meletakkan kembali kliping yang dipegangnya. Merapikan buku-buku yang sedikit berantakan setelah dipegang pegang oleh Araya. Sofia yakin Araya pasti sudah melihat buku-buku itu. Mengambil membaca judul dan mengembalikanya dengan ogah-ogahan sehingga kurang rapi...


" Cari kerja di antartika? Sampai pulang selarut ini? Lagipula sudah kubilang aku akan memberimu uang sebagai tabungan dan kamu tidak perlu bekerja lagi. "


Ya Araya mengira bahwa Sofia pergi mencari kerja seperti yang ia utarakan beberapa saat lalu.


Ck...


Sofia berdecak kesal atas perkataan Araya. Bukan... Bukan soal cari kerja ke antartika seperti yang dikatakanya tadi, bukan juga soal uang kompensasi yang diberikan padanya. Tapi soal tak memperbolehkanya bekerja. Itu hal yang menjengkelkan. Ketika ia tak memiliki waktu keluar rumah dengan alasan lain selain belanja kebutuhan sehari-hari. Sungguh ia akan mati kebosanan jika harus terkurung seharian di dalam apartemen Araya.


Pada dasarnya alasanya mencari kerja memang hanya alasan spontan saja. Karna ia hanya ingin memiliki banyak waktu untuk pergi keluar dengan banyak urusanya yang tidak diketahui orang lain selain orang-orang terdekatnya. Atau juga mengurung diri di apartemen miliknya sendiri menyusun kata dan kalimat untuk membuat novel baru.


Tanpa alibi bekerja semua kegiatannya akan berhenti total. Dan itu tidak boleh terjadi karena tujuan hidupnya mengharuskanya banyak mengamati orang-orang diluaran sana. Mencari sampai dapat apa yang harus ditemukanya.


" Aku hanya butuh udara segar diluaran sana... Agar aku tidak mati bosan didalam apartemenmu ini. Tenang saja, aku akan tetap berperan menjadi menantu yang baik untuk keluargamu. "


" Memangnya apa yang bisa kamu lakukan? Menjaga toko buku? "


Tutur Araya dengan nada mengejek. Araya tahu selama lulus kulyah kegiatan Sofia hanya mengurus toko buku milik keluarganya. Ya setidaknya informasi itulah yang ia dapat dari cerita keluarganya.


" Aku sedang mencari yang seperti itu... "


Jawab Sofia santai.


" Apa kau benar-benar butuh pekerjaan ? Aku bisa memberikanmu pekerjaan di tempatku... "


"Tidak...! "


Sergah Sofia. Yang benar saja? Bersama dengan Araya hanya dalam beberapa jam saat bertemu dipagi hari dan malam hari saja sudah membuatnya tersiksa. Apalagi harus bekerja ditempatnya. Tidak akan pernah...


" Kenapa? "


Sofia memutar otak mencari alasan yang tepat agar Araya dengan mudah menyetujui keinginannya untuk bekerja namun juga tak membuatnya bekerja di perusahaan suaminya itu.


" Kau tahu apa lulusanku? Aku kulyah di jurusan apa? "


" Apa itu penting bagiku?


Araya balik bertanya.


" Memang tidak perlu kamu tahu... Tapi aku perlu memberikan informasi padamu. Bahwa aku ini lulusan sastra Indonesia merangkap sastra Cina. Aku mengambil dua fakultas sekaligus. Jadi yaaa sudah sewajarnya hidupku berkutat dengan apa yang dinamakan buku. "


Araya memandang Sofia tanpa ekspresi. Lalu haruskah dia bilang "wow harusnya kamu menjadi seorang sastrawan."


" Jadi... Hanya untuk menjadi pelayan ditoko buku kamu repot-repot mengambil dua jurusan sekaligus? menggelikan. "


Ucap Araya dengan nada mengejek lagi.


Sofia mulai jengah. Ia sungguh merasa sebal dengan pertengkaran tak berbobot seperti ini. Hal remeh temeh yang seharusnya tak perlu diperdebatkan.


" Mau bagaimana lagi tuan Araya yang jenius... Aku memang sebodoh itu. Jika aku pintar, mungkin aku akan menggunakan kepintaranku untuk meraih semua yang aku mau, menjadi kaya misalnya, dengan uang aku bisa menghancurkan siapapun yang menusuku dari belakang. bukankah begitu tuan?"


Araya tercenang dengan apa yang baru saja didengarnya. Entah bagaimana, tapi ia merasa sesuatu menusuk nusuk dadanya hanya karena perkataan itu.


Sofia, dengan senyum dan pandangan misteriusnya, kemudian berlalu dari hadapan Araya. Namun baru beberapa langkah ia berhenti dan kembali berkata.


" Oh maaf tuan... Ini sudah sangat larut. Tidak baik bagi dua orang dewasa untuk berada didalam ruangan yang sama tanpa ikatan yang baik. Dan anda bisa lihat kan dimana arah pintunya? Terimakasih karena anda akan menutup pintunya.... Tuan. "


Sofiapun kini benar-benar berlalu dari hadapan Araya dan menuju kekamar mandi ruangan itu. Setelah melontarkan kalimat dengan akhiran kata tuan yang ditekankanya.


Sedangkan Araya, Ia masih berdiri disana menatap punggung Sofia hingga tak terlihat lagi sosoknya yang menghilang dibalik pintu.


" Sialan... Gadis kampungan yang terlalu lancang! "


Araya mengumpat karena mulut gadis yang sangat kampungan dan ketinggalan jaman itu ternyata sangat tajam. Ia berjalan cepat menuju pintu dan keluar dari sana, kemudian membanting keras pintu itu saat menutupnya. Ia mengepalkan tanganya menahan amarah.


Bagaimana bisa mulut sekecil itu sangat lihai dalam bermain kata? Brengsek... !


****


Sofia memejamkan matanya berusaha meredam gemuruh didadanya. Mendengar suara bantingan dari pintu kamarnya ia dapat memastikan bahwa partner tiputipunya itu sudah pergi meninggalkan kamarnya.


Dan akhirnya iapun luruh kelantai dingin kamar mandi itu. Menangis sejadi-jadinya.


Tidak... Bukan karena perdebatan sesaat lalu yang membuatnya begitu. Namun bayangan bayangan kelam setelah melihat foto korban dari kliping berita pembunuhan yang ia pungut dari lantai setelah suami bohonganya itu menjatuhkanya. Menyesal atas apa yng terjadi. Menyesal karena terjebak dalam pernikahan menggelikan yang menyulitkanya bergerak untuk mencari informasi.


" Pria brengsek!! Akan aku pastikan kalian hancur jika sampai kalian menyulitkanku."


Kemudian dipelupuk matanya terbayang kembali kemesraan Araya bersama kekasihnya yang bernama Mila saat memilih pakaian dalam bahkan lingerie menjijikkan di mall tadi. Ia berjanji akan benar-benar membuat perhitungan jika kedua pasangan selingkuh itu menyulitkan pergerakanya.