Another me

Another me
Kepulangan Samuel



Terminal 3, Soe - Ta, 10.55 am.


Panggilan untuk seluruh penumpang tujuan pulau dewata, Bali, menggema untuk yang kedua kalinya. Pemberitahuan tersebut berisikan tentang pemindahan pintu masuk ke pesawat yang berubah dari gate dua menjadi gate tiga.


Dan sepuluh menit kemudian, para penumpang diminta untuk segera bersiap siap melakukan boarding dengan sebelumnya dipersilakan antri terlebih dahulu.


Tak terkecuali dengan rombongan team model terkenal yang akan melakukan pemotretan dipulau wisata tersebut.


Mila yang kini telah bersama dengan teamnya, mulai berjajar rapi untuk antri memasuki pesawat seperti penumpang yang lainnya.


Meskipun ada sedikit drama saat memasuki area check-in, namun akhirnya ia berhasil lolos dan dapat melakukan penerbangan yang sama dengan teamnya.


Waktu yang ia miliki memang sangat mepet dan hampir tertinggal. Tapi dengan ketenaranya, ia dapat memberikan alasan kepada petugas dengan menceritakan sedikit cerita bohongan, yang bodohnya, dipercaya oleh para petugas disana.


****


Sebuah pesawat telah sukses melakukan landing tanpa menemui hambatan sedikitpun. Kemudian melaju perlahan menuju tempat parkir pesawat sesuai dengan instruksi para petugas.


Para penumpang diminta untuk tetap berada ditempat duduknya masing-masing dan tidak diperkenankan untuk melepas safety belt sebelum pesawat berhenti sempurna.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya lampu tanda yang berarti memperbolehkan para penumpang untuk melepas sabuk pengaman mereka menyala, barulah mereka bisa melepaskannya dan mengambil barang bawaan mereka masing-masing.


Namun sebelumnya mereka wajib mengantri untuk keluar dari pesawat agar setiap penumpang dapat turun dari pesawat dengan nyaman.


" Nak... Tolong bantu nenek ambil barang nenek ya"


Pemuda itu tersenyum.


Sejak mereka masih berada di area tunggu di salah satu bandara internasional di negara yang telah mereka tinggalkan dan bertolak ke tanah air tercinta, nenek itu sudah berada didekat si pemuda. Awalnya nenek itu meminta ijin untuk duduk disebelah kursinya yang terlihat kosong. Dan selanjutnya mereka saling mengobrol hingga ternyata tempat duduk mereka juga bersebelahan didalam pesawat.


Tak ayal perjalanan yang membutuhkan waktu berjam-jam itu digunakan mereka berdua untuk saling bercerita.


" Terimakasih ya nak. Sudah ganteng, baik pula. Kamu yakin tidak tertarik untuk berkenalan dengan cucu nenek yang cantik itu? Dia seorang dokter hlo. "


Nenek itu masih belum menyerah menawarkan kepada pemuda itu agar mau berkenalan dan kalau bisa dijodohkan dengan cucunya yang katanya sangat cantik itu.


Entah mengapa, nenek itu sangat menyukai pemuda yang baru ditemuinya beberapa jam yang lalu itu.


Disepanjang jalan menuju tempat pengambilan bagasi nenek itu masih saja memberikan penilaian terbaiknya terhadap perempuan yang ia sebut cantik yang berprofesi sebagai dokter itu. Yang tak lain adalah cucu dari sang nenek.


" Nanti dia datang menjemput nenek. Sebentar nenek carikan fotonya. Nenek yakin kamu pasti suka. "


Ucap si nenek yang segera mengotak atik ponsel yang dipegangnya setelah memindahkan tas kecil tentenganya ketangan si pemuda.


Dan sekarang kedua tangan pemuda itu penuh dengan barang bawaan si nenek yang cukup banyak.


Pemuda itu hanya mengangguk dan memasang senyum manis yang sedikit dipaksakan. Tentu saja, untuk menghargai si nenek yang terlihat begitu antusias membanggakan cucu kesayanganya itu.


Meski sedikit kurang nyaman, tapi ia tak ingin bersikap tidak sopan terhadap orang yang lebih tua darinya.


" Nah ini dia... Cantik kan cucu nenek? "


Nenek berkacamata besar itu dengan bangga memperlihatkan foto seorang perempuan berkulit putih dan cantik dengan rambut pendek yang terawat. Dalam foto itu terlihat perempuan itu memakai jas putih kebesaran mereka. Sekaligus sebagai identitas yang menunjukkan profesi mereka sebagai tenaga medis.


Pemuda itu mengamati dengan cermat dan masih memperlihatkan senyum manis dari bibirnya.


" Cucu nenek sangat cantik. Pasti nenek sangat bangga dan bahagia memiliki cucu secantik dia. "


Puji pemuda itu tulus.


Sang nenek begitu senang mendengar pujian pemuda tampan itu.


" Eh itu koper nenek sudah ada. Cepat ambilkan untuk nenek. Yang warna pink itu. Cepat..."


Perintahnya, yang kemudian membuat pemuda itu dengan sigap meletakkan barang bawaan si nenek serta menyerahkan tas kecil milik si nenek.


Warna pink...


Pemuda itu mengulangnya dalam hati.


Dengan cepat pemuda itu menyetop dan mengambil koper yang dimaksudkan oleh si nenek.


" Terimakasih... ayo jalan keluar. "


Pemuda itu menghela nafasnya. Nenek itu sudah melenggang pergi dengan masih sibuk dengan ponsel ditanganya. Yang berarti, koper dan semua barang tentengan milik si nenek harus ia yang membawakanya.


" Hai anak muda... kamu berbakti sekali ya. Melihatmu begitu perhatian kepada nenekmu, aku jadi merasa sangat iri dan ingin memiliki cucu laki-laki juga. Sayangnya semua cucuku perempuan. "


Seorang kakek yang kurang lebih sebaya dengan nenek tadi menepuk pundaknya. Dan berjalan beriringan denganya menuju pintu keluar.


Sedangkan ia yang dipuji hanya tersenyum tak menolak maupun menyetujui.


" Oh iya... apa kamu sudah menikah? "


Pemuda itu menggeleng. Yang berarti mengatakan tidak.


" Bagaimana kalau berkenalan dengan cucuku? mereka bekerja diperusahaan terkenal dan bank dengan posisi yang tinggi. Cucu-cucuku sangat cantik. Kamu bisa memilih dari tiga cucuku mana yang kamu suka. Oh... lagipula kita serumpun. Nenekmu tadi pasti akan menyetujuinya. Biasanya para orangtua memilihkan jodoh yang sama rasnya. Apalagi keturunan tionghoa seperti kita. Kebanyakan akan menjodohkan anak-anak mereka dengan sesama keturunan tionghoa untuk menjaga kemurnian ras kita. "


Satu lagi orang tua pemburu menantu.


Pemuda itu hanya mendengarkan dengan sedikit senyum sopanya. Tidak ingin menanggapi lebih. Ia sudah cukup lelah menghadapi nenek yang menjadikanya kuli panggul saat ini.


Kenapa para orang tua selalu sibuk membedakan ras sih.


Ia sedikit menggeleng. Merasa apa yang menjadi patokan para orangtua itu tidaklah benar. Dijaman sekarang ini, banyak sekali pernikahan berbeda ras. Bahkan berbeda agama. Entahlah kalau soal agama, ia tidak bisa banyak berkomentar.


" Oh itu dia cucuku yang nomor dua. Kerja di bank. Posisinya sudah manager. Dia cantik dan pintar. Seperti kakek neneknya. "


Kakek itu tertawa dengan pujianya sendiri.


Pemuda itupun tertawa kecil. Walau sebenarnya tidak tahu mengapa harus ikut tertawa.


" Ayo kakek kenalkan. "


Menarik tangan pemuda itu.


" Nenek... "


Seorang wanita cantik datang dengan langkah sedikit berlari menghampiri mereka. Perempuan itu benar benar-benar cantik dan bersinar.


" Cucuku... "


Teriak si nenek senang karena cucu kebanggaanya telah datang.


Dengan begitu si nenek berfikir bahwa cucunya datang diwaktu yang sangat tepat. Tepat karena dapat mempertemukanya dengan pemuda yang telah menjadi incaranya.


Syukur syukur membuat mereka berjodoh. Entah mengapa ketampanan pemuda yang berkarisma menurut nenek itu sangat menyita perhatian sang nenek.


Nenek itupun segera menengok kebelakang mencari keberadaan pemuda itu.


Merasa heran karena seorang kakek-kakek berusaha menariknya kearah yang berlawanan.


" Samuel... cepat kesini. "


Panggilnya.


" Sebentar nyonya. Bisakah saya membawa cucu anda sebentar? sebenarnya saya sangat suka denganya. Maka dari itu saya ingin mengenalkanya dengan cucu saya. Anda pasti suka dengan cucu saya dia sangat cantik dan pintar. "


Jelas kakek itu.


" Eee... tidak bisa. Saya lebih dulu ingin mengenalkanya dengan cucu saya. "


Tangan si nenek sudah mencengkeram pergelangan tangan pemuda itu.


" Hloh dia bukan cucu anda? "


" Sebentar lagi jadi cucu menantu saya. "


" Tidak... tadi anda bilang baru mau dikenalkan kan? "


" Tapi saya yang daritadi melobinya. Malah sudah sejak dibandara sebelumnya. "


Terjadilah perdebatan dibumbui adegan tarik menarik oleh kakek nenek itu memperebutkan si pemuda. Wajah bingung dan resah menyelimuti wajah pemuda itu.


Aduuuh... kok jadi gini sih... susahnya jadi ganteng. huhuhu...


" Kakek... "


" Nenek... "


Panggil cucu mereka hampir bersamaan.


" Nenek ada apa ini? Lepaskan dulu. Siapa pemuda ini nek? "


Cucu si nenek.


" Kakek ayo lepaskan tanganya. Kasian dia. "


Melihat adegan tarik menarik didepan mereka, Kedua perempuan yang diaku sebagai cucu dua orang teesebut langsung menghambur untuk melerai kedua lansia tersebut.


" Dia mau merebut calon cucu menantu nenek. "


Tunjuk nenek itu pada si kakek.


Sedangkan perempuan yang menjadi cucunya terlihat kaget sekaligus heran.


" Tidak... kalian kan baru mau kenalan. Aku juga mau cucuku kenalan dengan pemuda ini. "


" Kakek... sudah berhenti ya. "


" Tidak mau. "


" Dasar orang tua"


Ejek si nenek.


" Kamu pikir kamu belum keriput.? "


" Awas kamu... "


Belum sempat kedua orang lanjut usia itu saling adu kekuatan. Si pemuda sudah melepaskan segala barang bawaanya ke lantai dan bersikap siaga berada ditengah untuk melerai.


" Sudah sudah... berhenti. "


Merentangkan tangan memberi jarak pada keduanya. Ia merasa risih karena menjadi pusat perhatian orang-orang disekitar. Maka iapun merasa harus segera menghentikan kekonyolan ini.


" Kakek... ini kartu nama saya. Saya lihat cucu kakek sedang sibuk karena dari tadi melihat jam tanganya terus. Lebih baik kakek bersama cucu pulang terlebih dahulu. Dengan kartu nama ini, kalian bisa kapan saja menghubungi saya. "


" Terimakasih... "


Perempuan yang menjadi cucu kakek itu menerima kartu nama pemuda itu. Tanpa banyak kata lagi si kakek menurut saja. Kemudian merekapun berlalu dari pandanganya.


" Huh akhirnya pergi juga tua bangka itu. Enak saja mau merebut calon cucuku. "


Perempuan itu menatap bingung pada si nenek juga pemuda hadapanya. Terbersit berbagai pertanyaan dikepalanya. Seperti, siapa dia? Kenapa bersama nenek? Kenapa pula nenek sampai bertengkar dengan kakek tadi hanya u tuk memeprebutkanya? Calon cucu?


" Melisa sayang... Kenalkan ini namanya Samuel. Dia yang membantu nenek sejak dari naik pesawat. Dia juga menjaga nenek disepanjang perjalanan ini. "


Tanpa perlu basa basi lagi, sang nenek sudah paham dengan ekspresi wajah cucunya. Iapun segera memperkenalkan Samuel yang telah diketahui namanya dan pekerjaanya oleh nenek itu saat mereka mengobrol didalam pesawat selama perjalanan berlangsung.


" Samuel"


" Melisa"


Keduanya saling berjabat tangan.


Melisa yang terpesona dengan senyum manis Samuel tersipu malu. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar lebih cepat dari situasi normalnya.


Padahal dia sama sekali tak memiliki riwayat sakit jantung. Namun tatapan mata teduh Laki-laki dihadapanya itu mampu menghipnotisnya dan membuatnya merasa gugup.


Apalagi dengan jabatan tangan laki-laki itu yang sangat lembut Seolah dari sentuhan tangan itu mengeluarkan aliran listrik yang menyengat keseluruh syaraf ditubuhnya.


Melihat reaksi cucunya, sang nenek merasa puas karena mendapatkan respon yang sesuai keinginanya.


" Jadi... Bagaimana? Cucu nenek sangat mempesona bukan? Bagaimana kalau kalian saling bertukar nomor untuk saling mengenal? Kesinikan ponselmu, biar cucu nenek ketikkan nomor teleponya. "


Samuel menyerahkan ponselnya pada perempuan cantik dihadapanya. Tidak mungkin juga dia menolak keinginan sang nenek. Meski ingin sekali dilakukanya. Pasti akan terasa canggung dan tidak sopan. Demi mempertahankan sikap penuh sopan santun terpaksa Samuel menuruti keinginan nenek itu. Biarlah... Pikirnya. Toh tidak akan ia hubungi juga.


" Terimakasih... "


Ucapnya seraya menerima kembali ponselnya dari tangan wanita itu. Setelah perempuan itu mengetikkan nomornya dan menghubungi ponsel perempuan itu sendiri agar bisa menyimpan nomor Samuel.


" Hubungi kapan saja jika anda ada waktu."


Balas gadis itu.


" Oh iya bagaimana jika kita memgantarmu saja? Sekalian kita makan siang dulu? Kalian bisa mengobrol lebih lanjut lagi. Siapa tahu kalian cocok. "


Sang nenek begitu gencar mendekatkan pemuda yang baru dikenalnya itu dengan cucu kesayanganya. Entah darimana, tapi sang nenek begitu yakin pemuda ini sangat cocok dan pasti berjodoh dengan cucunya yang cantik dan pintar itu. Apalagi melihat kakek tadi juga mengincar pemuda ini. Semakin yakin bahwa tak hanya dia yang melihat betapa pemuda ini memang pantas menjadi menantu idaman para orang tua.


" Sebenarnya saya... "


" Saaaaammm... "


Tiba-tiba seorang gadis berwajah eropa berlari kearah mereka seraya meneriakkan nama pemuda disebelah mereka.


Seketika wajah sang nenek yang telah keriput termakan usia itu mengerut lebih dalam.


Sedangkan perempuan muda disebelah si nenek juga merasa heran.


Siapakah gadis itu?


Mereka bertanya-tanya dalam hati.


Pandangan mereka berdua tak lepas sedikitpun dari gadis itu. Apalagi tak dapat dipungkiri, gadis eropa itu sangat cantik. Dan terlihat begitu dekat dengan pemuda dihadapan mereka.


Ada rasa tidak suka terbesit dihati mereka masing-masing.


Ditambah dengan adegan romance yang disuguhkan dihadapan mereka.


Ketika gadis itu...


Berlari dan langsung menghambur kedalam pelukan Sam, pemuda yang mereka lobi sebelumnya. Hal yang lebih membuat mereka tercenang. Gadis itu melompat dan melingkarkan kakinya ke pinggang pemuda itu. Dengan kedua tanganya menguasai leher pemuda itu. Gadis itu memeluk tubuh Samuel sangat erat. Seolah tak mau melepaskanya. Bukanya merasa risih, pemuda itu justru terlihat menikmatinya. Jika saja ini adalah film romantis. Mereka sudah persis seperti pemeran utama yang saling merindukan sekian lama. Dan tanpa peduli dengan keberadaan manusia sekitar. Mereka saling mencurahkan rasa rindu yang mendalam pada pasangannya.


Kedua orang disamping mereka semakin merasa terancam gagal.


" Nenek bilang mau melobi pria tampan untukku. Taunya punya orang.. "


Sang nenek yang mendengar protes cucu kesayanganya yang disampaikan dengan sedikit berbisik itupun juga merasa kecolongan.


" Dia belum pakai cincin kawin. Paling cuma pacar. Selama janur kuning belum melengkung masih bisa ditikung. "


Sang nenek membalas dengan berbisik pula.


" Tapi sainganku bule cantik. Kalo yang tadi sih masih unggul aku pastinya."


Si cucu berbisik lagi. Kali ini tepat disamping telinga sang nenek.


" Keturunan tionghoa gak kalah cantik. "


Si cucu tersenyum. Memang darah tionghoa yang mengalir pada dirinya termasuk yang terbaik. Karena dia memiliki kepintaran hingga dapat masuk universitas ternama sebagai mahasiswa kedokteran terbaik. Apalagi parasnya memang juga mendukung, sangat cantik.


" Lagipula Samuel kan juga keturunan tionghoa. Pasti orangtuanya juga berharap dan lebih setuju dengan gadis keturunan tionghoa juga. Tenang saja. Nanti nenek bantu. Kamu juga harus pepet terus jangan kasih kendor. "


Samuel yang sibuk dengan kemanjaan Bella pun melupakan tentang keberadaan kedua orang yang baru saja dikenalnya itu. Sampai suara deheman yang sengaja dibuat oleh sang nenek itu menyadarkanya.


" Oh maaf nenek. "


Sang nenek tersenyum palsu.


" Siapa dia nak? "


Berusaha mencari informasi tentang gadis berwajah eropa itu. Walaupun jujur gadis itu terlihat sangat cantik dan yaaa lebih cantik dari cucunya. Meski ia mengakui itu, tapi baginya pemuda tampan bermata sipit hanya pantas bersanding dengan cucu tercintanya yang selalu tumbuh pintar dan berprestasi.


" Oh kenalkan nenek. Ini Bella... Mmm gadis yang sangat aku sayangi setelah ibuku. "


Samuel menatap Bella penuh rasa sayang. Tak lupa tanganya menggenggam erat jemari gadis yang dimaksud.


" Perkenalkan nek... Saya Bella "


Mengulurkan tanganya dengan senyum manisnya.


Sang nenek menjabat tangan Bella dengan senyum palsunya lagi. Menekan sedikit keras telapak tangan Bella memberi aura mengintimidasi dan memperjelas ajakan permusuhan.


Bella memekik tertahan tanpa mengeraskan suaranya yang tak terdengar oleh Samuel. Namun dengan sangat jelas terlihat dimata pemuda itu.


Tangan Bella terulur berpindah menyalami Melisa setelah sang nenek membebaskan tanganya yang sebelumnya mendapatkan ancaman tak kasat mata itu.


" Oh iya nek.. Tentang tawaran nenek tadi saya tidak bisa. Mungkin lain waktu nek. Karena... "


" Oh tidak apa-apa... Masih ada lain waktu. Lagipula kamu kan sudah bertukar nomor dengan cucu nenek. Jadi kapan saja kalian bisa membuat janji temu lagi. "


Sergah nenek itu dengan nada yang seolah ditujukan untuk gadis yang kata pemuda itu sangat disayanginya. Hanya untuk memberi sekedar info bahwa lelakinya sudah memberi jalan untuk berdekatan dengan wanita lain, Yaitu cucunya. Tak lain adalah wanita cantik yang seorang dokter ini.


Bella yang tak begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi menatap bingung sang nenek. Kemudian menggaruk dahinya yang tidak terasa gatal. Sambil sedikit melirik nenek beserta cucunya dari celah jari-jarinya yang menutupi sedikit matanya.


Apa hanya perasaanku? Nenek ini seolah memberikan peringatan permusuhan denganku.


" Kalau begitu... Sampai jumpa nek dan juga Melisa. Kami duluan. "


" Ei... Itu... "


Terlambat.


Samuel lebih dulu menarik tangan Bella, kemudian melingkari pinggang gadis disampingnya dengan tangan kananya, menjauh dari kedua orang itu. Ia sadar betul dengan sikap nenek tadi. Terlalu mencolok menurutnya.


" Hei... Hei... Hei...!! Sampai kapan kau akan melakukan ini? "


Bella memukul pelan tangan Samuel yang masih setia bertengger dipingganya yang ramping namun kokoh dengan ototnya.


Ia merasa susah mengimbangi langkah pemuda disampingnya ini. Langkahnya terlalu cepat menurut kakinya yang lebih pendek dari kaki milik Samuel.


Sedangkan yang dimaksud malah menyeringai dan tanpa aba aba menunduk dan mengambil tubuh gadis itu, memggendongnya ala bridal style.


Bella memberontak karena merasa sangat malu diperlakukan seperti itu diarea umum.


Yang benar saja. Situasi macam apa itu. Mereka memang sangat dekat. Bahkan siapapun selalu berfikir kedua orang itu adalah sepasang kekasih. Mana mereka tahu kalau kedua sejoli itu adalah sahabat karib jika mereka selalu memperlakukan satu sama lain semanis itu. Tapi mereka tidak pernah menyangkal dengan perkataan orang lain disekitar mereka. Pun tak mengiyakan pernyataan mereka juga.


" Sssttt diem dan bersikap manislah atau kamu akan terlempar kelantai."


Perkataan Samuel sukses membuat Bella diam tak berkutik. Tentu saja dia tak mau pinggangnya sakit karena benturan dengan lantai yang keras itu.


Selama berteman dengan pemuda itu, mereka memang saling menyayangi. Dan saling memberi perhatian satu sama lain.


" Ok sepertinya asyik juga jadi putri salju. "


Sebenarnya bukan kalimat itu yang ingin ia lontarkan. Tapi, tentang nenek dan cucunya tadi. Entah mengapa mulutnya tak sampai.


" Begitu bagus. Teriakanmu bisa menyita perhatian orang-orang. "


Bella tersenyum malu.


Padahal dengan tubuhnya yang berada dalam gendongan lelaki itu saja sangat menyita perhatian publik. Tapi Samuel hanya bersikap cuek dan terus berjalan menuju mobil Bella berada.


Sedangkan Bella sendiri, diperlakukan manis ditempat umum tetap saja membuatnya merasa malu sama seperti perempuan lainya.


Dan demi mengurangi rasa malunya, Bella membenamkan wajahnya kedalam dada bidang Samuel. Lagipula selama ini tempat itu adalah yang ternyaman baginya.


Samuel hanya membawa ransel yang ada dipunggungnya. Jadi membawa tubuh Bella tak akan merepotkanya juga.


****


Araya berjalan lunglai setelah melihat kekasihnya memasuki ruang check in.


Menghela nafas kecewa karena ditinggal kekasihnya tanpa pelukan apalagi ciuman selamat tinggal. Ah hari yang sial baginya. Akan ditinggal beberapa minggu yang tak jelas berapa jumlah harinya tapi diakhiri dengan pertengkaran.


" Saaaaammm.. "


Araya kaget mendengar teriakan seseorang dari arah samping kananya. Dengan lincah menarik kaki kirinya kebelakang setengah terhuyung menghindari gadis yang berteriak seraya berlari menerjang tanpa peduli apapun yang berada di depanya.


Hampir saja tubuh Araya tersambar oleh gadis yang berlari tanpa melihat sekitar itu.


" Dasar ceroboh... Serampangan... Hiiisssh!!! "


Araya mengumpat dan pandanganya tak lepas dari gadis yang kini telah bergelantung ditubuh seorang laki-laki.


Tidak tahu malu. Bertingkah seperti itu ditempat umum.


Araya masih terpaku melihat adegan romantis didekatnya. Awalnya ia memang mengumpat dan meremehkan. Namun selanjutnya ia merasa iri.


Ah seharusnya tadi aku juga seperti itu kan? Nasib... ooohhh... hanya bisa jadi penonton.