
Di apartemen pribadinya, Sofia yang telah berubah ke penampilan aslinya yang lebih sering dipanggil sebagai Bella sibuk mengecek beberapa pesan yang telah masuk kedalam emailnya.
Beberapa pesan adalah laporan rutin bulanan ditoko buku milik keluarganya. Ia memang diminta sang kakak u tuk mengurusinya.
Sedangkan salah satu pesan adalah dari orang suruhanya. Iapun segera membuka pesan tersebut.
Beberapa file ms word dan foto yang telah di attachment tercantum disana. Ia memeriksa dengan teliti setiap laporan yang masuk ke emailnya itu.
Matanya berbinar memandangi sebuah foto yang terkirim padanya. Hatinya berbunga-bunga saat ini. Sosok yang selama ini ia cari.
"Dr. Rian Sinatria... "
Ia menyebut nama itu dengan pelan.
" Akhirnya aku bisa melihat wajah aslimu. Mmm dia terlihat lembut dan berwibawa... Aku suka. "
Ucapnya lagi dengan mata yang lebih berbinar dari sebelumnya.
Ia kembali fokus menekuni setiap kata yang tercantum dalam file itu. Ia tersenyum puas dengan kinerja orang suruhanya. Ternyata orang itu memberinya informasi lebih lengkao dari perkiraanya.
" Good job dude... "
Pujinya dengan rasa bangga.
Drrrttt drrrttt...
Getar ponsel Bella.
My favorite Sammy
Lusa aku kembali. Kau harus menjemputku dibandara. Aku sudah sangat merindukanmu.
Melihat pesan itu Bella tersenyum bahagia. Samuel adalah orang yang paling ia sayangi setelah keluarganya. Bahkan Lingga mantan pacar yang meninggalkan Bella demi Ella sang model terkenalpun tak bisa mengambil alih rasa sayang Bella pada Samuel. Karena bagi Bella, Samuel adalah orang yang sangat penting dalam hidupnya. Dan karena itu pula Bella sering bertengkar dengan Lingga. Lingga yang merasa dinomorduakan tak terima dengan kedekatan Bella dengan Samuel. Tapi sekali lagi Bella lebih memilih Samuel. Hingga mantan pacar Lingga kembali dan merusak hubungan mereka.
Saat itu Lingga mendekati Bella dengan penampilan sebagai Sofia. Melihat ketulusan Lingga yang tak memandang fisik dan penampilan culun dan kampungan Bella, Bellapun merasa tersentuh dan berusaha mencintai Lingga.
Perasaanya pada sosok Lingga tumbuh dan memang nyata. Kesetiaan yang ia berikan juga bukan suatu kebohongan. Namun ia salah, saat ia mulai mencintai Lingga. Kekasihnya itu malah berselingkuh dengan kembali menjalin kasih dengan mantan kekasihnya. Ironinya, Bella berusaha bertahan karena mulai merasa memiliki Lingga.
Sampai pada akhirnya pria itu memilih untuk meninggalkanya. Bella memang bersedih karena merasa telah berusaha menjadi yang terbaik. Tapi itu tidak akan membuatnya rapuh. Karena sekali lagi Samuel lebih penting baginya.
Ya... Dia memang egois.
My Dearest Bella
Ya tentu saja...
Apa aku harus menyiapkan buket bunga
Mawar untukmu?
Balasnya.
My favorite Sammy
Well... Yang helas aku lebih membutuhkan pelukanmu saat ini juga.
Bella tertawa renyah membaca pesan itu. Selama ini, Bella lah yang selalu membutuhkan pelukan Samuel. Karena pelukan yang diberikan Samuel merupakan obat penenang yang mujarab untuk Bella. Tapi Samuel selalu mengatakan seolah dirinya yang selalu membutuhkan pelukan Bella. Samuel memang selalu menjadi yang terbaik untuk Bella. Karena mereka telah bersahabat sejak mulai masuk jenjang Sekolah menengah pertama. Jadi mereka sudah sangat tahu pribadi masing-masing. Bahkan seolah terikat antara satu dan yang lainya. Selalu menempel seolah tak terpisahkan. Siapapun juga akan merasa cemburu dan berfikir tentang hubungan keduanya. Mana ada sahabat yang saling obsesif seperti mereka. Bulshit... itulah yang selalu diyakini oleh orang-orang yang mengenal mereka.
My Dearest Bella
Aku sudah menemukanya Sam. Malaikat penolongku.
Mereka berbalas pesan sampai waktu telah menunjukkan bahwa hari sudah hampir gelap. Bella segera membersihkan diri dan bersiap-siap dengan penampilannya sebagai Sofia. Kemudian kembali ke apartemen Araya untuk menyiapkan makan malam. Karena bagaimanapun ia telah membuat kesepakatan dengan Araya untuk bersikap menjadi istri yang baik.
****
Kini Araya tengah berada di ruang kerja ayahnya. Duduk disebuah sofa panjang diruangan tersebut Duduk dengan gelisah dan terus menundukkan kepalanya tanpa berani menatap kedua orang dihadapanya. Dan di depanya duduk dua orang yang siap menghakiminya.
Ayah dan Ibunya...
" Aku menunggu ayahmu kembali dulu baru memanggilmu. Kamu tahu apa kesalahanmu nak? "
Rosa, ibunya memulai.
Araya menunduk dan masih terdiam.
" Papa sudah mendengarnya dari mamamu... Tapi papa ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu. Katakan nak.... "
Araya menunduk semakin dalam. Ia paham betul apa maksud ibunya memanggilnya datang pulang kerumah besar itu. Tapi lidahnya terasa kelu hanya untuk mengucap maaf.
" Kami tidak pernah mengajarimu untuk menjadi penghianat seperti itu Araya...!! "
Kini suara Rosa telah meninggi ia tak mampu lagi menahan amarah yang telah beberapa hari dipendamnya.
" Apa kau lupa penghianatan wanita itu nak? Dia meninggalkanmu dihari pertunangan kalian. Dia telah mencoreng dan mempermalukan keluarga kita didepan para tamu undangan dan kolega kita. Apa kamu lupa bahwa kamu sendiri yang tak pernah mau melanjutkan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius sehingga mama memaksamu untuk menikahinya waktu itu. Mama berhasil memaksamu menikahinya, tapi apa yang dia perbuat? Setelah apa yang mama perjuangkan demi dirinya, membantunya, dia membuangmu dan mengecewakan mama. "
Nafas Rosa memburu berusaha menahan amarah didadanya.
" Maafkan Araya Ma... Pa... Tapi Araya masih mencintai Mila... "
Araya berkata lirih tanpa mengangkat wajahnya.
" Ingat nak... Kamu sudah menikahi Sofia. Dia gadis yang baik. "
Ayah Araya mencoba memberikan pengertian.
" Tapi Araya hanya mencintai Mila Pa... Araya tidak mencintai Sofia sedikitpun. "
" Belum...! "
Rosa menyela.
" Kamu hanya belum mencintainya Araya. Mama yakin Sofia bisa menjadi yang terbaik untukmu. Dan kamu pasti akan mencintainya. Lagipula... Ini tidak adil bagi Mila maupun Sofia nak... "
Lanjutnya lagi.
Benar apa yang dikata Rosa. Hubungan itu tidak adil bagi keduanya. Sofia maupun Mila. Sofia yang menyandang nyonya Araya Santoso tanpa mendapatkan kasih sayang Araya. Sedangkan Mila yang memiliki hati dan raga Araya namun tanpa ikatan pernikahan yang sah.
" Tidak Ma... Araya benar-benar mencintai Mila. Araya tidak akan pernah berpaling dari nya. "
Jelas Araya mantap.
" Lalu kenapa dulu kamu bersikeras tak ingin menikahinya? "
Suara Rosa sedikit memojokkan Araya.
" Aku... "
" Karena... "
Araya bimbang. Ia gelagapan karena tak mampu menjawab pertanyaan dari ibunya.
" Karena? "
Rosa kembali menuntut jawaban.
" Karena saat itu Araya belum siap Ma... "
Jawabnya singkat.
" Jadi maksudmu sekarang kamu sudah siap? begitu? "
Araya mengangguk ragu. Rosa tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan anaknya. Alasan yang tidak ada rasa tanggung jawab didalam kalimat itu. Ia sungguh merasa kecewa.
" Mama ingatkan... Waktu itu perusahaan Araya baru saja dibangun. Masih belum stabil, jadi Araya tidak mau kalau sampai nanti Mila tak bahagia. "
" Sayangnya... Dia pergi saat kamu belum berhasil nak. Dan Ia baru kembali saat kamu telah sukses dan menikahi Sofia. "
Ucap Rosa dingin tanpa menatap kearah anak semata wayangnya.
"Dan Mama tidak bisa tinggal diam melihatmu bermesraan dimuka umum dengan perempuan lain saat kamu telah menjadi seorang suami. "
Bentak Rosa pada Araya. Ia benar-benar marah saat ini. Wajah-nya merah padam karena kelakuan tak bermartabat yang dilakukan putranya.
" Dengar nak... Lupakan Mila... Dan mulailah untuk mencoba mencintai istrimu, Sofia. Jadilah pria sejati dan suami yang setia. Kesetiaan dalam rumah tangga adalah kunci dari kebahagiaan nak. Lupakan masa lalumu. Kau pasti bisa nak"
Bujuk Ayah Araya dengan lebih lembut. Namun mengandung ketegasan didalam setiap kalimatnya.
Araya menggeleng pelan. Tidak... Dia tidak akan sanggup untuk meninggalkan Mila saat ini. Meski ia pernah ditinggalkan, dilukai. Meski cintanya tak sebesar dulu. Tapi hanya nama Mila yang menghuni hatinya. Tidak ada wanita lain selain dirinya. Tidak ada...
" Araya tidak bisa Pa... Ma... Araya mencintai Mila. Araya tidak bisa meninggalkan Mila. Karena hanya Mila yang Araya cintai."
Araya mengatakanya dengan lantang. Membuat kedua orang tuanya terkejut dan tidak percaya. Kemudian ia beranjak dari ruangan tersebut dan meninggalkan Rosa dan Bayu penuh dengan rasa kecewa.
" Araya... Berhenti disana... Araya... "
***
Sofia sudah selesai dengan masakanya. Tinggal menunggu Araya pulang dan segera makan malam bersama. Hari ini ia mencoba resep baru yang baru saja ia pelajari dari buku resep. Sebenarnya ia sudah lama ingin mempraktekkan resep itu. Hanya saja belun pernah ada waktu. Dan baru kali ini ia bisa melakukanya. Ia ingin agar Araya menjadi orang pertama yang mencoba masakanya itu. Bukan tanpa maksud. Sofia hanya berfikir bahwa, ia membutuhkan seseorang untuk menguji masakanya dengan resep baru tersebut. Dan pilihanya jatuh pada sosok Araya yang kini menjadi suaminya. Ya seperti kelinci percobaan saja. Kalau enak maka ia akan memasaknya lain kali untuk Samuel. Dan jika tidak enak, itu sudah resiko Araya sebagai orang pertama. Pikirnya...
Jam malam terus berputar. Detik ke menit, jam berlalu. Waktu kini telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan belum ada tanda-tanda kepulangan Araya. Sofia menjadi sebal sendiri karena Araya tak kunjung datang.
" Susah susah dimasakin... Gak pulang pulang... "
Gerutunya.
" Yasudahlah... Aku makan sendiri saja, Percuma menunggu."
Sofia ngedumel sambil mengambil nasi dan beberapa lauk yang sudah dimasaknya kedalam piring didepanya. Ia sudah menahan lapar sejak tadi. Namun sampai selarut ini suaminya belum juga pulang.
" Yaaahhh apes banget... Niat mau jadiin suami kelinci percobaan... Malah diri sendiri yang kena. "
Sofia menghembuskan nafas sedikit kasar.
" Yasudahlah... Mungkin Araya ada firasat jadi lolos dari rencanaku. "
Sofia mulai menyuapkan sendok berisi makanan buatanya sendiri. Meresapi resep baru buatanya. Ia memang sudah tahu rasanya, karena pasti sudah mencicipinya saat proses memasak tadi. Hanya saja, ia butuh lidah orang lain untuk menilai.
Tak butuh waktu lama, Sofia telah menghabiskan makanannya. Perutnyapun sudah kenyang. Setelah itu, ia bergegas merapikan meja makan. Mencuci piring dan peralatan masak yang digunakanya tadi.
Selesai dengan semua kegiatanya, Sofia segera menuju kamarnya untuk beristirahat. Memiliki hubungan yang tidak saling terikat, membuat sofia merasa tak perlu terlalu peduli pada suaminya. Toh mereka sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Jadi, Sofia memutuskan untuk segera tidur tanpa menunggu suaminya yang entah kapan akan pulang ke apartemen mereka.
Baru saat ia akan menghapus lukisan pada alis dan wajahnya, terdengar keributan dari luar kamarnya. Iapun mengurungkan niatnya untuk menghapus make-up nya. Dan kembali mengenakan rambut palsunya yang tadi sudah sempat ia lepas.
Iapun segera keluar kamar untuk mencari tahu keributan apa yang tengah terjadi diruang depan.
" William? Hmmm... William... Hahaha... "
Terlihat diruang tamu William sedang memapah Araya yang meracau tidak jelas karena mabuk berat. Terlihat pula William menjatuhkan tubuh sahabatnya kesofa ruangan tersebut karena merasa sudah lelah. Sofiapun segera berlari menghampiri William dan hendak membantunya untuk memapah Araya sampai ke kamarnya.
" Hmmm??? Kamu siapa???"
Tanya Araya pada perempuan dihadapanya.
" Hmmm??? Dia siapa Will?"
Araya memgalihkan pandanganya sejenak dari Sofia kepada William. Kemudian kembali menatap Sofia dan mengerutkan keningnya.
" Istrimu... "
Jawab singkat William yang tak mau terlibat percakapan ngawur lebih jauh dengan sahabatnya yang mabuk itu.
" Dia??? istriku?? "
Jari telunjuk Araya mengarah pada Sofia yang masih mematung didepanya. Sedangkan matanya menatap penuh tanya pada William.
William hanya mengangguk jengah ingin segera mengakhiri kesialanya malam itu.
"Oh iya istriku... Hahahha... Istri?? Hahahah... "
Araya kembali meracau menggema memenuhi ruangan tersebut. Sedangkan dua orang dikanan kirinya bersusah payah memindahkan tubuhnya dari sofa ruang tamu ke kamar milik Araya.
" Tolong urus dia ya... "
Kata William dengan nafas tersengal karena kelelahan membawa Araya sampai kamar apartemen mereka dari club malam.
William pun segera melangkah keluar kamar. Namun Sofia segera berlari dan menahanya.
" Hey... Apa kau tak mau menunggunya? Dia mabuk... "
William menaikkan satu alis matanya.
" Ya...? "
" Temanmu itu mabuk... Kau harus menungguinya. Aku belum pernah mengurus orang mabuk. "
Lanjut Sofia.
" So... Gunakan kesempatan ini untuk pengalaman pertamamu mengurusi orang mabuk. "
Kata William cuek sambil mengangkat kedua bahunya.
William berbalik menghadap Sofia dan melipat kedua tanganya didada.
" Disini yang disebut istri siapa? "
Kalimatnya dibarengi dengan tatapan mengejek.
Sofia hanya menatap kesal pada pria dihadapanya. karena dia tidak bisa membalas perkataan yang ditujukan padanya.
" Itu tugasmu !! "
William mengedikkan bahu, cuek.
William kembali hendak melangkah, namun tangan Sofia menahanya agar tetap berada ditempat.
" Kenapa dia mabuk? "
" Mana aku tahu... "
William kembali mengangkat kedua bahunya, acuh.
" Lepaskan tanganmu... Aku capek dan mau pulang. Kamu istrinya, sudah wajib mengurusi dia. Jangan mengeluh dan jangan menyuruhku... "
Kata William setengah menggerutu. Dan kemudian melepaskan tangan sofia yang masih mencengkeram lenganya dengan sedikit kasar.
" Sudah sana masuk... Aku pergi dulu... "
" Isshhh...! "
Sofia mendesis sebal karena harus direpotkan oleh dua pria dewasa tersebut.
Sofia kembali untuk melihat suaminya, setelah William keluar dari apartemen mereka.
" Apa yang harus aku lakukan? "
Sofia menggigit kuku tanganya berfikir.
Memandang bingung pada Araya yang sudah memejamkan matanya.
" Hmmm baiklaaahhh... Aku memang baik hati... lakukan seperti di film-film dan novel yang pernah kamu baca Bella...!! kamu pasti bisa.. !!! "
Sofia menyemangati dirinya sendiri.
Sofia mengalah pada situasi yang tidak disukainya saat ini. Mendekati Araya kemudian melepaskan sepatu dari kaki Araya sedikit kasar. Ia belum pernah menghadapi orang mabuk karena Samuel tidak pernah melakukanya. Sekalipun mabuk, ia pasti melakukanya dibelakang Sofia. Dan membawa orang lain untuk mengurus dirinya.
" Dasar merepotkan... "
Ia melempar sepatu Araya ke sembarang tempat.
Saat Sofia berusaha melepaskan jas kerja yang dipakai Araya, tiba-tiba Araya bangun dan memuntahkan isi perutnya kebadan Sofia.
" Aaarrrrggghhhh.... Kau...!!! Kenapa muntah di bajuku... "
Araya masih memuntahkan isi perutnya tak peduli ocehan marah dari Sofia. Sofia sendiri tak bisa menghindari muntahan tersebut karena Araya memegang bahu Sofia dengan erat.
" Hoeeekkk... Hoeeekkk... "
Untuk ketiga kalinya Araya muntah di tubuh Sofia.
" Dasar pria tua menyusahkan...!!! "
Kesal Sofia.
Melihat Araya yang telah selesai memuntahkan semua isi perutnya, Sofia mendorong dan sedikit membanting tubuh Araya keatas ranjang hingga terlentang. Menatap jijik pada tubuhnya yang terkena muntahan. Kemudian menatap marah pada sipelaku yang sudah memejamkan mata tanpa tahu perbuatannya.
Tiba-tiba Araya kembali berkata lirih.
" Maafin Araya... Maaf... Hiks... Hiks... "
Melihat Araya yang menangis dengan mata terpejam sembari mengucapkan maaf, membuat Sofia tertegun sesaat.
" Pria tua ini menangis? Pria tua dari kutub selatan? Apa yang terjadi? "
Sofia dipenuhi dengan tanda tanya dikepalanya. Pasalnya suaminya itu seorang yang dingin dan semaunya sendiri. Jika bukan sesuatu yang berat bagaimana mungkin ia sampai menangis? yaa meski dalam keadaan mabuk.
Akhirnya Sofia merasa kasihan juga melihat keadaan Araya yang berantakan. Iapun merasa harus membantu membersihkan tubuh Araya yang sudah kotor karena keringat dan juga muntahan yang keluar dari tubuhnya.
" Ya ya yaaa... aku memang sangat gampang iba dan terlalu baik hati... anggap saja kau sedang bertemu malaikat bung...!! "