Another me

Another me
Apapun untukmu



" Selamat pagi pak Araya... "


Sapa ega sekretaris Araya. Araya memang begitu menjaga jarak dengan kaum hawa. Maka dari itu ia selalu memakai sekretaris pria untuk bekerja padanya. Ia tak mau dan tak suka terlalu banyak wanita di lingkunganya. Ya kecuali kekasihnya, Mila.


Entah bagaimana caranya, Mila selalu dapat meluluhkan hati Araya dan membuatnya yang dingin menjadi hangat.


"Pagi... "


Jawabnya singkat.


Ketika tanganya baru sampai pada tahap memutar gagang pintu ruanganya. Ia membalikkan badan...


" Bagaiman dengan rencana pembuatan film terbaru kita ga? "


Perusahaan Araya memang bergerak dibidang properti, tapi selama lima tahun terakhir mengembangkanya keranah dunia hiburan. Dan ini sudah yang kesekian kalinya ia memproduksi sebuah film.


Pada awalnya ia hanya memproduksi film-film bergenre romance, tapi melihat kesuksesan perusahaan yang bergerak dibidang yang sama telah memproduksi film horror dan laga, yang mendapatkan banyak simpati masyarakat, Iapun mencoba mengikuti kemana arus mengalir.


Hingga pada suatu hari, tepatnya beberapa bulan yang lalu, sebuah rumah produksi film memproduksi sebuah film bergenre thriller action yang diambil dari cerita sebuah novel.


Dan film itu sukses besar. Memiliki banyak peminat tidak hanya dari kalangan muda, namun juga dewasa. Iapun mencoba untuk mengikuti jejak perusahaan seniornya itu.


Untuk mencoba peruntunganya, ia berusaha menggaet penulis novel yang sama.


Kebetulan setelah film dari novel buatanya yang mendapatkan antusiasme masyarakat, si penulis yang tidak pernah menampakkan dirinya ke publik itu kembali menghebohkan dunia sastra dengan karya terbarunya yang sama sama mendapatkan respon positif dari para penikmat karya tulis.


Lebih lagi si penulis mencoba gaya baru dengan menyematkan adegan romance dalam novelnya. Itu menjadi nilai lebih pada buku barunya. Dan antusiasme masyarakat dapat dilihat dari terjualnya buku novel itu dengan presentase yang sangat tinggi mencapai hampir 90% dari semua total jumlah yang telah dicetak.


Araya sendiri telah membacanya habis karya itu.


MENGESANKAN...


Satu kata untuk karya itu. Dan luar biasa untuk sang penulis novel.


" Baru sampai menghubungi perusahaan yang mencetak novel itu pak Araya. Kami belum dapat menghubungi editornya karena menurut informasi ia masih ada pekerjaan diluar negri. "


Tak hanya si penulis yang tidak diketahui siapa sebenarnya. Sang editorpun sangat sulit untuk ditemui. Seolah ketenaran sangat mereka hindari. Namun justru kemisteriusan itulah yang mengundang banyak pihak untuk terus menerus mencari celah. Entah itu untuk mengajak kerjasama atau untuk memenuhi kepuasan sendiri.


" ok.. Kalau gitu langsung hubungi dia untuk membicarakan proyek kita jika dia sudah kembali. "


" Baik pak araya...! "


Araya langsung memasuki ruangan kerjanya yang didominasi warna putih dan cream. Meletakkan tas kerjanya termasuk paper bag yang dibawanya. Melepaskan jas dan menyampirkanya rapi di kursi kebesaranya.


Perlahan memutari kursi miliknya dan hendak mendudukinya.


Belum sampai ia mendudukan diri di kursi kebesarannya itu , pintu ruanganya dibuka tanpa permisi oleh seseorang.


Wlliam....


" Ck... Dia lagi... "


Lirihnya dengan nada kesal. Kemudian mendaratkan bokongnya diatas kursi.


" Ngapain kesini? Apa pekerjaan yang aku berikan kurang banyak? Sampai kamu punya banyak sekali waktu bermain main?"


Dengan perlahan menyenderkan tubuhnyamencari kenyamanan.


" Hahahahahh... Ya Tuhan... Aku hanya sedang bosan sendirian di ruanganku. Dan jangan khawatir... Pekerjaan yang kamu berikan sudah sangat banyak sampai aku tak mampu menyelesaikanya..."


Keluarga William sebenarnya juga memiliki perusahaan seperti keluarga Araya. Namun ia memilih untuk membangun perusahaan yang bergerak dibidang entertainment bersama Araya karena tidak tertarik dengan perusahaan keluarga yang bergerak dibidang konstruksi. Maka ia lebih memilih menjadi General manager diperusahaan Araya.


" Sudah tahu tak becus bekerja... Masih tidak mau berusaha... Malah bermain main saja..."


Araya menggerutu dengan sikap terlalu santai sahabatnya soal pekerjaan itu. Berbanding terbalik dengan Araya yang memang seorang workaholic.


" Ayo nanti malam berkumpul... Rasanya sudah lama sekali aku tidak minum minum... "


"Ck... Aku tak punya waktu... "


"Ooohhh Ayolah brother... Kau ini jarang sekali ikut... Bahkan bisa ikut saja tak mau minum... Kuno sekali... "


Araya sangat kesal dengan tingkah sahabatnya yang selalu merengek-rengek untuk ditemani minum-minum di club malam. Sudah tahu Araya paling anti dengan tempat seperti itu juga dengan alkohol dan rokok. Tapi William selalu merengek seperti bayi.


" Kalau kau masih merengek disitu... Kulempar kau dari jendela... Biar terjun bebas sampai jalan raya dibawah sana... Mau?! "


Araya memang pemimpin diperusahaan itu. Biasanya di lingkaran dunia entertainment memang tak jauh-jauh dari kata club malam dan alkohol. Maka disitulah peran William sangat dibutuhkan. Ketika mereka harus menghadiri acara para petinggi yang berada di lingkaran itu. Maka William akan datang untuk mewakili Araya yang memang tak suka meminum air setan itu.


" Kau tahu? Ada banyak wanita seksi disana... Siapa tahu kau akan suka... "


Araya menatap jengah pada sahabatnya.


" Anggap saja itu terapi.. "


William memainkan alisnya, bergerak naik dan turun dengan ritme yang sedang.


" Pergi dari ruanganku sebelum aku benar-benar melemparmu ke bawah sana Will... "


Geram Araya.


Bukanya mengumpat oleh kata-kata kasar Araya ia justru tertawa melihat raut wajah Araya yabg mulai geram dengan tingkahnya.


" Oh ayolah kawan... Aku bosan diruanganku... Aku butuh teman ngobrol dan bertukar kenikmatan..."


Araya memang memiliki pendirian yang teguh.


Bukanya pergi Wiilliam malah mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman.


Araya duduk berdiam dikursi kebesaranya. Mengabaikan keberadaan William disana. Mengeluarkan benda dari dalam paperbag yang dibawanya tadi. Menatap pada benda yang terbuat dari kaca dihadapanya dengan tatapan yang sulit dibaca. Namun bukan benda itu yang menyita perhatianya. Melainkan isi didalamnya.


William memperhatikan tingkah aneh sahabatnya itu. Ada apa dengan Araya? Tidak biasanya.


Araya masih menatap benda dihadapanya.


Aku tak tahan lagi...


Ia mengulurkan tanganya meraih benda kotak dari kaca itu. Kemudian perlahan-lahan berusaha membuka tutupnya. Namun...


Ceklek...


Belum sempat penutup benda itu terbuka sepenuhnya, lagi-lagi seseorang dengan lancang memasuki ruanganya tanpa ketuk pintu terlebih dahulu. Ingin dilemparnya orang itu dengan dengan apa saja yang ada dimejanya.


" Hai sayang... "


Suara itu mengurungkan niatnya untuk melayangkan benda apa saja kehadapan tamu tak diundangnya.


Begitu ia menoleh ia mendapati wajah ayu milik kekasih hatinya.


Mila...


"Sayang...? "


Mila tersentum manis menghampiri Araya. Araya mengulurkan tanganya, dan Mila meraih tangan Araya. Tanpa sungkan lagi duduk diatas pangkuan sang kekasih. Dan mengecup mesra bibir Araya.


" Cih kalian ini... Masih ada aku disini... "


William mendengus kesal dengan perbuatan mesum kedua orang dihadapanya itu.


" Kenapa kau datang kesini sayang? "


Araya tidak peduli dengan apapun yang dikatakan sahabatnya.


" Apa kau lupa janjimu? "


Dan kekesalan William bertambah karena Mila bersikap sama acuhnya dengan Araya.


Dasar pasangan ini. Bersika seolah dunia hanya milik berdua. Menyebalkan.


Umpatnta dalam hati


" Janji? "


Mila beranjak dari pangkuan Araya dengan kesal. Laki-laki itu melupakan janjinya lagi.


" Kau selalu melupakan janjimu padaku... "


Araya bingung... Janji yang mana lagi yang telah ia lupakan?


" Maafkan aku sayang... Aku sungguh sibuk hari ini... banyak yang harus kukerjakan"


" Jadi benar kan kau melupakanya? "


Glek...


" Ayo katakan... Apa yang kau inginkan? Aku pasti mengabulkanya... "


" Sebenarnya apa artinya aku bagimu? "


Mila sudah mulai lelah dengan semua kesalahan yang selalu Araya ulangi. Begitu terus menerus. Membatalkan janji temu karena alasan meeting dadakan.


Meninggalkanya di restauran ketika ditelpon klien. Tidak jadi menginap karena ibunya yang mengecek keberadaanya.


Oh tentang ibunya itu. Dulu Mila adalah menantu idaman ibunya Araya. Bahkan selalu menjadi orang yang membujuk Araya untuk segera menikahi dirinya. Tapi semua pasti akan kembali seperti semula. Ia yakin calon mertuanya itu masih mengharapkanya menjadi menantu. Ia dengar kakeknya yang sudah terkubur didalam tanahlah yang mengusulkan perjodohan itu.


Maka ia akan mendekati ibu Araya lagi. Toh ia adalah wanita yang digilai anaknya juga. Meski sering melupakan janjinya tapi Araya akan selaku membujuknya dengan menuruti segala keinginanya bukan? Tidak mengapa... Ia bisa meminta cincin berlian yang sudah beberpa hari ini ia incar. Sebagai hadiah kepulanganya juga bukan?


" Tentu saja segalanya bagiku. Apa kau meragukan cintaku sayang? "


" Baiklah... Aku percaya... Tapi aku mau kamu mengajakku berbelanja sekarang juga. Aku sedang kesal dan aku ingin berbelanja sepuasnya. "


" Apapun yang kau mau sayang... "


Araya mengelus pipi Mila dengan sayang. Dan Mika membalasnya dengan ciuman bubir panasnya.


" Ck... baru saja aku dengar seseorang mengatakan bahwa ia sangat sibuk hari ini. "


" Sayang... "


Oh Tuhan... William kembali kesal dengan sikap dua orang dihadapannya itu. Seolah ia adalah benda tak kasat mata. Ia sama sekali tak dianggap ada disana.


" Hm? "


" Aku mau berlian bermata biru sebagai hadiah kepulanganku... "