
" Aahh ssshhh... "
Teriak seorang pria dengan tangan kiri yang digendong dengan kain yang dililitkan dilehernya dan diperban karena barusaja terluka.
" Anata no fuku o nurashite gomennasai. " (Maaf karena telah membuat baju anda basah)
Bella membungkukkan badanya beberapa kali sambil mengucapkan maaf.
" Daijoubu desusyo " (Tidak apa-apa kok)
Pria itu menjawab dengan masih menunduk membersihkan bajunya.
" Ja, kore de onegaishimasu " (Kalau begitu, dengan ini saja)
Bella mengulurkan tanganya. Memberikan kopi yang baru saja ia pesan dengan sengaja menyamakan rasa dengan kopi yang telah ditumpahkanya kebaju pria dihadapanya.
Melihat kopi yang diulurkan padanya ternyata memiliki rasa yang sama, pria itu mengernyitkan dahinya. Kemudian mendongakkan kepalanya untuk melihat bagaimanakah rupa si pelaku yang membuat paginya begitu sial.
" Anata ni ageru " ( untuk anda )
Sejenak pria itu terhipnotis dengan senyum manis gadis yang baru saja menabrak dan menumpahkan kopinya.
" Arigatou "
Jawabnya dengan mengulurkan tangan menerima kopi yang diperuntukkan padanya. tanpa mengalihkan pandanganya pada wajah cantik dihadapanya itu.
" Sumimasen... anata wa... nihon jin desuka? "
( Maaf... apakah anda... orang jepang? )
Tanpa pria itu hati-hati. Melihat fisik gadis yang menabraknya itu sangat pure eropa namun juga fasih dalam menggunakan bahasa jepang, membuatnya sedikit penasaran.
" No i'm not. Indonesia jin desu. " ( Bukan. Saya orang Indonesia. )
Jawab Bella dengan dua bahasa yang dicampur.
" Really? Saya juga dari Indonesia. Berarti bebas pakai bahasa nasional kan? "
Pria itu tiba-tiba menjadi semakin antusias setelah mengetahui bahwa mereka berasal dari negara yang sama.
" Sure... "
" Oh iya mari duduk dulu. Ah kopi anda sudah beralih ketangan saya. Bagaimana kalau saya pesankan dengan yang baru? "
Tawar pria itu, yang merasa tidak enak karena telah menerima kopi dari gadis didepanya.
" It's ok. tidak perlu sungkan. By the way ada apa dengan tangan anda? apa anda baru saja mengalami musibah? "
Tanya Bella memastikan. Berakting seolah sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi dan siapa pria dihadapannya.
" Ah sebelumnya kita lebih baik berkenalan terlebih dahulu. Perkenalkan nama saya Rian Sinatria. Iya beberapa hari yang lalu saya hampir terserempet kendaraan yang lewat karena asyik main game dijalan. Memang salah saya sih. "
Akunya jujur dengan sedikit rasa malu atas kelakuanya.
Rian mengulurkan tanganya agar dijabat oleh Bella.
Melihat raut wajah Bella yang datar tanpa ekspresi dalam mengamati tanganya, membuat Rian bingung dan mengerutkan keningnya. Tidak tahu apakah dia telah berbuat hal yang menyinggung gadis itu? atau semacamnya?
Grebb...
Dengan kencang Bella menjabat tangan Rian menggunakan kedua tanganya. Bagaikan sebuah mimpi, Bella sungguh tak menyangka dapat bertemu dan menyentuh tangan pria yang sudah merebut hatinya itu.
Dan sontak tingkah Bella mengundang banyak sekali pertanyaan dibenak Rian.
" Akhh... "
Lenguh Rian yang merasa genggaman tangan Bella semakin erat dan menyakiti telapak dan kelima jari tanganya.
" Ah oh sorry... i just so exited to met you. Dan... nama saya Arbella, silahkan dipanggil Bella saja. " ( Maaf aku hanya sangat senang bertemu dengan anda. )
" Nama yang bagus. "
Pujinya.
" Mm... jadi anda tinggal disini atau? "
Tanya Bella lagi.
" Saya mengambil S2 disini pada awalnya. Dan kemudian bekerja disebuah rumah sakit di kota ini sekitar dua tahun terakhir. "
" Aaa anda seorang dokter. Hebat sekali. "
Ucap Bella dengan antusiasnya.
Rian hanya mengangguk kemudian menyecap kopi di tangannya.
" Sepertinya anda orang Indonesia blasteran eropa ya. "
Tanya Rian yang masih penasaran.
" Iya... Kakek saya berdarah asli Belanda dan nenek saya asli jawa. Ibu saya juga asli orang jawa. "
Bella menerangkan.
Yang kemudian mendapatkan anggukan kecil dari Rian.
" By the way, what are you doing here. on your vacation or something else? " ( Jadi... apa yang sedang anda lakukan disini? dalam kunjungan atau hal lainya? )
" Ahhh saya hanya sedang liburan saja. "
Jawab Bella dengan malu-malu. Tentu saja, hanya dia, Gusti dan Samuel yang tahu tujuanya datang ke negri sakura ini. Dan tujuanya? sudah berada didepan mata.
" Ngomong ngomong sepertinya kita tidak perlu membuat keadaan menjadi sangat canggung dengan berbahasa formal. Lagipula saya rasa umur kita tidak terlalu jauh nona. "
Saat ini, dada Bella berdebar tak karuan. Tatapan mata Rian, Senyumnya yang menawan, wajahnya yang tampan. Semua itu membuatnya tak mampu berkedip. Seolah bumi berhenti berputar, udara lenyap entah kemana. Sulit baginya bernafas seperti biasanya. Terpana adalah satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan ekspresi wajahnya saat ini.
" Nona... nona Bella... hallo... excuse me...? "
Karena begitu terpesona, Bella seolah kehilangan jiwanya yang melayang entah kemana.
Oh my crush...
Rian masih mengibaskan tanganya berusaha menyadarkan gadis dihadapanya yang seperti kehilangan nyawanya.
" Hallo Bella... "
" Ahssh panas... "
Rintih Bella yang merasakan panas dipipi kirinya.
Rian terkekeh merasa caranya berhasil mengembalikan jiwa gadis di hadapannya.
Menempelkan kopi panas yang baru saja diantarkan oleh pelayan ternyata merupakan cara yang jitu menyadarkan gadis yang terbengong didepannya.
Sedangkan Bella yang merasa kepergok mengagumi pria dihadapanya, menundukkan kepala karena merasa sangat malu.
" Jadi... Bella.. "
" Ya... "
Dengan cepat Bella kembali mendongakkan kepalanya.
Jawaban Bella yang terlalu cepat membuat sekali lagi Rian terkekeh.
" Sampai kapan kamu disini? "
" Mmm sampai... "
Dan obrolan demi obrolan mereka lalui. Meski baru pertama kali bertemu, namun jiwa nasionalisme mereka memang begitu besar. Seperti orang Indonesia pada umumnya. Dimanapun mereka berada, jika masih sama sama orang Indonesia yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional mereka, maka mereka saling menganggap mereka adalah saudara.
Rian yang harus cuti karena cideranya dan Bella yang sengaja datang untuk menemui Rian terus mengobrol karena tak memiliki kesibukan lain yang harus dilakukan.
Dari asal, sekolah, kuliah dan kegemaran masing-masing, obrolan mereka berlanjut tanpa henti.
" Unik ya Bel. "
Kata Rian yang mulai nyaman dengan Bella walaupun baru sekitar dua jam yang lalu dikenalnya. Bella yang lugas dan apa adanya membuatnya jatuh hati dalam waktu yang sangat singkat.
Bella memandang Rian, diam dan menunggu kalimat lanjutan yang akan dilontarkan pria itu.
" Iya unik. Muka Belanda, yang dikuasai kebanyakan bahasa Asia timur, tapi ngakunya orang asli Indonesia. "
Bella ikut tertawa dengan kalimat yang dilontarkan pria pujaanya. Sebenarnya apa yang lucu? entahlah, Bella hanya tidak bisa berhenti tersenyum saat ini.
" Tapi aku cinta Indonesia kok. Termasuk produk dan pemudanya. "
Seloroh Bella yang kembali membuat Rian tertawa.
Tak terasa waktu begitu cepat bergulir dan mereka masih asyik dengan obrolan mereka sampai,
Drrrt drrrt...
Tiba-tiba ponsel Bella bergetar tanda panggilan masuk.
Bella mengernyit melihat siapa penelpon yang menganggu kesenanganya.
Kemudian Bella sedikit menjauh dari meja dimana dirinya dan Rian saling mengobrol.
" Ya hallo... "
" Dimana sih. Daritadi tidak kelihatan. Jangan sampai ilang ya, nanti bikin repot. "
Kalimat yang berarti kebalikanya. Karena disini Arayalah yang sama sekali tak tahu arah.
Dan akhirnya, Bella harus mengakhiri obrolanya dengan sang pujaan hati karena panggilan dari suaminya. Karena suaminya itu memaksanya untuk segera kembali ke hotel dimana mereka menginap.
" Eh... bisa kita bertemu kembali lain waktu Bella? "
Rian tanpa malu menahan tangan Bella hingga menghentikan langkahnya yang akan segera menjauh.
" Tentu saja. "
" Bisakah aku menyimpan nomormu? "
Setelah saling bertukar nomor, merekapun berpisah. Rian menuju apartemen dimana ia tinggal dan Bella kembali ke hotel setelah mengubah penampilannya menjadi Sofia.
****
" Kamu kemana aja sih...? berjam-jam pergi tanapa kasih tahu. "
Sewot Araya yang menyambut kedatangan Sofia. Entah mengapa akhir akhir ini sikap Araya sedikit berubah. Lebih banyak bicara walaupun ketus dan kadang dengan nada sedikit meninggi. Dan satu lagi senang sekali mendebat Sofia.
Sofia yang masih kesal karena suaminya itu telah mengganggu kesenanganya bersama pujaan hatinya, memilih diam dan membuka kamarnya. Kemudian langsung memasuki kamar sewaanya.
" Heh kalau ditanya tuh jawab. Aku ini suami kamu. "
Teriaknya lagi.
" Apa sih teriak teriak. "
" Heh... kamu lupa ide gila bulan madu ini dari siapa? sekarang dengan seenaknya aku kamu telantarkan. Aku itu belum pernah ke Jepang sebelumnya. Dan aku tidak tahu arah. Seengaknya kalau mau pergi bawa aku juga. "
Protesnya lagi. Araya memang belum pernah sekalipun pergi ke Jepang, karena dia memang jarang berlibur. Sekalipun berlibur ia akan menghabiskan waktunya di dalam apartemen atau ke tempat wisata di tanah air. Walaupun beberapa kali pergi ke luar negri tapi belum sekalipun berlibur ke negri sakura itu.
Mendengar kejujuran suaminya, Sofia tertegun. Benarkah suaminya itu belum pernah ke Jepang? Kasihan sekali.
" Apa kak Araya sudah makan? "
Tanyanya mengalihkan perhatian.
Sofia telah memesan kamar room with breakfast. Seharusnya suaminya sudah sarapan bukan, dan ini sudah jam sepuluh lebih, malah sudah hampir jam sebelas siang.
" Kalau aku sudah makan aku tidak akan mencarimu. "
" Kenapa? "
" Aku tidak suka dengan menu breakfast yang di restaurant. Aku mau makan yang lain. Dan aku sudah sangat kelaparan apa kau tahu. "
Rasa lapar memang membuatnya semakin kesal tatkala mendapati menu sarapan yang tidak sesuai dengan seleranya. Ditambah istrinya pergi entah kemana meninggalkanya yang buta arah di Jepang.
" Kakak mau makan apa? "
" Udon saja. Tapi aku tidak mau yang di restauran hotel. "
Sofia menghela nafasnya. Sudah sejak tadi malam suaminya itu merengek karena merasa tidak selera dengan masakan restaurant hotel itu. Lidahnya sudah terbiasa dengan masakan istriny yang entah mengapa selalu dirasanya sangat pas dilidahnya. Sedangkan menurut dia sendiri, masakan dihotel itu terlalu hambar.
" Baiklah... ayo... "
" Kemana? "
" Kakak bilang lapar kan? "
" Memang kau tahu dimana tempat makanan enak? "
Sofia berhenti seketika kemudian membalikkan badanya menghadap Araya yang masih duduk diatas ranjang tidurnya.
" Jadi maunya apa? Kakak bilang belum pernah ke sini kan? "
Araya mengangguk.
" Memangnya ada pilihan lain selain mengikuti aku? "
Araya melengos. Sejak kapan pastinya, dia sendiri tidak tahu. Yang pasti semenjak menikah dengan Sofia, sedikit demi sedikit dia memang mulai berubah tanpa menyadarinya. Araya mulai memiliki banyak ekspresi diwajahnya. Tersenyum, memberut, kesal, sedih, kecewa. Meski dulu semua itu telah ada, namun yang terlihat hanyalah raut wajah dingin dan cueknya saja. Berbeda dengan sekarang yang keluar lewat bahasa tubuhnya secara langsung. Bahkan sekarang dia selalu makan tepat waktu, dan selalu memakan masakan rumahan hasil karya istrinya tentunya. Yang jelas hidupnya teratur dan dia merasa mulai tak nyaman jika kebiasaan baiknya tak berjalan semestinya.
Araya terus berjalan mengekor dibelakang Sofia. Tidak peduli kemana ia akan dibawa. Satu hal yang pasti. Cacing diperutnya sudah berdemo, lambungnya kosong, dan minta untuk segera diisi.
Tak berapa lama, sampailah mereka disebuah restaurant yang cukup ramai. Jelas itu membuat Araya kesal. Dia lapar... sangat... dan tidak mungkin baginya menunggu antrian sebanyak itu.
" Apa kau yakin membawaku kemari? Aku lapar... la...par... ok? bisa pingsan aku kalau harus antri sebanyak itu. "
Sofia tersentak kaget ketika tanganya ditarik hingga membuatnya berbalik ke belakang menghadap Araya. Apalagi mendengar keluhan suaminya itu.
Sofia memutar bola matanya jengah. Sudah besar tapi suka sekali mengeluh.
Sofia memang merasakan perbedaan sikap suaminya itu. Semakin kesini suaminya lebih banyak berbicara meski lebih sering membuat Sofia jengkel. Tapi setidaknya, keduanya kini tidak lagi secanggung dulu. Dan itu sedikit membuat Sofia merasa lega.
" Ikut saja. Kalau memang lapar, jangan banyak tanya. "
Tidak ingin menanggapi ocehan suaminya, Sofia menggeret tangan Araya memasuki restaurant itu dan langsung duduk dipojokan. Tempat yang sepertinya bukan diperuntukkan untuk para pengunjung.
" Ni laile? " ( sudah datang? )
Ucap seseorang yang tiba-tiba menghampiri meja mereka. Dan tanpa sungkan duduk disamping Sofia.
" Mm... "
Sofia mengangguk sambil tersenyum menyambut kedatangan pria asing itu.
" Xiang chi shenme? mashang jiu gei ni zuo " ( Mau makan apa? akan langsung aku buatkan )
Ucapnya yang fasih dalam berbahasa mandarin, sambil menopang dagunya dengan salah satu tanganya tanpa mengalihkan pandanganya dari Sofia.
" Gei wo zhuo yi wan udon he yi wan niurou mian. " ( Buatkan aku satu mangkuk udon dan satu mangkuk mie daging sapi.)
Pintanya pada pria itu dengan senyum lebarnya. Niu rou mian memang makanan favorit Sofia. Apalagi pria disampingnya ini selalu membuatkanya dengan porsi yang lebih dan rasa yang sangat enak.
" Liang wan? bu hui ba? " ( Dua mangkuk? tidak mungkin?)
Sofia memang suka sekali makan mie di restaurant miliknya dengan porsi yang besar. Tapi, mendengar gadis itu memesan dua mangkuk makanan yang berbeda ia tidak percaya gadis itu akan mampu menghabiskanya.
Dan segera pria itu menoleh mengikuti jari telunjuk Sofia yang seolah menunjukkan sesuatu dihadapan mereka.
Dahi pria itu mengerut. Karena terlalu bahagia dengan kehadiran Sofia, sampai dirinya tidak sadar ada orang lain dimeja itu selain dia dan Sofia.
Araya yang sedari tadi menahan lapar semakin merasa jengkel dengan kejadian itu. Bagaimana tidak, Tiba-tiba saja seorang pria mendatangi mejanya, tanpa rasa sungkan duduk disamping istrinya dengan tatapan memuja.
Suami mana yang akan rela melihat pria lain memuja istrinya? Meski pernikahan mereka tanpa cinta. Bagaimanapun kata istri berarti memiliki. Dan Araya paling tidak suka berbagai apa yang telah menjadi miliknya. Apalagi dengan dia yang telah terbiasa mendapatkan semua pelayanan Sofia setiap harinya. Kebiasaan itu membuatnya berfikir hanya dia yang berhak mendapatkanya.
Tambah lagi, bahkan keberadaanya sama sekali tidak dianggap ada diantara mereka. Membuatnya sangat ingin menyulap istrinya menjadi sangat kecil dan tipis agar bisa dimasukkan kedalam dompetnya.
" Tha shi shui? " ( Dia siapa? )
Pertanyaan pria itu dengan sedikit nada tidak suka.
" Wo gege " ( Kakakku)
Mendengar jawaban Sofia, hilang sudah rasa curiga dan tidak suka dari pria tersebut. Wajahnya kembali cerah secerah pertemuan pertama mereka sebelumnya.
Dasar gatel... pasti mereka sedang membicarakanku. Mentang mentang bisa beberapa bahasa asing yang tidak aku paham. Menyesal dulu tidak belajar bahasa mandarin dan jepang juga. Awas sampai dia berani mengolokku.
Araya hanya mampu mengumpat dalam hati. Sedari menginjakkan kakinya di Jepang, ia sama sekali tidak harus melakukan apa-apa. Karena semuanya sudah diatur oleh istrinya.
" Hai.. i am Tomoya. And i am your Sister's crush. " ( Hai aku Tomoya. Dan aku gebetan adikmu. "
Tomoya adalah teman kuliah Sofia semasa menjadi perwakilan kampusnya untuk melakukan pertukaran pelajar Taiwan-Indonesia. Itulah mengapa ia juga terbiasa menggunakan bahasa mandarin saat mengobrol dengan Sofia. Selama satu tahun disana Sofia memang cukup dekat dengan beberapa orang termasuk Tomoya yang berasal dari Jepang.
Hingga masa yang ditentukan berakhir dan mereka kembali ke negara masing-masing, Tomoya dan Sofia masih menjalin komunikasi. Tomoya yang harus melanjutkan bisnis kuliner keluarga hanya bisa pergi ke Indonesia setahun dua kali. Itu dilakukannya karena dia sudah jatuh hati dengan Sofia sejak pertama kali bertemu. Meski tahu Sofia hanya menganggapnya teman biasa, dia tak pernah mempermasalahkan itu selama Sofia masih sendiri.
Bahkan Tomoya rela mengalah ketika Sofia menjalin hubungan dengan Lingga waktu itu. Keinginan Tomoya hanya satu. Kebahagiaan Sofia. Dengan ataupun tanpanya. Meski begitu, ia masih setia mengejar cinta Sofia.
Pernyataan Tomoya itu sukses membuat Araya tercenang hingga melotot sempurna. Memandang bergantian pria dan gadis dihadapanya. Mengabaikan uluran tangan pria yang menyebut dirinya sebagai Tomoya.
Apa dia sudah gila? mengatakan bahwa dirinya gebetan seorang wanita didepan suaminya sendiri.
Melihat wajah kaget Araya yang masih belum menjabat tanganya, akhirnya Tomoya menarik kembali uluran tanganya.
" Dia Araya. "
Jawab Sofia mewakili.
Tomoya mengangguk kemudian berdiri pamit untuk segera memasak pesanan Sofia tadi. Kebiasaan Tomoya memang memasak sendiri semua makanan yang dipesan oleh Sofia setiap kali Sofia datang berkunjung.
" Kenapa melihatku seperti ingin menelanku hidup-hidup? "
Araya masih tidak terima dengan apa yang dikatakan pria bernama Tomoya tadi. Bagaimana pria itu dengan lantang mengatakan hal semacam itu padanya yang berstatus sebagai suami Sofia. Dan Sofia sama sekali tidak menyangkal hal itu. Sudah pasti jelas jika istrinya itu tidak mengatakan bahwa dia adalah suaminya pada pria tadi.
Araya mengeram kesal seraya mengepal erat tanganya. Entah mengapa ada rasa kecewa mendengar pria lain mengatakan dekat dengan istrinya. Namun ia sendiri hanya mampu menahan amarahnya dalam hati saja.