Another me

Another me
Arbella Sofia Van Houten



"Nduk... Perkenalkan ini eyang wida, ini ibu rosa dan pak bayu. Sedangkan ini nak Araya putra semata wayang mereka."


Gendis memberi jeda...


"Dan ini anak bungsu kami, namanya Bella. Ayo nduk salim sama mereka."


Ia mengangguk pelan kemudian berjalan memutari para tamu yang dikenalkan oleh ibunya, dan menyalaminya satu per satu.


Sore tadi saat ia telah sampai dirumah, ia bingung mendapati rumahnya ramai dengan datangnya beberapa tamu yang tidak ia kenal.


Seorang nenek yang seumuran dengan kakek nenek nya. Dua orang paruh baya, dan seorang pemuda...? Siapa mereka? Begitu isi kepalanya.


"Bella adalah ratu dirumah kami... Dia adalah cucu kesayangan saya. Anugerah terindah yang kami dapatkan dari Tuhan."


Dilanjutkan dengan tawa sang kakek setelah dengan bangga memperkenalkan cucu kesayangannya. Sang kakek menegaskan betapa berharganya dia untuk keluarga itu.


Bella adalah gadis desa yang sederhana. Kedua orangtunya berprofesi hanya sebagai petani biasa. Namun tanah yang di miliki keluarganya terbilang cukup luas mengingat kakek buyutnya yang merupakan asli orang Belanda. Bahkan kakeknyapun masih memiliki darah Belanda asli.


Pertemuan kakek Bella dengan seorang gadis manis dari desa tetangga yang berakhir dengan ikatan perkawinan merubah keadaan keluarga mereka yang secara otomatis kini memiliki darah campuran Jawa-Belanda.


Kasih sayang nenek buyut kepada kakeknya membuat sang kakek bersikeras untuk mendapatkan anak perempuan agar bisa memberikan nama ibu tercintanya yang telah tiada.


Apa daya istrinya malah hanya mampu memberikanya satu orang putra karena penyakit kista yang di deritanya, yang mengharuskan untuk merelakan rahimnya diangkat.


Kakeknya tidak menyerah, ketika sang putra, yaitu ayah Bella telah menikah, ia sungguh berharap putranya mampu memberikanya cucu perempuan yang cantik.


Bulan ke tahun, hari berganti, sepasang suami istri itu telah memiliki dua orang putra yang tampan mewarisi gen Kakek dan ayahnya. Mendapati putra dan menantunya yang dengan ikhlas berusaha menuruti keinginan sang kakek meski tak kunjung berhasil, akhirnya sang kakek menyerah. Sang kakek telah rela menerima takdir dan ikhlas setelah belasan tahun menunggu.


Mungkin sudah takdirnya bahwa ia tidak akan melihat lagi wanita sesempurna ibunya di keluarga ini.


Dalam kepasrahan dan keikhlasan itu, menantunya mengandung anak ketiga setelah belasan tahun lamanya terlewat. Tak di sangka, bayi perempuan mungil nan cantik lahir dari rahim memantunya yang telah hampir kepala empat itu.


Lebih dari mendapatkan durian runtuh, bayi itu hadir seperti hadiah yang sangat mewah dan berharga untuk keluarga mereka.


Begitu cantik karena lahir dengan rambut asli berwarna blonde dan bermata biru seperti sang nenek buyut. Berbeda dengan keturunan yang lain yang lebih dominan seperti kakek buyut mereka. Kakek, ayah dan dua kakaknya yang memiliki warna mata coklat dan rambut coklat kalem.


Bella berbeda... sungguh keajaiban yang diberikan pada keluarga mereka.


Terutama bagi Henrick sang kakek. Tentu saja sang kakek berbahagia karena dapat menyematkan nama ibunya sebagai nama depan cucu perempuan idamanya.


Arbella Sofia Van Houten.


Begitu nama lengkap bayi mungil yang baru saja lahir itu.


Dengan visual yang sama persis dan nama yang sama pula.


Bak seorang Putri, bayi mungil itu tumbuh dengan penuh kasih sayang dari keluarganya. Apalagi ia adalah merupakan putri satu satunya dalam keluarga itu.


Kedua kakaknya yang terpaut jauh di atas umurnya selalu bersikap protektif padanya. Ia lahir ketika usia kakak pertamanya sudah menginjak remaja dan kakak keduanya telah berumur 11 tahun.


Maka dari itu keluarganya sangat ingin ratu kesayangan mereka mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.


Tahun ini usia Bella telah menginjak 25 tahun. Usia yang sudah matang untuk membina rumah tangga. Pada awalnya keluarganya tak ingin memaksakan kehendak untuk menjodohkan putrinya. Namun sebuah perjanjian antara ayah dan anak mereka berakhir dengan diharuskannya untuk menerima perjodohan itu.


Toh lelaki pilihan mereka adalah keturunan dari teman baik sang kakek.


"Kamu harus menerima perjodohan ini nduk... Waktu yang bapak berikan sudah habis. Kamu tidak ada kesempatan lagi"


Tuntut Mr. Widakdo.


Setelah sesi perkenalan itu ia di panggil sang ayah ke belakang rumah. Tepatnya teras belakang rumah mereka. Memberitahukan maksud dan tujuan tamu tadi datang.


Sekaligus menagih janji dari sang putri. Ayah dan anak itu sepakat menbuat sebuah perjanjian. Bahwa dalam jangka waktu tiga bulan putrinya harus membawa calon menantu untuknya. Jika dalam waktu yang ditentukan ia tak berhasil mendapatkan calon suami, maka orangtua berhak menjodohkanya dengan laki-laki pilihan mereka.


Tentu saja itu salah satu faktor mengapa ia begitu setia menunggu kekasihnya itu melamar. Dan bodohnya daripada mencari calon suami yang pantas, ia malah menuggu yang tidak akan pernah berubah.


Sial...


Saat ia yang dengan naifnya berharap mendapatkan calon suami, justru malah di hianati dan di bohongi. Ketika ia diburu waktu, ia malah menuggu yang tak tentu.


Tidak ada alasan untuk menolak, tidak ada waktu untuk mencari ganti. Satu-satunya cara adalah berkompromi dengan calon yang akan dijodohkan dengan dirinya. Berharap laki-laki itu bisa diajaknya bicara.


Aku culun, kampungan, jelek dan sederhana... Pasti bukan typenya kan?


Menolak permintaan ayahnya adalah mustahil mengingat perjanjian diantara mereka. Jadi setelah makan malam sekaligus perundingan tentang perjodohan itu ia bermaksud untuk mengajak calonnya berbicara secara empat mata.


Usai berbicara empat mata dengan ayahnya mereka berdua kembali memasuki kediaman mereka dan segera berkumpul dimeja makan.


Saat makan malam usai para orangtua pun tak mau lagi mengulur waktu. Segera membicarakan tentang perjodohan itu.


"Nak Bella... Bersediakah kamu menerima anak kami menjadi suamimu? "


Dan setelah pembicaraan panjang kali lebar kali tinggi pertanyaan itu terlontar ditujukan untuknya. Sesaat Bella terperanjat mendengar pertanyaan itu. Apa yang harus ia lakukan?


Terang-terangan menolak tentu tidak mungkin karena dia sudah kalah oleh ayahnya. Jadi mau tidak mau ia harus setuju dengan perjodohan itu.


Ia melirik kearah laki-laki dihadapanya. Sejak pertemuan pertama hingga saat ini, tak keluar sepatah katapun dari mulutnya.


Tidak menyapa tidak basa-basi... diam seribu bahasa. Bahkan patung lebih menarik dari dirinya.


Cih... sikap itu membuat ia merasa kesal. Kesal karena merasa hanya dirinya yang terpojok saat ini. Merasa hanya dirinya yang akan menjadi kurban malam ini.


Tapi bagaimana? Ia sungguh tidak mau melakukan pernikahan tanpa Cinta seperti ini. Tidak dan jangan pernah terjadi... Doanya...


"Bagaimana nak? "


Bella tersentak untuk yang kedua kalinya saat kalimat itu terulang kembali ditelinganya. Memaksanya kembali dalam kesadaran dan meninggalkan peperangan batinya.


Belum juga sempat menjawab, Henrick kakek Bella mewakili untuk memberikan jawabanya.


"Tentu saja cucu kesayangan ku ini akan menjadi menantu dikeluarga kalian. Aku saja bisa melihat betapa cocoknya medeka berdua. Mataku tak mungkin salah melihatnya, keserasian antara mereka berdua."


Ya Tuhan... Kenapa eyangku itu bisa mengatakan hal-hal semacam itu?


Tidak bisa... Ia merasa harus segera berunding dengan laki-laki dihadapanya ini. Karena ia tak bisa menolak maka laki-laki ini satu-satunya cara. Ya dia sepertinya juga tidak menginginkan perjodohan ini kan? Lihat saja sikap acuhnya itu.


Aku rasa kita akan menjadi sekutu yang saling menguntungkan...


Seringaian kecil tercipta di sudut bibir mungil Bella.