Another me

Another me
Kejadian kemarin



Araya berjalan kesana kemari didalam kamarnya. Gelisah...


Tadinya, ia berencana akan lembur sampai larut malam demi untuk menghindari bertemu Sofia. Ia merasa sangat enggan bertatap muka dengan istrinya saat ini. Karena rasa canggung dan malu sedang menyelimuti hatinya.


Tapi pada kahirnya ia memutuskan untuk segera pulang karena tak memiliki tempat lain sebagai tujuan. Kasihan...


Untungnya, saat ia tadi kembali, Sofia belum sampai sebelum dirinya. Maka dari itu ia merasakan sedikit kelegaan dihatinya.


Hari ini hari jumat, Seharusnya ia akan memiliki banyak sekali pekerjaan. Tapi entah mengapa sama sekali tidak ada kesibukan dikantornya. Bahkan hanya sampai setelah makan siang semua urusanya sudah beres. Aneh sekali,


Dulu, ketika harinya tidak sibuk dan bisa pulang lebih awal, ia akan merasa sangat senang. Karena bisa berlama lama dirumah tanpa gangguan siapapun. Apalagi dihari libur sabtu dan minggu. Entah mengapa saat ini weekend terasa sebagai kutukan. Baru kali ini ia merasa benci dengan hari sabtu dan minggu. Berharap jika dua hari itu dihilangkan saja dari kalender. Bisakah? Ia sungguh tak sanggup jika harus berduaan didalam apartment selama dua hari bersama istrinya itu.


Saat ini, Araya telah berdiam didalam kamar selama beberapa jam. Bingung akan apa yang harus dilakukannya.


Kegelisahanya semakin menjadi ketika mendengar pergerakan dari seseorang di luar kamarnya. Yakin bahwa itu adalah Sofia, istrinya.


Sungguh ia sangat merasa enggan untuk pulang tadinya, ia belum siap untuk berhadapan dengan istrinya itu. Tapi sekali lagi ia tidak tahu harus kemana, jika tidak pulang ke apartemenya. Bertemu dengan kekasihnya? Ahh kekasihnya itu selalu lebih sibuk daripada dirinya. Kerumah utama? mana bisa? kemarin saja bertengkar sehebat itu.


Pasalnya, ia tak seperti William yang gemar menghibur diri di klub malam. Atau juga Ega yang hoby futsal. Ia hanyalah pria yang tidak terlalu suka dengan keramaian ataupun segala macam hiburan yang ditawarkan diluar sana. Karena dia akan lebih senang berdiam diri dirumah. Memasak untuk dirinya sendiri atau menonton film di ruang utama apartemen miliknya.


Tapi, ia bingung bagaimana harus bersikap saat bertemu dengan istrinya nanti. Ia mengingat betul satu persatu kejadian memalukan dimana ia mabuk dan diantar kembali ke apartemen miliknya oleh sahabatnya. Merasa mual kemudian memuntahkan isi perutnya ketubuh istrinya. Lalu ia juga tahu bagaimana ia bisa terbangun dengan keadaan telah berganti pakaian. Meski tidak tahu persis bagaimana caranya pakaian itu berganti. Tapi ia yakin itu, istrinyalah yang membantunya saat itu.


" Bodoh... Bodoh... Bodoh....!!! Bisa-bisanya aku... Sekarang harus bagaimana ini...! "


Araya menjambak rambut dikepalanya, Ia geram pada dirinya sendiri. Pada kecerobohan yang telah ia lakukan dan menjadi boomerang yang menyerangnya balik.


Araya masih setia mondar mandir dikamarnya, menggigiti kuku di jari tanganya berharap saja hari sudah berganti atau ia menghilang saja.


Ia masih sibuk dengan kekalutanya sampai ketukan pintu menghentikan langkah kakinya yang hanya berputar kesana kemari itu.


Tok tok tok...


" Kak Ar... Makan malam sudah siap... Kakak baik-baik saja? Kenapa daritadi tidak keluar kamar?"


Tubuh Araya menegang. Bahkan seolah oksigen dikamarnya mulai menghilang hingga sulit sekali baginya untuk hanya bernafas normal.


Sebenarnya makan malam sudah siap sejak setengah jam tadi. Dan Sofia sudah menunggunya dimeja makan. Namun setelah setengah jam berlalu dan Araya belum juga memperlihatkan batang hidungnya, Sofia menjadi khawatir. Ya... Khawatir jika kejadian tadi malam terulang kembali. Dan pemikiran absurd tiba-tiba merayap dikepalanya.


Mungkin bukan lagi mabuk, bisa saja suaminya itu melakukan hal-hal bodoh seperti bunuh diri misalnya. Hei... Dia pria dengan masalah berat saat ini, tebaknya sok tahu. Jika suaminya itu mengalami frustasi itu akan sangat menyulitkan kehidupan masa depanya nanti.


Tok tok tok....


Pintu kembali diketuknya karena belum juga mendapat balasan dari empunya kamar.


Sedangkan didalam kamar, Araya yang mendengar ucapan Sofia langsung membeku seketika. Menelan ludahnya sendiri kasar. Ia masih belum berani bertatap muka dengan istrinya itu. Cemas dan malu menguasai dirinya saat ini.


" Aku harus bagaimana...??? "


Sekali lagi, Araya mengacak rambutnya.


" Aaaarrrgh...!! "


Ia mengerang frustasi.


Sedangkan dari arah luar, Sofia yang semakin cemas masih mengetuk pintu kamar suaminya tanpa henti. Berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk.


Dalam kekalutan itu, Akhirnya Araya mendapatkan ide untuk menghadapi masalahnya. Lebih tepatnya, masalah yang diciptakanya.


" Bersikap cool... Iya pura pura lupa... Iya betul. Toh waktu itu aku mabuk. Jadi dia juga akan berfikir aku tidak sengaja dan melupakanya. Iya benar... "


Sejenak Araya mengambil nafas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya perlahan.


" Ok...!! Tarik nafas... Keluarkan... Tarik nafas... Keluarkan. "


Ia mengulangi kegiatan itu beberapa kali demi meredakan kecemasanya. Beberapa saat setelah yakin dengan rencananya iapun segera membuka pintu kamarnya.


Brugh...!!


Tubuh Sofia jatuh dan luruh sepenuhnya kedalam rengkuhan Araya yang reflek menangkapnya dengan sigap. Belum juga tenang karena kejadian kemarin, Araya sudah dibuat kalang kabut lagi, dengan tubuh mereka yang sudah saling menempel.


Tadinya, Sofia yang penasaran sekaligus mengkhawatirkan suaminya yang tidak keluar kamar sejak tadi, dan bahkan tidak menyahuti panggilanya yang sudah berkali kali itu, berusaha mencari tahu adakah pergerakan didalam kamar itu dengan menempelkan telinganya pada daun pintu kamar suaminya. Menempel seperti cicak didinding berharap dapat mengetahui masih adakah tanda-tanda kehidupan didalam kamar itu. Imajinasinya sudah merajalela kemana-mana. Meracuni pikirannya seolah terjadi hal yang mengerikan didalam sana.


Sialnya, bukannya mendapatkan informasi yang ia mau, malah pintu itu terbuka lebar secara tiba-tiba dan membuat tubuhnya yang bersandar disana oleng seketika.


Malam kemarin...


Setelah mengelap sedikit bajunya yang terkena muntahan suaminya, Sofia mengambil air hangat dan handuk kecil untuk membersihkan tubuh suaminya dari keringat dan juga bekas muntahan yang sempat mengotori pakaian suaminya itu.


Dilepaskanya kancing baju suaminya satu persatu tanpa ada perlawanan karena sepertinya suaminya tengah tertidur karena kelelahan, lebih tepatnya, tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol yang diminumnya. Ada sedikit rasa canggung dan aneh ketika ia melihat tubuh suaminya yang telah bertelanjang dada. Perasaan tidak rela atas matanya yang harus melihat pemandangan itu menyelimuti hatinya. Sialnya, jari-jari lentiknyalah pelaku yang merampas pakaian itu dari tubuh yang tak sadarkan diri itu.


Yasudahlah... Lagipula aku kan menolongnya. Daripada dia tidur dengan badan yang sekotor itu...


Begitulah pikirnya untuk membenarkan tindakanya.


Dengan telaten Sofia menyeka tubuh Araya. Dari mulai wajah leher tangan hingga bagian depan tubuhnya. Sampai pada saat ia menyeka tubuh suaminya sampai pada pusar dan pinggangnya, ia menepuk jidatnya sendiri.


Terus bagian bawah gimana?


Ia melirik sekilas pada titik tak senonoh baginya yang menjalani hidup dengan lurus itu.


Astaga naga... Sarang anakondanya gimana????


Kali ini, ia menepuk jidatnya berkali-kali.


Ia berpikir sejenak. Menimbang-nimbang apakah ia juga harus melepas celana suaminya juga agar dapat menggantikanya dengan yang bersih? Atau dibiarkan saja?


Sofia melepaskan handuk kecil ditanganya. Menaruhnya kembali kedalam baskom air yang digunakanya untuk membersihkan tubuh suaminya itu.


Dilipatnya kedua tanganya didada sambil menatap lurus bagian intim suaminya itu tanpa berkedip.


Haruskah aku membantu bagian itu juga? Tapi kasihan... Tapi gak mau... Takuuuut...


Sofia berdialog dengan dirinya sendiri.


Baiklaaaahhh mari kita hitung kancing baju saja... untuk memutuskan apakah aku harus mengurus bagian itu juga...


Sofia mengambil kemeja milik Araya yang tadi ia singkirkan ditepi ranjang.


" Ok kita mulai.... "


Iapun memulai untuk menghitung satu persatu kancing baju di kemeja Araya.


Sofia berhenti sejenak.


" Yaaa.... Kenapa berakhir dengan buka sih... "


Seru jengkel Sofia setelah mendapati hitunganya jatuh pada kancing ke tujuh. Yang berarti... buka.


Karena tidak terima dengan hasil hitunganya, ia kembali berhitung, namun kini mengganti obyeknya.


" Ok kita ganti dengan kancing piama ku saja... "


Dan Sofia kembali menghitung. Namun kali ini diawalinya dengan kata yang berlawanan.


" Jangan... Buka... Jangan... Buka... Jangan... Buka... "


Dirabanya baju yang ia pakai. Kain itu memiliki enam kancing saja. Oh Shit... Diluar ekspektasi. Mengapa harus berkancing enam? Mengapa tak sama dengan kemeja tadi?


" Ya ya yaaaa... ( sla ala korea...) Apa apaan ini? Bahkan kancing baju saja mempermainkan aku? "


Geramnya dengan suara yang semakin meninggi. Tak percaya bahwa kancing kancing baju itu telah membodohinya. apa yang dilakukanya tidak memberikan solusi yang terbaik baginya. Lebih tepatnya, tidak memberikan jawaban yang ia inginkan.


Lemas... Antara marah dan tak berdaya.


Akhirnya Sofia terpaksa harus menuntaskan pekerjaanya, yaitu membersihkan tubuh suaminya. Tak terkecuali dibagian manapun.


Tanganya kembali meraih baskom kecil yang tadi telah digunakanya. Merasa airnya sudah dingin, ia menghela nafas, karena harus mengganti air itu dengan yang baru.


Selesai mengganti airnya dengan air hangat lagi, ia duduk menghadap ranjang dan menatap Araya lekat.


Ia memejamkan matanya sejenak dan mengambil nafas dalam kemudian menghembuskan nafasnya sedikit berat.


Sesuai janjinya tadi, bahwa perlakuan selanjutnya sesuai dengan ramalan singkat oleh para kancing baju, maka ia akan melakukanya.


" Baiklah... Anggap saja aku sedang memandikan keponakanku dalam bentuk yang lebih besar "


Ia mencoba meyakinkan diri.


Kemudian mengulurkan tanganya, meraih ikat pinggang yang dikenakan suaminya dan melepasnya perlahan. Langkah pertama sukses tanpa halangan.


Kembali menghela nafas untuk melanjutkan kegiatanya. Kali ini dengan sedikit gugup ia meraih resleting celana kain itu dengan tak lupa menutup mata, namun juga mengintip sedikit demi kelancaran misinya.


Ok... Ikat pinggang beres. Resleting sudah terbuka. Tinggal menariknya dari ujung kain itu. Maka iapun berdiri kearah ujung ranjang untuk menarik ujung celana kain itu, dengan sebelumnya telah menyelimuti tubuh suaminya sampai pada batas leher.


" Akhirnya..."


Sambil mengelap keringat didahinya, Sofia merasa lega karena keberhasilan nya melepas celana seorang pria yang tak sadarkan diri dihadapanya. Sungguh sesuatu yang membutuhkan keberanian juga perjuangan. Lihat saja tubuh nya yang basah dengan keringat itu. Seolah menjadi wanita cabul yang sedang menelanjangi mangsanya.


Sofia segera keluar kamar dan mengembalikan baskom air beserta handuk kecil yang dipakainya mengelap tubuh Araya. Sebelum menggantikan baju suaminya dengan pakaian yang bersih, ia lebih dulu kembali kekamarnya untuk membersihkan tubuhnya dengan mandi kilat karena meskipun menggunakan air hangat, tetap saja ini sudah tengah malam. Dan itu tidak terlalu baik jika melakukan aktivitas mandi berlama-lama.


Selesai dengan dirinya, ia kembali menghampiri suaminya di kamar lain itu. Mengambil piyama tidur dan berencana memakaiakanya pada sang suami.


Awalnya begitu mudah dan lancar saat memakaikan atasan pada tubuh dihadapanya itu. Sayangnya, ketika ia hendak memakaikan bawahan yang senada dengan kain atasanya itu, Araya menggeliat menjejakkan kakinya hingga selimutnya melorot kebawah. Sofia yang sedang berusaha memakaikan celana pun tanpa sengaja melihat itu hingga matanya melotot tak siap dengan tontonan dewasa dihadapanya.


" Aaaahhh mataku... Mataku yang suci... Huaaaaa "


Sofia berteriak histeris atas kesialan yang menimpanya. Sayangnya, sekeras apapun ia berteriak. Tak sedikitpun mengganggu tidur Araya. Entah seindah apa manusia itu bermimpi hingga tak mendengar teriakan sekeras itu.


Dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian akhirnya perempuan bernasib sial itu berhasil memakaikan pakaian tidur untuk suaminya. Dan kini telah benar-benar merasa lega.


Namun tidak dengan rasa kesal dihatinya. Ia merasa dilecehkan padahal dengan tanganya sendiri ia melepas pakaian pria tak sadarkan diri itu serta menyentuh setiap kulit dari si pria itu. Tapi, sekali lagi, ia merasa bahwa disini dialah korbanya.


Dan dengan tatapan kebencian diikuti dengan sumpah serapah ia mengangkat kaki dan menendangi tubuh suaminya. Kata kata tidak senonoh dan segala macam umpatan ia lontarkan. Sungguh kesal ia hari ini.


" Arrrrgh... "


Brugh...


Sofia terplengkung keatas tubuh Araya. Tadi, saat kakinya masih asik merundung tubuh suaminya, dan mulutnya bersumpah serapah, Tiba-tiba Araya merasa terusik. Merasa sesuatu menyakiti tubuhnya, ia menangkapnya dan menariknya. Dan kini Sofia benar-benar telah sepenuhnya menduduki perut sixpack milik Araya. Merasa mendapatkan serangan dadakan, Sofia bermaksud membalas dengan memukul kepala Araya. Namun sebelum itu kesampaian, Araya telah membuka matanya dan menangkap tangan Sofia, kemudian tanpa aba-aba menariknya hingga Sofia benar-benar telah jatuh sepenuhnya didada bidang Araya.


Sofia berusaha bangkit, namun Araya sudah lebih dulu memegang tengkuk Sofia kemudian menariknya lebih dekat kedepan wajahnya. Saking cepatnya, Sofia tidak mampu mengelak ketika bibir Araya telah mendarat dibibirnya. Bahkan bibir Araya sama sekali tak memberikan ruang untuk Sofia bernafas. Sofia terus meronta dengan memukul dada Araya berkali-kali. Araya sempat menghentikan ciumanya dan melepaskan bibir Sofia. Namun tidak lama kemudian membanting tubuh Sofia hingga kini telah berganti posisi, Sofia berada dibawah kurungan tubuh Araya.


Arayapun kembali mendaratkan bibirnya dibibir Sofia. Kali ini ciumanya bahkan lebih ganas dari sebelumnya. Sofia kembali meronta. Merasa kehabisan nafas, Sofia memukul lebih keras dada Araya.


Sedangkan Araya yang merasa dirinya sendiri butuh oksigen, melepaskan bibirnya dari bibir Sofia. Dengan sedikit terengah, ia menatap dalam wajah Sofia. Meraba pelan bibir ranum milik Sofia yang baru saja dikulumnya.


" Sofia... "


Araya menyebut nama itu dengan bibirnya sendiri.


Sofia menegang. Bagaimana mungkin pria mabuk itu mengenalinya? Menyebutkan namanya dengan jelas. Bukankah seharusnya pria itu akan menyebutkan nama wanita yang ada dalam pikiranya saat dalam keadaan mabuk seperti itu? Lalu kenapa bisa dirinya dikenali oleh Araya?


Belum sempat ia sadar atas keterkejutannya, Araya kembali menyerang Sofia, namun kali ini berpindah kebagian leher gadis itu. Dan perbuatan Araya sukses meninggalkan dua tanda kemerahan sedikit keunguan disana.


Melihat Araya yang semakin tidak terkendali Sofia memutuskan untuk membuatnya pingsan dengan memukul bagian belakang kepala Araya.


Cukup dengan sekali pukul, Araya sudah tak sadarkan diri dan menimpa tubuh Sofia.


Melihat Araya yang sudah tak melakukan pergerakan, Sofia segera menggulingkan tubuh Araya dari atasnya. Ia mengusap kasar bibirnya yang sudah tidak virgin lagi akibat ulah Araya yang mabuk. Ya... Sofia memang pernah memiliki pacar. Tapi tidak pernah melakukan skinship seperti pasangan lain. Selain itu akan merugikan pihak perempuan, juga karena ia tidak suka akan hal itu.


Saking dongkolnya, dengan kakinya ia mendorong kuat tubuh Araya hingga terjungkal jatuh kelantai. Tapi ia malah semakin kesal karena ujung-ujungnya dia sendiri yang harus mengangkat dan mengembalikan tubuh Araya keatas kasur.


Kembali ke saat ini.


Araya terkejut. Tubuh Sofia yang menimpanya membuat mereka begitu dekat. Tanpa sadar tatapan mata Araya fokus pada bibir Sofia.


Bayangan tentang bagaimana ia membuka mata dan melihat istri culunya itu berada diatas tubuhnya, yang kemudian entah mengapa membuatnya seolah tersihir dan bertindak konyol dengan mencium gadis itu. Bahkan terlihat jelas bagaimana ia memberikan dua buah tanda dileher gadis tersebut.


Tentu saja, Hanya dari saat ia memuntahkan isi perutnya dan membuat tubuh istrinya kotor. Juga pakaian yang ia kenakan saat itu. Kemudian potongan ingatan saat Sofia berada diatas tubuhnya entah karena apa, hingga tanda kismark dileher gadis itu karena ulahnya. Bagaimana selanjutnya? Ia hanya menerka nerka. Setidaknya ia yakin bahwa tidak akan lebih jauh dari itu. Ia bahkan tidak tahu bahwa ia pingsan karena pukulan telak yang diberikan istrinya, malam itu.


Namun karena insiden itu pula yang membuat Araya sadar,


Ternyata bibir tipis bergelombang ini sangat terlihat seksi.


Araya mulai melantur melihat bibir tipis bergelombang itu. Entah mengapa, tak ada penyesalan sedikitpun untuk apa yang telah terjadi malam itu. Justru ia merasa senang karena telah merasakan bibir yang terasa sangat manis dalam ingatanya itu.


Tunggu...!! Apa-apan ini? Kenapa malah berdekatan seperti ini? Kenapa juga aku membayangkan tentang ciuman dengan bibir ini? Oh tidaaaakkkk


Araya baru sadar bahwa beberapa detik yang lalu berencana bersikap cool dan acuh pada gadis dihadapanya.