Another me

Another me
Lemah



" Selamat siang mbak... Ada yang bisa saya bantu? "


Sapa ramah seorang resepsionis.


Saat ini Sofia tengah berada di kantor perusahaan milik suaminya. Hari ini ia merasa harus berhasil memperbaiki hubungannya dengan suaminya itu. Ia adalah orang yang paling benci dengan situasi canggung. Jadi, ia bertekad akan membuat Araya kembali bersikap seperti biasanya. Meski sikap biasa yang ditujukan Araya tak kalah dingin dan jutek tapi karena pertengkaran tadi malam membuat situasi semakin tidak baik. Lagipula ia memang salah jadi bagaimanapun ia harus meminta maaf.


" Mm... Saya mau menemui pimpinan perusahaan ini mbak. Pak Araya namanya. "


Sofia menjelaskan maksud kedatanganya.


" Maaf mbak, apakah mbak ini sudah membuat janji sebelumnya? "


Tanya resepsionis itu dengan ramah.


Jangan harap seperti kisah novel yang kalau pemeran utama mendatangi kantor pemeran utama pria akan dihina oleh orang kantor termasuk resepsionis bahkan OB nya. Tidak seklise itu pemirsa. Karena orang-orang diperusahaan Araya adalah orang-orang yang dipilih dengan ketat. Dan mereka adalah orang-orang yang sangat kompeten dan profesional dalam bekerja.


" Maaf mbak... Sebenarnya saya belum membuat janji temu."


Jawab Sofia jujur.


" Maaf sebelumnya mbak... Tapi kami tidak diperbolehkan untuk menerima tamu yang belum membuat janji sebelumnya. Apalagi tamu yang ingin menemui direktur utama kami. Atau mbak bisa menitip pesan saja nanti bisa saya sampaikan kepada pak direktur mbak. "


Sofia sadar bahwa tidak akan semudah itu menemui Araya yang notabene direktur utama di perusahaan ini. Dan ia sendiri juga paham bahwa ia tidak mungkin menyebutkan diri sebagai istri Araya. Hal yang pantang dilakukannya. Lagipula sudah jelas tidak akan ada orang yang akan mempercayainya saat mengucapkan itu. Ia yakin suaminya juga tidak akan suka jika ia melakukan hal itu. Bahkan mungkin saja, dengan melakukan itu, belum juga ia mendapatkan maaf atas kesalahannya kemarin, ia akan mendapat masalah yang baru. Dan itu tidak boleh terjadi.


" Apa perlu saya menanyakan kepada sekretaris pak Arya dulu mbak? Nama mbak siapa dan darimana. Mungkin setelah pak Araya tahu siapa mbak ia akan menemui mbak. "


Tawar sang resepsionis.


" Boleh mbak... terimakasih... nama saya Sofia Widakdo. "


Ya Sofia memang selalu memperkenalkan dirinya sebagai Sofia Widakdo. Daripada nama Arbella yang terlihat sangat elegan. Sofia merupakan nama tengahnya yang ia anggap lebih cocok dengan penampilanya yang sedikit ketinggalan jaman dan kalem. Sedangkan Widakdo nama ayahnya itu, ia gunakan untuk menyamarkan nama keluarga Van Houten dibelakang namanya. Dengan begitu, ia merasa tamoilan fisik serta nama yang disuaunya sendiri itu cukup singkron.


Kemudian resepsionis itu segera memencet tombol tombol yang terhubung langsung dengan sekretaris direktur utama mereka.


" Maaf mbak, sekretaris nya bilang pak Araya sedang tidak berada didalam ruanganya. "


Resepsionis itu menjelaskan. Sekretaris direktur sendiri yang tak lain adalah Ega juga berkata jujur bahwa atasanya memang tidak berada diruanganya saat ini. Bahkan Ega juga tidak tahu kemana perginya. Karena Ega baru saja kembali dari toilet saat menerima telepon dari resepsionis tadi.


" Baiklah mbak, tidak apa-apa, saya bisa menemuinya lain waktu. Terimakasih mbak, dan apa saya boleh disini sebentar lagi mbak. Saya harus mengabari teman saya dan menunggu jemputan dulu. "


Sebenarnya ia sedikit berbohong. Karena ia berangkat menggunakan taksi online sebelumnya. Dan akan menggunakan transportasi itu lagi saat pulang nanti.


Meski begitu Sofia tidak akan memaksa. Ia tahu dan paham bahwa setiap perusahaan selalu memiliki aturanya sendiri. Bahkan diperusahaan manapun menemui pimpinan adalah hal yang sulit terjadi. Kecuali di dalam novel tentunya. Sofia hanya perlu duduk sejenak dan beristirahat.


" Tentu saja mbak. Disana memang ditujukan untuk para tamu yang menunggu mbak... Silahkan. "


" Terimakasih mbak. "


Sofia duduk ditempat duduk khusus tamu sesuai yang ditunjukkan resepsionis tadi. Ia membutuhkan istrirahat sejenak sambil memikirkan cara yang tepat untuk meminta maaf saat bertemu nanti. Sebenarnya ia belum ingin menyerah begitu saja. Karena tidak memiliki akses masuk menemui Araya. Ia memutuskan untuk kembali kerumah dulu, meski tanpa hasil.


Lalu terbesit sebuah ide dikepalanya.


Bagaimana kalau aku bilang saja bahwa aku adalah pembantu dirumah Araya yang di utus mama untuk mengantarkan sarapan?


Belum juga beberapa detik, Sofia sudah menyanggah idenya sendiri dengan cepat.


Aahhh tidak tidak tidak... Nanti kalau Araya curiga dan menghubungi mama duluan dan bertanya. Tidak tidak... lagipula saat ini tidak ada yang tahu dia dimana. Percuma juga aku walaupun aku bisa masuk kesana.


Sofia menggeleng gelengkan kepalanya. Bahkan ia tidak menyetujui ide yang ditawarkan oleh otaknya sendiri.


Sepertinya memang tidak ada jalan lagi. Yasudahlah minta maafnya nanti saja dirumah...


Sofia berdiri dan berjalan hendak keluar. Sungguh berbanding terbalik dengan semangat empat limanya yang berteiak lantang didalam hatinya untuk tidak menyerah sebelum bisa menemui suaminya, saat ia mau berangkat tadi. Karena kini Ia sudah menyerah dengan mudahnya.


Sofia berjalan gontai karena kegagalanya.


" Selamat pagi pak Araya. "


Namun saat baru beberapa langkah ia berjalan, dari belakang terdengar seseorang tengah memanggil nama orang yang sangat ingin ia temui itu. Dengan cepat ia berbalik dan menemukan seseorang yang dicarinya.


Sofia tersenyum manis pada Araya yang berjalan beriringan dengan William disampingnya. William dan Arayapun sedikit kaget ketika sadar seseorang yang berada di hadapan mereka adalah Sofia.


" Wah wah... Ada yang disamperin bini nih"


William berbisik ditelinga Araya tanpa memberhentikan langkahnya dan tetap mengikuti Araya. Araya hanya diam tak menanggapi celoteh William.


Araya sudah berjanji bahwa ia akan mengabaikan apapun yang Sofia lakukan. Dan ia akan melakukanya juga saat ini. Tanpa menghiraukan keberadaan Sofia, Ia berjalan lurus dan melewati Sofia yang berdiri mematung karena tak menyangka Araya akan bersikap seperti itu padanya.


Araya dan William telah berada diluar Perusahaan dan menuju mobil mereka. Namun saat Araya membuka pintu mobil dan hendak masuk tiba-tiba pintu mobilnya yang masih terbuka ditarik seseorang dari belakang.


Dengan cepat Araya menoleh dan mendapati Sofia berada tepat dibelakangnya dengan satu tangan kirinya menahan pintu mobil.


Araya mengerutkan dahinya.


Apa maunya ayam kampung ini.


" Apa-apaan kamu... Jaga sikapmu ini masih diarea perusahaanku. "


Dan apa-apaan tanganya itu.


" Oh sorry kak Araya. Aku tidak bermaksud mengganggu aktivitas kak Araya. Aku hanya mau mengantar makan ini untuk kak Araya. Tadi kan kakak lupa belum sarapan karena terburu-buru. "


Ucap Sofia tanpa dosa.


Sejak kapan dia menggunakan kata sorry yang tidak biasanya dia pakai? Apa pula ekspresinya itu?


Sofia mengatakanya dengan senyum manis yang menyertai. Kemudian menyodorkan paperbag yang berisi makanan didalamnya.


Dia ini pura-pura bodoh atau apa? Jelas-jelas aku sengaja mengabaikanya. Sekarang malah bersikap seolah tidak ada apa-apa.


Araya tak bergeming, menatap Sofia datar, berusaha mempertahankan gerutunya tak meluap keluar saat itu juga dan berusaha mengabaikanya. Iapun kembali ingin duduk dikursi penumpang di dalam mobil yang akan dikemudikan William.


Namun, lagi-lagi niatan itu harus urung karena Sofia dengan kuat menarik tangan Araya keluar dari mobil. Dengan cepat Sofia segera menutup pintu mobil itu setelah Araya berada diluar mobil seluruhnya.


William terpana dengan sikap Sofia yang diluar dugaan. Sedangkan Araya tak percaya tangan kecil Sofia begitu kuat hingga dapat menarik seluruh tubuhnya keluar dari mobil.


Gila si culun... Berani banget...


William benar-benar merasa tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


" Maaf atas sikapku kemarin kak... Kakak tau kan perempuan itu memang moody an. "


Sofia masih mempertahankan sikap manisnya.


Araya masih diam dan hanya menunjukkan ekspresi penuh ketidak pedulianya.


Sebenarnya Araya sangat penasaran. Bahwa gadis dihadapanya ini gadis yang masih sama dengan yang pertama kali ia lihat dua bulan yang lalu. Dengan tampilan yang sama, namun entah mengapa terasa berbeda.


" Aku tidak bermaksud melarang kakak memasuki kamarku, lagipula aku yang menumpang kepada kakak. Aku hanya merasa malu karena kamarku berantakan. Kakak tahu kan seorang gadis harusnya sangat menjaga kebersihan kamar mereka? "


Entah alasan itu tepat atau tidak Sofia hanya berusaha memberi penjelasan.


Tidak asyik sekali gadis ini. Aku kan belum sempat marah marah dan membentak dia. Bahkan memberi pembalasan saja belum. Masa sudah minta maaf. Hey culun... Aku masih ingin bertengkar tau...


Lagi-lagi Araya hanya mampu meneriakanya dalam hati.


Melihat sikap dingin Araya yang masih taj mau mengeluarkan sepatah katapun, Sofia mulai jengah dan jengkel. Apalagi dengan harus berakting sok manis didepan suaminya itu. Sungguh ia tak tahan dengan itu semua.


Araya masih hanya menatap tanpa ekspresi bertingkah sok cool seolah ia sama sekali tak peduli. Padahal dari tadi dia menggerutu sampai berbusa didalam hati. Masih berusaha mempertahankan sikap acuhnya.


" Eh... "


Araya yang tersentak kaget atas perbuatan Sofia yang menarik tangaya secara tiba-tiba, membuat Araya secara reflek berusaha menarik kembali tanganya. Sayangnya genggaman tangan Sofia terlalu kuat menurutnya. Hingga untuk beberapa saat mereka saling tarik menarik. Araya kewalahan mengimbangi kekuatan Sofia. Padahal ia yang awalnya tidak memberikan kekuatan yang berarti pada tanganya, namun pada akhirnya menggunakan kekuatan penuh untuk melawan tangan sofia. Ia sendiri heran dengan Sofia yabg wajahnya terlihat biasa saja tanpa ada perubahan sedikitpun Seperti menahan berat mungkin.


Seseorang pasti menunjukkan raut wajah menahan sesuatu dengan keadaan itu. Tapi anehnya saat ini bahkan Sofia tersenyum manis seolah tidak melakukan apa-apa. Padahal tanganya menggenggam begitu kuat sampai dirinya tak mampu melepaskan diri.


Apa-apaan dia... Kekuatan tangannya berbanding terbalik dengan sikap sok manis diwajahnya. Bisa-bisanya gadis ini... Gila...


" Hei... lepaskan... kamu ini hulk yaa! "


Bentak Araya agar Sofia segera melepaskannya. Ia sudah merasa kesakitan. Sofia hanya tersenyum manis tanpa melonggarkan cengkeraman tanganya.


" Heii kalian... Haloooow... Jadi kita cari sarapan? Sebentar lagi kita ada meeting Ar...kita sudah tidak ada waktu banyak lagi."


William memecah kesunyian. Membuat keduanya sadar.


Keduanya pun mengalihkan pandangannya pada William yang telah siap dengan kemudinya.


Araya dan Sofia kembali saling pandang tanpa sepatah katapun terucap dari bibir mereka. Kemudian keduanya sama-sama mengarahkan pandangan mereka kebawah tepat pada tangan mereka yang masih saling menggenggam.


Sofia mengangkat wajahnya dan lagi-lagi memasang wajah termanisnya. Sedangkan Araya hanya mampu mengerutkan dahi tak percaya.


Lalu Sofia mengalihkan pandanganya kearah William yang masih menunggu jawaban Araya. Dan berkata...


" Makanan ini cukup kok untuk kalian berdua. Tidak perlu pergi keluar. Lagipula akan sangat boros kalau makan diluar terus. Dan lagi, makanan diluar itu tidak terjamin kebersihannya. Lebih baik makan makanan rumahan. "


Selesai dengan ucapanya, ia kembali menatap mata Araya dengan tajam dan masih juga menggenggam tangan Araya erat. Malah lebih erat lagi dari sebelumnya.


" Aduh... "


Bahkan Araya sampai tidak sadar mengaduh karena genggaman itu menyakiti jari jemarinya. Parahnya ia melakukanya dengan tanpa melepaskan senyuman manisnya yang justru terasa sangat horor dimata Araya. Ia sampai bergidik ngeri melihat sikap mengintimidasi itu dari Sofia yang terlihat lembut namun mematikan.


Sofia tersenyum menyeringai, kemudian ia mendekatkan dirinya pada Araya. Sedikit mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya, berbisik ditelinga Araya. Araya sedikit berjingkat atas perlakuan Sofia.


" Kau belun tahu yaa? Kalau makanan diluar itu tidak bersih? Bahkan di hotel berbintang sekalipun? Aku punya teman yang kerja dihotel. Dia pernah cerita padaku. Bagian kitchen itu biasanya orangnya serem serem hlo... Apalagi pas marah. Pas crowded atau tamunya rese biasanya bahan makananya gak dicuci hlo. Atau dibagian restoranya, kalau tamunya ngeselin jusnya dicampurin sama yang enggak enggak, malah bisa diludahi juga. Hiiii jorok.... Sekedar info saja... Bersikap baiklah ketika jadi tamu dihotel atau restaurant. Biar gak diludahi makananmu. Dan makanlah segera karena kalian butuh tenaga untuk meeting... Ok suamiku! "


Araya sungguh jijik mendengar seluruh kalimat yabg diucapkan Sofia.


Apa benar ada yang seperti itu? Bahkan dihotel berbintang... Mulai hari ini aku tidak mau makan diluar... Serem...


Araya mulai terprovokasi.


Ia sungguh sanksi dengan informasi itu. Lain kali dia harus mengadakan inspeksi ke hotelnya sendiri. Memeriksa adakah karyawan yang semacam itu. Jika benar-benar terjadi akan dia pecat dengan cara tak terhormat tanpa pesangon saat itu juga. Tidak akan ada pengampunan sedikitpun.


Araya masih membeku dihadapan Sofia. Terlalu banyak informasi yang mengganggu pikiranya saat ini. Wajahnya menampilkan ekspresi kaget bercampur ngeri.


Sofia tersenyum melihat ekspresi itu, rasa takut yang terlihat dari raut wajah Araya. Iapun menggunakan kesempatan itu untuk memindahkan paperbag berisi makanan untuk Araya dan William ke tangan Araya. Kini tidak ada lagi penolakan dari Araya.


Sedangkan Araya terlihat diam karena sedikit syok dengan beberapa kejadian yang baru saja ia alami.


" Kak William... Keluar saja dari mobil. Kalian tidak akan makan diluar. "


Ia kembali pada Araya yang masih terlihat menyimpan banyak kebingungan. Sofia melihat itu semua. Ia yakin Araya sedang berfikir keras soal apa yang dikatakanya tadi. Iapun tersenyum kemenangan karena merasa telah berhasil dengan misinya.


William sudah berada diluar mobil dan berdiri bersejajar dengan Sofia dan Araya. William sendiri bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Bagaimana bisa gadis desa seperti Sofia bisa berbicara begitu lancar dengan ancaman manisnya itu.


Sebenarnya William mendengar semua yang Sofia katakan pada Araya meski ia mengatakanya dengan sedikit berbisik. Namun masih terdengar olehnya.


Tak lama kemudian Sofia perlahan mendorong punggung Araya dan William bersamaan menunu pintu masuk perusahaan.


" Ayo masuk... Kalian harus segera sarapan dan meeting. Ingat ya kerja yang serius dan cari uang yang banyak. Kalian tahu kan susu bayi itu mahal belum popok dan perlengkapan lainya. Jadi semangat... "


Sofia sedikit mengangkat tangan dan mengepalkanya.


Sofia berhenti dijarak beberapa meter dari pintu masuk. Sedangkan Araya dan William berjalan menuju pintu dengan perlahan. Araya memegang erat paperbag yang dibawanya. Berhati-hati seolah itu benda berharga miliknya yang harus dijaga.


Araya berkali kali menoleh kebelakang untuk kembali melihat Sofia yang masih berdiri dengan lambaian tangan dan senyum manisnya. Raut muka bingung masih menyelimuti Araya. Ia hanya merasa terhipnotis hingga tak mampu melakukan apapun.


William menoleh pada Araya kemudian mengikuti Arah pandang Araya. Ia mengerutkan dahi bertanya-tanya. Apa yang terjadi?


" Jangan lupa tupperware nya ya... Awas kalau sampai hilang. Jatah makanan kalian akan berkurang sehari berikutnya. "


Sofia berkata dengan sedikit berteriak karena jarak mereka mulai terpampang nyata. Dan tanpa disadarinya Araya tersenyum tipis melihat Sofia dari arahnya. Bahkan tanpa sadar ia melambaikan tangannya mengisyaratkan bahwa ia akan segera masuk. Lambaian itu seolah berkata pada Sofia.


" Aku masuk ya... Kamu segeralah pulang.. Dan hati-hati dijalan... "


Melihat tingkah Araya yang tiba-tiba seperti anak SD yang baru saja diantar ibunya ke sekolah dan dibuatkan bekal, juga sikap ke ibuan Sofia yang dengan mudah mampu mengendalikan si pria aneh didepanya William hanya bisa geleng-geleng kepala.


Dasar pria lemah... Disogok makanan enak dikit langsung kalah. Apaan juga itu pakai dada dada sambil senyum kaya anak tanpa dosa.


" Sudah ayo... Aku sudah lapar... "


William menggeret lengan Araya memasuki pintu perusahaan. Sedangkan Araya masih menoleh kebelakang memastikan keberadaan Sofia diluar sana. Dari posisinya ia dapat melihat Sofia dengan perlahan beranjak pergi meninggalkan area perusahaanya.


****


Araya sangat senang, bola matanya berbinar-binar melihat salad yang menjadi favorite nya sejak pertama kali Sofia membuatkanya. Iapun sudah tak sabar lagi menyantap sarapan paginya. Masakan Sofia selalu nikmat seperti biasanya. Lidah Araya tak pernah memungkiri hal itu. Ia dengan tenang menikmati sarapannya sampai habis.


" Ckckck... Lihatlah wajahmu di cermin... Jijik sekali aku melihatnya. "


Ia benar-benar tak habis pikir dengan tingkah polah aneh Araya ini. Setahunya ia bersikap manja hanya kepada ibunya saja. Dan terakhir kali ia melihat itu sudah sejak lukus SMA karena orangtua Araya memaksanya kulyah di luar negeri. Tapi apa yang dilihat tadi sungguh membuatnya heran. Bagaimana bisa Araya bersikap seperti itu kepada Sofia. Bahkan mereka saling mengenal baru dua bulan.


" Kau juga merasakanya? "


"Apa? "


"Masakan Sofia yang lezat"


Araya begitu bersemangat.


" Lezat... pantas saja kamu selalu sarapan dirumah setelah kehadiran Sofia. "


Araya manggut-manggut.


"Tapi apa itu tadi?"


Tanyanya kemudian.


" Apa? "


Araya tak mengerti.


" Tadi dia bilang kalau kita harus semangat bekerja karena susu bayi mahal... "


" Emang mahal? "


Tanya Araya yang masih tidak sadar.


" Popok sama perlengkapan yang lainya juga. "


Tambah Araya lagi-lagi tanpa sadar.


Baru beberapa detik kemudian ia tiba-tiba berhenti mengunyah makanan dimulutnya. Mengangkat kepalanya dan menatap William yang sudah sejak tadi menatapnya tak percaya. Saat sadar dengan apa yang mereka bicarakan mereka segera menutup mulut mereka serentak.


Bisa-bisanya aku...


Wajah Araya memanas dan bersemu merah ketika mengetahui bahwa yang dikatakanya itu sesuatu yang menjurus. Tapi hanya bagi mereka berdua. Karena itu hal yang wajar dan remeh temeh bagi Sofia saat mengatakanya.