Another me

Another me
Drama... on going



Usai pembicaraan waktu itu, Araya benar-benar mendatangi Sofia. Dan sesuai dengan apa yang pernah diucapkan pria itu. Ia datang dengan sebuah map berisi berkas perjanjian pernikahan mereka. Tak lupa membawa seseorang yang ia sebut sebagai teman yang akan menjadi saksi ksepakatan mereka.


Kini Araya dan Sofia tengah duduk berhadapan disebuah cafe.


"William... "


"Sofia... "


Begitu perkenalan singkat antara Sofia dengan pria yang dibawa Araya. Menyebutkan nama masing-masing mereka sambil menjabat tangan. William duduk disebelah Araya dan tidak mengeluarkan banyak kata. Ia hanya diam menyimak diposisinya.


"Ini surat perjanjian kita... Baca dan pahami"


Perintah Araya pada Sofia, melemparkan dokumen dengan map berwarna biru laut ke hadapan Sofia.


Sofia mengulurkan tangan mengambil map itu kemudian membuka dan membacanya. Hanya ada tiga point yang tertulis di sana. Dan juga tertera dua nama utama yaitu namanya dan nama Araya. Tak lupa nama William sebagai saksi. Sofia menatap datar pada surat perjanjian itu.


Sofia tak bergeming Ia hanya tak menyangka bahwa ia harus melakukan perjanjian konyol dalam ikatan suci pernikahan. Batinya merana, tak dipungkiri ia wanita yang memimpikan pernikahan yang harmonis seperti wanita kebanyakan. Bukan drama rumahan seperti yang ia dan Araya jalani.


Melihat Sofia mengerutkan keningnya, seolah mengerti Araya membuka suara.


"Pernikahan kita akan berlangsung selama hanya satu tahun. Itu adalah peraturan pertama. Kedua, tidak ada kontak fisik apapun, terutama hubungan suami istri. Aku harap kamu tidak kecewa karena tidak bisa menyentuh tubuhku. Simpan itu dalam anganmu"


Araya tersenyum mengejek.


Mendengar penuturan itu, Sofia lagi-lagi menautkan alisnya.


Siapa juga yang menginginkan itu. Libidoku cukup tahu kapan harus beraksi.


"Dan yang ketiga... Tidak boleh saling mengganggu urusan pribadi masing-masing. "


Tambah Araya yang kemudian mendapat anggukan kecil dari Sofia.


"Kak Aray tahu? Yang ada dipikiranku saat ini adalah... Dua orang bodoh yang sedang meniru adegan dalam sebuah novel... Dijodohkan dengan orang yang tidak dikenal... Tidak saling cinta... Kemudian menikah kontrak... "


Sebenarnya Sofia bukan penggemar novel bergenre romance. Lalu darimana ia tahu semua cerita itu? Bahkan sepertinya hafal. Itu karena hampir satu bulan ini ia terpaksa membaca novel novel receh menurutnya itu untuk sekedar informasi dan mencari ide. Jika bukan karna terpaksa, mana sudi ia melakukannya.


Sofia tersenyum kecut. Kemudian melanjutkan kalimatnya.


"Bahkan isi kontraknya pun mainstream...klise sekali... "


Araya dan William tidak menanggapi ocehan asal wanita yang terlihat jelas sedang dalam keadaan frustasi itu.


"Dalam novel salah satu dari tokoh akan jatuh Cinta... Dan dibab selanjutnya pasti ada tokoh antagonis yang muncul sebagai orang ketiga dalam hubungan mereka. "


Sofia mengeratkan jari jemarinya dibawah meja.


"Katakan padaku... Bahwa ini tidak akan menjadi sulit kedepannya... "


Sofia masih menunduk menatap lemah pada map ditanganya.


"Ini nyata bukan drama dan aku akan mengusahakan yang terbaik untuk kesepakatan yang kita buat. Aku bukan pebisnis yang bermain curang dalam mengambil keuntungan. Dan soal cerita drama rumahan yang ada dipikiranmu itu... singkirkan! itu tidak akan terjadi..."


"Kau yakin semua akan berjalan dengan lancar?


Kini mata coklat Sofia beralih menatap lurus pada manik Araya. Melihat perubahan ekspresi yang ditunjukkan Sofia padanya. Membuat Araya terperangah. Bagaimana bisa gadis itu memiliki ekspresi wajah yang berubah ubah. Dari yang lembut saat berada dihadapan keluarga saat itu. Kemudian ekspresi berani dengan melakukan penolakan tegas dan melakukan negosiasi pada hari yang sama. Beberapa menit yang lalu terlihat seperti sedang depresi. Dan saat ini? Ekspresi wajah itu terlihat seolah ingin mengintimidasi lawan.


"Apa kau punya syarat lain? "


Sofia menggeleng perlahan.


"Boleh aku tahu satu hal? "


"Bertanyalah"


"Mengapa kak Aray tidak menikahi wanita yang kakak cintai? "


Ya Sofia sungguh penasaran dengan hal itu... Dilihat dari sudut manapun pria dihadapanya ini adalah pria idaman seluruh wanita didalam negeri ini. Garis wajah yang tegas dengan pandangan mata yang kadang teduh menenangkan. Namun sorot mata yang tajam dan kuat pada detik tertentu. Hidung mancung dan bibir seksinya itu pasti menyita perhatian banyak wanita. Postur tubuhnya tegap dan gagah. Dan tak perlu diragukan lagi dibalik setelan formal itu pasti otot bisep bersemayam indah. Tidak akan ada wanita yang akan menolak pesonanya bukan. Jika ia mau ia bisa mendapatkan wanita mana saja untuk diperistri. Jadi apa alasanya melakukan perjodohan bodoh ini?


"Apa tidak mendapat restu? "


Sofia menebak sesuka hati demi memenuhi rasa penasaranya yang sudah sampai diujung kepalanya.


Araya menegakkan tubuhnya kemudian menyenderkannya kesandaran kursi dimana ia duduk. Melipat kedua tangannya didada. Menatap lurus pada Sofia.


"Bertanyalah tentang sesuatu yang menyangkut kontrak itu saja. Jangan membuang waktuku dengan menanyakan hal yang tidak perlu. "


Sofia kecewa. Setidaknya jika ia mendapat satu saja kelemahan dari pria sempurna ini maka ia akan memiliki senjata untuk melawanya jika suatu hari nanti terjadi perselisihan antara mereka.


"Ok...baiklaaah... Jadi tidak ada kewajiban lainnya? Misalnya tinggal bersama? "


"Jangan coba-coba menawar hal itu. Tentu saja kita harus tinggal bersama. "


"Tapi kita hanya butuh setatus bukan? "


"Benar... Tapi tinggal terpisah dapat membahayakan kita berdua. Dan satu lagi, kamu harus menjalankan kewajiban kamu sebagai seorang istri. Selain urusan ranjang tentunya, kamu harus patuh dengan segala aturanku."


What? Memangnya aku budak apa? Segala patuh pada setiap aturanya... Enak saja.


"Bukankah tidak adil jika... "


"Dimana letak ketidak adilanya? "


Kebiasaan Araya, menyela omongan Sofia sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.


"Kenapa aku harus patuh padamu? Pada setiap aturanmu? "


Araya menatap dingin Sofia. Mata hitam pekatnya bertubrukan dengan mata coklat milik Sofia.


"Pertama... Aku suamimu, sebagai istri kamu harus patuh padaku tidak peduli dengan pernikahan kontrak atau tidak, kamu tetap seorang istri yang wajib patuh pada suaminya, dan itu aku. Kedua... Karena aku tidak mau rencanaku berantakan karena kecerobohanmu. "


"Selain kebebasan dari perjodohan lain yang mungkin tidak bisa aku hindari apa keuntungan yang akan aku dapatkan? "


Ya Sofia tidak boleh lemah, ia harus mampu bernegosiasi dengan pria dingin licik ini. Jangan sampai ia hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi calon suaminya saja tanpa mendapatkan keuntungan.


"Tentu saja aku akan mencukupi kebutuhanmu tanpa kurang suatu apapun. Sehingga kau tidak perlu capek bekerja ditoko buku lagi dengan gaji tak seberapa itu. Kau bisa menghabiskan waktumu untuk berkegiatan di dalam rumah. Atau mau berbelanja semaumu? Lakukan itu semua. Asal jaga sikapmu diluaran sana."


Cih... Dia pikir aku wanita matre yang mengandalkan berbagai cara untuk mendapatkan uang? Aku memang bukan orang kaya. Tapi aku cukup mampu memenuhi kebutuhan hidupku dengan sangat layak.


"Baiklah... Setidaknya aku tidak harus susah payah untuk memenuhi kebutuhan ku. "


"Kau pikir aku siapa sehingga membiarkan menantu keluargaku bekerja ditempat seperti itu? Aku tidak akan membiarkan mu mempermalukan nama baik keluargaku. "


Sofia mengangguk mengerti. Namun kemudian senyuman meremehkan terbit disudut bibirnya.


"Bukankah memiliki istri jelek culun kampungan sepertiku juga aib? "


"Sudah tau posisimu dimana... Seperti debu yang mudah diterpa angin. Maka berhentilah bertingkah nona. "


Baiklah kali ini Sofia mengalah. Tidak perlu diperpanjang lagi pembicaraan yang bisa membuat sisi lain Sofia muncul. Ia tak mungkin membiarkan mereka tau siapa dirinya. Dan sikapnya tadi sudah pasti meninggalkan kecurigaan bagi dua orang dihadapanya. Pasalnya ia sedikit terbawa emosi sehingga tak mampu mengontrol ekspresi wajahnya. Dan ia sungguh tak ingin menambah kecurigaan itu semakin menjadi.


Yang masih mengganjal dipikiranya adalah. Berperan sebagai istri tentu membatasi gerak geriknya nanti. Itu akan sangat merepotkan baginya.


"Segera tanda tangani tanpa banyak tanya... Aku masih punya banyak urusan... Tidak perlu cemas soal uang... Uangku takkan habis hanya untuk memenuhi semua keinginanmu"


Baiklaaahhh anggap saja aku membantunya untuk menghabiskan uangnya.


"Ekhm... Baiklah tidak buruk juga. Aku bisa bersantai tanpa harus bekerja keras untuk beberapa waktu. "


Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Merdeka berdua telah sama-sama sepakat dan menandatanganinya kontrak perjanjian pranikah mereka.


****


Setelah pertemuan itu, Sofia kembali ke apartemen miliknya. Sedangkan Araya yang ditemani oleh William menyempatkan diri mengunjungi hotel yang dikelola dibawah perusahaan miliknya.


Sofia meraih ponselnya yang sejak tadi terdengar notifikasi pesan masuk. Segera ia buka dan terlihat ada beberapa pesan disana. Salah satunya adalah dari sahabat baiknya.


Samuel.


Samuel dan Sofia bersahabat sejak SMP. Selain menjadi sahabat Samuel berperan sebagai editor karya karya Sofia. Ya.. Selama ini bekerja sebagai karyawan di toko buku hanyalah kedok bagi Sofia. Karena pekerjaannya yang sesungguhnya adalah seorang penulis novel thriller. Sebagai penulis yang menyembunyikan identitasnya, Sofia harus berkegiatan sewajarnya dimuka umum. Untungnya toko buku dimana ia bekerja milik kakaknya sendiri, sehingga ia leluasa untuk bergerak.


Seperti biasa Samuel akan menanyakan keadaanya. Kemudian diikuti pesan penting soal pekerjaan. Pekerjaan yang sulit untuk ia lakukan.


Samuel memintanya untuk menyelipkan kisah romantis dalam novel berikutnya. Ya... meski ia sudah membuatnya dalam novel karya terbarunya. Tapi Samuel menginginkan cerita yang lebih romance, mengingat kebanyakan pembacanya remaja putri maupun perempuan dewasa, yang banyak memberikan komentar untuk menambah kisah romantis dalam karya berikutnya.


Menulis memang keahlianya. Tapi menulis hal yang romantis ia sungguh tak tau harus bagaimana merangkai kata. Bahkan Samuel hanya menertawakan dirinya yang mulai mendownload aplikasi novel online yang banyak berisi kisah romance di dalamnya.


Dan sialnya, Samuel semakin mengejek dirinya yang sudah membaca puluhan bahkan ratusan novel di aplikasi itu.


" Berdoa saja hidupmu tak serumit cerita itu. "


Begitu ucapan Samuel saat dirinya mengeluh dan menggerutu menilai novel yang dibacanya. Novel yang selalu menceritakan kisah cinta dan selalu ada orang ketiga didalamnya. Rumit melankolis dan menyebalkan.


Dia memang sangat suka membaca karya orang lain. Bahkan sereceh dan seklise apapun karya itu. Tetap saja akan ada hal yang bisa dijadikan pelajaran.


Ia selalu menilai dari banyak sudut. Tapi ia tak pernah memberi komentar dalam karya karya itu. Tidak komentar baik ataupun buruk.


Jika banyak kesalahan dalam karya yang ia baca, ia tak berkomentar karena merasa tidak perlu. Ia hanya berfikir untuk apa? komentar menilai mungkin akan menyinggung penulis, Bukan memotivasi. Komentar baik juga tidak perlu kalau bukan benar-benar karya yang bagus.


Lebih baik kesalahan apapun dalam karya orang dijadikan pelajaran dalam membuat karyanya sendiri. Hal yang lebih aman untuk menghindari konflik dengan para pembaca ataupun penulis lain bukan?


Dan permintaan Samuel akan mengharuskan dirinya kembali membaca novel novel itu untuk menggali informasi dan mendapatkan ide.


Ia sungguh ingin mengabaikan pesan yang berisi beban kehidupan bagi dirinya itu. Cukup dengan membaca tanpa membalasnya. Tapi ia merasa ada yang harus ia sampaikan pada sahabatnya itu. Cukuo satu hal saja.


Aku akan segera menikah dan pindah ke kota mu


Begitu pesan yang ia kirim pada Samuel. Dan secepat kilat pesan itu mendapatkan balasan. Pertanyaan bertubi-tubi seperti. Menikah dengan siapa, bagaimana bisa menikah sedangkan baru putus, kapan resepsinya? Sungguh pertanyaan yang membuat dia sendiri bingung bagaimana untuk menjawabnya.


Sofia merebahkan tubuhnya diatas kasur empuknya. Sedikitpun tak berniat menjawab pesan dari Samuel. Ia sangat hafal dengan tingkah sahabatnya itu. Sekali dijawab, maka pertanyaan baru akan mengalir tanpa henti.


Maka hal terbaik adalah dengan mengabaikanya. Jahat memang, tapi untuk saat ini. Pikiranya sedang kacau.


"Waktu terasa sangat cepat bergerak. Delapan tahun berlalu... Dan aku masih belum menemukanya... "


Sofia memejamkan mata. Begitu berat beberpa hari ini.


****


Apa kau yakin Ar? "


William yang sedari tadi memilih untuk diam saat sahabat dan calon istri kontrak sahabatnya itu sedang bernegosiasi kini ia mulai mengeluarkan pikiranya yang sejak tadi ia tahan. Sebagai sahabat sebenarnya ia sedikit khawatir dengan rencana konyol Araya. Menikah kontrak itu sesuatu yang berbahaya. Selain membohongi semua orang juga membohongi kedua keluarga. Sungguh tidak habis pikir dia dengan cara pikir sahabatnya itu.


"Soal? "


"Menikahi gadis itu. Menikah kontrak dengan gadis itu maksudku. "


"Apa menurutmu aku punya pilihan Will? Kau tahu betul kondisiku... Aku mana mungkin bisa menjalani kehidupan pernikahan yang layak Will... "


"Tapi... bagaimana dengan kekasihmu...? Dia akan kecewa jika mendengar kamu telah menikah dan menghianatinya."


Araya menyandarkan tubuhnya di sofa kamar hotel dimana mereka menginap. Terlihat sorot mata sayu dan lemah disana. Ia tak bermaksud memanfaatkan Sofia atau gadis manapun, tapi keadaanya sungguh memaksanya untuk melakukan itu. Setidaknya ia cukup lega dengan keputusan Sofia yang mau bekerjasama denganya.


Dan soal kekasihnya. Ia memang mencintainya. Bahkan rela dengan segala hal yang dilakukan gadisnya. Pergi meninggalkanya demi karirnya. Kejadian itu tak sedikitpun mengurangi kadar cintanya. Malah rasa bersalahlah yang mengurung diri Araya. Dan tak mengikat gadis yang menjadi kekasihnya adalah satu-satunya cara menyenangkan kekasihnya itu. Dengan kebebasa gadis itu akan lebih bahagia. Lagipula ia percaya kekasihnya hanya mencintainya seorang. Pikirnya.


"Setidaknya dia setuju... Kau bahkan lihat sendiri sesemangat apa gadis itu menerima penawaran yang aku berikan bukan. Tidak ada yang dirugikan disini. "


"Bagaimana jika dia gadis yang sama saja dengan yang lainya? Mudah baper dan kemudian memiliki perasaan yang menuntut padamu? "


Araya membukan matanya seketika mendengar perkataan William. Benar juga, wanita dimanapun tetap sama. Mengandalkan perasaan dalam menyikapi semua hal.


"Maka aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau sendiri tahu bagaimana aku bukan? "


William mengangguk mengerti. Tentu ia paham dengan perangai Araya. Mereka telah bersahabat sejak kecil. Wanita tidak akan membuatnya lemah. Ya meskipun Araya sangat mencintai gadis pujaannya yang masih berada diluar negri. Tapi ia tahu jika Araya tak pernah berlebihan dalam mengekspresikan cintanya.


"Aku khawatir denganmu... Apalagi dengan kondisimu itu. Ini menyebalkan karena kamu sudah dua kali membatalkan janji temu dengan dokter baru itu. Kau tahu bagaimana susahnya aku menghubungi dokter itu? Dia dokter yang sok jual mahal. Dan kau seenaknya saja membatalkanya. Menyebalkan sekali kau ini. "


Gerutu William yang secerewet emak-emak. Dan betapa kesalnya William, ocehanya hanya ditanggapi kekehan oleh Araya beserta ucapan lemahnya.


"Sudah berapa dokter yang aku datangi? Kau tidak lupa menghitungnya bukan? Sudah sebanyak itu dan aku belum juga ada kemajuan"


Araya menatap kosong pada langit kamar mewah miliknya.


"Apakah selamanya aku akan begini Will? Bahkan aku tak mampu membahagiakan kekasih yang sangat aku cintai."


William yang mendengar perkataan lemah dari Araya itu merasa iba dengan nasib sahabatnya. Jika ia yang jadi Araya mungkin ia sudah bunuh diri sejak lama. Tapi Araya kuat... Meski menjalani hidup dengan hampa. Ia tetap menjalaninya demi kedua orangtua yang sangat disayanginya.


"Bagaimana jika ia kembali dan mengetahui pernikahan ini? kau akan sangat menyakitinya bung... "


"Dia tahu betul kemana hatiku berlabuh kawan... aku akan menjelaskanya padanya... "


"Baiklah... lagipula kau juga tidak akan menjadikanya istri... "


Araya menatap tajam sahabatnya. Yang dikatakan William benar. Ia memang sangat mencintai kekasihnya. Namun ia tak akan membiarkan kekasihnya itu hanvur dalam pernikahan buruk bersamanya. Ia akan membahagiakan kekasihnya dengan menuruti segala keinginanya kecuali satu hal... menikah.


"Bersiaplah kawan... Drama akan segera dimulai... "


William menatap jengah Araya. Bagaimana bisa seorang Araya menjadi pemeran drama rumahan seperti ini?