
Pagi menjelang...
Araya bangun dengan perasaan lega. Tadi malam, semuanya berjalan dengan baik. Sofia tidak membicarakan tentang kejadian malam itu. Bahkan saat Araya penasaran dengan tanggapan Sofia dengan dua tanda kemerahan dilehernya, saat itu Sofia hanya bersikap biasa saja.
"Apa kau sakit ?"
Itulah pertanyaan yang dilontarkan Araya pada Sofia. Sedangkan Sofia hanya menjawab dengan polosnya tanpa rasa curiga.
" Tidak kak... "
Jawabnya dibarengi dengan gelengan kepalanya pelan. Karena memang tidak merasakan keanehan dari tubuhnya.
Seandainya Sofia memang sakit dan itu bukan karena dirinya pasti dia akan mengatakanya dengan sedikit ketus.
' Kamu sakit? Pergi ke dokter dan jangan sampai menyusahkan aku. '
Begitulah sekiranya kalimat yang akan keluar dari mulutnya. Tapi kali ini ia hanya bersandiwara saja. Bahkan lebih paham darimana tanda itu berasal. Ia hanya merasa perlu sedikit memainkan peran.
" Lalu kenapa lehermu bisa begitu? "
Araya memancing. Menunjuk pada bagian yang terlihat kemerahan yang masih terlihat jelas.
Sofia mengikuti arah telunjuk suaminya. Meraba bagian itu.
"Ooh ini, tadi pagi aku bangun sudah seperti ini. Mungkin aku digigit serangga.... "
Sofia memang tidak paham dengan hal-hal semacam itu. Saat ia terbangun dan membersihkan dirinya didepan cermin. Ia memang telah menyadari akan adanya dua bercak merah itu. Ia kaget karena merasa takut kalau kalau itu sebuah tanda-tanda penyakit tertentu muncul.
Tapi kemudian ia juga ingat kalau kulitnya memang gampang berubah menjadi kemeraha jika berbenturan dengan benda lain. Atau hanya sekedar digigit serangga kecil. Semut misalnya.
Jawaban Sofia itu membuat Araya tercenang. Karena Sofia benar-benar menggunakan raut wajah polos saat menyatakan itu. Dan hampir saja, Araya keceplosan tertawa. Untung saja ia masih bisa menahanya.
Dia pikir aku serangga?
" Apa itu tidak terasa perih atau gatal"
Araya masih memainkan peranya.
" Mmm aku rasa tidak kak. Hanya sedikit terasa aneh saja. "
Ucap Sofia dengan meraba pelan bekas merah tersebut.
Araya benar-benar merasa tidak kuat menahan senyumnya sampai harus melipat bibirnya kedalam agar tidak kelepasan.
" Oh iya kak, apa kita harus panggil pembasmi serangga saja? Aku takut ini akan terulang lagi. Jangan sampai nanti serangganya sampai di kamar kakak juga. Nanti kakak digigit seperti ini juga. "
Oh God... She is so pure.
Batin Araya memuji dengan perasaan geli sendiri.
" Sepertinya aku arus bersihkan kamarku segera. Takut digigit serangga lagi. "
Sofia bergumam pelan namun masih terdengar jelas ditelinga Araya.
Sedangkan Araya yang sudah tak tahan lagi. Menundukkan kepalanya sok sibuk dengan sarapan paginya. Padahal ia sedang menyembunyikan senyumanya yang tertahan karena ia sengaja mengigit sendiri bibirnya agar tidak kelepasan.
Mendengar penuturan Sofia, Araya tak perlu lagi merasa cemas akan pikiran buruk terhadapnya. Ternyata pura-pura tidak ingat adalah jalan terbaik baginya.
Disisi lain Sofia merasa lega karena araya tidak membahas kejadian malam itu. Tidak membahas atau mungkin malah tidak mengingat semuanya. Baguslah... pikirnya...
Terutama saat dia memukul Araya hingga pingsan. Atau juga menendangnya sampai jatuh kelantai saat itu. Jika sampai suaminya itu tahu, sudah dapat dia pastikan, ia akan dicincang karena telah berani kepadanya.
Membayangkan saja sudah membhat bulu kuduknya merinding.
Dan merekapun melanjutkan sarapan pagi mereka dengan tenang.
Ah biarkan saja dua orang yang saling menyimpan rahasia itu bersandiwara dengan caranya masing-masing.
****
Ini hari Sabtu, dan sesuai dengan janjinya, Araya akan mengantar Mila kebandara. Mila dan teamnya mengambil jam penerbangan cukup siang. Jadi, Araya masih punya waktu untuk bersantai sebentar dan sedikit berolah raga dipagi hari ini.
Sedangkan Sofia yang selalu diwajibkan untuk bangun pagi karena harus merias wajahnya sedemikian rupa hingga berubah menjadi jelek dihadapan orang lain, juga sudah menyelesaikan aktivitasnya.
Dari memasak dan membersihkan apartemen, juga melakukan kegiatan lainya seperti mencuci pakaian dan sebagainya. Semuanya dikerjakan dengan cepat dengan bantuan mesin cuci dan alat alat canggih lainya.
Suaminya memang kaya, ia sendiri juga cukup memiliki uang jika hanya untuk menyewa pembantu. Namun mereka sepakat untuk tidak mempekerjakan pembantu selama Sofia masih mampu.
Lagipula, tidak banyak yang harus ia kerjakan. Hal-hal sepele sudah biasa ia lakukan selama ini. Sedangkan untuk bersih bersih apartemen secara menyeluruh sudah dijadwalkan rutin setiap seminggu dua kali oleh petugas keberaihan yang mereka sewa. Jadi bersih bersih yang dilakukan Sofia hanya sekedarnya saja. Untuk bajupun terkadang juga mereka laundry jika memang perlu.
Drrt Drrrt...
**Mila
Sayang jangan lupa sebelum jam sepuluh harus sudah sampai di apartemen ku. Aku tunggu ya sayang. Muach**...
Araya membuka pesan dari kekasihnya. Sudah dua hari ia tidak mendapatkan pesan apapun dari kekasihnya itu. Kangen... Tentu saja. Tapi, dua tahun saja mampu ia lewati apalagi cuma dua hari. Cinta memang membuatkan matanya.
Setelah membalas pesan dari Mila, Araya bergegas untuk mandi dan bersiap-siap untuk segera pergi menuju apartemen kekasihnya itu.
Di kamar lain diapartemen itu, Sofia mondar mandir, bingung. Alasan apa yang harus dipakai agar bisa leluasa pergi keluar? Hari ini ia sudah berjanji untuk menjemput Samuel dibandara.
Aaaarrrghhh... Frustasi rasanya.
Suaminya itu terlalu susah diajak bicara. Dan selalu membutuhkan alasan yang tepat jika harus mengijinkan sesuatu terjadi.
" Oh ayolaaaahhh mikir... "
Pesawat Samuel landing pukul sepuluh lebih. Dan ini sudah jam sembilan. Ia takut jika harus membuat Samuel menunggunya.
Sofia mulai resah melirik jam yang sudah mulai memangkas waktu itu.
Ok aku harus segera keluar dari apartemen jika tidak mau membuat Sam menunggu.
Dengan langkah mantap ia menuju kamar suaminya. Setelah mengetuk pintu dua kali, akhirnya kamar suaminya itu terbuka dan memperlihatkan sosok suaminya yang sudah rapi seakan hendak pergi ke suatu tempat, entah kemana.
" Ada apa? "
Araya langsung menyergah Sofia dengan pertanyaan itu. Ketika melihat istrinya itu sedikit gugup.
" Mmm itu... Hari ini aku ada kegiatan diluar. Dan.... "
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Araya lebih dulu menjawabnya singkat.
" Terserah... "
Sofia melotot... bengong sejenak. Bukankah seharusnya terjadi sedikit perdebatan kecil dulu sebelum ia diijinkan keluar? Biasanya juga begitu. Selalu ada pertanyaan,
' Pergi kemana? Ngapain? Memangnya itu perlu? jangan jauh-jauh nanti ilang. '
Dan jangan berfikir dia seperti itu karena peduli.
Stop !!!!
Berhenti Kalian dengan pikiran yang manis itu? Jangan berangan. Karena semua pertanyaan yang suami ketusnya itu lontarkan adalah sebuah ejekan seolah mengatakan,
'Kamu? Kesana? Ngapain? Emang orang sepertimu berkegiatan seperti itu juga? Nggak salah?'
Ya pria dihadapanya ini memang selalu berfikir bahwa orang semacamnya ini tidak cocok berkegiatan. Akan terlihat aneh walau hanya sekedar berjalan-jalan di Mall.
Entahlah.... Mungkin dimatanya Sofia lebih mirip pembantu rumah tangga dengan tampilan upik abunya itu.
Namun apapun dan bagaimanapun orang lain memandangnya. Sofia tetap tak memperdulikan hal itu.
Tetap memasang senyum manis, dan melenggang acuh dengan sikap seperti itu.
Sedangkan Araya, Tanpa peduli dengan reaksi Sofia yang masih terbengong, Araya bergegas menuju apartemen kekasihnya. Ia sudah tak sabar lagi bertemu gadis pujaanya yang sudah dua hari tak bisa dihubunginya itu.
****
Ting tong...
Bel apartemen berbunyi. Tak lama pintu itu dibuka dari dalam. Dan seorang wanita langsung menghambur kepelukan pria yang baru datang bertamu itu.
" Sayang... Aku merindukanmu. "
Mila bergelayut manja dalam pelukan Araya. Dan langsung mendaratkan ciuman ke bibir Araya. Dengan senang hati Araya menyambutnya. Ia juga merasa sangat rindu dengan kekasihnya itu.
Ciuman itu berlangsung cukup lama. Keduanya sangat menikmati skinship yang mereka berikan ke masing masing pasanganya.
Mila melepaskan bibirnya sebentar. Memandang wajah tampan kekasih pujaan hatinya itu. Mulai mendaratkan tangan kananya didada Araya.
Perlahan tangan nakalnya mulai meraba dada kekasihnya, naik dan turun dan menyusup kedalam kaos yang dikenakan kekasihnya.
Kini, tanganya mulai menari-nari disana.
Araya yang mendapatkan perlakuan itu hanya mampu menutup matanya. Membiarkan saja setiap sentuhan dari tangan yang lembut itu.
Melihat Araya yang mulai terpancing, Mila semakin gencar dengan aksinya. Sampai mereka tidak sadar telah berada diatas sofa diruangan tersebut dan Mila telah menguasai tubuh Araya yang masih memejamkan matanya tanpa melakukan pergerakan berarti.
Merasa mendapatkan lampu hijau, Mila semakin berani. Yang tadinya hanya bermain dengan bibir dan Abs Araya. Kini mulai merambah keleher dan telinga Araya.
Memberikan sentuhan lembut disana dengan tujuan membuat Araya meladeni keinginan yang selama ini belum pernah didapatkan dari kekasihnya itu.
Araya berusaha keras untuk menikmati setiap sentuhan itu. Mencoba untuk membiarkan dirinya lebih akrab lagi dengan sentuhan yang sudah sering diberikan gadisnya itu. Kali ini ia berusaha lebih keras agar dirinya sendiri terjerumus.
Namun sayangnya sampai detik itu, rangsangan yang diberikan Mila belum sama sekali dapat membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Dan ia harus tetap mencobanya, ia yakin cintanya pada kekasihnya itu akan membantunya. Saat ini ia benar-benar ingin menyerahkan dirinya pada kekasihnya itu.
Drrrt drrrttt
Alunan melodi diponsel Araya tiba-tiba berbunyi saat mereka masih fokus dengan kegiatan mereka. Mila tak mempedulikan hal itu. Namun Araya berusaha menghentikan gerak Mila.
Mila yang menyadari itu menatap kesal pada Araya. Sejenak mata mereka saling bertemu. Dan tak lama kemudian suara dering dari ponsel Araya telah berhenti.
Merasa si pengganggu telah mematikan panggilanya, Mila kembali melanjutkan kegiatanya menggoda Araya.
Namun, belum sempat ia melancarkan aksinya, dering ponsel itu kembali terdengar.
" Siapa sih menganggu saja... "
Kesal Mila yang kini menatap tajam pada tempat dimana suara itu berasal. Araya berusaha meraih ponselnya yang masih berada didalam saku jaketnya yang telah dilepas Mila dan terlempar kesamping tubuh mereka. Sedangkan Mila kini semakin kesal melihat Araya meraih ponselnya. Bahkan sampai memindahkan tubuh Mila dari pangkuanya ke sofa, setelah tahu siapa si penelpon.
Hal itu tentu saja membuat Mila curiga karena Araya mengangkat dan berbicara menjauh dari jangkauanya.
" Ada apa??? "
Ucap Araya ketus tanpa salam diawalnya.
Sofia...
Dialah si penelpon yang mengganggu kegiatan yang dilakukanya bersama sang kekasih.
" Dompet kakak ketinggalan. Biasanya tanggal tanggal begini ada razia di jam jam tertentu. "
Araya yang mendengar itu langsung merogoh kantung celananya. Benar saja tidak ada benda dari kulit yang biasanya ia bawa kemana mana.
Tadi, Sofia tanpa sengaja menemukan benda itu diatas meja. Mungkin suaminya itu lupa membawanya kembali. Sofia tahu kebiasaan suaminya itu. Semua kartu identitas dan stnk mobil berada disana. Suaminya itu tidak pernah meletakkan benda itu didalam mobil seperti orang lain.
Sial... Bagaimana aku bisa lupa.
" Halo... Kakak masih disana? "
" Ya tentu saja. Kamu pikir kemana? "
" Sekarang kakak dimana? Bisanya oprasi itu pagi sampai jam sembilan. Dan nanti dilanjut saat jam sebelas. Halooo... Kakak mendengarkan? "
Pantas saja tadi aman aman saja.
" Yasudah antar ke... "
Araya tak menyelesaikan kalimatnya. Tidak mungkin ia menyuruh istrinya datang ke tempat itu. Lagipula ia tidak ingin kekasihnya marah.
Kali ini ia sudah seperti suami yang berselingkuh dibelakang istrinya. Meski itu kebenaran. Tetap saja ia tak ingin disebut seperti itu. Laki-laki memang egois.
Ia melirik pada jam ditanganya. Sudah jam sepuluh lebih. Ah bukankah ia harus mengantar Mila kebandara? Astaga... Kenapa dirinya malah berharap akan terjadi sesuatu hari ini? Meski itu sangat tidak akan terjadi.
Tapi ia sungguh berharap ia akan terjerumus oleh Mila, kekasihnya.
" Tidak apa-apa... Tidak perlu khawatir. "
Katanya sedikit lembut. Entah mengapa.
Tak berapa lama Araya mengakhiri pembicaraan dengan Sofia dan kembali menghampiri Mila yang sudah memasang wajah sangat kesal.
" Siapa? Kenapa kamu harus menjauh dariku saat menerima telepon itu? Apa kamu bermain api dibelakangku? "
Cecar Mila yang sudah tersulut emosi.
" Sofia... Istriku... dia bilang dompetku ketinggalan."
Araya menjawabnga singkat sambil meraih jaket dan mengenakanya. Tanpa tahu perkataanya itu membuat kecemburuan Mila semakin menjadi.
" Kau menyebutnya istrimu? Kau sudah gila ya? Bagaimana bisa kau menyebutnya sebagai istri? "
Mila kini telah hilang kesabaranya. Bagaimana bisa kekasihnya yang telah menjalin hubungan dengan dirinya selama tiga tahun lebih itu, walaupun dua tahunya ia meninggalkan Araya dengan komunikasi yang minim tapi menyebut wanita lain sebagai istrinya dihadapanya? itu menbuatnya sakit hati. Meski itu sebuah kebenaran. Kebenaran bahwa kekasihnya itu telah beristri. Dan ia hanya seseorang yang kembali dari masa lalu tetap saja ia merasa tidak terima dan marah. Samoai kapanpun Araya adalah miliknya. Hanya dirinya yang boleh membuat laki-laki itu tunduk pada seorang wanita. Hanya dirinya yang boleh menguasai hati dan hidup Araya.
Sadar dengan kesalahanya, Araya menghampiri Mila untuk memeluknya. Mencoba meredakan amarah kekasihnya itu.
" Maaf... Meski aku menikah denganya. Tapi kamu tahu kan hanya kamu yang aku cintai. "
Mila menepis kasar tangan Araya. Ia sungguh marah dengan apa yang keluar dari mulut Araya tadi, saat memyebut Sofia sebagai istrinya.
" Ceraikan dia sekarang...! Aku tidak mau tahu... Ceraikan dia... Atau... "
Mila menggantungkan kalimatnya.
" Kita putus. "
Araya yang mendengar itu mengusap wajahnya kasar. Tidak... Jangan sekarang. Ia tidak siap untuk kehilangan Mila kedua kalinya.
Araya menyambar tubuh Mila dengan cepat saat kekasihnya itu hendak melangkah dari hadapanya.
" Maaf... Aku akan menceraikanya secepat mungkin. Tapi tidak sekarang. Aku tidak bisa menyakiti orang tuaku. Tidak sayang... Jangan meninggalkan aku lagi. Aku tak sanggup. Tunggulah sebentar lagi... Percayalah padaku."
" Sampai kapan? Sampai kapan aku harus seperti pencuri yang bertemu dengan lelaki yang telah beristri? Apa kata orang nanti kalau mereka tahu bahwa aku menjalin hubungan dengan suami orang? "
Mila sudah mulai hilang kendali. Namun Araya masih mendekapnya erat.
" Tidak akan ada yang mengatakan itu. Kamu juga tahu kan kalau pernikahan ini hanya diketahui kedua keluarga dan kerabat dekat saja. Kau sendiri juga tahu semua kolega dan rekan bisnisku memgetahui hubungan kita. Tidak ada yang mengenal Sofia. Percayalah padaku. "
Araya meraih tangan Mila dan menggengamnya erat mencoba mencari kepercayaan dari Mila.
Drrrt drrrt
Kali ini ponsel Mila yang berbunyi.
Sejenak, mereka menghentikan pembicaraan mereka.
Entah siapa yang menelepon. Namun,
Setelah mendapatkan telepon itu. Mila berubah menjadi sangat cemas. Ia lupa jika harus kebandara.
Tadi, saat melihat wajah tampan kekasihnya, seolah ia tersihir dan melupakan perihal kedatangan kekasihnya itu adalah untuk mengantarnya ke bandara. Apalagi saat Araya pasrah mendapatkan sentuhan darinya. Semakin hilanglah akal sehatnya.
Kini ia kalang kabut meraih segala sesuatu yang akan ia bawa menuju bandara. Waktu yang ia miliki tak lama lagi. Dan ia harus secepat mungkin sampai dibandar sebelum pesawat yang ia tumpangi lepas landas.
" Kita kebandara sekarang!!! "
Ucapnya singkat dengan menarik koper bawaanya.
" Kau memaafkan aku kan sayang... "
Araya berusaha meraih tubuh kekasihnya untuk ia peluk. Sedangkan Mila menepisnya kasar karena ia sedang buru-buru dan sudah tidak ada waktu lagi.
" Kebandara sekarang....!!! "
Araya hanya menghela nafasnya. Kemudian mengantar kekasihnya itu menuju bandara. Kekasihnya akan meninggalkanya beberapa minggu untuk pemotretan. Tapi dia malah mengacaukannya sebelum keberangkatan kekasihnya itu. Ah nasib...
Dasar mulut... tidak bisa diajak kompromi...
Araya menepuk mulutnya sendiri beberapa kali, menyesali kalimatnya yang keluar tanpa difilter terlebih dahulu. Dan menyebabkan kekasihnya itu marah saat keberangkatanya.
Tapi tunggu dulu... Sofia kan memang istriku? Apa harus menyebutnya partnerku?
Partner dalam sandiwara rumahanya maksudnya.
Dimana letak kesalahanku?
Araya hanya menggaruk kepalanya yang tak merasa gatal memikirkan betapa ribetnya perempuan itu. Tidak cukupkah bahwa cintanya hanya untuk wanita itu. Toh pernikahanya juga akan berakhir karena dia dan Sofia telah sepakat bercerai. Lalu apalagi?