
Araya telah siap dengan setelan kerjanya. Melangkah keluar kamar dan siap untuk berangkat kerja. Namun langkahnya terhenti ketika sampai diruang utama. Indra penciumanya menangkap bau yang tak biasa.
Harum dan manis, bau yang terasa lezat... apakah itu? Tanpa ia sadari langkah kakinya membawanya keruang makan yang tak jauh dari ruang utama. Ia terpana menatap seseorang sedang sibuk disana.
Apa yang ia lakukanya?
Araya melangkah semakin dekat memangkas jarak. Memperhatikan Sofia yang masih belum sadar bahwa ia sedang diperhatikan.
Kini ia berdiri beberapa langkah dibelakangn Sofia. Hanya diam mengamati pergerakan wanita dihadapanya. Wanita itu sibuk dengan alat masaknya. Celemek warna biru muda melingkari tubuhnya. Tangannya cekatan seolah membuat apa saja yang ada dalam kulkas dapat menjadi sesuatu yang bisa dinikmati. Pergerakanya luwes sekali.
Tanpa sadar Araya tersenyum.
Dirumahku ada seorang perempuan. Membangunkanku, menyiapkan pakaian kerjaku dan membuatkanku sarapan... Dan wanita itu disebut istri...
Araya masih setia menekuni kegiatanya memperhatikan Sofia. Dan baru tersadar saat teriakan seseorang memekakkan telinganya.
" Astaga... Kau mengagetkanku kak... "
Araya menaikkan sebelah alisnya, melihat ekspresi kaget Sofia. Ah dia sendiri merasa dipaksa kembali ke dunia nyata.
Meninggalkan pemandangan yang belum pernah ia nikmati.
" Apa yang sedang kau lakukan ? "
Sofia memberengut kesal mendengar ucapan suaminya. Sudah lihat masih tanya.
" Menyiapkan sarapan untuk kita berdua... "
Araya menganggukkan kepalanya. Ia tahu, ia melihatnya Sofia sibuk berkutat dengan benda benda panas itu. Ia hanya tidak tahu apa yang harus ia katakan. Maka pertanyaan spontan itulah yang dilontarkanya.
Tanpa banyak bicara ia menarik kursi dan langsung mendudukinya. Diam sambil terus memperhatikan kegiatan Sofia. Menunggu Sofia yang masih sibuk kesana kemari mepercantik masakanya.
Tak berselang beberapa lama. Sofia datang dengan membawa sepiring roti tawar yang sudah matang. Roti itu dogoreng dengan lebih dulu dibalur dengan telur kocok. Baunya sangat harum. Persis seperti tadi saat ia baru saja keluar kamar.
Setau Araya model masakan seperti itu berasal dari Prancis. Ya dia hanya pernah mendengarnya saja.
Sofia segera meletakkan hidangan itu diatas meja makan.
"Mau minum coklat atau susu hangat? "
Tawaran itu keluar dari bibir Sofia.
Susu atau coklat panas?
Aaahhh pertanyaaan itu... Ia teringat ibunya. Hanya wanita itu yang selalu menanyakan apa yang ingin ia minum untuk menemani sarapanya. Hingga sejak kecil ia selalu mengatakan bahwa nanti jika dia sudah besar ia akan menikahi wanita cantik yang sebaik ibunya. Dan memiliki anak sepatuh dirinya. Ahh... betapa bahagianya.
Tentu ia selalu mendambakan itu semua, menghitung hari, berharap ia segera beranjak dewasa. Sayangnya kemalangan menimpanya. Ketika ia sadar ia tak normal seperti teman-teman sebayanya. Dan kenyataan itu menghancurkan impiannya. Ia sadar impian itu adalah impian yang tak akan pernah terwujud dalam hidupnya.
Saat itu liburan akhir tahun masa Sekolah menengah pertamanya. Kejadian yang membuatnya menyadari satu hal. Ia adalah pria cacat.
Awalnnya, Ia hanya tanpa sengaja mengetahui hal itu. Karena penasaran iapun terus mencari tau di internet. Belum juga puas akhirnya ia menemui seorang dokter. Dan hasilnya tetap sama. Ketakutan demi ketakutan menghampirinya. Ia sungguh merasa hidupnya hancur dan tak berguna.
Dan Perlahan Araya mengubur dalam dalam impianya menikahi wanita yang mirip dengan ibunya. Menikah adalah impian yang akan selalu menjadi impian belaka.
Hingga komitmen untuk tidak menikah ia sematkan dalam hidupnya. Sampai pada umurnya yang sekarang hampir kepala tiga.
Dan terpaksa menikahi Sofia, ini diluar kendalinya. Tidak pernah terbesit sedikitpun dalam pikiranya bahwa pada akhirnya ia akan menikah. Sofia, wanita yang saat ini menjadi partner dalam drama yang dimainkanya.
Namun tanpa sadar Araya merasa lega. Menikahi sofia setidaknya membuat impianya yang dulu terealisasi meski hanya beberapa petak saja. Meski palsu tapi ia pernah menikah bukan?
Ya... Pernikahanya memang hanya sebuah perjanjian semata namun setidaknya ia benar benar merasakan secara real bahwa sebuah pesta pernikahan dan ia menjadi pengantinya, memakai baju penganti dan mengucapkan janji suci didepan saksi. Memakai dan menyematkan cincin pernikahan dijari manis seorang wanita. Ah semoga ia tak terlena dan terperangkap dalam permainanya sendiri.
"Coklat hangat... "
Dan tanpa pikir panjang Araya memilih coklat hangat. Ia bukan pria kebanyakan yang menggilai kopi. Ia hanya meminumnya sesekali. Ia juga pria yang memiliki pola hidup sehat dengan tidak merokok. Jadi susu dan coklat lah yang mendominasi dapurnya.
Tak perlu waktu lama, Sofia membawakan dua cangkir coklat hangat. Satu untuknya dan satu lagi untuk Sofia sendiri. Selesai dengan kegiatanya, Sofia duduk tenang berhadapan dengan Araya.
" Apa yang kak Aray pikirkan? Silahkan dimakan... "
Sofia mempersilahkan. Ia bahkan tidak sadar sejak tadi Araya menatapnya bingung. Bagaimana seorang gadis kampung bisa menyediakan makanan seperti ini di meja makan?
Tidak hanya soal roti ala hidangan prancis tapi juga salad buatanya. Salad itu sangat terlihat berkelas dengan dressing yang sudah pasti itu adalah racikan tangan sendiri. Bukan hasil dari racikan pabrik yang dijual di berbagai minimarket.
"Mm yaa... "
Sofia mengangguk pelan. Tak yakin dengan apa yang dipikirkan. Apa makanan ini bukan selera Araya? Batinya.
"Tidak suka?... "
Sofia hati-hati menanyakanya.
"Ingin yang lain? "
Imbuhnya.
Araya menggeleng tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia mulai menikmati salad sayur buatan Sofia.
Enak...!
Suapan pertama masuk dimulutnya. Rasa salad buatan Sofia sangat enak. Entah berapa macam bahan yang ia campurkan. Ia hanya mengenali beberapa saja. Seperti lettuce kubis ungu tomat cherry alpukat bawang bombay ada serutan jagung juga. Dan ada beberapa yang ia tak tau bagaimana menyebutkanya.
Tampilanya pun sangat menarik dan segar. Dressing salad nya sangat lembut dan enak, menyatu dengan campuran segala macam sayuran tadi. Ia yakin dressing salad yang disajikan Sofia bukan racikan pabrik yang dijual di berbagai minimarket yang tersebar diseantero negri.
Rasanya beda, lebih mirip dressing restaurant terkenal yang sering ia makan. Sayangnya buatan Sofia jauh lebih enak dibanding sajian dari restaurant itu.
Gila ini sangat lezat... Darimana ia belajar membuatnya?
Araya sangat menikmati sarapan yang disajikan Sofia. Sampai ia tak peduli sejak tadi Sofia bengung dengan keanehan dari ekspresi wajah Araya.
Sebentar rerlihat berpikir sebentar kemudikan tersenyum. Entahlah...
Dia ini kenapa sih...
Melihat Araya sudah mulai menikmati makanan yang ia sediakan, Sofiapun ikut menikmati sarapanya. Tidak ada yang bersuara diantara keduanya. Mereka sibuk dengan makanan dan pikiranya masing-masing.
Araya menyesap habis coklat hangat didepanya, setelah menghabiskan roti dan juga salad sarapan paginya. Ia sangat puas dengan makanan buatan istrinya yang lezat. Bisa dibilang lebih lezat dari sarapan yang dulu sering dibuat oleh ibunya. Ia bahkan sempat heran dengan kemampuan Sofia yang baru ia ketahui.
Kemudian ia mengeluarkan dua buah kartu dari saku jasnya.
" Gunakan ini untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan untuk memenuhi kebutuhanmu. Kamu bisa berbelanja sepuasnya dengan kartu itu. "
Sofia melirik kartu berwarna hitam keemasan yang disodorkan Araya.
" Dan ini adalah tabungan yang akan aku isi setiap bulannya sebagai kompensasi pernikahan palsu kita. "
Lagi... Araya menyerahkan kartu berwarna biru laut.
" Itu bisa kamu gunakan saat kita sudah bercerai. Jadi kamu tidak perlu khawatir dengan keadaan finansial kedepanya. "
Sofia mengangguk kecil tanda mengerti. Bukanya matre, ia hanya tak ingin rugi dengan satu tahun menuruti permainan yang Araya ciptakan. Toh itu kewajiban suami menafkahi istrinya bukan. Lagipula pernikahan mereka sah dimata Agama maupun Hukum.
"Aku akan pergi ke kantor... Kamu boleh keluar untuk jalan-jalan. Tapi ingat... Jangan melakukan hal-hal bodoh dan membuat ku kesusahan. Jangan sampai tersesat dan hilang. "
"Aku bukan anak kecil"
"Tapi kau ini dari kampung. Belum tau bagaimana cara kota besar bekerja. "
"Baiklah aku akan berhati-hati dan tidak akan merepotkanmu"
Sofia mengalah. Ini masih terlalu pagi untuk berdebat. Dan ia tak mau menghancurkan harinya dengan pagi yang kacau.
Araya berdiri dari duduknya, ia mengambil tas kerjanya dan bersiap pergi ke kantor.
" Tunggu... "
Araya menatap Sofia penuh tanya. Apalagi yang diinginkan Sofia darinya? curiga.
" Apa kau suka saladnya? "
Araya mengangguk. Ia memang pria yang sangat dingin, namun bukan pria yang angkuh dan memiliki gengsi yang tinggi jika suka ia akan berkata suka. Jika tidak maka tidak akan mengatakan suka.
" Tunggu disitu sebentar.... "
Perintah Sofia. Dan Araya berdiri mematung taat.