
Seorang gadis cantik terpaku memandangi pantulan dirinya sendiri di cermin. Tak percaya dengan apa yang ada di hadapanya. Kebaya berwarna putih tulang membalut manis tubuh rampingnya. Rambut sanggul jawa sepaket dengan tusuk pentul dan rangkaian bunga melati menghiasi. Giwang kalung dan gelang melengkapi. Tak lupa paesan yang terukir di dahi indah menambah aura keanggunan sang calon pengantin.
"Apa itu benar aku?"
Tanyanya pada diri sendiri.
"Anggun... "
Pujinya lagi pada dirinya sendiri.
Ia masih terus menekuni sosok anggun dari pantulan cermin yang cukup besar diruang kamarnya yang kini telah berubah menjadi ruang rias sementara.
"Nduuuk...? Sudah siap nduk? Keluarlah nduk... Sudah di tunggu"
Suara itu tak sedikitpun mengusik apalagi membuyarkan lamunanya. Setia menatap cermin masih tak percaya dengan apa yang telah ia alami. Sesuatu yang tiba-tiba datang dan akan mengubah segalanya. Semua hal dalam hidupnya.
"Apa ini benar?"
"Nduuk... Ibuk masuk ya nduuk...?"
Gadis itu menoleh pada pintu yang kini perlahan terbuka. Memperlihatkan seorang wanita paruh baya namun masih terlihat sangat anggun dan cantik memasuki ruangan dimana dia berada.
"Nduk... Ayo keluar... Semua orang sudah menunggu. "
"Buk... Apa aku benar-benar akan menjadi seorang istri?"
Pertanyaan retoris lolos dari bibirnya. Sekali lagi ia menatap pada pantulan dirinya dari cermin besar dihadapanya. Namun tatapan itu kini bukan lagi tatapan terpana akan kecantikanya, melainkan tatapan sayu penanda sebuah kepedihan ia sembunyikan. Menggigit bibir bawahnya yang mulai bergetar.
Kalau boleh jujur, sesungguhnya ia belum siap. Belum siap menjadi seorang istri, belum pula siap mengarungi bahtera rumah tangga. Semua terlalu cepat mendatanginya.
Sambil mengusap lembut punggung putrinya, wanita itu tersenyum berusaha menenangkan. Ya... Wanita paruh baya itu adalah wanita yang melahirkannya, ibunya.
"Setiap perempuan akan menikah, mengabdi pada suami dan melahirkan anak nduuk... "
Jelasnya dengan lembut.
Benar dengan apa yang ibunya sampaikan. Tapi ini berbeda, dimana ia menikah tanpa perasaan cinta. Pernikahan yang diatur kedua keluarga yang hanya memberikan waktu untuk mempersiapkan diri bahkan hanya satu bulan saja.
Ia sadar bahwa apa yang menjadi putusan keluarga adalah hal yang terbaik untuknya. Keluarganya begitu sangat menyayanginya dengan sepenuh hati.
Namun ia kini merasa berdosa. Pada bapak dan ibuknya, pada kedua kakaknya, juga kakek nenek yang menjadikan dirinya segala-galanya.
Ia memejamkan mata meresapi kekalutan dalam dirinya. Menahan airmata yang telah ia bendung sedari tadi. Airmata penyesalan yang tak berani ia keluarkan atas kebohongan yang ia lakukan.
Maafkan aku eyang... Maafkan aku bapak, ibu, maaf mas... Maaf mengecewakan kalian. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Maafkan aku...
"Dan lihatlah betapa cantiknya anak kesayangan ibuk... "
Si ibu menambahkan pujian. Dan si gadis mengikuti untuk memperhatikan cermin sebagaimana ibunya.
"Apa ini tidak berlebihan buk? Mmm maksudku riasanya...? "
Ia masih belum yakin dengan riasan pengantin yang ada pada dirinya saat ini. Ia sadar betapa cantik dirinya, tapi justru itulah yang menjadi alasan ia terus berusaha untuk menyembunyikan diri dari orang lain selain keluarganya.
"Dengar ratu kami yang cantik... Kamu sangat cantik dan anggun sayang... Kamu cantik sebagaimana dirimu apa adanya. Kamu ratu di rumah ini... Ratu yang paling cantik dan agung"
"Ssstt... Semua akan baik-baik saja nak... Pernikahan adalah hal yang sakral. Tidak hanya menyatukan dua jiwa tapi juga dua keluarga. Maka dari itu ibu ingin kamu memulainya dengan kejujuran. Maksud ibu...
Setidaknya di hari pernikahanmu ini, Ibu ingin melihatmu menjadi dirimu yang sesungguhnya dalam acara sakral ini nak...berjanjilah suatu hari kamu kembali menjadi anak ibu yang cantik jelita. Menjadi ratu di rumah kita."
Maafkan anakmu ibu... Anakmu yang durhaka ini...
Ia tak mampu menolak keinginan ibunya dan seluruh keluarganya untuk menikah. Namun juga sadar betul kesalahan yang ia perbuat. Tapi kini tidak ada lagi jalan untuk kembali. Yang ada hanya jalan menuju kedepan, meski dipenuhi dengan begitu banyak kepalsuan.
Dan keinginan sang ibu yang meminta suatu hari nanti kembali menjadi ratu dirumah mereka, Kembali menjadi dirinya yang sebenar-benarnya, iapun belum tahu dapatkah ia mewujudkan impian ibunya juga keluarga. Entahlah ia hanya mampu berharap tidak mengecewakan keluarga lebih dalam lagi lebih jauh lagi.
Tak terasa waktu bergulir dengan begitu cepat.
Prosesi pernikahan berjalan dengan baik dan lancar. Memang tidak meriah ataupun mewah, karena pernikahan ini hanya melibatkan kedua keluarga besar dari kedua mempelai saja. Selesai menjamu para tamu yang semuanya adalah kerabat dekat kini tinggallah dua keluarga inti saja. Berkumpul dan berbincang tentang banyak hal secara random. Mereka semua berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati hidangan beberapa kue dan cemilan.
"Ngomong-ngomong pengantin kita cantik sekali yaaa dengan riasan pengantinya yang unik ini... "
Rosa, sang ibu mertua menatap lembut sembari mengelus punggung tangan mempelai wanita.
"Benar sekali ma... Mantu kita memang benar-benar sangat cantik. Beruntung sekali putra semata wayang kita ini. "
Papa mertua pun sangat setuju dengan apa yang dinyatakan oleh istrinya tadi. Karena hari ini pengantin wanita benar-benar seperti ratu.
"Kamu juga sadar kan betapa cantiknya dirimu nak? "
"Ahh... Iya tante... "
Jawab si gadis grogi. Mendapat tatapan penuh kasih sayang itu ia merasa sedikit bersalah.
"Eiitt... Kok tante siih? Mama dooong. Sekarang kan kamu sudah jadi bagian dari keluarga kami. Jadi panggilnya mama ya... Tapi apakah ini riasan pengantin modern jaman sekarang ya? Unik sekali"
Timpal mertuanya lagi. Mendengar ucapan sang mama pengantin pria yang daritadi tidak memperhatikan perempuan yang kini telah resmi menjadi istrinya itu spontan ikut mengamati istrinya.
Daritadi aku tidak memperhatikan dia. Baru sadar kalau riasannya memang unik dan... membuatnya sangat berbeda. Seolah bukan perempuan yang satu bulan yang lalu diperkenalkan sebagai calon istriku.
"Benarkan nak? Kamu juga melihat betapa cantiknya isterimu ini"
Perkataan itu membuyarkan lamunan mempelai pria yang juga membuatnya gelagapan karena tertangkap basah menekuni wajah istrinya.
"Ekhm... "
Sang suami hanya mengangguk dan berdeham tanda setuju dengan ucapan ibunya sekaligus peralihan dari rasa canggung nya.
Pengantin wanita memghela nafas. Bagaimana ia bisa menikahi pria dingin dan kejam ini? Ia sungguh tak tahu bagaimana menghadapi pernikahan ini kedepannya. Bagaimana menghadapi sikap suaminya nanti. Bagaimana kecewanya keluarganya jika tahu tentang pernikahan penuh rencana mereka. Pernikahan yang lebih menjurus pada simbiosis mutualisme ini. Bagaimana bagaimana dan bagaimana? Begitu lah pertanyaan yang terus berputar-putar di kepalanya.
Sungguh ia tidak tahu kemana arah hidupnya di kemudian hari. Ia bahkan tidak mengerti apa yang ia rasakan saat ini. Bahagiakah? Sedihkah? Tertekan? Bingung dalam bersikap dan memahami keadaan. Sungguh ia tak memiliki pilihan selain mengikuti alur yang diciptakan oleh laki-laki yang sekarang telah resmi menjadi suaminya itu.
Ah andai saja sebulan yang lalu ia tak sepatah itu...
Andai ia memiliki kekasih yang hanya mencintai dan menginginkanya.
Andai semua baik-baik saja... Andai ia menemukan seseorang yang tulus mencintanya...
Andai... Dan andai andai yang lainya...