
"Apa yang ingin kamu bicarakan Bella? "
Kini mereka berdua telah berada di teras belakang rumah. Dengan suasana yang tenang dan mendapatkan pemandangan yang cukup indah dari taman belakang rumah.
Sesuai rencana, Bella mengajak seseorang yang diklaim keluarganya sebagai calon suaminya itu untuk berbicara setelah menyelesaikan acara makan malam mereka.
Mereka duduk berhadapan dengan meja bundar berada ditengah memberikan jarak diantara keduanya. Araya menyilangkan kakinya, menempatkan salah satunya diatas kaki yang lainya. Bersandar dikursi dengan menatap tajam kearah Bella.
"Panggil saya Sofia... "
Ucapnya tegas.
Mengerutkan kening, Araya menjawab.
"Ibumu bilang namamu Bella bukan Sofia... "
Ia sudah menerka nerka bahwa perjodohan ini akan mempertemukanya dengan wanita penuh drama. Dan Ia sendiri mau tak mau akan menjadi salah satu pemeran dalam drama tersebut.
"Benar tuan... Tapi Sofia juga nama saya... "
Bella meyakinkan.
"Kenapa? Bella nama yang bagus... "
"Ah...itu karena hanya keluarga saya yang memanggil saya begitu, sedang orang lain akan mengenali saya dengan nama Sofia"
Bella tidak ingin kalah. Sedangkan Araya telah menerbitkan senyum smirknya, memandang tajam gadis yang tidak membiarkan orang luar memanggil nama depanya itu.
"Kenapa? "
"Akan terasa asing jika panggilan itu terdengar dari orang lain selain keluarga saya"
Tidak masuk akal.
Araya mengangguk kecil menghentikan perdebatan hanya soal nama panggilan. Hal remeh temeh yang benar-benar tidak perlu diperdebatkan.
"Jadi apa yang akan kita bicarakan? "
Ia memulai dengan serius.
"Tentang perjodohan kita"
Jawab Sofia to the point.
"Ada apa dengan perjodohan kita? "
"Apa anda setuju? "
Araya mengerutkan keningnya mendengar pernyataan lawan bicaranya.
kali ini Sofia sedikit lirih dalam berucap. Antara takut meyinggung juga takut akan tanggapan Araya.
"Kenapa mesti tidak? "
Sofia menautkan alisnya seolah tak percaya dengan jawaban sesantai itu keluar dari mulut pria dihadapannya.
"Kita tidak saling mengenal... Saya sama sekali tidak tahu siapa anda. "
"Pertama... Berhentilah memanggil tuan... Kedua berhenti menyebut saya dan anda... Kita tidak sedang berada disebuah acara semiar jadi berhenti menggunakan kata-kata formal itu. Ketiga... Kita bisa saling mengenal nanti. "
Araya menggedikkan bahu.
"Saya... Maksud saya... Aku... aku orang desa, jelek, kampungan, culun dan tidak memiliki kemampuan apa-apa."
"Ya kau memang gadis yang jelek... "
Araya mulai memindai penampilan Sofia. Berambut hitam bergelombang. Bermata coklat dengan wajah yang berbintik hampir memenuhi wajahnya. Mata yang sedikit menghitam pada kelopaknya, menandakan orang yang pasti senang begadang setiap malamnya. Pakaian yang sesikit... Tunggu bukan sedikit tapi sangat kampungan. Dan jangan pernah melupan kacamata lebar bertengger dihidungnya. Dan dari semuanya, hanya hidung dan bibirnya yang terlihat baik. Hidungnya mancung dengan bibir seksi bergelombang merah tanpa polesan lipstick dibawahnya.
Waaahhh... Lihatlah betapa lancar kalimat berupa ejekan itu meluncur
"Aku kompeten... Tidak membutuhkan apa-apa darimu."
Begitu kalimat yang didengar Sofia setelah beberapa detik lalu kalimat ejekan ditujukan padanya.
"Justru karena anda kompeten, anda juga semestinya mendapatkan istri yang berkualitas yang mampu mengimbangi anda. "
Sofia benar-benar tidak akan melepaskan kesempatan ini untuk kalah dan terjebak dalam perjodohan konyol ini.
"Kamu... Bukan anda... "
Araya mendesah seakan enggan menjelaskan sesuatu.
"Kamu mengatakan semua kelemahanmu agar aku menolak perjodohan ini karena disisi lain kamu tak mampu menolaknya? Begitu? "
"Ya... Semacam itu... Lagipula pernikahan bukan hal main-main jadi harus berpasangan dengan orang yang kita cintai."
Jawab Sofia dengan mantap
"Yang kubutuhkan hanya status... "
Perkataannya tidak begitu jelas karena lebih tepat seperti gumaman yang tak terlalu lirih.
"Maksud anda?... "
"Kamu... "
Koreksinya.
ulang Sofia canggung.
"Kamu yakin tidak akan melakukan perjodohan ini jika mampu menolak? "
Sofia menganggukkan kepalanya cepat tanpa berkata-kata. Melihat antusiasme Sofia untuk menolak perjodohan Araya dapat melihat kesungguhan gadis itu.
"Kamu memiliki ide?"
Sofia menggeleng pelan.
Dan kini ia melihat dengan jelas betawa kekecewaan menyelimuti wajah gadis dihadapannya. Ia menimbang-nimbang atas apa yang akan ia katakan. Apa itu yang terbaik? Ia hanya ingin memberi solusi.
"Kita menikah secara kontrak selama satu tahun. "
Kalimat itu akhirnya keluar dari bibirnya. Membuat Sofia terbelalak kaget tak percaya. Kenapa pula mereka harus melakukan pernikahan seolah membuat perjanjian kerja? Hidupnya bukan cerita novel... Tapi mengapa harus sedrama itu?
Sungguh Sofia tak mengerti dengan apa yang baru saja ia dengar. Kalau hanya menikah kontrak selama satu tahun untuk apa? Hal yang sia-sia bila dilakukan. Konyol sekali.
"Itu artinya anda juga tidak menginginkan perjodohan ini bukan? Lalu mengapa masih diteruskan? "
"Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa... Selain menerima perjodohan ini. Dan satu-satunya cara agar kita terbebas hanyalah menerima dan menjalaninya selama satu tahun.Setelah itu kita sama-sama bebas."
"Kenapa tidak bisa? Anda tinggal bilang tidak mau menikah dengan gadis kampung sepertiku... Masalah selesai. "
Sofia benar-benar tidak menginginkan pernikahan konyol hitam diatas putih yang diajukan Araya. Hidupnya sudah cukup melelahkan jika harus menambahnya dengan drama rumah rumahan.
"Aku tidak berani menentang ibuku dan nenekku... "
Sofia menatap Araya tak percaya. Pria dihadapanya alih-alih menggunakan ayah atau kakeknya sebagai alasan, justru dengan jujur mengatakan bahwa ia tidak berani pada nenek dan ibunya? Oh manis sekali pria dingin nan angkuh namun penurut pada perempuan dirumahnya.
Calon suami takut istri....
Sofia terkekeh dalam hati dengan pernyataan Araya juga dengan kalimat yang dibatinya.
"Kamu tidak bisa menolak karena entah apa yang terjadi padamu... Dan aku tidak bisa menolak karena aku sendiri membutuhkan setatus pernikahan ini. Jadi... Mari bekerjasama.... "
Omongkosong macam apa ini.
Araya tidak berbohong soal ia yang tidak mungkin menolak keinginan keluarganya. Terutama neneknya. Awalnya ia hanya akan pasrah menjadi boneka keluarganya. Asal mereka bahagia, dua wanita penghuni rumahnya. Meski sudah ia pastikan wanita manapun takkan bahagia menjadi istrinya. Ia akan tetap menuruti keinginan mereka tanpa tapi. Menjalani pernikahan yang dibuat keluarga dan menunggu sampai istri nya nanti menggugat cerai meminta perpisahan. Ya... ia sudah bertekad akan bertahan sampai mereka sendiri yang lelah kemudian pergi meninggalkanya.
Tapi siapa sangka gadis yang dijodohkan denganya tidak menginginkan perjodohan ini. Maka ia pikir ini akan lebih mudah dari yang ia pikirkan.
"Dengar tuan Araya... "
"Cukup panggil kak Araya... "
sela Araya sebelum Sofia melanjutkan kalimatnya.
Sofia mengerutkan keningnya...
"Kita tidak sedekat itu untuk menggunakan sapaan akrab seperti kakak...!! "
"Kita akan segera menikah, dan aku ingin kamu membiasakan diri memanggilku kakak"
Lagi-lagi Sofia dibuatnya mengerutkan keningnya dengan jawaban spontan dan tak mau ada penolakan dari Araya. Ditambah dengan sapaan kakak? Apa-apaan itu. Sok akrab sekali.
"Tapi tuan"
"Sudah kubilang kak Araya... Bukan tuan... dan... Kita tidak punya pilihan selain menikah. "
Jadi kau akan memanfaatkan aku? Menikahiku untuk setatus apalah itu yang kau butuhkan, kemudian membuangku setelah selesai? Menjadikan aku janda setelah satu tahun pernikahan? Yang benar saja...!
"Tapi... "
"Aku tidak tahu perjanjian seperti apa antara kamu dengan ayahmu. Tapi aku yakin itu berhubungan dengan perjodohan kita. "
Ya Araya sempat mendengar ayah dan anak itu berbicara empat mata diteras belakang membahas soal perjanjian. Ia mendengarnya saat permisi untuk meminjam kamar mandi yang letaknya tak jauh dari teras belakang dimana anak dan ayah itu berada. Memang Araya tidak mendengar sepenuhnya tapi ia paham betul ap yang mereka maksudkan.
Sofia terkejut dengan pernyataan Araya. Darimana ia tahu soal perjanjian yang ia buat dengan ayahnya?
"Darimana kak kau tahu? "
Pasalnya hanya ia dan ayahnya seorang yang tahu perjanjian mereka berdua.
" Aku tadi sore tak sengaja mendengar sekilas saat kalian membicarakanya diteras belakang.Yang jelas aku paham maksudnya... "
Sofia tak marah tak menanggapi berlebihan dengan kelancangan Araya yang menguping. Acara protes seperti itu sudah tidak penting lagi sekarang. Karena ada hal yang sangat penting lebih dari ketidaksopanan yang tidak disengaja oleh Araya.
"Apa menurutmu berhasil menolak pernikahan ini akan membebaskan dirimu? Jika kita menolak aku tidak rugi apa-apa. Keluargaku bisa mencari wanita lain. Sedangkan kau? Kau pikir ayahmu tidak akan mencarikan pria lain untuk dijodohkan denganmu? Setidaknya menikah denganku dapat membatalkan pria lain dinikahkan denganmu. Dan aku pastikan itu lebih sulit dari ini."
"kak Aray benar... Aku tidak mungkin lolos dengan perjodohan yang lainya misal pun kita bisa membatalkan perjodohan kita."
Sofia berusaha untuk tidak salah memanggil tuan lagi. Meski panggilan kakak terlalu aneh ketika ia ucapkan. Biarlah ikuti saja inginya beruang kutub ini.
"Dan tentu saja untuk mengulur waktu untuk mencari pria yang benar-benar kamu inginkan."
Kini penjelasan Araya masuk akal dirasa oleh Sofia. Benar juga bahwa jika gagal menikahi Araya maka ayahnya akan mencari kandidat lain. Bersama Araya ia memiliki kesempatan mencari pria yang benar-benar ia suka. Sedangkan menikah dengan pria lain mungkin selamanya akan terikat.
Tidak buruk juga idenya... Tapi... Menjadi janda? Setelah satu tahun pernikahan? Oh itu aib... bagaimana lagi, ia tak punya pilihan lain selain mengikuti ide gila pria ini.
"Baiklah... Meski aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku. Meski aku tidak mau menjadi janda, tapi menikahimu adalah pilihan terbaik saat ini. "
"Bagus... Aku akan segera menyiapkan segala sesuatunya. Satu minggu lagi aku akan datangmenemuimu untuk kesepakatan kita. Dan sebulan lagi kita akan menikah. Jadi persiapkan dirimu baik-baik. "