Another me

Another me
Marah vs Cemburu



" Kemana sih si culun itu. Kenapa tidak angkat teleponya. Angkat bodoh... Angkaaaaattt...!! "


Benda pipih itu dimaki-maki tanpa tahu apa sebenarnya kesalahan yang diperbuat. Bahkan menerima amukan sebagai alat pelampiasan. Andaikan benda itu mampu mengeluarkan kata-kata. Sudahlah pasti ia berbalik memaki lebih kasar sebagai


balasan.


Begitulah suasana saat ini. Sudah berkali-kali Araya berusaha menghubungi istrinya, Sofia. Namun sampai detik ini perempuan itu tak mengangkat teleponya. Entah apa yang sedang dikerjakan gadis itu.


Kemana sih dia... Ya Tuhan...


" Bagaimana saudara Araya? "


Tanya salah seorang polisi yang berada disana.


" Istri saya tidak bisa dihubungi pak. Bisa tunggu sebentar lagi? "


Araya berusaha mengulur waktu. Kepanikan mulai menyelimutinya.


Hari yang benar-benar sial baginya. Ketinggalan dompet yang berisi id, kartu, serta STNK. Dan itu membuatnya tertahan oleh polisi lalulintas saat ini.


Ia sudah menjelaskan bahwa dompetnya ketinggalan dan akan meminta istrinya untuk mengantarkannya.


Namun, karena berita yang baru kemarin beredar tentang pencurian mobil yang terjadi di daerah itu untuk yang kesekian kalinya, membuat aparat polisi begitu waspada. Hingga mencurigai dirinya merupakan salah satu komplotan penjahat itu. Didukung dengan ketidak lengkapan surat surat kendaraan yang digunakanya.


" Sudahlah... anda jangan mempersulit kami. Mari ke kantor kami. Dan lanjutkan pemeriksaan disana."


" Saya benar-benar tidak bohong pak. "


Mencoba untuk meyakinkan pada aparat polisi tersebut. Bahwa ia sudah menikah dan yang diteleponya benar-benar istrinya.


" Tunggu sebentar..."


Mengotak atik sedikit ponsel ditanganya. Ia ingat bahwa ibunya pernah mengiriminya sebuah foto dengan kalimat pujian kepada sang istri yang memang terlihat sangat cantik dengan riasan uniqe dalam acara pernikahan mereka kala itu.


" Ini... Lihat ini... Ini foto kami saat kami melaksanakan pernikahan. Dan ini istri saya. "


Araya menunjukkan foto candid yang diambil ibunya tanpa sepengetahuan darinya yang pernah dikirim ke ponselnya. Untung saja saat itu ia urungkan niatanya untuk menghapus foto itu. Dan benar saja, foto itu berguna saat ini. Ia merasa keputusanya untuk tetap menyimpan foto kiriman ibunya adalah pilihan yang tepat.


Kedua polisi itu hanya saling bertukar pandang sebelum kembali memegang pergelangan tangan Araya. Berusaha membawanya ke kantor polisi.


" Kalaupun benar itu istri anda memangnya kenapa, kami tetap akan memeriksa anda lebih lanjut. Mari di selesaikan di kantor saja. Tidak ada perbedaan antara single ataupun menikah dalam hal penangkapan atas pelanggaran apapun."


Doeng...


Araya tak berkutik. Benar juga kata polisi itu, memang apa gunanya mengetahui statusnya yang telah menikah? Penjara tidak pernah menanyakan status untuk membedakan kemana kamu akan dimasukkan ke sel tahanan.


Kali ini malah membuat dirinya terlihat sok membanggakan diri bahwa dia sudah laku? bukan jomblo lagi? sehebat itukah jika memang sudah laku?


Ah... tidak... setidaknya ia menyampaikan bahwa ia menghubungi istrinya untuk membuktikan bahwa dirinya bukan komplotan pencuri mobil seperti dugaan para aparat itu.


Dan kini ia telah diborgol dan dibawa ke kantor polisi untuk penjelasan lebih lanjut. Sekaligus membuktikan, jika memang benar penjelasan Araya, ia bukan penjahat, dan ia hanya seseorang yang sedang melupakan dompetnya saat pergi keluar. Maka satu-satunya kesempatan adalah menunggu seseorang yang seperti dikatakan tadi, yaitu istrinya.


Beberapa jam yang lalu, Sepulang dari bandara, Araya melajukan mobilnya sedikit kencang hingga tanpa sadar melewati pemeriksaan gabungan dari polisi lalulintas, untuk mencari pelaku kejahatan yang sudah beberapa kali melakukan pencurian kendaraan, terutama mobil.


Saat ia melajukan mobilnya, ia menyalakan music yang cukup keras, sehingga tidak mengetahui bahwa dirinya tengah menjadi target pengejaran dari dua polisi lalulintas.


Alhasil ia harus diberhentikan ditengah perjalanan menuju apartemenya setelah sedikit dibumbui aksi kejar kejaran.


Dan kini ia harus dibawa ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Karena selain kesalahanya menerobos pemeriksaan, Ia juga tak membawa kartu identitas apapun. Itu membuat kecurigaan polisi semakin bertambah.


Padahal pagi tadi Sofia sudah memberitahukan hal itu. Sungguh sial karena ia berfikir semua akan aman-aman saja.


Nyatanya, kini ia ditempatkan dalam jeruji besi sampai seseorang datang untuk mejelaskan dan memberi jaminan kepadanya.


Semoga si culun itu cepat datang. Atau aku akan membalas perlakuanya kali ini. Mengabaikan teleponku dan sibuk entah melakukan apa. Lihat saja nanti.


****


Seorang perempuan dengan dandanan era 90 an dan sebuah kacamata tebal bertengger dihidung macungnya tergopoh-gopoh memasuki kantor polisi.


Baru saja ia sampai di apartemen miliknya setelah pulang dari suatu tempat, ia dikejutkan dengan begitu banyak misscall dari nomer yang sama, yaitu nomer milik suaminya.


Kebetulan ia memang sengaja meninggalkan ponselnya di apartemen. Lebih tepatnya, salah satu ponselnya. Ponsel yang ia gunakan untuk umum. Termasuk sebagai alat komunikasi dengan suami dan keluarga suaminya. Sedangkan satu yang lain digunakannya hanya untuk berhubungan dengan orang terdekatnya saja. Orang-orang yang paling mengerti kondisinya.


Dengan sedikit rasa khawatir ia mencoba menghubungi kembali nomer itu. Anehnya, bukan suaminya yang menjawab telepon darinya. Melainkan seorang polisi. Dan dari situlah ia mengetahui situasi serta keberadaan suaminya saat ini.


Iapun segera berlari menuju kantor polisi dimana suaminya ditahan saat ini. Tak lupa membawakan dompet suaminya. Tentunya, setelah merubah penampilanya menjadi sosok Sofia yang benar-benar kampungan.


" Permisi pak, saya datang untuk pelanggar atas nama Araya Putra Santoso. "


" Oh iya... silahkan duduk dulu kami akan jelaskan pelanggaran yang dilakukan saudara Araya."


Sofiapun segera mendudukan dirinya disebuah kursi didepan petugas polisi yang menangani kasus suaminya. Namun sebelumnya sempat mengedarkan pandangannya kesebuah ruangan berpagar besi tak jauh dari tempat mereka. Disanalah terlihat suaminya tengah duduk dilantai disudut ruangan tersebut.


Ada sedikit rasa kasihan melihat keadaan suaminya yang biasanya rapi itu, kini tengah duduk dilantai tanpa alas dan sedikit acak acakan, menatap pada langit langit ruangan itu. Bahkan terlihat seperti sedang melamun.


Kasian juga lihatnya.


" Tapi maaf sebelumnya... bukanya tadi kami berbicara dengan istrinya di telepon? Lalu anda ini siapanya? "


Pertanyaan tersebut membuat Sofia yang masih mengamati keadaan suaminya sedikit tersentak. Dan dengan cepat mengalihkan pandangannya kepada orang yang saat ini dudu berhadapan denganya.


Siapa? apa maksud polisi ini? ya istrinyalah.


Eh...


" Itu... anu... "


Saat Sofia menghubungi nomer Araya, ia memang mengaku sebagai istri sah Araya. Dan meminta penjelasan dimana suaminya saat itu.


" Soalnya menurut foto yang ditunjukkan pelanggar tadi, istrinya itu berwajah bule. "


Foto? bule?


Sofia menatap polisi itu penuh tanda tanya. Kemudian dengan cepat mengarahkan pandanganya kepada lelaki didalam jeruji besi yang tak jauh dari sana. Berusaha mencari jawaban. Sayangnya laki-laki itu sedang sibuk memposisikan dirinya ditempat terbaik ditempat kecil berdebu itu. Tidak tahu bahwa seseorang sedang menatap tajam padanya menuntut sebuah jawaban.


" Ah itu... saya sepupunya pak. "


Akhirnya ia memilih jalan aman. Kata foto dan bule sudah memberinya clue atas apa yang terjadi sebelumnya. Meski tidak paham pastinya, tapi ia cukup pintar untuk menerka bahwa Araya telah memperlihatkan foto pernikahan mereka saat dirinya menggunakan identitas aslinya sebagai Bella, yang malah dianggap riasanya uniqe oleh beberapa orang, termasuk keluarga Araya. Lalu untuk jawaban darimana foto itu didapatkan? masih menjadi pertanyaan baginya. q


" Oh apa mungkin karena mereka bertengkar? jadi istrinya menghubungi orang lain untuk mengurus suaminya?"


Ya ampun polisi ini suka ngerumpi juga ya? Mana berasumsi seenak jidatnya sendiri. Walaupun tidak salah juga sih.


Menghela nafas.


" Tadi saya lihat dia memasang foto dirinya bersama seorang artis yang sedang banyak dibicarakan di infotainment baru-baru ini sebagai wallpaper ponselnya. Tapi tenang saja, sudah saya suruh ganti pakai foto pernikahannya. Hahahha... "


Menyodorkan ponsel Araya, memperlihatkan layar ponsel tersebut memakai foto pernikanaya dengan suami yang dia sendiri tidak tahu darimana foto itu berasal.


" Seharusnya sesuka apapun sama artis ya jangan sampe memasang foto mereka begitu. Sama sekali tidak baik. Bisa menjadi masalah dalam rumah tangga. "


Sofia mengangguk pelan. Sebenarnya yang dikatakan polisi dihadapanya itu sangat benar. Sofia menahan diri untuk tetap tersenyum membalas tatapan mata sang polisi yang mengeluarkan kalimat itu dengan wajah yang sangat serius. Seolah merasa kesal. Padahal bukan dirinya yang menjadi korban.


Buru-buru datang hanya untuk mendengarkan gosip? Sial sekali. Dan please pak... jangan melototi saya. Perselingkuhan mereka bukan tanggung jawab saya.


" Sebagai saudara, anda ini juga harus ikut menjaga keutuhan rumah tangganya. Dosa kalau membiarkan orang berbuat salah seperti ini. "


Pak please, bahas yang perlu saja. Tidak usah mengurusi rumah tangga orang.


Hal yang tidak penting menurutnya. Bahkan ia pernah menjadi kacung pacar suaminya. Mengantarkan mereka berbelanja. Oh satu lagi... jadi sopir pribadi mereka selama beberapa jam.


Si artis pendatang baru yang awalnya berprofesi sebagai model itu kan? yang baru pulang dari Prancis. Aku bahkan lebih tahu banyak daripada anda pak.


Hanya mampu mengutarakan dan menyimpan rasa jengah dalam hati.


Ah seandainya bapak polisi ini tahu. Mungkin kata bodoh saja tidak cukup untuk mengatai dirinya. Mungkin juga wejangan atau ceramah sampai membusa yang akan didapatkanya.


Polisi itu terus mengoceh tanpa henti. Membahas ini dan itu. Yang jelas sama sekali tidak penting dan tidak ada hubunganya dengan perempuan itu. Sedangkan dua polisi yang berada didekat mereka saling saut ikut bergosip ria.


Sofia sebenarnya sangat enggan berlama-lama berada disekitar penggosip ini. Tapi, harus ditahanya, sedikit lagi, sebentar lagi.


" Dulu, saya juga dijodohkan dengan istri. Karena saya tidak pandai bergaul dan hanya fokus dengan tugas di kepolisian saya ini termasuk culun. Oh iya karena surat-surat lengkap, suami anda terlepas dari tuduhan kejahatan. Tapi tetap mendapatkan tilang karena melakukan pelanggaran lain yaitu mengabaikan pemeriksaan dari aparat. "


Pola kalimat acak yang disampaikan polisi disamping kirinya yang ikut nimbrung dalam percakapan itu membuatnya menahan geram tak berkesudahan. Dari ceramah soal rumah tangga sampai gossip terhangat sang artis baru itu. Tapi tiba-tiba putar balik kembali ke kasus pelanggaran yang dilakukan suaminya.


Oh God


Sambil menunggu proses untuk mengeluarkan suaminya dari kantor polisi ia harus mendengar ocehan bapak-bapak yang begitu antusias memberikan wejangan untuk menjaga suami dari para pelakor. Katanya, hidup berumah tangga memang selalu ada godaan. Entah dari pihak mana diantara keduanya. Jadi sebagai istri harus pandai dalam mengakuisisi suami mereka. Ah bapak-bapak ini suami yang sangat setia pada keluarga ternyata.


Akuisisi dia bilang. Hah...


Mengomel dalam hati.


Sofia memicingkan mata, fokus pada bibir si polisi yang tak henti berbicara. Namun sebenarnya ia tak tahu kemana arah pembicaraan pak polisi itu. Sampai saat ini hnya ada satu yang ada dalam benaknya, ingin sekali ia sumpal dengan kain lap mulut yang komat kamit sudah seperti sedang melakukan rap itu.


Sumpah pengen rasanya aku tonjok ini orang.


Ia menaruh dendam.


Ketika si polisi mengajukan pertanyaan retoris soal kesetiaan, Sofia berusaha mengangguk seramah mungkin. Tidak ingin memberikan respon lebih dari itu. Keinginannya masih hanya satu. Segera keluar dari tempat itu.


" Oh iya soal pernikahan saya tadi. Istri saya yang sangat fashionable itu selebgram. Kadang dapat job jadi model juga, karena dia memang sangat cantik. "


Hei hei hei... pak... kenapa mukamu itu?


Polisi yang dihadapanya itu menyerahkan kembali surat-surat yang selesai di catat sebagai petunjuk pelanggaran yang dilakukan Araya.


" Dia dulu sempat berselingkuh dengan mantan pacarnya yang sudah putus sebelum kami menikah. Oh iya nanti datang sidangnya sesuai tanggal yang tertulis disurat


penilanganya ya. "


Wajahnya menyiratkan kesedihan. Mungkin ingatan penghianatan yang dilakukan istrinya kembali terlihat.


Apa hubunganya denganku...


" Baik pak... "


Menerima dengan hati senang surat-surat yang telah dikembalikan padanya.


Akhirnya... let's go home...


Memasang wajah begitu cerah.


" Tapi melalui proses yang sulit akhirnya istri saya bisa menerima pernikahan kami. Dan meninggalkan mantanya itu yang ternyata seorang pengedar narkoba. Dan kami..."


Masih lanjut? I just wanna go home.... please !


****


Akhirnya, melalui proses yang cukup melelahkan karena harus berhadapan dengan polisi yang galau dengan pola kalimat acak, Sofia dapat mengeluarkan suaminya dari kantor polisi. Dan dirinya juga terbebas dari tempat terkutuk baginya itu.


Walaupun harus kembali mendengarkan omelan polisi itu saat Araya dikeluarkan dari sel.


" Ingat ya... Pulang langsung minta maaf sama istri. Jangan biarkan masalah berlarut-larut. Dan satu lagi, hapus semua foto artis yang tersimpan itu. Biar tidak mengundang malapetaka bagi rumah tangga kalian nanti. Ingat... tidak ada satu halpun yang bisa dibilang kebetulan di dunia ini. Semua itu sudah diatur oleh Tuhan. Termasuk menikah dengan siapa kita saat ini. Jangan sampai menyesal dikemudian hari. "


Panjang kali lebar kali tinggi. Seperti rumus matematika... rumit. Itulah yang dikatakan polisi tadi.


Sepanjang perjalanan pulang, Araya maupun Sofia tak bersuara. Diam seribu bahasa. Masing-masing dari mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Atau jangan-jangan kata-kata polisi tadi merasuk kedalam hati mereka?


Dan ternyata....


Kenapa dia terus diam begitu? Ada apa denganya? Apa dia cemburu ?


Araya melirik sekilas. Hanya sekilas... lalu memulihkan pandanganya lurus kedepan fokus pada jalanan di depanya. Kejadian dikantor polisi tadi sudah tentu menjelaskan hubunganya dengan kekasihnya. Sofia memang kampungan, tapi tidak akan sebodoh itu sampai tidak mampu membaca situasi.


Tiba-tiba Sofia menepuk jidatnya sendiri setelah melihat jam tanganya. Sudah pukul lima. Itu berarti sudah tiga jam ia pergi.


Mati aku !!


Araya masih menimbang-nimbang, haruskah ia katakan bahwa ia dan Mila berpacaran bahkan sudah tiga tahun lamanya, meski nyatanya mereka berpisah selama dua tahun?


Haruskah aku jelaskan juga kalau aku sangat mencintai Mila. Dan meminta dia mengerti? Seharusnya sih dia tahu diri.


Tak peduli keadaan sekutar gadis itu menggigiti kuku kuku jarinya sendiri, Sofia mulai resah. Ada sesuatu yang membuat hatinya merasa tak nyaman.


Araya yang melihat wajah pias Sofia semakin yakin, bahwa perkataan polisi tadi mempengaruhi hatinya. Meski pernikahan mereka diatas sebuah perjanjian, tapi wanita selalu menggunakan perasaan dalam hal apapun. Dan lagi mereka menikah dengan cara yang sah. Pasti itu akan menyisakan rasa sakit dihatinya.


Tidak bisa, aku harus menjelaskan tentang hubunganku dengan Mila. Aku tidak mau membuatnya berharap. Jika sampai dia benar-benar menyukaiku, bisa saja dia tidak mau bercerai dan berusaha memisahkanku dengan Mila.


Araya mantap untuk mengungkapkan hubunganya dengan Mila. Sebelum semua terlambat dan menyusahkanya nanti, lebih baik dia mencegahnya dari awal.


Araya menarik nafas dalam-dalam, mengeluarkan kembali mencari kata-kata yang pas untuk mengungkap hubunganya cintanya dengan Mila.


" Ehem... ak... "


" Turunkan aku dijalan itu. "


Araya melongo... belum juga menyelesaikan parkataanya, sudah disela gadis disampingnya.


Benar... dia marah...


Araya menghentikan mobilnya ditempat yang ditunjuk Sofia tadi. Namun, saat Sofia bersiap untuk keluar, tangan Araya menahanya. Sofia yang tak mengerti apa maksud Araya, mengerutkan dahinya seolah bertanya. Apa yang kamu lakukan?


" Namanya Mila "


Sofia mengerutkan dahinya semakin dalam. Masih tidak paham.


" Kami sudah lama berpacaran dan... "


" Cukup...!! sudah tidak perlu diteruskan lagi dan lepaskan tanganku. "


Araya terpaksa melepaskan tangan Sofia dari genggamanya. Sofia memberontak terlalu keras pada tangan kirinya. Tanpa menunggu reaksi Araya, Sofia langsung keluar dari mobil Araya dan berlari kelain arah. Sedangkan Araya masih terbengong dengan apa yang baru saja dialaminya. Sofia... istrinya, menolak keras untuk mendengarkan penjelasanya.


Apa dia takut merasa tersakiti dengan kenyataan yang akan kukatakan? Apa dia pergi dan menangis? Sepertinya dia benar-benar cemburu...


Araya.


Aku pergi tanpa pamit selama tiga jam lebih. Aaaarrrgh sial...


Sepertinya dia akan marah.


Sofia.