Another me

Another me
Suami dan Istri



Araya menatap foto yang baru saja dikirimkan William padanya. Foto dimana dirinya dan William berdiri diantara Bella yang berada ditengah-tengah mereka. William yang antusias dalam foto itu berbanding terbalik dengan dirinya yang sedang memalingkan wajahnya menatap Bella seolah berfikir tentang sesuatu.


Araya yang masih diliouti rasa penasaran kemudian berdiri menuju papan tulis dari kaca yang terpasang di kamarnya. Mengambil spidol warna biru tua dan menuliskan sesuatu disana.


" Pria tadi di dipanggil Sam. "


Araya menulis nama panggilan itu tanpa tau lengkapnya, kemudian melingkarinya.


" Petarung perempuan tadi namanya Bella. "


Menulis lagi sebuah nama dan juga melingkarinya.


" Waktu itu Sam terlihat dibandara berpelukan dengan perempuan berambut blonde. "


Araya mengetuk ketukkan ujung spidol yang sudah ditutup ujungnya pada dagunya. Barfikir.


" Bella juga berambut blonde. Kemungkinan besar itu dia kan? "


Araya terus menatap lurus kedepan fokus pada dua nama yang dengan tanganya sendiri menulis nama itu.


" Lagipula mereka sangat dekat bukan? Bisa dipastikan yang aku lihat dibandara itu adalah Sam dan Bella. "


Lagi, Araya menulis sebuah nama.


" Tapi dia juga bertemu dengan Sofia siang ini. Mereka juga terlihat sangat dekat, hiiissshhh bahkan sampai bermesraan ditempat umum. Konyol sekali... "


Ucap Araya yang tanpa sadar merasa kesal entah dengan alasan apa.


" Shhh Kapan mereka berkenalan? Sepertinya bukan baru saja mereka saling mengenal. "


Ia berpikir lagi.


Araya mulai menggambar garis lurus diantara nama Sam, Sofia dan Bella.


" Apa ini cinta segitiga? Sial... jangan jangan lelaki ini pria brengsek yang suka menipu wanita dan memanfaatkannya. Dilihat saja sudah jelas. Pergaulanya juga, mainya ditempat seperti itu. Ck... Dasar bodoh Sofia ini. Bagaimana bisa terlibat dengan pria macam dia. "


Araya menijit pelipisnya frustasi. Karena jika terjadi sesuatu pada gadis itu. Maka dirinya juga akan terkena masalah. Terutama dari kedua keluarga mereka.


****


Ceklek...


Sofia membuka kamarnya. Ia baru saja pulang dari tempat pertandingan. Sebelumnya, dia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengubah penampilannya menjadi Sofia. Itulah mengapa ia akhirnya pulang lebih larut.


Dilemparnya tas lusuh miliknya keatas kasur kemudian masuk kekamar mandi untuk segera mencuci tanganya. Dia memang sudah terbiasa mencuci tangan setelah kembali dari luar rumah. Bahkan mencuci semua barang belanjaan sebelum dimasukkanya ke dalam lemari es. Sebenarnya dia bukan seseorang yang mengidap OCD, hanya saja Sofia sangat mencintai kebersihan. Karena sedikit sensitif pada bagian hidungnya.


Keluar dari kamar mandi, ia dikagetkan dengan keberadaan Araya yang berdiri ditengah pintu kamarnya dengan melipat kedua tanganya didada.


Ngapain lagi itu manusia satu...


Sofia merasa jengah. Kedatangan Araya pasti akan menimbulkan perdebatan yang sebenarnya tidak perlu dan tidak pernah penting.


" Darimana saja kamu... "


" Perpustakaan umum. "


Jawabnya singkat. Sungguh ia tidak ingin meladeni si manusia aneh dihadapanya.


" Selarut ini? perpustakaan mana yang buka sampai jam segini? "


Berjalan pelan menuju sofa dikamarnya, Sofia hendak membereskan buku-bukunya untuk diletakkan dirak buku dalam kamar itu.


Sofia menegakkan tubuhnya kemudian memutar badan menghadap pada Araya yang masih setia berdiri ditengah pintu.


Melihat gelagat abai dari istrinya, Araya naik pitam.


" Jawab Sofia!! Jangan berani kamu berbohong! Apa kamu tidak punya mulut? Jawab!! "


Sofia tersentak kaget mendengar suara Araya yang meninggi. Terlihat jelas raut wajah marah tergambar disana.


Ya Tuhan...


Akhirnya dengan menundukkan kepala dibarengi sedikit rasa takut Sofia terpaksa menjelaskan.


" Tadi siang setelah mengantarkan makan siang untuk kakak aku pergi bertemu dengan teman. Terus periksa mata ke rumah sakit. Dan pergi ke perpustakaan umum. "


Begitu jawab Sofia. Tidak semua benar tapi juga tidak semuanya bohong.


" Matamu kenapa? sakit? "


Mendengar kata periksa membuat fokus Araya teralihkan sementara.


Eh bukan itu point yang aku harapkan.


" Skip soal mata. "


Araya mengangkat tangan dan merentangkan kelima jarinya.


" Siapa... siapa teman yang kamu maksud? Bukanya kamu baru disini? teman darimana? Apa teman yang membuatmu menginap waktu itu? "


Tanyanya menyelidik. Jika jawaban Sofia membenarkan pertanyaan yang dilontarkannya berarti istrinya bermalam dengan pria lain. Yaitu pria yang ditemuinya beberapa jam lalu. Pria yang dipanggil dengan sebutan 'Sam' itu.


Dan kesal adalah perasaan Araya saat ini.


" Teman kuliah kak. Dia bekerja disini. "


" Jadi kalian sudah kenal lama? kalian janjian? wah... sepertinya kalian dekat. Kalau tidak bagaimana saling menyimpan kontak dan saling menghubungi. "


Tuduhnya.


Sofia menghela nafasnya. Tidak mengerti dengan apa yang diinginkan suaminya itu. Jelas sekali dalam kontrak pernikahan mereka dilarang mencampuri urusan masing-masing. Tapi suaminya itu selalu mendebatnya soal masalah pribadinya. Lucu sekali.


Eh tunggu... kenapa dia securiga itu? apa dia tahu aku bertemu dengan Sam?


" Apa dia teman yang kamu maksud mengajarkan resep baru padamu? Apa kau benar-benar menginap dengan temanmu yang itu?"


Masih belum menemukan jawaban yang diinginkanya.


Benar kan... pasti dia melihatku bersama Sam. Jika tidaak, kenapa dia bisa bertanya begitu kalau tidak tahu temanku itu laki-laki. Tapi... dimana? kapan?


Setelah meletakkan seluruh buku itu pada tempatnya, Sofia berbalik badan dan mendekat kearah Araya.


Dan justru saat itulah Araya merasa kaget melihat dengan jelas luka dibibir Sofia yang tadinya hanya terlihat samar dari tempatnya berdiri. Pemandangan yang mengalihkan pikiranya tentang kemana Sofia pergi, dengan siapa ataupun segala rasa penasaran tentang istrinya itu.


" Bibirmu kenapa? Apa yang terjadi? "


Panik.


Sofia menghindar dengan cepat ketika tangan kanan Araya terulur untuk menyentuh lukanya.


Bibir? Ah sial pukulan yang tadi aku dapatkan pasti membekas.


Sofia membatin.


Tangan Araya menggantung di udara ketika mendapatkan penolakan dari Sofia. Mengernyitkan dahinya, benar-benar tidak paham dengan situasi. Seolah bertanya kenapa menghindar?


" Ah... itu jangan disentuh. Jika disentuh rasanya semakin nyeri. "


Melihat ekspresi Araya, Sofia paham sehingga mengatakan kalimat itu agar tidak menambah kecurigaan suaminya.


Tatapan tajam Araya membuat Sofia sedikit gugup. Sekiranya apakah yang harus dikatakan agar suaminya tidak banyak tanya dan terlalu curiga.


" Mmm tadi aku hampir terserempet motor walaupun berhasil menghindarinya, tapi aku terdorong kebelakang dan jatuh di trotoar. "


Berharap Araya akan percaya dengan cerita palsunya, Sofia berusaha memasang wajah yakin dengan apa yang dikatakanya. Memberikan penjelasan asal muasal lebam dan luka dibibirnya tanpa diminta Araya.


Jelas jelas itu lebam dari sebuah pukulan. Jatuh di trotoar tidak akan seperti itu lukanya. Apa karena Bella si blonde itu mengetahui pertemuan antara Sam dan Sofia, lalu dia marah dan mendatangi Sofia? Dilihat dari caranya bertarung sudah jelas wanita itu lihai dalam membuat lebam pipi orang lain. Apalagi gadis bodoh ini.


Araya membatin. Sesuatu yang ia yakini sebagai penjelasan luka dipipi istrinya. Ada sedikit rasa kasihan pada istrinya, membayangkan gadis culun dan lemah dihadapanya harus berurusan dengan Bella si blonde yang menjadi juara dalam pertandingan tadi. Dari sudut manapun, kecantikan, kepintaran, pamor, Araya yakin Sofia tidak ada apa apanya dibandingkan dengan Bella.


Apa yang kukatakan ini bisa dikatakan masuk akal?


Bahkan Sofia sendiri masih tak begitu yakin dengan penjelasan asal yang dibuatnya.


Tiba-tiba Araya menyeret Sofia duduk diatas kasur didalam kamar Sofia. Kemudian keluar dengan sedikit berlari. Entah apa yang akan dilakukanya.


Tak lama kemudian, Araya kembali membawa kotak P3K ditanganya.


" Sini... luka begini harus segera diobati. Nanti bisa lama sembuhnya kalau tidak segera ditangani. "


Dengan telaten Araya mengoleskan obat kearah luka dibibir sofia.


" Ishhh... "


Desis rintihan menahan perih tak tertahankan keluar dari bibir mungil Sofia.


" Maaf... aku akan lebih pelan. "


Araya bersungguh-sungguh dan mulai lebih berhati-hati. Fokus pada luka istrinya, membuat Araya melupakan perdebatan yang masih belum terjawab baru saja. Namun juatru itu membuat Sofia lega. Karena ia tak mau meneruskan pertengkaran yang tidak penting baginya itu.


Sofia terpana melihat wajah suaminya yang tidak pernah dia sadari akan setampan itu. Wajah itu terlalu dekat denganya hingga tanpa sadar degup jantungnya kian menjadi.


Apa ini?? sejak kapan ada orang yang terlihat lebih keren dari Samuel? Dan lagi... kenapa jantungku? bukankah aku sudah pernah periksa dan dinyatakan tidak memikiki gejala penyakit jantung?


Ya... bagi Sofia, standar ganteng dan menawan telah ia nobatkan ada pada diri sahabatnya itu. Meski ia telah mengunci satu orang dan menyatakan untuk mengejarnya. Namun orang itu belum sempat ia temui. Jadi ia baru terpesona lewat foto saja. Sedangkan Araya, suaminya. Kini sesuatu yang nyata berada di hadapanya. Pesonanya yang terasa begitu kuat, mengunci pandanganya tak mau beralih dari wajah tampan dihadapanya.


" Ok... "


Tak lama Araya telah menyelesaikan kegiatannya dibibir Sofia yang terluka.


" Tunggu sebentar. "


Sofia yang masih bingung dengan sikap Araya, hanya diam tanpa suara. Bahkan merasa bagaikan didalam mimpi, saat mendapatkan perhatian dari suaminya yang dulu bahkan enggan hanya untuk menyapanya saja.


" Sini aku bantu mengompres pipimu. Lihat ini sudah mulai terlihat membiru. Pasti sakit ya.... "


" Ouch...!! "


Rasa sakit dan perih yang dirasakan, membuat Sofia sadar bahwa ini bukan mimpi. Araya, suaminya yang dingin dan cuek padanya itu sedang membantunya untuk mengobati lukanya. Dan sialnya, benar-benar terlihat sangat tampan.


Ternyata dia ganteng ya... wah gila, apa ini....


" Ok... sudah selesai... Oh iya mulai besok kita pindah ke rumah utama. "


" Oh... baiklah... "


Sofia yang masih terlena dengan suaminya yang baru disadarinya ternyata sangat tampan itu belum begitu dapat menangkap maksud ucapan Araya.


Tunggu...


" Apa...??? "


Teriaknya setelah kesadaranya kembali.


" Apa sih teriak teriak. "


" No... tidak bisa kak. Aku tidak mau. "


Araya mengernyitkan dahinya.


Siapa juga yang mau.


Batin Araya yang langsung menyanggah.


Heran dengan tanggapan Sofia yang menurutnya sedikit aneh. Walaupun dirinya sendiri juga tidak menginginkan hal itu. Tapi masih bisa menerima dengan lapang dada. Apalagi dengan ibunya yang susah dibantah. Tapi, mengapa Sofia terlihat begitu tegang mendengar tentang rencana pindah ke rumah orangtuanya?


" Apa kamu pikir aku setuju? tapi aku tidak punya alasan untuk menolak. "


" Tapi aku tidak bisa kak. Kalau kita tinggal disana sudah pasti harus tidur dalam satu kamar. Dan tidak leluasa dalam segala hal. "


Lagi-lagi Araya mengerutkan keningnya mendengar penuturan Sofia. Walapun benar, tapi bukan sesuatu yang akan membuatnya merugi dalam hal apapun. Hanya tinggal sekamar, apa susahnya. Ah dia tidak pernah tahu jika ' hanya ' menurutnya adalah kata yang sangat ditakuti Sofia.


" Kenapa kakak tidak menolak? "


" Aku tidak bisa melakukanya. "


" Kenapa? Apa kakak melakukan sesuatu sehingga mama marah dan menyuruh kita tinggal bersama mereka? iya kan? pasti ini ada hubunganya dengan kakak. "


Mengingat kelakuan Araya di belakangnya, Sofia mulai curiga, apalagi tadi pagi dia sempat tanpa sengaja melihat gossip di tv yang menayangkan suaminya yang sedang bersama seorang model terkenal.


" Mmm itu... "


" Karena mama melihat gossip tadi pagi? "


Potong Sofia yang mulai tak mampu menahan diri.


" Kau juga melihatnya? tenang saja itu hanya gossip. Nanti juga hilang sen... "


" Apa kakak pikir aku ini bodoh? Aku tidak hanya melihat kakak sekali dua kali mengisi layar kaca dengan perempuan itu."


Sofia benar-benar lepas kendali. Kesal sekali rasanya memiliki suami yang berselingkuh dengan ceroboh sampai diketahui publik. Harusnya kalau mau selingkuh itu pandai pandailah dalam menyembunyikannya.


" Kamu apa-apaan sih Sof? kita kan sudah sepakat untuk tidak mengurusi urusan masing-masing. Kenapa kamu harus marah melihat gossip itu. "


Melihat amarah Sofia, Arayapun terpancing emosi.


" Lagipula jangan hanya mau menghakimiku kalau kamu sendiri berani bermesraan dengan pria lain. Apa kamu pikir aku tidak tahu kelakuanmu diluar sana? Laki-laki itu bernama Sam kan? "


Sontak Sofia kaget dengan apa yang dikatakan suaminya.


Darimana Araya tahu soal Samuel? Sofia sungguh ingin mengetahuinya. Tapi bukan itu yang harus diurusnya saat ini. Ada hal lain yang lebih harus diutamakanya.


Sofia menarik nafas mencoba untuk tetap tenang.


" Ok... soal Sam maupun Mila sang model terkenal itu urusan kita masing masing. Jadi tidak perlu saling menyalahkan. "


" Itu berarti kamu mengakuinya kan? kamu juga menjalin hubungan dengan pria lain dalam pernikahan kita. Dasar tidak setia."


Ejek Araya.


Yang seharusnya juga ditujukan pada dirinya sendiri.


" Terserah apa kata kakak. Yang jelas kakak tidak mau kan kita tinggal dirumah mama? "


Kata Sofia yang tidak menyangkal ataupun membenarkan tuduhan yang dilayangkan Araya padanya. Toh memang dia berhubungan sangat dekat dengan Samuel.


" Tentu saja. Akan sulit bagiku bertemu dengan kekasihku yang sangat aku cintai itu. "


Ucap Araya yang ingin membanggakan cintanya pada Mila, kekasihnya.


Segitu cintanya dengan gadis itu ya.


Pikir Sofia. Walaupun tak ada rasa iri maupun sakit hati. Tetap saja sedikit rasa benci terhadap gadis itu. Karena dialah yang membuat dirinya dan Araya harus menanggung akibat dari tersebarnya gossip tersebut.


" Aku tahu kakak sangat mencintainya."


Araya mengangguk membenarkan ucapan istrinya. Karena Mila memang wanita pertama dan satu-satunya yang pernah menaklukkan hatinya.


" Oh iya aku ada urusan di Jepang. Dan lusa aku akan berangkat kesana. Kita bilang saja ke mama kalau kakak yang akan pindah kesana sendiri sedangkan aku pergi ke Jepang karena ada pekerjaan yang harus aku urus. "


Usulnya, yang langsung mendapat penolakan dari Araya.


" Tidak bisa. Kalaupun kamu tidak tinggal disana. Sama saja hidupku akan terus terawasi. Kalau begitu hanya aku yang rugi. Tidak mau... Lagipula alasan macam apa itu Memangnya kamu kerja apa bisa sampai pergi kesana. Mana mungkin mama percaya. "


Protesnya. Benar juga kata suaminya. Memang kerja apa dia sampai harus ke Jepang untuk mengurusnya.


Sofia sendiri lupa bahwa hanya keluarganya dan keluarga Samuel yang mengetahui semua rahasia miliknya.


" Terus bagaimana? "


" Kamu ke Jepang ngapain? "


" Jangan mengurusi urusanku. "


Araya menghela nafasnya. Begitu banyak hal yang tidak ia ketahui tentang istrinya. Walaupun memang tidak peduli. Tapi ketika benar-benar tidak tahu sama sekali. Ada sedikit rasa jengkel bercampur dengan kekesalan juga penasaran.


" Bagaimana kalau kita buat seolah kita akan berbulan madu ke sana? "


Araya memberi ide.


" Setuju. "


Balas Sofia tanpa pikir panjang.


****


Pada hari berikutnya Araya dan Sofia datang ke kediaman Santoso untuk menolak keinginan ibu Araya dan sekaligus menyampaikan keinginan mereka untuk berbulan madu ke Jepang. Bukan bulan madu yang sebenarnya memang. Tapi, mereka berharap dengan rencana kepergian mereka, kedua orangtua suaminya akan berfikir bahwa rumahtangga mereka baik-baik saja. Walaupun diterpa gossip tidak sedap diluaran sana. Kerjasama yang bagus antara suami istri itu.


" Jadi... kalian akan berbulan madu? "


Rosaa yang mendengar kabar itu sangat antusias dan juga bahagia. Sedikit demi sedikit rasa khawatir tentang rumahtangga anaknya mulai menguap. Apalagi makin hari gossip itu mulai mengatakan kalau Mila merupakan salah satu artis dari perusahaan anaknya. Ada juga yang mengatakan bahwa keberadaan mereka dibandara adalah untuk urusan pekerjaan.


Tentu saja artikel itu muncul atas kekuasaan Araya di dunia entertainment. Meski berita itu bukan hanya gossip dan bahkan benar adanya bahwa dirinya dan Mila sang model terkenal itu menjalin kasih. Demi reputasi perusahaan maupun Mila sendiri, mereka harus menutupinya.


" Iya ma... saya dan kak Araya sepakat untuk berbulan madu. Lagipula pekerjaan kami tidak terlalu sibuk akhir-akhir ini. Jadi ini merupakan kesempatan bagi kami. Karena belum tentu ada waktu senggang d kemudian hari. "


Jelas Sofia pada kedua mertuanya.


" Papa senang kalau kalian memutuskan untuk berbulan madu. Itu akan menambah keromantisan dalam hubungan kalian. Papa dan mama juga sudah tidak sabar menggendong cucu. Kami harap kalian segera memberikan kabar baik sepulang dari Jepang nantinya. "


Sofia dan Araya, keduanya sedikit gugup dengan pembahasan para orangtua. Tabu bagi keduanya yang sama-sama belum pernah sekalipun melakukan hal itu meski umur mereka terbilang sudah dewasa. Dan pernikahan mereka sudah berjalan dua bulan. Karena bahkan mereka telah sepakat untuk bercerai setahun kemudian. Tanoa sepengetahuan keluarga mereka.


****


Araya berjalan mengikuti Sofia yang terlihat sangat antusias dalam perjalanan mereka ke Jepang. Bahkan dalam perjalanan itu, semuanya diatur oleh Sofia. Dari tiket pesawat, hotel dimana mereka menginap bahkan tempat yang akan mereka kunjungi. Ahh untuk yang terkhir itu, soal tempat yang akan dikunjungi Sofia maksudnya.


Sofia memang sudah merencanakan perjalanannya, namun tidak ada tempat yang direncanakanya untuk didatangi bersama suaminya.


" Arigatou gozaimasu ne "


Ucap Sofia seraya menerima dua buah key room.


" Kamu bisa berbahasa Jepang? "


Tanya Araya yang mengekor di belakang Sofia. Melihat dalam perjalanan dari bandara, menyetop taksi yang kemudian mengantarkan mereka ke hotel tujuan mereka sampai check-in kamar yang semuanya dilakukan Sofia dengan menggunakan bahasa Jepang tanpa kendala membuat dirinya penasaran. Setaunya Sofia belajar bahasa mandarin saat kulyah. Lalu darimana kemampuan itu berasal. Kapan gadis itu mempelajarinya? Sungguh berbanding terbalik dengan penampilan culunya. Apalagi dengan caranya memimpin perjalanan mereka. Sofia sama sekali tidak merasa canggung seolah terbiasa pulang pergi ke luar negeri.


Sudah tahu masih nanya.


" Darimana kamu belajar? bukankah kamu bilang mengambil sastra china saat kuliah? "


Sofia menghela nafas. Baru tahu ternyata suami yang selalu bersikap dingin itu bisa menjadi sangat cerewet akhir akhir ini.


" Aku hanya mempelajari sedikit kalimatnya saja. Tidak ada cara khusus kok. "


Araya masih belum puas dengan jawaban yang diberikan Sofia. Tidak percaya istri culunya bisa sepandai itu.


" Selain bahasa mandarin dan jepang apalagi yang kamu kuasai? "


" Tidak ada. Aku hanya bisa sedikit bahasa jepang. Mana ada menguasai. "


Kilahnya. Padahal meski tak selancar berbahasa mandarin, bahasa jepang Sofia cukup bagus dalam conversation.


" Benarkah? "


" Aduh...!!! "


Sofia berhenti mendadak hingga Araya yang terus mengekorinya menabrak tubuh Sofia yang berada didepanya.


" Kakak mau kemana? Kamar kakak disebelah. "


Tunjuk Sofia pada kamar yang bernomer lebih besar dari kamarnya.


" Dan ini kunci kamar kakak. "


Araya segera mengambil alih kunci kamar sewaanya dari tangan istrinya dan melangkah masuk setelah memutar kunci tersebut. Ia sempat menoleh kearah kamar Sofia. Melihat gadis itu memutar kunci kamar dan membuka pintu kemudian memasukkan barang bawaanya.


" Siapa istriku sebenarnya? Terkadang dia terlihat sangat kampungan dan culun, menjadi penurut dan terlihat lemah. Tapi kadang bisa tiba-tiba mengeluarkan ekspresi yang tidak bisa aku baca apa maksudnya. Pandai berbahasa asing dan terlihat berkharisma pada saat saat tertentu. "


Araya menggelengkan pelan kepalanya. Ternyata ia benar-benar tidak mengenal siapa sebenarnya gadis yang telah ia nikahi.


" Didunia ini, adakah nama yang lebih sakral dari sebutan ' suami dan istri ' ? "


Araya merebahkan diri diataa kasur queen bed dikamarnya. Memejamkan matanya sejenak. Kembali mengingat ingat kejadian tiga bulan terakhir yang telah mengubah setatusny.