
"Tepat seperti dugaanku... Anak Mama... Huh dasar merepotkan saja."
Kalimat itu keluar dari mulut Sofia setelah melihat Araya dan William sudah memasuki pintu perusahaan.
Ternyata tidak terlalu sulit untuk menaklukkan pria salju itu. Sesuai dugaan Sofia , Araya dulunya anak mama yang dipaksa untuk dapat menjadi anak yang mandiri. Ia juga yakin bahwa sikap dinginya itu hanya untuk menutupi kelemahanya.
Sebelum pindah ke apartemen Araya. Sofia sempat berada dirumah Araya seharian meski tanpa menginap. Disana ia sempat mengobrol dengan ibu mertuanya, Rosa. Disana ia mendapat wejangan dan sedikit informasi mengenai Araya. Ia juga sempat melihat foto masa kecil hingga masa remaja milik suaminya itu.
Jadi dari situlah ia dapat menyimpulkan bahwa Araya itu dulunya anak mama. Dan merayu anak mama itu lebih mudah bagi Sofia yang selalu berinteraksi dengan keponakan keponakan manja dan bandel dari kakak kakakknya.
Melihat kedua pria besar itu masuk kembali keperusahaan Sofia merasa tujuanya sudah beres. Iapun segera beranjak dari tempatnya berdiri. Kemudian mencari taksi untuk menuju tempat favoritnya.
Tak butuh waktu lama, Sofia sampai pada tempat tujuannya. Sofia turun dari taksi yang mengantarnya sampai kawasan apartemen menengah. Dan salah satu unit apartemen itu adalah miliknya. Apartemen itu dibeli atas namanya sendiri. Ia membeli apartemen itu dari hasil penjualan novel pertamanya yang sangat booming pada saat itu. Dan biasanya ia akan datang ke apartemenya saat ia ada urusan pekerjaan dikota itu.
Sofia segera menaiki lift yang terdapat di gedung apartemen itu. Menekan beberapa tombol untuk membuka pintu apartemen miliknya. Dan segera menuju kamar pribadinya, setelah sebelumnya dengan santainya melemparkan sepatu bututnya kedalam lemari sepatu, juga melemparkan tas yang warnanya telah pudar keatas sofa ruangan tersebut.
****
Dengan hati-hati dan tekun gadis itu mencuci tanganya sampai bersih. Kemudian, dengan perlahan melepaskan satu persatu benda-benda yang menempel ditubuhnya. Benda buatan yang membantu untuk merubah penampilanya.
Dimulai dari kalung berbandul yang wajib ia kenakan saat berada diluar rumah. Ia menaruhnya dengan sangat pelan seolah takut benda itu tergores. Kemudian dengan telaten menghapus make-up tebal dari wajahnya.
Dari mulai menghapus bekas pensil alis dikeningnya. Menghilangkan warna kecoklatan buatan tanganya tadi pagi. Tanganya turun, merunut wajahnya dari atas sampai pada dagunya menghapus satu persatu bintik hitam diwajahnya.
" Aku sampai harus berjam-jam hanya untuk membuat bintikan ini... tapi hanya butuh beberapa menit menghilangkanya. "
Ia menggerutu sejenak, kemudian melanjutkan aktifitas nya.
"Lama-lama benar-benar menjengkelkan juga. "
Ia kembali menggerutu atas perbuatannya sendiri. Pasalnya, ia harus bersusah payah meniru foto pertama dengan wajahnya yang penuh dengan bintikan yang pertama kali pernah ia buat. Dan seterusnya, ia harus mencontoh itu hati-hati agar tak salah letak dan membuat orang lain curiga dengan bintik nya yabg bisa berpindah tempat.
Ahh... akan sangat lawak jika seseorang menyadari bintikan diwajahnya berpindah tempat berimigrasi saat ia salah dalam melukisnya. Ya meski ia sadar tidak akan ada banyak orang yang bersedia melihat wajahnya, apalagi sampai melihat detail bintik diwajah buatanya. Namun antisipasi andalah hal terbaik untuk menghindari kesalahan dikemudian hari.
Selesai dengan wajahnya, ia segera mencuci tangan nya lagi sampai bersih kemudian melepas kontak lens dari matanya. Terlihatlah mata cantik berwarna biru setelah kontak lens berwarna coklat itu ia lepaskan. Terasa sekali baginya, kontak lens itu membuatnya sungguh tidak nyaman. Bahkan ia harus rutin memeriksakan matanya ke dokter spesialis mata agar tidak mengganggu kesehatan matanya. Ia sungguh benci menjalani hari-hari penuh rutinitas seribet itu. Tidak pernah berubah disetiap langkah yang harus ia selesaikan.
Selesai dengan kontak lensnya, ia segera meneteskan obat tetes khusus yang telah rutin ia pakai demi menjaga indra penglihatnya.
Dan terakhir ia membuka wig yang sering ia pakai jika cuaca sedang tidak bersahabat denganya. Jujur saja itulah mengapa ia tidak terlalu suka dengan hujan, air langit yang akan membuat pewarna rambut instanya memudar. Dan itu menyebalkan baginya.
Setelah wig dengan warna rambut coklat dan sedikit bergelombang itu terlepas tergerailah rambut asli milik gadis itu. Rambut dengan panjang sepunggung jauh melebibi bahu yang berwarna blonde. Warna yang senada dengan rambut alisnya.
Dan gadis itu adalah Arbella Sofia Van Houten.
Dengan penampilan aslinya, Sofia terlihat sangat cantik dan murni bak peri hutan. Mungkin bagi sebagian orang akan sangat bangga jika memiliki kecantikan yang alami seperti dirinya. Namun berbeda denganya yang mati-matian menyembunyikan jati dirinya.
Aahh... Tidak akan ada orang yang percaya, jika ia boleh memilih, ia sungguh tak ingin terlahir secantik itu.
" Sebagian orang bersedia melakukan apa saja demi menjadi cantik termasuk operasi plastik. Sedangkan aku? Kecantikan ini justru menyiksaku. Menghancurkan masa remajaku. Dan membuat hari-hariku terasa kelam. Kecantikan yang seolah mengancamku setiap harinya. "
Sofia memandang sendu pada wajah yang terlukis dalam cermin dihadapanya. Meraba wajah cantik itu dengan tangan kananya. Merasa bahwa sesuatu yang dianggap anugrah bagi orang lain, namun menjadi sebuah bencana dalam hidupnya.
Sofia memejamkan mata mencoba untuk menguasai dirinya. Mengambil nafas pelan dan mengeluarkanya perlahan.
Merasa telah sedikit tenang, Ia melesat kekamar mandi pribadinya. Berendam untuk merilekskan saraf-saraf di setiap bagian tubuhnya. Dua bulan terakhir adalah hari-hari yang cukup menguras tenaganya.
****
Araya mengelus perutnya, ia merasa puas dengan makanan yang baru saja ia santap. Kemudian merapikan tupperware bekas makanananya yang kotor. Meski sedikit linglung tadi, tapi ia mendengarkan dengan jelas bahwa, Sofia mengatakan ia harus menyimpan tupperware itu dengan hati-hati atau ia akan kehilangan kesempatan menikmati makanan buatan istrinya itu.
Sedangkan William yang sibuk, memilih memakan makananya dengan cepat dan langsung kabur ke ruanganya karena mendapatkan telepon dari klien yang meminta proposal yang diajukan perusahaannya agar disegerakan. Mengabaikan perintah Sofia agar menyimpan tupperware bekas makanan itu dengan baik. Alhasil, Araya harus merapikan tupperware bekas William juga.
Sambil merapikan bekas makanan yang ia santap. Araya tersenyum mengingat sesuatu.
Ternyata benar kata William, ia pria lemah. Lemah dalam artian yang sesungguhnya. Sejak tadi malam merencanakan banyak hal demi membuat perhitungan pada Sofia yang tiba-tiba saja bersikap berani membangkang dengan wajah culunya itu. Tapi hanya dengan makanan ia sudah lumer dengan mudahnya.
Tak apa... demi makanan bersih dan sehat. Pikir Araya.
Toh ia sendiri sudah kecanduan masakan istrinya. Dan sebenarnya, dulu sering makan diluar hanya karena terpaksa saja. Terpaksa karena ia tidak begitu pandai memasak. Dan terpaksa karena terlalu sibuk bekerja. Sedangkan pembantu di apartemen miliknya hanya datang dua hari sekali untuk bersih bersih saja. Lagipula memang ia sangat sibuk dan jarang pulang tepat waktu juga.
Tapi itu dulu sebelum ia menikah dengan Sofia. Karena sekarang ia akan selalu mengutamakan pulang tepat waktu agar bisa memakan masakan Sofia.
Ia sebenarnya sangat bersyukur. Semenjak kedatangan Sofia, ia selalu memakan makanan yang sehat setiap harinya. Apalagi dengan menu yang selalu berubah dan platting yang menarik. Perut Araya selalu merasa dimanjakan dengan pelayanan dimeja makan yang dipersiapkan Sofia. Itu membuatnya mulai enggan membeli makanan diluar dan lebih suka berbelanja untuk memenuhi isi kulkasnya dengan bahan-bahan makanan tersebut. Ditambah lagi dengan informasi dari Sofia tadi. Ya walaupun tidak semua yang dikatakan Sofia itu kebenaran tapi sayangnya sebagian dari cerita itu bukan hanya karangan semata. Itu membuatnya semakin enggan mendatangi restaurant diluaran sana.
Drrrt... Drrrt...
Mila
Sayang aku akan ke Bali untuk pemotretan dan syuting iklan. Aku belum tahu berapa lama. Tapi mungkin sampai dua minggu. Dan aku akan berangkat lusa. Tapi dua hari ini aku juga sibuk. Jadi tidak bisa menemuimu, padahal aku sangat merindukanmu sayang...
Pesan dari Mila yang baru saja ia baca. Entah mengapa ia tidak begitu gelisah dengan pesan itu, padahal ia akan lama tidak bertemu dengan kekasih hatinya. Entah karena memang sudah terbiasa ditinggalkan Mila. Atau memang perasaanya sudah mulai memudar setelah wanita itu meninggalkanya dihari pertunangan dan memilih pergi ke Paris demi kontrak eksklusif yang didapatkanya.
Araya
Baiklah jaga dirimu baik baik. Aku akan menunggumu sampai kamu menyelesaikan semua pekerjaanmu.
Mila
Araya
Tentu... bukankah aku harus mendapatkan energiku dulu sebelum ditinggalkan lama?
Mila
I love you
Araya
I love you mo...
Saat hendak mengetik dengan kalimat yang sama, Araya berhenti. Kemudian menghapusnya kembali.
Araya
I lov...
Dan menulis lagi.
Araya
Me too
Entah mengapa ia enggan menuliskan kalimat itu. Ia sempat berfikir... mengapa?? namun ia sendiri tak menemukan alasanya.
Selesai membalas pesan dari Mila. Ia hendak meletakkan ponselnya diatas meja, namun belum juga ia melepas benda itu dari tangannya, notifikasi pesan kembali berbunyi.
Geeky
Nama itulah yang muncul dilayar ponselnya.
Apa ada sesuatu yang terjadi?
Dengan cepat ia membuka dan membaca pesan tersebut.
Geeky
Aku lupa bertanya, Apa aku perlu membuatkan makan siang untukmu?
Tanpa sadar Araya tersenyum tipis. Sangat tipis sampai siapapun tidak akan melihatnya meski membuka lebar lebar kelopak matanya.
Araya
Tidak perlu... Aku akan makan siang dengan klien setelah meeting selesai nanti.
Begitu balasnya. Meski enggan pergi makan diluar dan melewatkan masakan Sofia, tapi Araya tak akan bersikap tidak sopan pada klien mereka dengan membiarkan mereka makan sendiri diluar. Ia harus menjaga sikap didepan mereka. Ia hanya perlu menahan rasa jijik itu sebentar saja bukan? Dan berusaha mengabaikan apa yang didengarnya dari mulut Sofia beberapa saat lalu. Untuk kali ini saja, demi kliennya yang penting.
Geeky
Baiklah... Pulanglah tepat waktu agar dapat memakan makanan yang aku siapkan saat masih hangat. Aku akan membuatkan menu baru untukmu.
Araya
Akan aku usahakan. Jika tidak sibuk tentunya.
Araya tersenyum lagi. Kali ini terlihat lebih jelas diwajahnya. Barakting sok sibuk, dan seolah harus berusaha keras meluangkan waktu untuk mendapat makan malam dirumah. Padahal memang sibuk, namun selalu lebih mementingkan pulang segera untuk semua hidangan diatas meja makan yang dihidangkan istrinya. Sedikit munafik itu perlu. Bahkan ia sudah lupa sama sekali dengan kejadian kemarin malam. Apalagi rencana balasan yang ia rancang untuk istrinya. Semua seolah terbang terbawa angin lalu. Benar-benar pria lemah yang gampang goyah.
Ia hanya merasa bahwa Sofia melaksanakan tugasnya sebagai istri dengan baik. Dan itu membuatnya merasa nyaman.
Ia sadar bahwa selama dua tahun terakhir ini perasaanya mulai hambar terhadap Mila. Karena Mila telah meninggalkanya. Dan selama itu pula hanya beberapa kali mereka bertukar pesan lewat email.
Lalu... Benarkah ini saat yang tepat untuk mulai menata hati dan melepaskan kekasih hatinya?
Namun sayangnya, didunia ini hanya Mila yang pernah dicintainya. Meski perasaan itu mulai biasa saja. Tetap saja tidak ada gadis lain selainya. Maka Arayapun tidak enggan menerima wanita itu kembali.
Anggap saja ia bodoh. Persetan... Ia masih mencintainya.... Meski tak sebesar dulu, rasa itu masih mengakar dan menguasai dirinya.
Mila...
Hanya nama itu yang pernah singgah dan mendiami hatinya selama hidupnya.
Seandainya... Ah seandainya ia merupakan pria normal tanpa cacat pasti sekarang ia sudah menikahi Mila. Dan tentunya menjadi pria paling bahagia di dunia. Sayangnya takdir berkata lain. Dia bukan pria yang pantas untuk Mila. Mungkin itulah alasanya, mengapa Tuhan membiarkan Mila meninggalkanya dihari pertunangan waktu itu.
Karna dirinya tak pantas... untuk Mila yang sempurna.
Iapun bertekad, demi kebahagiaan Mila, ia akan melepaskanya. Saat itu... ketika ia telah siap kehilangan Mila. Ia baru akan melepaskanya. Membiarkan wanita itu bahagia dengan masa depan yang lebih baik.
Ia membuang ponselnya kesofa disampingnya setelah membalas pesan Sofia. Dan menyandarkan kepalanya dibahu sofa yang didudukinya. Pikiranya sedikit melayang tentang Sofia dan juga Mila.
Ceklek...
" Ayo Ar... Klien kita sudah menunggu... "
William memanggil Araya agar segera pergi keruang meeting.